Bangunan Bangsal Kamagangan merupakan bangunan utama di halaman Kamagangan Kraton Yogyakarta. Selain bangsal ini terdapat beberapa bangunan lain yang semuanya berada dalam halaman yang berbentuk persegi berukuran 75 m x 75 m. Halaman ini dikelilingi pagar tembok yang merupakan bagian dari Cepuri Kraton Yogyakarta.
Konstruksi bangunan Bangsal Kamagangan dari bahan kayu jati dengan bentuk arsitektur Joglo Mangkurat, yaitu bangunan yang memiliki kombinasi konstruksi lambang gantung yang terletak pada sambungan brunjung dengan atap penanggap, dan konstruksi lambangsari yang terletak pada sambungan antara atap penanggap dengan èmpèr. Bangunan ini memiliki denah persegi panjang berukuran 20,70 m x 18,60 m. Bahan penutup atap dari sirap metal berwarna hitam.
Konstruksi atap ditopang oleh 4 saka guru dengan tinggi 4,80 m. Saka memiliki ukuran 0,2 m x 0,26 m, dan 12 saka penanggap dengan tinggi 2,54 m, berbentuk persegi dengan ukuran 0,16 m x 0,16 m, serta 20 saka èmpèr dengan tinggi 1,22 m. Terdapat 8 saka santen penampang bulat, masing-masing saka santen ini terdapat dua buah di sisi utara dan sisi selatan pada blandar penanggap pamanjang dan blandar èmpèr pamanjang.
Lantai Bangsal Kamagangan berupa tegel warna kuning berukuran 0,2 m x 0,2 m. Permukaan lantai di bawah atap brunjung dan penanggap rata dalam satu bidang (jerambah) dan lebih tinggi 30 cm dari lantai di bawah atap èmpèr (jogan) yang ditinggikan 60 cm dari permukaan halaman Kamagangan. Di tengah lantai bawah atap penanggap sisi utara, terdapat séla gilang palenggahan dalem. Di sisi utara Bangsal Kamagangan terdapat pohon beringin yang dikenal dengan nama Ringin Sri Makutha, yang ditanam seusai penobatan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII pada tanggal 8 Februari 1921.
Dari halaman Kamagangan ini terdapat struktur jalan ke arah selatan yang diapit dengan pagar pasangan bata. Ukuran panjang jalur jalan tersebut 60 m sampai dengan Regol Gadhung Mlathi. Struktur pagar dibuat menyempit mendekati bangunan regol di selatannya, lebar jalur jalan yang memiliki ukuran 18 m menjadi 4 m pada bagian penyempitan ini. Pada masa terdahulu di bagian yang menyempit sepanjang 6 m ini dahulu terdapat sepasang pintu berhadap-hadapan di kiri-kanan dinding pagar, pada masa kemudian diganti dengan bentuk jendela, dan saat ini ditutup tembok. Jalur jalan yang menghubungkan halaman Kamagangan dengan halaman Kamandhungan Kidul ini dinamakan Pangongan (berasal dari kata “pangongkangan” yang berarti ongkang-ongkang/manglung yaitu istilah untuk sikap merendahkan punggung dan pandangan ke arah aliran air). Hal ini dikarenakan pada bagian penyempitan tersebut diperkirakan berupa jembatan di atas saluran air (kanal) bernama Segaran Panggung yang menghubungkan air dari Segaran Tamansari menuju Segaran Pulo Gedhong.