Loading

Makam Jonkh. Hermanus Folkert Van Ingen

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Makam Jonkheer Hermanus Folkert Van Ingen terletak di Tempat Pemakaman Umum Jatisarono. Makam tersebut terletak pada ujung timur laut pemakaman umum. Lokasi makam tersebut berada kurang lebih 100 meter masuk ke barat dari Gapura PDK 9 Kauman, Jalan Sentolo-Nanggulan. Pada kompleks tersebut terdapat tiga makam, yaitu makam Makam Jonkheer Hermanus Folkert Van Ingen, dan dua makam lain yang dipercaya masyarakat sebagai makam anjing dan makam kudanya.

  • Makam Jonkheer Hermanus Folkert Van Ingen merupakan tugu bata berplester dengan ukuran tinggi 100 cm, lebar 145 cm, dan panjang 160 cm. Secara umum bentuk makam polos dengan hiasan berupa pilaster pada setiap sudut dan pelipit pada bagian atas. Pada sisi selatan terdapat inskripsi batu dengan ukuran kurang lebih panjang 60 cm dan lebar 42 cm. Tulisan pada inskripsi tersebut sudah aus, sehingga sulit untuk dibaca. Di sisi timur terdapat terdapat dua lubang ventilasi dengan ukuran kurang lebih lebar 6 cm dan panjang 12 cm dengan posisi vertikal. Sisi barat tanpa ventilasi. Sisi utara bidang menempel pada pagar tembok pembatas Tempat Pemakaman Umum yang memisahkan antara kompleks makam dengan jalan kampung, sehingga tidak dapat diamati. Bagian atas telah aus dan tertutup rumput. Kondisi makam tersebut tidak terawat. Plester pada bidang persegi sudah banyak mengelupas. Bata yang terlihat akibat terkelupasnya plester ditumbuhi lumut. Kondisi sekeliling makam terlihat banyak ditumbuhi rumput liar.

  • Inskripsi pada sisi selatan bertuliskan “HIER ONDER RUST JONKH HERMANUS FOLKERT VAN INGEN RIDDER DER MILITAIRE [...] INFANTERIE HIJ VERLOOR […]”. Dari sumber Indisch Militair Tijdschrift, 01/07/1941 dituliskan kalimat lengkapnya sebagai berikut: “Hier onder rust Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen Ridder der militaire Willems Orde Kapitein der Infanterie Hij verloor zijn dierbaar leven in een gevecht tegen de muitelingen op 28 december 1828 te Nanggoelan met 31 zijner brave ondergeschikten. Alih bahasa kurang lebih sebagai berikut: “Di sini dimakamkan Jonkh Hermanus Folkert van Ingen, Kapten Infanteri ksatria militer dari ordo William. Dia kehilangan nyawanya dalam perang melawan pemberontakan pada 28 Desember 1828 di Nanggulan, dengan 31 anak buahnya yang baik”.

  • Sebelah timur makam Jonkh. Hermanus Folkert van Ingen diyakini merupakan makam anjingnya. Informasi tersebut diperoleh dari warga yang berada di sekitar makam. Makam anjing berbentuk tugu kecil yang disusun dari bata berplester, dengan kondisi yang sudah tidak utuh lagi. Tugu yang tersisa berukuran kurang lebih tinggi 40 cm, lebar 30 cm, dengan panjang yang sudah sulit diketahui karena tertimbun tanah dan rumput liar.

Sebelah timur makam anjing terdapat makam lain yang dipercaya sebagai makam kuda Jonkh. Hermanus Folkert van Ingen. Kondisi makam tersebut hanya menyisakan bata yang tertimbun tanah yang ditumbuhi rumput liar.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Dusun Jatingarang Kidul (Kauman), Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.765473338333° S, 110.20931136361° E

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Kulon Progo 586/A/2018


Lokasi Makam Jonkh. Hermanus Folkert Van Ingen di Peta

Koordinat Penemuan : -7.765473338333012; 110.20931136361091
Keterawatan : /
Dimensi Benda : Panjang
Lebar -
Tinggi -
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh :  Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen , Kapten Infanteri ksatria militer dari ordo William.
Peristiwa Sejarah : Pada Indisch Militair Tijdschrift terbitan 1 Juli 1941, sebuah majalah Belanda dengan judul artikel Grafmonument van Kapitein van Ingen te Nanggoelan, dijelaskan bahwa terdapat Tugu Peringatan Kapten Ingen di Nanggulan. Dalam tugu peringatan dituliskan bahwa telah dimakamkan Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen, seorang Kapten Infanteri yang kehilangan nyawanya dalam peperangan melawan pemberontakan pada 28 Desember 1828 di Nanggulan. Peperangan tersebut juga menewaskan 31 pasukan van Ingen.Disebutkan bahwa Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen ditugaskan pada akhir 1828. Ia berada di bawah komando Mayor Bauer untuk melawan Pangeran Bey. Dijelaskan bahwa Pangeran Bey biasanya berada di sebelah kiri Sungai Progo, tetapi pada bulan November, ia terlihat berada pada sisi lain sungai. Di Jatingarang ia mendirikan tenda. Pada tanggal 20 November 1828, Mayor Bauer menyerang tenda Pangeran Bey di Jatingarang. Diceritakan bahwa pada saat itu Pangeran Bey dapat dipukul mundur dan hampir tidak bisa melarikan diri. Setelah peristiwa tersebut, Mayor Bauer mundur ke bentengnya di Gedonnong.Tanggal 12 Desember 1828, pihak Mayor Bauer melakukan penguatan pertahanan yang difokuskan di Jatingarang. Lokasi di Jatingarang dipandang strategis, karena berulang kali pasukan musuh dapat dikalahkan di tempat tersebut. Pada tanggal 19 Desember 1828, terlihat Sentot melakukan pengintaian dengan membawa ratusan pasukan di sekitar pembangunan penguatan pasukan Mayor Bauer. Tanggal 20 Desember 1828 terjadi pertempuran antara pasukan yang dipimpin oleh Kapten van Ingen melawan pasukan Sentot. Mayor Bauer menyebutkan bahwa musuhnya (Sentot) terdiri atas 1.200 laki-laki pasukan bersenjata. Serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Kapten van Ingen dengan menimbulkan korban 6 orang luka-luka, serta 20 orang tewas dan terluka.Melalui pesan mata-mata Mayor Bauer, serangan yang terjadi pada tanggal 20 Desember tersebut bukan merupakan serangan terakhir. Dilaporkan bahwa akan ada serangan yang lebih kuat, dipimpin sendiri oleh Diponegoro. Serangan tersebut terjadi seminggu kemudian. Pagi hari tanggal 28 Desember 1828 musuh (Diponegoro) datang dengan kekuatan yang tangguh. Menurut catatan Mayor Bauer, pasukan musuh datang dari arah utara, sebagian berada di Desa Toeroes, dan kekuatan terbesar dari arah Timur. Dalam peperangan itu Mayor Bauer mengutus Kapten van Ingen yang dipandang akrab dengan daerah Nanggulan-Kecil. Dalam pertempuran tersebut, Kapten van Ingen terdesak oleh kekuatan pasukan besar yang bergerak dari Timur. Dalam pertempuuran itu pihak Mayor Bauer kehilangan 32 orang tewas, 12 orang luka berat dan 2 orang hilang. Kisah tentang Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen juga ditemukan dari catatan harian Kapten Errembault de Dudzeele et d’Orroir. Catatan tersebut ditemukan di pasar loak tepian Seine, Prancis. Saat ini buku catatan tersebut disimpan di Ecole Française d\'Extrême-Orient, Paris, Prancis.Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa Errembault merupakan seorang serdadu pasukan gerak cepat Belanda yang bertempur selama Perang Jawa. Diceritakan bahwa Kapten van Ingen berangkat bersama seratus serdadu infanteri untuk menghadang pasukan Pangeran Diponegoro di sekitar Nanggulan. Dalam catatan Kapten Errembault dituliskan, “Saya tidak tahu bagaimana dia (van Ingen) memerankan dirinya sebagai komandan detasemen,” “Tetapi, dalam laporan (pejabat militer), dia dikatakan menjadi penyebab kemalangan sendiri.” “Kapten Van Ingen dan 32 serdadu Eropa tewas dalam pertempuran,” tulis Errembault. Dia juga menyebutkan, “juga seorang pangeran Yogyakarta yang telah meninggalkan para pemberontak dan telah mengabdi pada pihak kami selama setahun terakhir bersama 12 prajuritnya. Sejumlah empat belas orang turut terluka. Kedua meriam milik detasemen berhasil jatuh ke tangan musuh, namun hal itu tidak berlangsung lama”.  Errembault dalam catatannya juga menuliskan mengenai janda Kapten Van Ingen. Diceritakan ketika tengah malam dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Magelang, Errembault berjumpa dengan janda Van Ingen yang tampak masih bersedih. Errembault menuliskan, “Sejatinya, ratapannya telah melelehkan air mata saya”. “Saya menghiburnya sebisa mungkin, mengatakan bahwa ini adalah nasib setiap wanita yang memiliki suami militer.” Diceritakan bahwa “Nyonya Van Ingen pergi ke Salatiga untuk tinggal dengan salah satu teman sampai dia memutuskan untuk tinggal di suatu tempat,”. “Mungkin dia akan menjadi seperti banyak janda lainnya di Hindia, segera melupakan almarhum suaminya dan mendapatkan suami lain.” Sumber lain mengenai monumen atau makam Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen didapat dari Peter Brian Ramsay Carey (seorang sejarawan pakar Diponegoro dari Inggris). Dia menceritakan bahwa peristiwa tewasnya Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen merupakan peristiwa operasi militer yang bodoh, sehingga menyebabkan van Ingen tertangkap di hutan daerah Nanggulan dan dibantai dengan seluruh peleton infanterinya. Carey juga memaparkan bahwa van Ingen pergi ke pertempuran bersama anjing Irish red setter-nya yang turut dikuburkan di samping makamnya.
Nilai Sejarah : Menjadi penanda keberhasilan pasukan yang dipimpin Diponegoro dalam mengalahkan perwira Belanda beserta pasukannya yang berada di Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Monumen tersebut dapat diteliti lebih lanjut untuk menjawab permasalahan sejarah, antropologi dan  arkeologi Struktur tersebut mewakili model makam bagi orang Belanda yang dimakamkan di Jawa.Penelusuran lebih lanjut atas keberadaan monumen tersebut bisa memberikan gambaran mengenai sistem-sistem pertahanan dan strategi penyerangan baik pasukan Belanda maupun pasukan Diponegoro, khususnya sistem pertahanan yang ada di Nanggulan dalam konteks kesejarahan.Kebiasaan memakamkan orang beserta binatang kesayangannya.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Pemerintah Desa
Riwayat Kepemilikan : Makam Jonkheer Hermanus Folkert van Ingen berada di Tempat Pemakaman Umum.
Pengelolaan
Nama Pengelola : Pemerintah Desa
Catatan Khusus : Secara umum makam Jonkh. Hermanus Folkert van Ingen dalam kondisi tidak terawat. Plester yang ada pada makam sudah mengelupas sehingga terlihat susunan bata penyusunnya. Sususnan bata tersebut dipenuhi dengan lumut. Di sekeliling makam ditumbuhi rumput-rumput liar yang menutup makam.