Loading

Khatvanga Berbentuk Bhairava

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bagian ujung Khatvanga berwujud Bhairava dengan nomor Inventasi BG. 49 merupakan koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.Temuan tersebut berasal dari Padukuhan Pencar, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten. Sleman, DIY. Temuan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari ujung khatvanga. Khatvangga merupakan alat upacara berupa tongkat berbahan tulang atau kayu dengan ujungnya berbentuk tengkorak. Bagian ujung Khatvanga berbentuk Bhairava ini hanya ditemukan sebatas bagian perut ke atas dengan bagian bawah yang meruncing. Pada bagian yang meruncing terdapat pahatan tulisan aksara Jawa Kuno berbunyi Hum yang disebut sebagai bijamantra. Adanya bijamantra menunjukan bahwa Bhairava tersebut berfungsi sebagai Yantra.  

Khatvanga berwujud Bhairava dari Sindumartani, Ngemplak, Sleman digambarkan dengan sikap tangan Harinamudra yaitu sikap tangan dengan membentuk sebuah cincin dengan menggabungkan ibu jari, jari tengah dan jari manis. Telunjuk dan jari kecil lainnya tetap lurus. Bhairava menggunakan penutup kepala berupa jatamakuta.  

Dalam mitologinya Bhairava adalah salah satu aspek demonis dewa Siva yang baru terlahir dari darah Siva. Bhairava biasa dipuja oleh aliran Tantrayana. Bhairava ini merupakan bagian tangkai dari sebuah alat untuk upacara. Alat upacara seperti yang digunakan di Nepal oleh agama Budha dengan aliran Vajrayana.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Alamat : Pencar, Sindumartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Sleman


Asal Usul : Padukuhan Pencar, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten. Sleman, DIY
Bahan Utama : Perunggu
Keterawatan : Utuh dan Terawat,Tidak Utuh /
Dimensi Benda : Panjang -
Lebar 43,96 mm
Tinggi arca: 95,86 mm; tokoh: 62,95 mm
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Warna : perunggu
Ciri Fisik Benda
Warna : perunggu
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : Bhairava
Konteks : Bhairava adalah salah satu bentuk  ugra atau ghora dari Siwa. Dalam wujud Bhairava, Siwa mempunyai bentuk yang demonik, cirinya adalah mempunyai taring. Kadang-kadang Bhairava bahkan digambarkan tanpa busana dan memakai perhiasan yang seram, berbetuk tengkorak dan ular. Keberadaan Bhairava  mengambarkan adanya pemujaan sekte Siwa yang khusus memuja Bhairava di Indonesia. Bhairava merupakan salah satu aliran di dalam Tantrisme yang digolongkan ke dalam wamasakta yaitu tantriame kiri dengan inti ajaran mencapai kamoksan melalui praktek pancamahatattwa (madya, mamsa, matsya, maithuna, dan mudra). Di Indonesia, aliran ini dianut oleh Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Keberadaan Bhairava juga terkait dengan perebutan posisi yang paling berpengaruh antara Brahma dan Siwa. Sebagai salah satu aspek Siwa tentu penggambaran Bhairava membawa atribut Siwa seperti jatamakuta, trisula, jnananetra, dan ajina. Di sisi lainnya penggambaran Bhairava memiliki taring dan wahana serigala dengan menggunakan hiasan tengkorak.  Salah satu penggambaran Bhairava yang ditemukan untuk periode Jawa Tengah Kuno yaitu koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Sebuah fragmen arca dengan penggambaran bersifat demonik yang ditandai dengan adanya taring dan mata yang besar.
Riwayat Penemuan : Berasal dari Padukuhan Pencar, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten. Sleman, DIY.
Riwayat Pengelolaan : Koleksi BPK Wilayah X
Nilai Sejarah : Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India, dan teknik cetak perunggu yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan khususnya arkeologi.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba
Catatan Khusus : Nomor Inventaris BG. 49