| Lokasi Penemuan | : | Mayangan, Trihanggo, Gamping, Sleman |
| Bahan Utama | : | Perunggu |
| Keterawatan | : | Utuh dan Terawat,Tidak Utuh / Rusak Ringan, |
| Dimensi Benda | : |
Panjang 6,8 cm Lebar landasan: 6,3 cm; stela: 4,3 cm Tinggi keseluruhan: 14 cm; arca: 7,1 cm; chattra: 2,9 cm; padma: 2,0 cm Tebal - Diameter - Berat - |
| Warna | : | perunggu, hijau (patinasi) |
| Cara Pembuatan | : | cetak tuang |
| Warna | : | perunggu, hijau (patinasi) |
| Cara Pembuatan | : | cetak tuang |
| Peristiwa Sejarah | : | Agama Buddha masuk ke Indonesia lebih awal dibandingkan dengan Agama Hindu yaitu sekitar abad V Masehi (Damais, 1959,85). Pengaruh agama Buddha di Indonesia tidak kalah besarnya dengan pengaruh agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu dan beberapa benda relik agama Buddha seperti Arca Dhyani Buddha serta kitab-kitab berlatar belakang Buddhis (Mochtar.2009). Di Indonesia terdapat dua aliran agama Buddha yaitu Buddha Hinayana dan Mahayana. Perbedaaan keduanya dapat dilihat melalui pantheon kedewaan yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang lebih luas seperti halnya pada aliran Buddha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Temuan Arca Wairocana dari Mayangan, Trihanggo, Gamping Sleman menjadi bukti adanya pemujaan bagi umat Buddha di sekitar tempat tersebut. Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang berisi keterangan tentang agama Budha. Dari prasasti yang memuat angka tahun 700 Şaka atau 778 Masehi didapat keterangan tentang pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukan Guru Sang Raja yang merupakan mustika-nya keluarga Sailendra. Di samping itu juga disebutkan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartodirdjo dkk, 1975). Sangga adalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak abad ke-8 Masehi. |
| Konteks | : | Tentang temuan arca perunggu Wairocana dari Mayangan, Trihanggo, Gamping, Sleman, belum diketahui secara pasti kapan dibuatnya, karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasasti yang berkaitan dengan arca ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka arca Wairocana dari Mayangan, Trihanggo, Sleman diperkirakan berasal dari abad IX – X Masehi. Secara kontekstual arca ini belum dapat dipastikan berasal dari bangunan suci atau candi yang mana. Mengingat arca terbuat dari perunggu yang berukuran kecil dimungkinkan sebagai objek pemujaan dari komunitas yang kecil atau keluarga. |
| Riwayat Penemuan | : | Ditemukan di padukuhan Mayangan, Trihanggo, Gamping, Sleman |
| Nilai Sejarah | : | Berkaitan dengan sejarah perkembangan dan persebaran Agama Budha di D.I. Yogyakarta khususnya Kabupaten Sleman. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Berkaitan dengan teknologi yang digunakan dalam pembuatan arca yaitu teknologi cetak tuang dan kaitannya dengan perkembangan ilmu arkeologi khususnya Arkeologi Hindu Budha dan Ikonografi. |
| Nilai Agama | : | Berkaitan dengan keberadaaan umat Budha di Kabupaten Sleman. |
| Nilai Budaya | : | Meliputi kesenian-kesenian yang tercipta dari Umat Buddha kemudian dapat menjadi salah satu unsur penguat kepribadian bangsa. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Catatan Khusus | : | Kodisi: rusak pada bagian padmasana dan stela (sandaran arca) |