| Bahan Pendamping | : | Kayu |
| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Bahan Utama | : | Logam |
| Bahan Pendamping | : | Kayu |
| Jenis Struktur | : | Lain-lain |
| Materi Spesifik (Bahan presentase terbesar) | : | Baja |
| Bentuk | : | Memanjang |
| Panjang | : | 176 m |
| Lebar | : | 6 m |
| Tinggi | : | 23,8 m |
| Jenis Bangunan | : | Lain-lain |
| Tokoh | : | Th. E. Veer (arsitek perancang jembatan)J.A. Verhoog (insinyur kepala)Johan Ernst Jasper (Gubernur Yogyakarta yang pertama, inspirasi nama jembatan: Gouverneur Jasper-brug) |
| Peristiwa Sejarah | : | Pembangunan jembatan telah diusulkan pada tahun 1912 oleh Resident Djokjakarta Jacob Hendrik Liefrinck untuk didirikan di daerah Sentolo. Proposal awal mengajukan estimasi biaya pembangunan f 156.000 Gulden kepada Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W.). Jembatan ini kemudian dirancang oleh Th. E. Veer, arsitek dari B.O.W. selama tahun 1915–1916 dengan biaya konstruksi mencapai f 250.000 Gulden. Pada tahap perencanaan ini, pihak Kesultanan Yogyakarta bersedia berkontribusi setengah dari biaya konstruksi yaitu f 125.000 Gulden. Hal ini mempertimbangkan bahwa pembangunan Jembatan Gantung Bantar memiliki peran penting untuk perkembangan ekonomi di wilayah Yogyakarta. Tahun 1920, terjadi perubahan anggaran konstruksi menjadi f 415.900 Gulden. Melalui Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 32 tanggal 1 Mei 1920 pembiayaan ditanggung pemerintah dengan besar kontribusi dari Kesultanan Yogyakarta tetap f 125.000 Gulden. Pada tahun 1920 itu pula pekerjaan pembangunan Jembatan Gantung Bantar dimulai, namun kemudian berhenti pada tahun 1921 karena kondisi kesulitan keuangan negara kala itu. Pada tahun 1925 pekerjaan pembangunan jembatan dilanjutkan kembali. Pekerjaan substruktur (konstruksi pilar jembatan) ditenderkan kepada Nederlandsche Aannemingsmaatschappij (N.E.D.A.M.) yang diselesaikan pada Oktober 1927 dengan biaya f 229.000 Gulden. Sementara konstruksi superstruktur dikerjakan oleh pabrik Werkspoor N.V. di Utrecht dengan biaya f 221.000 Gulden. Perakitan konstruksi superstruktur dilakukan pada Agustus 1928 hingga akhirnya pembangunan Jembatan Bantar selesai dan diresmikan tanggal 17 Juni 1929. Seluruh proses pembangunan dikepalai oleh insinyur J.A. Verhoog dengan pengawasan langsung dari B.O.W. Pada saat peresmiannya, jembatan ini diberi nama: Gouverneur Jasper-brug. Nama tersebut diambil dari Johan Ernst Jasper, Gubernur Yogyakarta yang pertama pada masa jabatan 1928–1929. Sebelumnya J.E. Jasper menjabat Resident di Yogyakarta sejak tahun 1926 (19 Desember 1927 status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi). J.E. Jasper dikenal pula sebagai penulis sastra dan seni, karyanya yang paling dikenal adalah buku De Weefkunst (Seni Tenun) yang ditulis bersama Mas Pirngadie pada tahun 1912 yang hingga saat ini menjadi salah satu acuan utama dalam kajian wastra/tekstil di Indonesia. Jembatan Gantung Bantar erat kaitannya dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pertempuran di lokasi ini melibatkan Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo. Pasukan ini merupakan pasukan TNI yang pada awalnya dibentuk sebagai bagian dari penerapan Operasi Siasat Nomor 1, yaitu “Siasat Bumi Hangus” (melakukan sabotase/penghancuran fasilitas umum untuk menghambat mobilisasi musuh). Kolonel Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi III MBKD (Markas Besar Komando Djawa) Jawa Tengah bagian Barat dan Yogyakarta kala itu membentuk beberapa Wehrkreise. Untuk daerah Yogyakarta berada di bawah komando pasukan Wehrkreise III yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto. Selanjutnya Letkol Soeharto membagi wilayah komandonya ke dalam beberapa Sub-Wehrkreise. Salah satu pasukkan Sub-Wehrkreise yang dibentuk yaitu pasukan Sub-Wehrkreise 106 yang berada di Kulon Progo dengan komandan Letnan Kolonel Soedarto. Setelah peristiwa Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948), Jembatan Gantung Bantar dikuasai pasukan Belanda dan dijadikan pos militer tentara Belanda sejak 27 Desember 1948. Misi Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo adalah menyerang pos militer ini sekaligus merusak/menghancurkan Jembatan Gantung Bantar. Pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo berhasil melakukan penekanan dan menahan pasukan Belanda yang berada di pos Jembatan Gantung Bantar. Kondisi ini mengakibatkan pasukan tentara Belanda tidak dapat bergerak untuk memberikan bantuan kepada pasukan Belanda yang sedang diserang oleh pasukan Wehrkreise III di kota Yogyakarta. Peristiwa tertahannya pasukan tentara Belanda di Jembatan Gantung Bantar dalam pertempuran tersebut memberikan dampak besar terhadap keberhasilan Serangan Umum 1 Maret di Kota Yogyakarta. Peristiwa Serangan Umum tersebut kemudian berdampak signifikan terhadap sejarah perjuangan revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Situasi yang berakibat memaksa pihak Belanda untuk melaksanakan perundingan dan menghentikan pertempuran. |
| Konteks | : | - |
| Riwayat Pelestarian | : | Penggantian papan kayu, penggantian pengerasan aspal, pengecatan struktur baja (pelapisan galvanis), perbaikan pasangan batu, dan pemeliharaan rutin menurut acuan Bridge Management System (BMS 1992) |
| Riwayat Perlindungan | : | Sejak tahun 2015 Jembatan Gantung Bantar tidak lagi dilewati kendaraan. Kedua ujungnya telah diberi portal untuk mencegah kendaraan melintas |
| Nilai Sejarah | : | Jembatan Gantung Bantar merupakan bukti sejarah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pertempuran di lokasi ini melibatkan Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo. Pasukan ini merupakan pasukan TNI yang pada awalnya dibentuk sebagai bagian dari penerapan Operasi Siasat Nomor 1, yaitu “Siasat Bumi Hangus” (melakukan sabotase/penghancuran fasilitas umum untuk menghambat mobilisasi musuh). |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Jembatan Gantung Bantar merupakan sistem konstruksi jembatan dengan kabel yang dilengkapi sendi dan rol merupakan sistim konstruksi yang menyesuaikan material dengan kondisi alam. |
| Nilai Pendidikan | : | Jembatan Gantung Bantar menjadi referensi bagi Pendidikan teknik sipil konstruksi. |
| Nilai Budaya | : | Jembatan gantung Bantar merupakan bentuk partisipasi Kasultanan Yogyakarta karena mempertimbangkan bahwa pembangunan Jembatan Gantung Bantar memiliki peran penting untuk perkembangan ekonomi di wilayah Yogyakarta dan sebagai monumen kepahlawanan rakyat Yogyakarta dalam perjuangan revolusi kemerdekaan RI (1948–1949). |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi D.I. Y |
| Nama Pengelola | : | Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Provinsi D.I. Y |
| Catatan Khusus | : | - |