Bangunan Ndalem Jayadipuran terdiri dari perpustakaan, pendopo, dan mess karyawan.
Dalem Jayadipuran terletak di Jalan Brigjen Katamso No. 139 Yogyakarta. Bangunan ini dibangun pada tahun 1847 oleh Rden Tumenggung Dipawinata, seorang abdi dalem Bupati Anom. Nama lain yang dikenal untuk penyebutan bangunan ini adalah Dalem Dipowinatan. Pada tahun 1911 Raden Tumenggung Dipawinata meninggal dunia dan kemudian diganti oleh Raden Dipawinata II yang berlangsung hingga 1914, selanjutnya “hak anggaduh tanah†tersebut diserahkan kembali kepada keraton. Pada tahun 1917 tanah dan Dalem Dipowinatan tersebut dihadiahkan kepada KRT Jayadipura, yang pada waktu itu menjadi menantu Sri Sultan Hamengku Buwana VII. Pada tahun 1923 pernah dijadikan tempat kongres Jong Java. Pada tahun 1928 pernah dijadikan tempat kongres Perempuan Indonesia yang pertama.
Secara umum bangunan dalem ini memiliki corak arsitektur tradisional Jawa. Bagian atap bangunan terdiri dari: atap tajug untuk kuncungan, atap limasan untuk topengan, atap limasan untuk pendapa, atap limasan klabang nyander untuk pringgitan, atap limasan klabang nyander untuk dalem, atap limasan klabang nyander untuk untuk ruang belakang senthong dan atap limasan klabang nyander untuk gadri belakang. Keseluruhan bangunan masih dipertahankan bentuk aslinya. Plafon masih menggunakan anyaman bambu, tiang-tiang kayu dan lis kayu di atasnya masih asli. Hanya beberapa kecil bagian yang mengalami perubahan
Seperti dalem pada umumnya, pendapa ini merupakan salah satu bagian dalem Jayadipuran yang berada di bagian depan. Pada bagian pendapa terdapat kuncungan yang dihiasi dengan rete-rete. Bagian pendapa senidir atapnya berupa joglo, sedangkan pada bagian lantainya masih dapat dijumpai tegel kunci berwarna kuning yang merupakan ciri khas perkembangan bangunan tradisional Jawa.
Pada salah satu sisi bangunan di dalam Dalem Jayadipuran terdapat bangunan saat ini difungsikan sebagai Mess Karyawan. Bagian Mess Karyawan ini memiliki langgam arsitektur tradisioanal Jawa yang dapat dilihat dari bentuk atapnya. Selain itu pada bagian tritisan terdapat hiasan berupa rete-rete yang menjadi penghias muka depan bangunan. Pada bagian lantai, bangunan ini masih mempertahankan keasliannya yang dapat dilihat dari tegel kunci yang bermotif flora.
Bangunan ini masih menunjukkan tapak tradisonal Jawa yang terjaga hingga saat ini. Sekarang Dalem Jayadipuran ini digunakan sebagai Kantor Badan Pelestarian Nilai Budaya.
Referensi :
Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
Jenis Struktur | : | Tradisional |
Jenis Bangunan | : | Tradisional |
Komponen Pelengkap | : |
|
Tata Letak Dalam Ruang Kawasan | : | Dalem Jayadipuran merupakan kompleks bangunan rumah langgam tradisional Jawa dengan atap berbentuk limasan. Bangunan tersebut dibangun menghadap ke arah selatan. Kompleks Dalem Jayadipuran dikelilingi tembok pembatas setinggi 2 meter yang dilengkapi dengan tiga gerbang. Gerbang utama berada di sisi barat dan dua gerbang lainnya berada di sisi timur dan utara. Gerbang utama merupakan gerbang berpintu dan pernah mengalami renovasi setelah terdampak gempa pada 27 Mei 2006. Kompleks Dalem Jayadipuran terdiri atas bangunan utama dan bangunan pelengkap. Bangunan utama meliputi susunan ruangan lengkap khas arsitektur rumah Jawa: 1) Kuncungan Bagian ini merupakan komponen bangunan yang terletak di depan pendopo dan berfungsi sebagai akses masuk utama dari selatan sekaligus tempat pemberhentian kendaraan. Bagian ini berdenah persegi berukuran 5 m x 5,30 m, permukaan lantai lebih rendah 43 cm dari lantai pendopo dengan lantai tegel abu-abu ukuran 20 cm x 20 cm. Kuncungan terdiri atas 6 tiang kayu dan atap berbentuk tajuk, bahan penutup atap zincalume dengan hiasan kemuncak meruncing ke atas berbahan kayu. 2) Topengan Bagian ini berada di depan pendopo dengan denah persegi panjang berukuran 4,20 m x 16,1 m, bentuk atap limasan jebengan dengan bahan penutup atap zincalume, plafon menyatu dengan plafon pendopo berbahan timah hitam. Konstruksi atap ditopang oleh 8 tiang, 4 tiang sisi utara menggunakan tiang pendopo, berbahan kayu berornamen, ukuran tiang 16 cm x 16 cm dengan penampang persegi. Pada bagian di bawah srawing terdapat teririsan dengan konsol besi berornamen dengan bahan penutup seng gelombang. Permukaan lantai lebih rendah 20 cm dari lantai pendopo, bahan lantai tegel bermotif ukuran 20 cm x 20 cm. 3) Pendopo Pendopo berupa ruang terbuka dengan denah persegi panjang berukuran 9,50 m x 16,1 m bahan lantai tegel bermotif warna abu-abu, ukuran 20 cm x 20 cm. Atap pendopo berbentuk limasan, bahan penutup atap zincalume. Konstruksi atap ditopang 10 tiang berbahan kayu berornamen ragam hias berupa garis horizontal dan simbol Lingga-Yoni berupa garis vertikal yang mengarah masuk ke lingkaran. Bentuk penampang tiang berupa persegi, ukuran 16 cm x 16 cm. Pada setiap sudut pendopo terdapat konsol penyangga teririsan berbahan besi berornamen lung-lungan. Antar tiang di sisi luar terdapat srawing dengan ujung berornamen banyu tumetes. 4) Pringgitan dan Emper Dalem Dua bagian ini berada dalam satu atap berbentuk limasan dengan konstruksi disangga oleh 6 tiang (4 tiang bagian tengah memanfaatkan tiang sisi utara pendopo) dan dinding tembok pada bagian belakang (sisi utara) yang merupakan dinding depan dalem ageng. Komponen plafon menyatu dengan plafon pendopo yang berbahan timah hitam. Pringgitan merupakan ruangan terbuka di antara pendopo dan dalem ageng berdenah empat persegi panjang berukuran 3,25 m x 26,1 m. Bagian Emper Dalem berukuran 6,25 m x 26,1 m pada sisi kiri dan kanan terdapat dua ruang berukuran masing-masing 5 m x 6,25 m. Kedua ruangan ini memiliki 3 pintu ganda di sisi luar, sisi dalam (utara), dan sisi ke emper dalem ageng. Masing-masing ruangan memiliki 2 jendela di sisi menghadap pringgitan dan di dinding sisi luar (timur dan barat). Penutup lantai berupa tegel abu-abu bermotif, ukuran 20 cm x 20 cm. 5) Dalem Ageng Bagian dalem ageng sebagai tata ruang inti dalam kompleks bangunan ini terdiri atas dua segmen berupa dalem dan senthong yang memiliki masing-masing atap terpisah. Denah bagian dalem berupa persegi panjang berukuran 9 m x 16,1 m. Terdapat 2 jendela daun ganda di sisi barat dan timur, 2 pintu ganda di sisi barat dan timur, 3 pintu di sisi utara yang masing-masing menuju ruang senthong tengen, senthong tengah, dan senthong kiwo, serta 3 pintu di sisi selatan (berhubungan dengan emper dalem). Ketiga pintu sisi selatan memiliki ukuran yang identik, namun sebelum bangunan ini direnovasi, pintu tengah dibuka dengan cara ditarik dari bawah ke atas. Saat ini, pintu tengah diperbesar dan daun pintu diganti dengan daun pintu dengan bukaan ke depan. Pintu kanan dan kiri masih dipertahankan keasliannya. Permukaan lantai dalem terdapat perbedaan ketinggian 33 cm lebih tinggi untuk sebelah utara selebar 5,30 m x 16,1 m. 6) Senthong Bagian senthong memiliki atap tersendiri berdenah persegi panjang berukuran 5 m x 16,1 m. Tata ruang terdiri atas senthong tengah, senthong kiwa, dan senthong tengen. Senthong tengah berukuran 5,20 m x 5,05 m terdapat ruang kecil di belakang senthong tengah berukuran 2,65 m x 5,05 m yang diakses melalui pintu ganda masing-masing dari ruang senthong kiwa, dan senthong tengen. Ukuran ruang senthong kiwa, dan senthong tengen masing-masing 5,20 m x 5,20 m . Kedua ruang ini memiliki masing-masing jendela di dinding sisi luar dan pintu di dinding sisi depan (menuju bagian dalem) dan sisi belakang (menuju bagian gadri) 7) Gadri Bagian gadri merupakan tata ruang paling belakang dari bangunan utama, memiliki fungsi awal sebagai tempat makan dan istirahat. Bagian ini terdapat dua ruang separuh selatan (lebar 4,70 m) untuk gadri dan separuh utara (lebar 3,90 m) untuk emper belakang yang memiliki satu atap bersama berbentuk limasan. Bagian gadri berdenah persegi panjang berukuran 4,70 m x 16,1 m. Akses menuju gadri dari selatan terdapat 2 pintu yang masing-masing dari ruangan senthong kiwa, dan senthong tengen, 3 pintu ganda di sisi utara menuju emper belakang. Bagian emper belakang berdenah persegi panjang berukuran 3,90 m x 23,65 m. Permukaan lantai gadri dan emper belakang lebih rendah 33 cm dari ruangan dalem dan senthong, serta lebih tinggi 75 cm dari permukaan tahan halaman belakang. 8) Emper samping Bagian emper ini berada di sisi barat dan timur bangunan dalem ageng sampai dengan gadri berdenah persegi panjang berorientasi utara-selatan serta berukuran masing-masing 4,10 m x 22,30 m. Pada masing-masing sisi terluar memiliki tambahan partisi kayu sehingga berbentuk menyerupai bagian gandok. Kedua bagian emper samping ini memiliki 3 ruang dengan sekat partisi yang dihubungkan pintu ganda serta memiliki akses menuju ruang senthong dan gadri. 9) Seketheng Merupakan pintu gerbang pada tembok pagar yang memisahkan halaman luar (area pendopo-pringgitan-emper dalem) dan halaman dalam (area dalem ageng–gadri). Seketheng terdapat masing-masing di sisi barat dan timur. Bangunan pelengkap berupa bangunan eks-Standart School merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak para bangsawan pribumi, lurah, perangkat desa, dan saudagar. Bangunan eks-Standart School di sisi selatan halaman depan. Bangunan eks-Standart School berbentuk limasan jebengan yang memanjang dari timur ke barat. Bangunan ini terdiri atas 4 ruangan dengan ukuran yang sama dan beberapa kamar mandi di sisi timur. Pada setiap ruangan, terdapat dua buah jendela yang berukuran tinggi dan besar dengan bukaan ke depan. Di samping kedua jendela terdapat pintu dengan dua daun pintu yang membuka ke luar. Di atas pintu, terdapat lubang angin dengan ragam hias geometris yang terbuat dari kayu dan besi. Setiap ruangan kelas memiliki motif tegel yang berbeda namun masih dalam tema flora yang serupa dengan motif lantai pada bangunan utama Dalem Jayadipuran. Pada teras ruangan kelas terdapat pagar atau hek memanjang yang terbuat dari kayu dengan bentuk ragam hias banyu tetes yang terbalik. |
Tokoh | : | KRT Dipowinata, KRT Jayadipura |
Peristiwa Sejarah | : | Sebelum dimiliki oleh KRT Jayadipura, dalem ini pada mulanya bernama Dalem Dipowinatan. Penamaan ini merujuk pada kepemilikan bangunan yaitu KRT Dipowinata. Bangunan ini dibangun pada tahun 1874 di atas tanah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan status hak anggaduh. Setelah KRT Dipowinata meninggal pada tahun 1911, bangunan ini digunakan oleh Raden Tumenggung Dipowinata II sampai tahun 1914. Hak atas tanah kemudian dikembalikan kepada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan pada tahun 1917, Sultan Hamengkubuwono VII menghadiahkan Dalem Dipowinatan kepada menantunya, yaitu KRT Jayadipura. Sejak saat itu Dalem Dipowinatan kemudian berubah nama menjadi Dalem Jayadipuran. Saat serah terima kepemilikan tersebut, kondisi bangunan dalam keadaan tidak terawat sehingga KRT Jayadipura memperbaiki beberapa bagian bangunan dan menambahkan dua ruangan baru di bagian pringgitan. Selain sebagai tempat untuk menjamu tamu, pendopo Dalem Jayadipuran pernah menjadi tempat diadakannya kongres-kongres pergerakan nasional. Saat ini, pendopo masih digunakan sebagai tempat pagelaran kesenian Jawa, seminar, dan kegiatan sosial budaya. Dalem Jayadipuran merupakan bangunan yang penting pada Masa Pergerakan karena sering kali digunakan sebagai tempat penyelenggaraan kongres organisasi pergerakan sosial politik dilaksanakan. Kongres tersebut berturut-turut pada tahun 1919–1928 di antaranya adalah:1) Kongres Jong Java II (29 Mei–3 Juni 1919) Kongres Jong Java II membahas tentang peranan wanita dalam organisasi dalam pergerakan nasional. Keputusan penting yang diambil dalam kongres ini adalah persetujuan keterlibatan wanita dalam pengurus besar dan redaksi majalah organisasi. 2) Kongres Jong Java VI (23–27 Mei 1923) Kongres Jong Java VI membahas mengenai permasalahan-permasalahan internal organisasi seperti penyusunan anggaran rumah tangga organisasi. Pada kongres ini anggaran rumah tangga organisasi berhasil disetujui oleh para anggota. 3) Kongres Jong Java VII (27–31 Desember 1924) Kongres Jong Java VII membahas tentang pengaruh Sarekat Islam dalam Jong Java dan kebebasan berpolitik bagi anggota yang sudah berumur di atas 18 tahun. Selain itu, kongres ini juga memutuskan pembentukan Jong Java Studie Fonds (Dana Pendidikan Jong Java) sebagai cabang dari Jong Java yang mengurus pemberian bantuan (uang) bagi para anggotanya. 4) Kongres Jong Java XI (25–29 Desember 1928) Kongres Jong Java XI menyetujui ide fusi atau peleburan organisasi-organisasi pemuda ke dalam satu organisasi yang memiliki cabang di seluruh Indonesia. Terdapat ketetapan agar ada waktu peralihan sebagai persiapan dan pembentukan komisi persiapan. 5) Kongres Jong Islamieten Bond (1925) Kongres Jong Islamieten Bond I yang diadakan di Dalem Jayadipuran pada tahun 1925 dihadiri oleh Tjokroaminoto, Soerjopranoto, Dwijosewoto, Suwardi Suryaningrat, Agus Salim, H. Fachrudin. dan Mirza Wali Ahmad Baiq (Afschrift Congres Jong Islamieten Bond dalam Harnoko, 2014: 81). Dalam kongres ini, Raden Samsul Rizal membahas tentang arah dan tujuan Jong Islamieten Bond, kedudukan pelajar wanita Islam, organisasi pemuda yang nasionalis, dan sikap Jong Islamieten Bond terhadap politik. 6) Kongres Jong Islamieten Bond II (23–27 Desember 1927) Kongres Jong Islamieten Bond II kembali mengadakan kongres di Dalem Jayadipuran pada tanggal 23–27 Desember 1927. Kongres ini membahas tentang aspek keislaman dalam cita-cita persatuan dan pembentukan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIBDA) yang merupakan organisasi wanita Islam. Kongres ini dihadiri oleh RM. Aryo Yosodipuro, dr. Soekiman, H. Sujak, RM. Suryopranoto, dan tokoh-tokoh kebangsaan termasuk dari PNI (Afschrift Congres Jong Islamieten Bond). 7) Rapat Umum PNI (17 Juni 1927) Setelah Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dibentuk di Bandung, didirikan pula cabang PNI di Yogyakarta yang diketuai oleh Mr. Soejoedi. Setelah ada berita mengenai penggeledahan dan penangkapan para pemimpin Perhimpunan Indonesia di Belanda, PNI mengadakan rapat umum di Dalem Jayadipuran pada tanggal 17 Juni 1927. Rapat ini dihadiri oleh PSI dan cabang-cabangnya, PNI, BU, Muhammadiyah, JIB, SIAP, Taman Siswa, Al Kaasyaaf, dan wakil dari perkumpulan Tionghoa (Bintang Hindia No. 2, 1928). Drijowongso menjadi pemimpin dalam rapat ini dan Dr. Soekiman Wirjosandjojo menjadi pembicara utama. Pada rapat ini, Suwardi Suryaningrat mengusulkan agar dibentuk panitia penolong para mahasiswa Indonesia di Belanda, terutama bagi mereka yang menjadi korban penangkapan. 8) Kongres Peleburan Kepanduan (1927) Awal gerakan kepanduan di Hindia Belanda ditandai dengan munculnya cabang organisasi kepanduan milik Belanda bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada 1912. Pada tahun 1916, organisasi ini berubah nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIVP). Pada tahun yang sama, Mangkunegara VII membentuk organisasi kepanduan pertama milik Indonesia dengan nama Javaansche Padvinder Organisatie (JPO). Lahirnya JPO memicu gerakan nasional lainnya untuk membuat organisasi sejenis pada saat itu, antara lain Hizbul Wathan (HM) pada 1918, Jong Java Padvinderij (JJP) pada 1923, Nationale Padvinders (NP), Nationaal Indonesische Padvinderij (NATIPIJ), Pandoe Pemoeda Sumatra (PPS) dan dan penyatuan organisasi pandu diawali dengan lahirnya Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) pada 1926 sebagai peleburan dua organisasi kepanduan, NPO dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) Karena organisasi kepanduan milik Indonesia semakin banyak, Belanda kemudian melarang penggunaan istilah Padvinder bagi organisasi kepramukaan selain milik Belanda. Oleh karena itu, K.H. Agus Salim memperkenalkan istilah “Pandu” atau “Kepanduan” untuk organisasi Kepramukaan milik Indonesia. Pada 23 Mei 1928 dibentuklah Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI) yang terdiri atas anggota INPO, SIAP, NATIPIJ, dan PPS. 9) Kongres Perempuan Indonesia I (22–25 Desember 1928) Kongres Perempuan Indonesia dilaksanakan atas inisiatif tujuh buah organisasi perempuan yaitu Wanito Utomo, Puteri Indonesia, Aisyiyah, Wanita Taman Siswa, Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling, Jong Java Meisjeskring, Wanita Katolik dengan tiga tokoh pemrakarsa yaitu Ny. R.A. Sukonto, Nyi Hajar Dewantara dan Suyatin (Ny. S. Kartowiyono) (Afschrift Vrouwen Congres, 1928). Selain ketujuh organisasi Perempuan yang menjadi pelopor, kongres ini juga diikuti oleh 15 organisasi perempuan dari berbagai kota di Jawa. Kelima belas organisasi itu adalah Budi Rini (Malang), Budi Wanito (Solo), Darmo Laksmi (Salatiga), Kartiwara (Solo), Kusumo Rini (Kudus), Margining Kautaman (Kemayoran), Nahdlatul Fataat (Yogyakarta), Panti Krido Wanito (Pekalongan), Putri Budi Sejati (Surabaya), Rukun Wanodiyo (Jakarta), Sancaya Rini (Solo), Sarekat Islam Bagian Istri (Surabaya), Wanito Kencono (Banjarnegara), Wanito Mulyo (Yogyakarta), dan Wanita Sejati (Bandung). Selain itu, terdapat organisasi yang bersifat keagamaan yaitu Islam dan Katolik, serta organisasi yang bersifat sekuler. Berdasarkan catatan kongres, terdapat 30 organisasi yang mengirimkan utusan. Namun, pada kenyataannya, beberapa perwakilan yang hadir merupakan perwakilan cabang dari organisasi yang sama (Afschrift Vrouwen Congres, 1928). Beberapa perkumpulan wanita yang tidak dapat hadir namun mengirimkan telegram antara lain, Kaum Ibu Sumatra, Kautaman Istri Sumatra, Wanita Utama Bogor, Putri Pemuda Sumatra, Jakarta, Perserikatan Marsudi Rukun Jakarta, Dewan Pimpinan Majelis UIama, dan Pemuda Sumatra, Jakarta. Di sisi lain, perkumpulan di luar organisasi wanita yang menghadiri kongres ini antara lain dari Budi Utomo, PNI (Pimpinan Pusat), CPPPBD, Perhimpunan Indonesia (Pimpinan Pusat), Partai Islam (cabang), Partai Sarekat Islam (Yogyakarta), MKD, Jong Java (Yogyakarta), Wal Fajri (Pimpinan Pusat), Persaudaraan Antara Pandu Indonesia Batavia, PJA, PTI, Jong Madura, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jong Java Batavia, Jong Islamieten Bond (Pimpinan Pusat), PAPIM, PSD, Sangkara Muda, INPO, dan Sarekat Islam cabang Pandu. Juga wakil dari pers dan pemerintah. Tujuan Kongres Perempuan Indonesia I adalah untuk menjalin hubungan dari berbagai perkumpulan perempuan yang sudah ada dan membicarakan berbagai hal yang dihadapi oleh kaum perempuan Indonesia. Keputusan paling penting yang diambil oleh Kongres Perempuan Indonesia adalah membentuk badan pemufakatan yang dinamakan Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) dan berkedudukan di Yogyakarta atau di tempat lain yang menjadi tempat tinggal pengurusnya (Afschrift Vrouwen Congres, 1928). Usaha-usaha yang akan dijalankan antara lain menerbitkan surat kabar yang akan menjadi n tempat bagi kaum perempuan Indonesia untuk mengemukakan gagasan dan kehendak yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya. Selain itu, PPI juga membentuk studie fonds (badan derma) untuk membantu gadis-gadis yang tidak mampu bersekolah, mencegah perkawinan anak-anak, serta mengirim mosi kepada pemerintah Hindia Belanda agar: 1) secepatnya mengadakan dana untuk janda dan anak-anak, 2) jangan mencabut onderstand (tunjangan pensiun), 3) memperbanyak sekolah khusus untuk para perempuan, dan 4) mengirim mosi kepada pengadilan agama agar setiap talak dikukuhkan secara tertulis sesuai dengan peraturan agama Islam. Mengingat pentingnya Kongres Perempuan Indonesia I ini, maka hari ulang tahun kongres yang bertepatan pada tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. |
Riwayat Pengelolaan | : | 1874 : Dibangun oleh KRT Dipowinata. 1911–1914 : Bangunan ini digunakan oleh Raden Tumenggung Dipowinata II. 1914 : Bangunan dikembalikan kepada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 1917 : Hak atas tanah kemudian dikembalikan kepada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan pada tahun 1917, Sultan Hamengkubuwono VII menghadiahkan Dalem Dipowinatan kepada menantunya, yaitu KRT Jayadipura. 1939 : KRT Jayadipura meninggal dunia pada tahun dan kepemilikan bangunan ini diserahkan kepada salah satu kerabat keraton. 1950–1983 : Dalem Jayadipuran disewa oleh Departemen Kesehatan sebagai kantor dan Balai Pengobatan Penyakit Malaria, Framboesia, Kudis, dan Kusta. 1983 : Pindah kepemilikan ke Soemadi Wonohito, S.H. (Direktur Kedaulatan Rakyat) dan KRT Yudokusuma. 1984 : Dalem Jayadipuran dibeli oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui proyek dari Balai Pelestarian dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (BP3) Daerah Istimewa Yogyakarta. |
Riwayat Pelestarian | : | 1917 : Setelah Dalem Dipowinatan diserahkan kepada KRT Jayadipura pada tahun 1917, bangunan ini direnovasi dan terdapat penambahan ruangan, antara lain penambahan kuncungan dan pembuatan dua ruangan di sisi kanan kiri pringgitan yang bersebelahan dengan emper samping sebagai ruang persiapan penari. 1985 : Setelah bangunan ini dibeli oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1985, bangunan ini direnovasi dan fungsi ruangan-ruangan di bangunan induk disesuaikan dengan kebutuhan sebagai ruang kantor Departemen Kesehatan (1950–1983) kemudian sejak tahun 1984 sebagai kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta (kemudian berganti nama menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya BPNB Yogyakarta). Pada halaman depan terdapat pohon Sawo Kecik yang ditanam saat alih fungsi Dalem Jayadipuran menjadi kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta. 1985–1986 : Dalem Jayadipuran dipugar oleh Proyek Javanologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1990-an : Proyek Javanologi Depdikbud ditarik ke kantor pusat sehingga seluruh Dalem Jayadipuran digunakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta kemudian bernama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta. 2006-2007 : Perbaikan Pendopo pasca gempa bumi 27 Mei dan penggantian penutup atap dari genteng beton menjadi genteng zincalume. |
Nilai Sejarah | : | |
Nilai Ilmu Pengetahuan | : | |
Nilai Pendidikan | : | |
Nilai Budaya | : | Dalem Jayadipuran merupakan bukti fisik peristiwa sejarah pergerakan nasional serta wujud akulturasi budaya. |
Nama Pemilik Terakhir | : | Dalem Jayadipuran dimiliki oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ri |
Nama Pengelola | : | Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) |
Catatan Khusus | : | Merupakan tempat diselenggarakan kongres Jong Java (23-27 mei 1923) I-IV, tempat diselenggarakan kongres perempuan indonesia pertama (22-25 Desember 1928), dulu milik KRT Dipaeinatan 1847-1911 kemudian diganti RT Dipawonatan 1911-1914, kemudian dikembalikan ke kraton, dihadiahkan kepada KRT Jayadipuran 1917. |