Bangunan utama Rumah Kalang di Jalan Tegalgendu no. 28 dibangun pada tahun 1870 tahun Jawa atau 1939 Masehi. Bangunan utama digunakan sebagai galeri silver Ansor’s Silver. Bangunan ini memiliki pembagian ruang khas rumah tradisional Jawa dengan ciri utama adanya pembagian ruang pendhapa, sentong, ndalem, ngemper dan gandok. Selain itu terdapat perpaduan ciri khas bangunan antara budaya Eropa dan Cina. Arsitektur Cina berpengaruh pada penggunaan kosen dengan ukuran besar, tipe ukiran, tipe motif tegel dan tempelan keramik pada tembok. Pengaruh arsitektur Eropa terutama pada tipe jendela krepyak, kaca patri, tipe kolom dan lengkungan, penggunaan konsol dari besi. Bangunan Eropa ini cenderung ke bentuk barok.
Pada bangunan utama yang berciri khas Jawa, bagian pendhapa sampai ndalem Ageng dibuat bangunan memanjang. Pendhapa sudah termodifikasi menjadi ertutup, tidak terbuka seperti pendhapa joglo rumah Jawa. Pada saat ini bangunan sisi kiri difungsikan sebagai kantor, sedang bangunan memanjang di sisi kanan dimanfaatkan untuk area displai. Keunikan bangunan samping kanan ini dibuat bertingkat dengan membuat loteng di atas untuk kamar pribadi penghuni rumah. Pada bangunan Joglo, komponen konstruksi masih lengkap dan sesuai dengan kaidah arsitektur seperti, tumpangsari, dhadha paèsi, sesantên, dan sebagainya. Konsol bangunan menggunakan material besi, yang merupakan perkembangan trend pada waktu itu. Pada sisi depan bangunan utama terdapat jendela kayu dengan kaca mati dimana penggunaan kaca lebih dominan sebagai alternatif pencahayaan alami. Pada bagian dalam bangunan, kusen jendela dan pintu menggunakan material kayu, sedangkan panelnya menggunakan material kaca. Pintu dan jendela berbentuk lengkung dengan karakter Jawa tercermin pada hiasan ukir-ukiran. Ventilasi bangunan menggunakan krepyak kayu yang berfungsi sebagai sirkulasi udara sekaligus ornamen. Atap bangunan utama menggunakan tipe joglo tajuk lawakan berbahan kayu dengan atap berupa genteng berbahan tanah liat. Lantai bangunan yang masih asli berupa tegel kunci yang di pola dan di border sisi sisi pinggir.
Bangunan di sebelah kanan (timur) dan selatan bangunan induk yang dipisahkan dengan halaman mempunyai gaya campuran Jawa, Eropa, dan Cina. Bangunan di sisi timur sekarang digunakan sebagai toko souvenir. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur tradisional rumah kalang dengan nilai estetis yang tinggi. Jika ditinjau dari langgam arsitektur, bangunan sisi timur merupakan perpaduan arsitektur Jawa, Eropa dan Cina. Bangunan ini terdiri dari dua lantai mengunakan pintu dan jendela berdaun ganda. Pintu dan jendela sisi luar berdaun krepyak, pintu dan jendela sisi dalam berdaun panil kaca. Kosen pintu dan jendela menggunakan bahan kayu dengan dimensi yang besar. Bangunan ini beratap limasan, dengan penutup atap berupa genteng berbahan tanah liat. Atap tritisan berbahan seng gelombang, ditopang dengan konsol besi berornamen. Puncak bubungan dengan ornament berbentuk bola, ukiran kayu, dan tempelan keramik bermotif pada dinding. Lantai bangunan berbahan keramik baru.
| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Peristiwa Sejarah | : | Bangunan Rumah Kalang ini dibangun pada tahun 1939 M, dahulu merupakan milik keluarga Bapak Prawiro Soewarno atau yang dikenal dengan nama Pak Tembong. Beliau dikenal sebagai “raja gadai” keturunan Kalang generasi ke-3 di Kotagede yang diberi hak monopoli oleh Belanda dan juga Keraton. Masyarakat Kalang merupakan masyarakat Jawa pada umumnya yang mengalami perubahan sejarah yang dilaluinya dan perubahan dalam sistem kemasyarakatan sehingga menjadikan masyarakat ini sebagai komunitas tersendiri yang hidup terpisah-pisah. ’Kalang’ menurut beberapa versi diartikan sebagai ’pagar’ atau ’batas’ dari bahasa Jawa ’dikalangi’ karena pada masa Sultan Agung golongan ini dikumpulkan pada suatu tempat dan diberi pagar. Pengertian diatas mengindikasikan bahwa masyarakat Kalang adalah golongan yang dipisahkan atau terpisah dengan golongan masyarakat yang lain. Masyarakat kalang tersebar di berbagai wilayah di Jawa. Masyarakat Kalang di Kotagede sengaja didatangkan oleh Keraton untuk menjadi tukang ukir perhiasan kerajaan. Dalam perkembangannya, masyarakat Kalang di Kotagede kemudian memiliki kegiatan ekonomi yang berbeda dengan masyarakat Kotagede pada umumnya. Pada umumnya masyarakat Kotagede memilih kegiatan pertukangan, kerajinan atau perdagangan, Masyarakat kalang memilih untuk aktif dalam kegiatan pegadaian (paketik) dan jual beli mas dan permata (poro). Maka keuntungan yang diperoleh masyarakat Kalang lebih besar dbandingkan dengan masyarakat sekitar. Karena keuletannya dalam berusaha menjadikan kelompok ini banyak yang berhasil dan menjadi orang yang berada. Pada tahun 1920-1930 an masyarakat Kalang dimonopoli oleh pemerintah Kolonial untuk menangani perdagangan emas, pegadaian, perdagangan berlian dan opium. Pada masa ini Orang Kalang membangun rumah mewah berasitektur campuran Barok Eropa. Selanjutnya, bangunan ini berpindah tangan kepada Bpk. Teguh Suyatin AS. Pada tahun 1994 didirikanlah Artshop & Workshop yang diberi nama “Ansor’s Silver”. Ansor’s Silver sendiri telah dirintis semenjak tahun 1956 oleh Bapak Ansor Karto Utomo. |
| Nilai Sejarah | : | Bangunan Rumah Kalang tersebut menjadi bukti fisik sejarah perkembangan arsitektur di Kawasan Kotagede. Perkembangan arsitektur dimaksud ditandai dengan adanya perpaduan gaya arsitektur Jawa, Eropa dan Cina. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Bangunan ini memiliki informasi dan pengetahuan dalam hal tata ruang, ragam hias, penggunaan material dan cara masyarakat Kalang memadukan berbagai unsur/gaya arsitektur. |
| Nilai Pendidikan | : | Bangunan ini memiliki informasi dan pengetahuan dalam hal tata ruang, ragam hias, penggunaan material dan cara masyarakat Kalang memadukan berbagai unsur/gaya arsitektur. |
| Nilai Budaya | : | Menjadi bukti adanya akulturasi budaya yang terjadi khususnya pada bentuk arsitektur bangunan yang mencerminkan perpaduan budaya Jawa, Eropa dan Cina. Mewakili kepentingan kelestarian Cagar Budaya dalam wilayah kabupaten/kota, mewakili masa gaya yang khas dengan keterancaman tinggi, jumlahnya terbatas, mewakili karya kreatif yang khas, unik rancangannya dan sedikit jumlahnya di provinsi. |
| Nilai Ekonomi | : | Dijadikan sebagai toko perak |
| Nama Pemilik Terakhir | : | H. Teguh Suyatin AS |
| Nama Pengelola | : | Aldi Fadhilil Dianto |
| Catatan Khusus | : | Koordinat UTM SK : 49 M 433033.96 E 433033.96 N |