Rumah Tradisional Sri Budiarti Siswodisastro terletak di tepi selatan Jalan raya Semanu Praci dari arah timur menuju ke arah pasar Munggi. Rumah ini menghadap ke utara dihimpit oleh Toko bangunan di sebalah timur dan gudang berisi bahan bangunan di sebelah barat. Data yang di temukan melalui foto google earth tahun 2014, dibandingkan dengan keadaan sekarang, menunjukkan bahwa luas lahan dan bangunan mengalami pengurangan yang signifikan. Gambaran yang khas dari Rumah Tradisional Sri Budiarti Siswodisastro adalah:
A. Struktur bertingkat pada permukaan lantai dengan kedudukan omah mburi memiliki lantai yang paling tinggi.
B. Atap Joglo yang tidak memiliki perluasan atap emper.
Pada dasarnya bangunan ini dapat dibagi menjadi empat bagian. Dilihat dari bentuk denah Rumah Sri BudiartiSiswodisastro dari depan ke belakang terdiri dari lintring, Joglo, pringgitan dengan atap limasan ceregancet, dan omah mburi beratap limasan. Demikian penjelasannya :
1. Lintring
Lintring rumah Sri Budiarti Siswodisastro merupakan bangunan semi terbuka dengan penambahan hek atau partisi pembatas dari kayu pada sisi utara atau muka dan dinding tembok setinggi 96 cm pada sisi timur dan barat. Pada bagian pintu masuk atau tengah terdapat perluasan lintring ke arah utara. Bentuk perluasan atap lintring ini disebut macan angop.
- Lantai
Permukaan lantai lintring di tutup oleh semen acian. Peninggian dari permukaan halaman ke permukaan lantai lintring setinggi 25 cm.
- Tubuh dan tiang penyangga
Tiang lintring berjumlah 4 dengan ukuran 9 x 9 cm tinggi 280 cm. Atap lintring sisi selatan menyatu dengan soko penanggap Joglo. Tiang lintring dan hek di beri cat berwarna cokelat dan krem. Pada bagian atas tiang lintring di atas hek, terdapat tebengandengan pola lengkung pada sudut kiri dan kanan.
- Atap
Atap lintring merupakan struktur atap limasan dengan usuk rigereh. Ander pada lintring terdiri dari 2 buah ander penyangga molo limasan dan 1 ander penyangga atap macan angop. Genteng lintringmenggunakan bahan keripik. Bubungan lintring di beri penutup wuwung seng dengan pola hias bongkak padaujungnya, sementara pada bagian paling atas terdapat pola hias gunungan. Krepus dari bahan GRC dan kayu. Pada ujung krepus atap macan angop yang membentuk segitiga terdapat hiasan kuncup bunga.
2. Joglo
- Lantai
Menurut penuturan Siswodisastro, permukaan lantai Joglo terbuat dari pelur atau hasil campuran antara pasir dengan kapur dan bata tumbuk. Bahan pelur pada lantai tersebut belum pernah mengalami perubahan atau masih asli. Permukaan lantai Joglo 18 cm lebih tinggi dari permukaan lantai lintring.
- Tubuh, dinding dan penyangga
Pada bagian ini terdapat 4 Soko Guru Joglo berukuran 15 x 15 cm dan tinggi 318 cm. Seluruh tiang Soko Guru berdiri di atas umpak berbentuk padma tanpa ornamen dengan ketinggian 22 cm. Umpak terbuat dari batu kapur yang di cat hitam. Luas bidang soko guru adalah 250 x 297 cm. Keempat Soko Guru tersebut menopang struktur atap Joglo. Adapun, 12 soko penanggap berukuran 9 cm x 9 cm tinggi 265 cm. Joglo rumah Sri Budiarti Siswodisastro merupakan Joglo yang tertutup. Pada bagian timur dan barat, ruang Joglo ditutup dengan dinding kotangan atau bagian bawah berupa dinding tembok dan atas dari papan kayu triplek. Dinding tembok tersebut memiliki tebal 30 cm tinggi 77 cm. Dinding bagian depan atau utara di tutup dengan gebyok. Masing masing gebyokmemiliki 1 pintu dengan 2 inep. Posisi pintu yang terletak pada bagian tengah diperuntukkan sebagai pintu utama atau pintu masuk ke dalam rumah. Pada bagian selatan Joglo dibatasi dinding tembok dan hekyang berpintu, dengan ketinggian 77 cm. Hek yang berpintu menjadi penghubung antara ruang Joglo
menuju pringgitan.
- Atap
Struktur atap Joglo merupakan struktur penyangga atap berbentuk brunjung. Struktur tersebut terdiri dari sunduk, sunduk kili, blandar, dhadha peksi, tumpangsari, uleng, jurai dan nok atau molo. Sebagai pengikat dan pengaku keempat soko guru tersebut yaitu sunduk dan sunduk kili. Tumpangsari memiliki jumlah 5 tingkat sementara uleng 3 tingkat. Pada bagian ujung balok tumpangsari paling atas terdapat 4 pola hias buah keben atau kebenan yang berfungsi sebagai pengunci.
Pada bagian uleng, midhangan dan dhadha peksidiberi cat dengan warna dasar putih krem. Midhanganditutup dengan papan kayu. Pada balok dhadha peksiterdapat ukiran berpola hias daun atau patra, bunga, dan lung-lungan atau tumbuhan menjalar. Usuk Joglo berbentuk rigereh. Atap penutup Joglo menggunakan genteng keripik, tapi pada bagian brunjung genteng sudah di ganti dengan seng. Bubungan atau wuwung pada bagian dudur dan moloditutup dengan wuwung seng berpola bongkak pada ujung ujungnya. Wuwung paling atas yang menutup molo, di beri hiasan makutha atau mahkota.
3. Pringgitan
Pringgitan pada Rumah Tradisional Sri Budiarti Siswodisastro merupakan ruangan yang berada diantara Joglo dan Omah mburi. Pringgitan ini memiliki bidang ruang yang luas, karena terdiri dari dua bangunan dengan bentuk atap limasan ceregancet yang menyatu. Pada pringgitan tersebut terdapat 2 ruang di sisi barat dan timur. Ruang tersebut di sekat dengan menggunakan papan dari bahan anyaman bambu untuk ruang sisi timur dan triplek untuk ruang sisi barat.
- Lantai
Permukaan lantai pringgitan ditutup oleh ubin atau tegel yang berukuran 25 x 25 cm.
- Tubuh, dinding, dan penyangga atap.
Tiang penyangga atap pringgitan ada 2 buah. Tiang tersebut memiliki ukuran 9 x 9 cm, tinggi 265 cm. Pada bagian atas pringgitan terdapat hiasan tebengan
yang diberi cat berwarna putih. Dinding pringgitan sisi timur dan barat dibuat dari bahan tembok dan kayu. Dinding tembok pringgitanmemiliki ketebalan 30 cm. Sedangkan pada dinding kayu terdapat pintu dengan 2 inep dan 4 buah jendela yang unik dengan model pivot horizontal.
- Atap
Atap pringgitan merupakan atap dengan bentuk limasan ceregancet, atau dua bentuk bangunan beratap limasan yang menyatu. Masing masing atap limasan ceregancet terdapat 2 ander yang menopang molo. Usuk memiliki bentuk rigereh. Genteng atap pringgitan menggunakan genteng berjenis keripik. Wuwung terbuat dari seng dengan pola hias bongkakpada ujung ujungnya. Pada bagian kemuncak wuwungseng terdapat hiasan gunungan.
4. Omah Mburi
Omah Mburi memiliki atap berbentuk limasan. Struktur dinding omah mburi menggunakan bahan tembok. Keseharian omah mburi berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang tidur.
- Lantai
Permukaan lantai omah mburi seluruhnya ditutup oleh keramik warna putih berukuran 50 x 50 cm. Permukaan lantai tersebut dibuat lebih tinggi 24 cm dari ketinggian permukaan lantai pringgitan dan Joglo.
- Tubuh
Struktur pendukung atap limasan pada omah mburimemiliki perpaduan struktur penyangga kayu dan dinding tembok. Penyangga kayu berupa 4 buah soko limasan berukuran 12 x 12 cm dengan tinggi 3 m. Dinding tembok memiliki ketebalan 30 cm dan tinggi 3 m.
Ruang-ruang omah mburi terdiri atas 4 ruangan baru yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan ruang tempat tinggal saat ini. Ruang tersebut menggunakan pembatas kayu, tembok, dan papan GRC. Sisa dinding kayu yang lama, menurut penjelasan Siswodisastro, sudah aus dan tidak bisa digunakan. Dua gebyok yang tersisa digunakan untuk menutup ruang bekas senthong tengen dan senthong tengah. Senthongtengen saat ini digunakan untuk dapur, dan senthong tengah untuk ruang tidur.Pintu masuk dan jendela omah mburi menggunakan model daun pintu dan jendela rangkap. Pintu utama
yang menghubungkan pringgitan ke senthongmemiliki model pintu rangkap tersebut. Pada bagian luar, pintu menggunakan daun pintu krepyak. Sementara pada sisi dalam, daun pintunya berkaca.Struktur penyangga atap omah mburi yang beratap limasan terdiri atas blandar dan ander.
- Atap
Usuk omah mburi memiliki bentuk rigereh dan genteng menggunakan bahan keripik. Bubungan atau wuwung pada atap omah mburi terbuat dari bahan seng. Wuwung seng tersebut berpola hias bongkakpada ujung ujungnya. Pada bagian tengah atas wuwung terdapat hiasan gunungan. Pada sisi timur bangunan omah mburi, sebenarnya masih terdapat bekas bangunan dapur atau pawon yang sudah rusak, karena tidak beratap. Bangunan tersebut tidak di bahas dalam kajian ini.