Bangunan Gedhong Prabayeksa dan Bangsal Kencana merupakan bangunan utama yang berada di Halaman Kedhaton atau Pelataran Kedhaton yang merupakan salah satu halaman di dalam kompleks Kraton Yogyakarta dengan luas 1,38 ha (13.813 m2). Halaman ini diapit oleh halaman kompleks Keputren di sebelah barat dan halaman kompleks Kasatriyan di sebelah timur. Seluruh halaman tersebut dikelilingi pagar tembok yang merupakan bagian dari Benteng Cepuri Kraton Yogyakarta.
a. Gedhong Prabayeksa
Nama "prabayeksa" memiliki makna "cahaya yang besar 1 terang", dikenal pula dengan nama "prabayaksa". Penamaan Gedhong Prabayeksa ini kemudian dimaknai sebagai bangunan yang bereahaya yang diidentikkan dengan kemasyhuran. Sebelumnya bangunan ini dikenal pula dengan nama Gedhong Prabayasa yang berasal dari kata "prabasuyasa, yang berarti harfiah "rumah/ bangunan yang bereahaya". Gedhong Prabayeksa merupakan bangunan yang paling disakralkan di Kraton Y ogyakarta, karena selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka-pusaka utama Kraton, juga menjadi tempat tersimpannya pusaka keraton bemama Kyai Wiji berupa lampu yang tidak pemah padam sejak masa Sultan Hamengku Buwana I.
Bangunan Gedhong Prabayeksa merupakan bangunan tradisional Jawa dengan bahan konstruksi dari kayu, memiliki denah bentuk persegi panjang berukuran 39,14 m x 25,11 m, pada bagian barat bangunan terdapat tiga ruangan yang disebut Kedhaton Kilen dan Gupit A1andragini yang berfungsi sebagai tempat tinggal permaisuri, serta Gedong Kepilih sebagai tempat tinggal abdi dalem wanita yang menyediakan keraton. Bangunan sesaji bagi m1 memiliki pusaka-pusaka bentuk atap Limasan Sinom Mangkurat, yaitu atap limasan yang memiliki kombinasi konstruksi lambang gantung yang terletak pada sambungan gajah/liman (atap teratas)dengan atap penanggap, dan konstruksi lambangsari yang terletak pada sambungan antara atap penanggap dengan emper. Penutup atap bagian gajah/liman (atapteratas), penanggap dan emper berbahan sirap metal. Konstruksi atap disangga oleh 8 saka guru tinggi 5,88 m, berbentuk persegi dengan ukuran 0,37 m x 0,37 m, dan 16 saka penanggap dengan tinggi 2,98 m, berbentuk persegi dengan ukuran 27 em x 27 em, serta 24 saka emper dengan tinggi 1,70 m, berbentuk persegi dengan ukuran 0,22 m x 0,22 m. Di bagian tengah balok blandar emper terdapat 4 saka santen berbentuk (penampang) bulat dengan tinggi 1, 70 m. Masing-masingsaka santen terdapat dua di sisi timur (tepat di depan pintu) dan dua di sisi selatan (masing-masing satu tiang di depan pintu bagian kananjbarat dan pintu bagian kiri/timur). Lantai Gedhong Prabayeksa menggunakan manner polos warna abu-abu muda berukuran 0,55 m x 0,55 m, sedangkan bagian ruangan Kedaton Kulon ( separuh denah Gedhong Prabayeksa bagian barat) berupa lantai tegel warna berukuran 0,20 m x 0,20 m. Permukaan lantai di bawah atap gajah/liman (atap teratas), dan penanggap rata dalam satu bidang Uerambah) dan lebih tinggi 40 em dari lantai di bawab atap emper Uogan). Lantai jogan tersebut berada 46 em di atas permukaan halaman Kedhaton di sekelilingnya. Dinding terluar Gedhong Prabayeksa berupa gebyok (papan kayu jati) yang dipasang antar saka emper (penitih) serta gebyok sebagai sekat-sekat ruangan di dalamnya. Gebyok sebagai dinding terluar (bagian empef) dilengkapi pintu panel kayu dan jendela berterali kayu, sementara gebyok sekat antar ruang hanya dilengkapi pintu panel kayu. Gedhong Prabayeksa menghadap ke arab timur dengan ditandai 7 pintu ganda panel kayu, serta memiliki 5 pintu di sisi selatan (2 pintu di bagian timur kanan dan 3 pintu di bagian barat kiri), 2 pintu di sisi barat, dan 2 pintu di sisi utara. Masingmasing pintu berupa pintu jeplakan yang daun pintunya dibuka dengan eara ditarik ke atas yang memiliki engsel pada balok blandar (up-and-over doof). Bang sal Paningrat meru pakan bangunan penghubung (koridor) antara Gedhong Prabayeksa dan Bangsal keneana. Bangsal Paningrat dikenal juga dengan nama Tratag Prabayeksa. Bentuk bangunan Tratag Parabeyeksa berupa Limasan Jebengan. Pada zaman dahulu, bentuk tratag ini masih sederhana, bangunan beralas pasir, saka (tiang) kayu bentuk segi delapan, dengan atap bambu anyaman srisig. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VI dilakukan perubahan berupa penggantian lantai menjadi manner, pergantian bahan saka dan balungan menjadi besi, penggunaan plafon ashes dan bahan penutup atap berupa seng gelombang. Pada saat ini, atap Tratag Prabayeksa disamakan dengan atap Gedhong Prabayeksa dan Bangsal Kencana dengan bahan atap sirap metal. Bangunan ini berukuran 13,3 m x 28,9 m dengan 24 tiang besi cor dengan penampang bulat dengan ukuran tinggi 3 m dan diameter 0,20 m. Kolom-kolom tersebut berbentuk mengecil ke atas memiliki galur vertikal pada permukaannya dan dicat dengan warna hitam, dengan kepala kolom berbentuk Korintia. Bagian tengah kolom terdapat ornamen berbentuk bunga padma merah dan di atasnya terdapat omamen deretan bunga-bunga kecil yang terpilin di sekeliling kolom. Kolom jenis ini terdapat pula pada tratag Bangsal Kencana dan tratag Bangsal Pancaniti
b. Bangsal Kencana
Bentuk Arsitektur Bangsal Kencana adalah Joglo Sinom Mangkurat, yaitu bangunan yang memiliki kombinasi konstruksi lambang gantung yang terletal{ pada sambungan brunjung dengan atap penanggap, dan konstruksi lambangsari yang terletak pada sambungan antara atap penanggap dengan emper. Bangunan ini memiliki denah berbentuk persegi panjang berukuran 21,4 m x 21,9 m. Penutup atap berbahan sirap metal. Bangsal Kencana merupakan bangunan u tama di seluruh kompleks Kraton Yogyal{Mta dengan memiliki dimensi yang besar dan ragam hias ukiran yang megah. Berbeda dengan bangunan pendapa pada umumnya, khusus pendapa Bangsal Kencana memiliki uleng (ruangan yang dibentuk oleh susunan blandar singup) berjumlah 6 (enam), sedangkan bangunan joglo pada umumnya jumlah uleng hanya 2 (dua) buah yang dipisahkan dengan sebuah balok dhadha paesi (dikenal pula dengan istilah dhadha peksi). Konstruksi atap disangga oleh 4 saka guru tinggi 6,18 m, berbentuk persegi dengan ukuran 27 em x 27 em, dan 12 saka penanggap dengan tinggi 2,44 m, berbentuk persegi dengan ukuran 20 cm x 20 cm, serta 20 saka penitih dengan tinggi 2 m, berbentuk persegi dengan ukuran 18 em x 18 em. Terdapat 16 saka santen berbentuk bulat dengan tinggi 2,44 m. Masing-masing saka santen ini terdapat dua buah di keempat sisi pada bagian tengah balok blandar penanggap dan blandar emper.
Pada bagian tiang saka guru, saka penanggap dan saka emper di bangsal ini memiliki ornamen dan ragam hias khusus berupa: Saton, Praban, Putri Mirong, Sorotan, Praban, Tlaeapan, dan Mayangkara. Khusus bentuk omamen Praban dan Putri Mirong, hanya terdapat pada ruang-ruang tempat di mana sultan berada di bangunan tersebut. Oleh karenanya, kedua bentuk ornamen tersebut merupakan ornamen awisan (larangan) yang tidak boleh ditiru di bangunan-bangunan baik di luar maupun di dalam keraton yang bukan merupakan tempat sultan berada. Semua tiang dicat dengan warna hitam, ornamen dieat dengan warna perada (prada) dan merah, serta memiliki umpak batu berornamen padma. Oleh karena pendapa Bangsal Keneana mempunyai ukuran yang paling besar, sedangkan jumlah saka penanggap dan saka emper telah memiliki hitungan tertentu sesuai dengan kaidah bangunan tradisional Jawa, maka untuk meneegah teijadinya lendutan (defleksi) dari baik balok blandar penanggap ditambah maupun blandar dengan tiang/saka em per, dengan maka bentuk
silindris yang disebut dengan saka santen. Bentuk saka santen yang silindris ini dimaksudkan sebagai pembeda agar tidak menyamai dengan bentuk saka lain yang sudah tertentu bentuk dan jumlahnya. Sesama saka santenpun dibedakan bentuk dan omamennya. Saka santen yang menyangga blandar penanggap diberi ornamen Tlacapan dan Putri Mirong, karena posisi saka santen penanggap dengan saka guru pendapa Bangsal Kencana sebidang pada permukaan lantai yang sama (jrambah), sedang saka santen emper polos tidak memiliki ornamen Tlacapan dan Putri Mirong, karena letak saka santen emper terdapat pada permukaan lantai yang lebih rendah (jogan).
Lantai Bangsal Kencana menggunakan marmer polos. Permukaan lantai di bawah atap brunjung dan penanggap rata dalam satu bidang (jerambah) dan lebih tinggi 40 em dari lantai di bawah atap emper (jogan). Lantai tratag dan kuncungan lebih rendah dari lantai emper. Bangsal Kencana dikelilingi dengan tratag di sisi utara, timur, dan selatan (sisi depan, kiri dan kanan) sehingga denah keseluruhan menyerupai bentuk huruf "U", Tratag memiliki bentuk arsitektur Limasan Jebengan (Apitan) Klabang Nyander. Dimensi tratag samping kiri dan kanan simetris dengan ukuran yang sama, sedangkan tratag sisi depan lebih besar dan lebar. Penutup atap tratag Bangsal Kencana berbahan sirap metal, bagian interior ditutup plafon ashes dan disangga oleh 36 kolom berbahan besi cor dengan penampang bulat dengan ukuran tinggi 3 m dan diameter 20 em. Kolom-kolom tersebut berbentuk mengecil ke atas memiliki galur vertikal pada permukaannya dan dicat dengan warna hitam, dengan kepala kolom berbentuk Korintia. Bagian tengah kolom terdapat omamen berbentuk bunga padma merah dan di atasnya terdapat omamen deretan bunga-bunga kecil yang terpilin di sekeliling kolom. Kolom jenis ini terdapat pula pada tratag Bangsal Pancaniti. Di sisi depan (timur) bagian tengah tratag Bangsal Kencana terdapat kuncungan berbentuk Limasan, sehingga apabila dilihat dari sisi timur, kuncungan Bangsal Kencana, brunjung Bangsal Kencana, atap
Tratag Prabayeksa, serta atap teratas (gajah) Gedhong Prabayeksa terletak pada satu garis lurus.