Loading

Gedung Masjid Margoyuwono di Jalan Langeastran Lor No. 9 Yogyakarta

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Gedung Masjid Margoyuwono berdiri pada sebidang lahan berada di utara Jalan Langenastran Lor menghadap ke arah timur. Saat ini kompleks masjid terdiri dari beberapa massa bangunan baru dan bangunan lama.  Bangunan lama berfungsi sebagai masjid dan bangunan penunjang (ruang takmir dan ruang poliklinik, ruang   abc, xyz.  Bangunan baru terdiri dari bangunan abc, xyz. Tempat wudhu di ujung timur laut bangunan masjid berupa bangunan baru. Bangunan lama adalah sebagai berikut. 

1. Bangunan Masjid: 
Bangunan masjid terdiri dari dua bagian yaitu ruang utama dan serambi. Bangunan utama masjid berdenah bujur sangkar beratap tajug bertingkat tiga, Bentuk tajug umumnya digunakan untuk bangunan pemujaan dan ibadah/masjid. Bangunan serambi berdenah persegi panjang beratap limasan. 

Pada dinding luar bangunan utama sisi utara, barat dan selatan terbagi dua yaitu pada bagian bawah dari dasar bangunan sampai dengan ketinggian di bawah jendela di-finish batu belah ekspose, dilengkapi elemen berbentuk profil setengah lingkaran. Bagian atas berupa dinding dengan ketebalan satu batu (± 30 cm) sampai batas kuda-kuda atap. 

Pada dinding sisi barat bangunan utama di tengah terdapat pengimaman (mihrab). Pada dinding sisi selatan dan utara masing-masing terdapat dua buah jendela dan sebuah pintu. Dinding bagian timur terdapat tiga pintu yaitu sebagai pintu masuk utama. Semua pintu dan jendela berupa daun ganda arah bukaan ke dalam dengan bagian bawah panil kayu dan bagian atas jeruji kayu, ventilasi bagian atas pintu dan jendela berbentuk lengkung kemudian meruncing di bagian atas dengan jalusi/jeruji dari kayu berbentuk cakra. Pada setiap sisi dinding terdapat juga lubang ventilasi berbentuk bulat berjumlah 4 buah. Dinding bagian dalam setinggi sampai di bawah jendela dilapis tegel PC ukuran 20x20 cm berwarna hijau. 

Lantai bangunan utama masjid menggunakan ubin PC  berwarna kuning ukuran 20x20 cm ditutup karpet.  

Plafon menggunakan bahan asbes ukuran 100x100 cm yang diplepet kayu warna hijau. Pada bagian tepi plafon dibuat drop-ceiling 20 cm  yang berjarak 2 m sepanjang tepi dinding. 

Bangunan serambi di sisi timur bangunan utama masjid terdapat kolom-kolom bulat motif ornamen flora yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh elemen profil lengkung dan papan kayu yang membentuk lengkung sekaligus berfungsi sebagai srawing (sunscreen). Lantai serambi lebih rendah dua trap dari lantai utama dengan penutup lantai berupa tegel kuning ukuran 20x20 cm variasi garis hijau. Plafon serambi dari asbes ukuran 100x100 cm dengan plepet kayu setinggi “?  

Kuda-kuda, gording, usuk dan reng atap berupa kayu jati, dengan penutup atap genteng tanah liat model kodok. Teritisan bangunan utama masjid dan serambinya tidak berplafon, dipasang talang air keliling teritisan. 

Pada selatan serambi tergantung sebuah kentongan kayu setinggi lebih kurang 250 cm.  


2. Bangunan penunjang:  
Bangunan penunjang untuk pengurus masjid di sisi utara bangunan utama masjid yang dipergunakan untuk ruang takmir, ruang poliklinik, ruang koperasi dan hal. 

Bangunan penunjang dengan masjid dihubungkan  oleh doorloop selebar 170 cm, dengan kolom bulat setinggi ...cm, yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh elemen profil lengkung dan papan kayu yang kemudian membentuk lengkung sekaligus berfungsi sebagai srawing. 

Lantai bangunan penunjang dan doorloop berupa tegel abu-abu ukuran 20x20 cm. 

Terdapat sebuah kentongan kayu yang menjadi kelengkapan masjid terletak di selatan serambi masjid. Kentongan ini menurut informasi sudah ada sebelum tahun 1968. Kentongan ini berasal dari Masjid Mangkubumen Kadipaten, dipindah atas ijin Sultan Hamengku Buwono IX. 

Ornamen pada masjid ini juga menggunakan kaligrafi. Pada bagian luar mihrab terdapat kaligrafi “Wasjud Waqtarib”, dan di atas pintu utama di bagian dalam terdapat

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1943
Nama Lainnya : Masjid Margoyuwono
Alamat : Jalan Langenastran Lor No.9 3/8/2016, Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.810997615° S, 110.36° E

SK Menteri : PM.89/PW.007/MKP/2011
SK Gubernur : SK Gub. No 210/KEP/2010


Lokasi Gedung Masjid Margoyuwono di Jalan Langeastran Lor No. 9 Yogyakarta di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Jenis Struktur : Tradisional
Dimensi Struktur
Jenis Bangunan : Tradisional
Fungsi Bangunan : Religi/Keagamaan
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tata Letak Dalam Ruang Kawasan : Gedung Masjid Margoyuwono berdiri pada sebidang lahan berada di utara Jalan Langenastran Lor menghadap ke arah timur.
Deskripsi Jendela : Semua jendela berupa daun ganda arah bukaan ke dalam dengan bagian bawah panil kayu dan bagian atas jeruji kayu.
Deskripsi Pintu : Terdapat tiga pintu yaitu sebagai pintu masuk utama. Semua pintu berupa daun ganda arah bukaan ke dalam dengan bagian bawah panil kayu dan bagian atas jeruji kayu.
Deskripsi Atap : Limasan
Deskripsi Lantai : Lantai bangunan utama masjid menggunakan ubin PC  berwarna kuning ukuran 20x20 cm ditutup karpet. 
Fungsi Situs : Religi/Keagamaan
Fungsi : Religi/Keagamaan
Peristiwa Sejarah : Masjid ini mulai dibangun pada tanggal hari Sabtu Wage, 28 Mulud 1874 Hijriah atau 4 April 1943 Masehi oleh Pawirojuwono, seorang pedagang batik yang sukses. Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Mas Ajeng Pawiroreso bersama Raden Haji Bilal. Bangunan masjid ini diresmikan pada tanggal 29 Agustus 1943, dengan pidato K.R.T. Madukusumo, yang merupakan sesepuh ahli waris keluarga. Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan “ Soetjining Sabda Njarira Nabi” yang ditulis dengan aksara jawa pada prasasti di dinding luar, dilengkapi dengan data   “Pasangan sela kawitan. Katindakaken dening: Mas Ajeng Prawiraresa Lan Raden khaji Bilal. Ing dinten Sabtu Wage Kaping 29 Mulud 1874” Pada awalnya bangunan masjid tersebut merupakan bangunan langgar Langenastran. Namun dalam perkembangannya, jamaah yang beribadah di langgar Langenastran tersebut semakin banyak. Pesatnya perkembangan yang terjadi tidak lepas dari adanya Grup Muhammadiyah Dalem Beteng saat itu (sekarang menjadi Cabang Muhammadiyah Kemantren Kraton) yang menjadikan Langgar Langenastran sebagai pusat kegiatan. Oleh karena itu, Langgar Langenastran tersebut kemudian dipugar dan dibangun menjadi masjid pada tahun 1943 oleh keluarga Prawirojuwono. Pada masa Kemerdekaan tepatnya pada saat Yogyakarta menjadi ibu kota RI, Masjid Margoyuwono sering digunakan sebagai tempat ibadah para menteri dan pejabat negara lainnya.  
Riwayat Pemugaran : Renovasi pada tahun 1986 berupa perbaikan tempat wudhu. Selain itu terdapat pula beberapa penambahan maupun pengembangan fasilitas penunjang namun tidak merubah bangunan utama dan serambi.
Nilai Sejarah : Satu peninggalan bangunan bergaya Kolonial yang menjadi bagian dari perkembangan kawasan kota terutama dinamika masyarakat di dalam benteng kraton.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Berguna bagi ilmu arsitektur utamanya adalah bangunan peribadatan yang menggunakan gaya perpaduan yang mengambil unsur dari berbagai entitas budaya. Bangunan ini juga dapat menjadi objek pembelajaran ilmu teknik sipil yang terkait dengan sistem struktur fondasi, dinding, dan atap bangunan.
Nilai Agama : Masih digunakan untuk kegiatan keagamaan.
Nilai Budaya : Merupakan bukti nyata hasil karya manusia, menggambarkan nilai budaya yang tinggi terkait semangat kebangsaan, kreatif, kerja keras, kerja sama, terkait dengan bangunan peribadatan di Kota Yogyakarta. Bangunan ini dapat menumbuhkan kesadaran akan berketuhanan di Indonesia.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Yayasan Masjid Margoyuwono
Pengelolaan
Nama Pengelola : Yayasan Masjid Margoyuwono
Persepsi Masyarakat : -
Catatan Khusus : Koordinat SK : 49 X: 0429969 Y: 9136477