| Peristiwa Sejarah |
: |
Terdapat patung setengah badan pahlawan nasional Panglima Besar Jenderal Soedirman yang pada masa sakitnya pun tetap berjuang untuk merebut Kemerdekaan Indonesia. Patung tersebut diberi cat berwarna emas. Walaupun patung tersebut dibuat setengah badan, namun tingginya mencapai 2,5 meter. Hal itu dikarenakan terdapat sebuah puisi yang juga ikut diabadikan bersama sosoknya di bagian bawah patung Pak Dirman. Menurut Humas RS Panti Rapih, Vita Puji menjelaskan bahwa puisi tersebut adalah puisi karya Jenderal Besar Sudirman yang ditujukan kepada suster yang merawatnya semasa menjalani pengobatan di RS Panti Rapih. Masih menurut Humas Rumah Sakit Panti Rapih menjelaskan bahwa Jenderal Soedriman 2 (dua) kali dirawat di sini. Pertama pada Oktober 1948 dan kedua kalinya pada 29 Juni 1949 (Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah dalam jogja. tribunnews.com). a. Masuk Rumah Sakit untuk pertama kali Tahun 1948 Menurut Badan Penerbit Alda dalam buku Panglima Besar Sudirman: Sebuah Kenangan Perjuangan sudah sejak meletusnya Pemberontakan di Madiun, Kesehatan Soedirman mulai kelihatan menurun. Bulan Oktober 1948, kurang lebih 2 (dua) bulan sebelum agresi militer Belanda ke II, team dokter yang terdiri dari dokter-dokter Supratiknyo, Salamun, Suwondo, Sutarto, Utoyo dan Sumadji telah dapat memastikan bahwa Panglima Besar Soedirman menderita penyakit TBC (Tuberculose). Karena team pemeriksa rata-rata terdiri dari dokter-dokter muda, maka atas prakarsa mereka dimintakan bantuan beberapa dokter yang lebih senior dan lebih berpengalaman seperti Prof. Dr. RD Asikin Widjayakusuma dan dr. Sim Kie Ay dan beberapa lagi lainnya. Hasil pemeriksaan dokter-dokter yang dimintakan bantuannya tersebut ternyata menunjukkan hasil yang sama. Atas nasehat dokter Asikin dan dokter Sim Kie Ay, Panglima Besar Soedirman harus menjalani operasi untuk membuat satu paru-parunya tak berfungsi. Operasi tersebut dilakukan di akhir bulan November 1948 di Rumah sakit Panti Rapih dan dirawat di kamar 8 Bangsal Maria. Operasi tersebut berjalan dengan baik. Sesudah mengalami operasi Soedirman beristirahat beberapa minggu lamanya di rumah sakit tersebut dengen mendapat perawatan yang baik serta obat yang cukup. Meskipun Yogyakarta dan seluruh daerah Republik waktu itu berada dalam kesulitan mengenai obatan-obatan yang disebabkan oleh ketatnya blokade ekonomi Belanda, namun berkat jasa para penyelundup obat-obat yang sulit dapat tersedia juga. Selama 2 (dua) bulan penuh, Jenderal Soedirman setiap harinya mendapat 6 sampai 7 kali infeksi dari berbagai macam-macam obat. Kurang lebih seminggu sebelum agresi milter II Panglima Soedirman meninggalkan Rumah Sakit Panti Rapih pindah ke rumahnya di Jalan Bintaran Tengah Yogya. Meskipun ia beristirahat di rumah, namun perawatannya sama seperti di rumah sakit juga, makan dan minumnya dijaga ketat oleh dokter-dokter tentara (Badan Penerbit Alda , 1985) Sesudah masa pendudukan Jepang, para Suster Carolus Borromeus yang berdinas se bagai perawat sempat ditahan di barak tahanan Jepang dan tak lama kemudian dibebaskan dan kembali lagi ke Rumah Sakit Panti Rapih. Sekembalinya para Suster Carolus Borromeus ini, mereka merawat para pejuang kemerdekaan Bangsa Indonesia. Salah seorang di antaranya ialah Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, Jenderal Soedirman. Di rumah sakit tersebut, Jenderal Soedirman dirawat oleh seorang Suster bernama Sr. Benvunito. Saat itu, Sr. Benvunito genap 25 tahun mengabdi untuk biara. Oleh sebab itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman berkenan merangkai sebuah sajak indah dan ditulis tangan dengan hiasan yang cantik khusus untuk Suster Benvunito dan Rumah Sakit Panti Rapih. Sajak yang berjudul "Rumah Nan Bahagia" tersebut saat ini masih tersimpan dengan baik di Rumah Sakit Panti Rapih. b. Masuk Rumah Sakit untuk ke dua kali Tahun 1949 Berdasar buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir yang ditulis oleh Tim Buku Tempo, pada 17 Desember 1948, Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat tidur. Sebelumnya, sepulang dari Pantih Rapih, ia selalu berbaring di ranjang. Hari itu, kepada istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang, firasat Sang Jenderal terbukti: Belanda membombardir Yogya, yang saat itu ibu kota Indonesia. Ia pun memilih mengakhiri cutinya. Dengan diusung tandu, hampir delapan bulan, Soedirman keluar masuk- hutan memimpin gerilya dari luar Yogya. Pernah suatu ketika ia tidak makan selama 5 (lima) hari. Dengan perut kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di Pacitan, Jawa Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Sehubungan dengan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk di medan gerilya, pada tanggal 10 Juli 1949 Sudirman ditandu anak buahnya ke Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta. Menurut Amurwani Dwi Lestariningsih, dkk dalam buku Soedirman: Patriotisme, Gerilya, dan Martabat Bangsa pada 13 Juli 1949, para pemimpin nasional pusat yang pernah terlibat dengan Belanda di Jakarta dan Bangka bertemu dengan pemimpin yang berperang bersama rakyat di hutan-hutan Sumatera. Bung Hatta yang berbicara atas nama Republik Indonesia menjelaskan bahwa dalam pandangan para pemimpin yang berada di Bangka, PORI berkuasa penuh dalam urusan politik dalam negeri sedangkan pemimpin nasional pusat membantu PDRI untuk mengadakan kontak ke luar Negeri. Selama itu pula Kabinet Hatta tetap merupakan pemerintah yang sah, sedangkan PDRI menjalankan pemerintah sehari-hari selama Kabinet Hatta tidak berfungsi secara efektif. Sjafruddin menganggap dirinya sebagai pimpinan perjuangan yang sah dan tujuan pokoknya sejak semula adalah mengembalikan pemerintahan. Sjafruddin mengatakan bahwa persetujuan itu dibuat tanpa perundingan terlebih dahulu dengan tokoh-tokoh PD RI lainnya. Pada akhimya Moh. Hatta bisa menyelesaikan hal tersebut dengan mengadakan kunjungan ke Aceh untuk menemui pimpinan PDRI. Sesudah itu, Sjafruddin menjelaskan bahwa PORI menyerahkan putusan mengenai persetujuan Roem Royem kepada Kabinet, BP-KNIP, dan pimpinan Angkatan Perang. Pada akhirnya Sjafruddin Prawiranegara menyerahkan mandatnya secara resmi kepada Wakil Presiden Moh. Hatta. Riwayat PORI telah berakhir, dua 'republik' telah bersatu kembali. Mengenai putusan Persetujuan Roem Royen yang telah tercapai membutuhkan sikap pimpinan Angkatan Perang dan untuk menentukan sikap tersebut, maka diadakan Sidang Dewan Siasat Militer. Sidang tersebut merupakan instansi tertinggi yang menentukan strategi yang akan dijalankan oleh Negara. Sidang-sidang Dewan Siasat Militer selalu dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, Panglima Besar dan menteri-menteri lainnya. Sidang-sidang Dewan Siasat Militer biasanya dilakukan di Istana Negara, tetapi karena kondisi Panglima Besar Soedirman sedang sakit, sidang istimewa terpaksa dilakukan di Rumah Sakit Panti rapih. Dokter Soewondo yang merupakan dokter pribadi Jenderal Soedriman menjelaskan bahwa Panglima Besar Soedrman dapat menghadiri sidang paling lama 1 (satu) jam, dan sebaiknya dilaksanakan pada pagi hari karena saat itulah kondisi Jenderal Soerdirman lebih bagus daripada di malam hari. Pendapat Jenderal Soedirman sangat dibutuhkan, sekalipun diopname dalam rumah sakit, Soedirman terus sibuk dengan perundingan-perundingan dan tak ketinggalan membaca koran-koran serta telepon yang terus berdering. Suatu hari pada tanggal 21 Juli 1949 Pukul 10.55, sangat dibutuhkannya tenaga pikiran beliau dalam rapat Siasat Militer yang biasanya dilangsungkan di Istana Negara, terpaksa dipindahkan ke ruang kamar Jenderal Soedirman di Rumah Sakit Panti Rapih. Rapat ini dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, Menteri Pertahanan, Panglima Besar, M. Sjafruddin Prawiranegara, Dr. Leimena dan penglima tentara Jawa dan Sumatera. Setiap 3 (tiga) jam sekali, sidang diskors karena Jenderal Soedriman harus disuntik. Demikian gambaran tentang kesehatan beliau yang bertumburan dengan kesibukkan beliau, sehingga kamar opname merangkap kamar Panglima Besar. (Kisah Dokter Pribadi Jenderal Soedriman, Dokter Suwondo oleh N.S.S. Tarjo, 1984) Setelah Presiden dan Wakil Presiden, dan Dr. Leimena memberikan penjelasan yang diminta oleh Jenderal Soedirman dan setelah beliau menerima saran-saran yang dikemukakan, pembicaraan berikutnya menyangkut tindak lanjut hasil perundingan yang telah digariskan di Bangka dan Jakarta. Hal yang terpenting adalah masalah genjatan senjata yang penanganannya diserahkan kepada panglima daerah masingmasing. Hal lain yang harus dipersiapkan adalah perundingan dengan BFO dalam konferensi InterIndonesia dan persiapan Konferensi Meja Bundar. (Amurwani D.L, dkk, 2008). |