Loading

Deskripsi Singkat

Arca Cunda digambarkan duduk di atas padmasana oval dengan sikap yogasana (sikap duduk bersemedi). Memakai jatamakuta dengan perhiasan yang lengkap, yaitu anting-anting, sumping, kalung, upavita, kelat bahu, dan gelang tangan. Pandangan mata melihat ke bawah dengan urna atau titik di bagian dahinya. Memakai kain dari pinggang  hingga mata kaki, semacam motif nitik.  

Cunda bertangan delapan, empat di antaranya (bagian kiri sudah patah, tangan  kiri bawah tinggal lengan. Kedua tangan tangan paling bawah bersikap dhyanamudra. Tangan kedua (dari bawah) telapak tangannya sudah patah, tangan ketiga membawa pasa (jerat), tangan ke empat membawa aksamala (tasbih). Bagian belakang arca kemungkinan dahulu ada chattra (payung). 

Cunda dikenal sebagai bagian dalam dua belas Dharini atau Dharani yang terdiri dari Sumani, Ratnolka, Usnisavijaya, Mari, Parnasavari, Janguli, Anantamukhi, Cunda, Prajnavardhani,Sarvakarmavaranavisodhani,Aksyajnanarkarmanda, dan Sarvabuddhadharma-Kosavati. Ke duabelas Dharini tersebut merupakan anggota Kulesa Amogasididdhi. Cunda pertama kali disebut dalam Manjusrimukalpa yang ditulis sekitar abad 2 Masehi. Hal ini mengacu pada pekerjaannya sebagai Candra. Kitab Guhyasamaja yang ditulis pada sekitar tahun 300 Masehi menyebutnya sebagai Cundavajri, dia juga disebut emanasi dari Wajrasattva atau Wairocana. Pengarcaan Cunda atau Arya Cunda atau Canda atau Cundra pada umumnya diwujudkan dalam bentuk seorang wanita berwarna putih bertangan dua, empat atau enam. Kedua tangannya membawa atribut berupa vajra (petir) di tangan kanan dan adalah aksamala (tasbih) dengan kamandalu (kendi) di tangan kiri, sumber lain menyebutkan ia membawa mangkuk di kedua tangannya atau pustaka di atas padma sedangkan mudranya adalah Varada, dharmacakra, memakai dharmapalabharana (pakaian kebesaran raja) dan Wajrasattvabimba di mahkota. 

Cunda adalah emanasi dari vajrasattva atau Vairocana, ia merupakan bodhisatva wanita dan termasuk kelompok Dharani.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Alamat : Dusun Besalen, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Sleman


Bahan Utama : Perunggu
Keterawatan : Utuh dan Terawat,Tidak Utuh /
Dimensi Benda : Panjang 6,603 cm
Lebar 5,594 cm
Tinggi arca: 11,932 cm; landasan: 2,605 cm; padma: 4,099 cm
Tebal 4, 639 cm
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Warna : perunggu
Ciri Fisik Benda
Warna : perunggu
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : -
Peristiwa Sejarah : -
Konteks : Agama Buddha masuk ke Indonesia lebih awal dibandingkan dengan Agama Hindu yaitu sekitar abad V Masehi (Damais, 1959,85). Pengaruh agama Buddha di Indonesia tidak kalah besarnya dengan pengaruh agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu dan beberapa benda relik agama Buddha seperti Arca Dhyani Buddha serta kitab-kitab berlatar belakang Buddhis (Mochtar.2009). Di Indonesia terdapat dua aliran agama Buddha yaitu Buddha Hinayana dan Mahayana. Perbedaaan keduanya dapat dilihat melalui pantheon kedewaan yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang lebih luas seperti halnya pada aliran Buddha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa.. Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang berisi keterangan tentang agama Budha.  Dari prasasti yang memuat angka tahun 700 Şaka atau 778 Masehi didapat keterangan tentang pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukan Guru Sang Raja yang merupakan mustika-nya keluarga Sailendra. Di samping itu juga disebutkan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartodirdjo dkk, 1975). Sangga adalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak abad ke-8 Masehi. Tentang temuan arca perunggu Cunda dari Besalen, Cangkringan,  Sleman, belum diketahui secara pasti kapan dibuatnya, karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasasti yang berkaitan dengan arca ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Arca Cunda  dari  Besalen, Cangkringan, Sleman diperkirakan berasal dari abad IX – X Masehi. Secara kontekstual arca ini belum dapat dipastikan berasal dari bangunan suci atau candi yang mana. Mengingat arca terbuat dari perunggu yang berukuran kecil dimungkinkan sebagai objek pemujaan dari komunitas yang kecil atau keluarga.
Nilai Sejarah : Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan dari India.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Teknik tuang atau cetak perunggu yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu.
Nilai Budaya : Meneguhkan bahwa Bangsa Indonesia memiliki kecerdasan dan peradaban yang sudah cukup lama.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba
Catatan Khusus : Arca dalam kondisi patah bagian lengan kiri.