Loading

SMP Kanisius Bambanglipuro

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Kompleks bangunan SMP Kanisius Bambanglipura terdiri dari empat bangunan utama yang mengelilingi taman pada keempat sisinya. Keempat bangunan tersebut terletak pada bagian utara, timur, selatan, dan barat. Bangunan yang terletak pada bagian selatan mempunyai karakteristik cagar budaya. Bangunan tersebut saat ini difungsikan sebagai ruangan bimbingan konseling, ruangan kepala sekolah, ruang penerima tamu, ruangan doa, ruangan guru, ruang kelas, ruangan unit kesehatan siswa, ruangan OSIS, dan gudang. Bangunan depan SMP Kanisius Bambanglipura memiliki atap Limasan dengan genteng tipe vlaam. Bangunan berdenah persegi panjang berukuran 42 m x 6,10 m. Pada sisi utara dan selatan bangunan tersebut terdapat teras selebar 1,2 m. Di bagian tengahnya terdapat lorong selebar 3,5 m dengan tambahan kuncungan pada bagian selatan berukuran 3,5 m x 3,5 m. Kuncungan memiliki atap

tipe Kampung. Pada bagian timur bangunan terdapat ruangan tambahan yang digunakan untuk toilet dan gudang berukuran 6,1 m x 1,8 m. Bangunan depan SMP Kanisius Bambanglipura tersebut tinggi dindingnya 209 cm. Dinding bangunan terbuat dari pasangan bata setengah batu yang dilapis dengan plesteran semen serta dicat putih. Pada bagian atas dinding terdapat bukaan untuk penghawaan yang ditutup dengan ram-raman kayu berukuran 5 cm x 3 cm dengan tinggi 1,8 m. Saat ini ram-raman di bagian selatan dan barat bangunan telah ditutup dengan kayu lapis setinggi 1,2 m sedangkan ram-raman pada bagian utara dan timur dibiarkan sebagaimana keadaan aslinya. Bangunan ditopang oleh tiang yang terbuat dari kayu berukuran 13 cm x 12 cm dengan tinggi 413 cm. Lantai asli bangunan berupa tegel berwarna abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Lantai tegel tersebut masih dapat ditemukan pada ruang guru dan ruang kelas, sedangkan ruang kepala sekolah, ruang bimbingan konseling, ruang penerima tamu, dan teras telah diganti dengan keramik berwarna putih berukuran 30 cm x 30 cm. Lantai ruangan lebih tinggi 7-8 cm dari teras yang terdapat pada sebelah utara dan selatan bangunan. Adapun lantai teras juga lebih tinggi 8 cm dari permukaan tanah. Di dinding timur lorong terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu berdaun dua. Saat ini pintu tersebut tidak digunakan serta ditutup dengan papan tulis. Pada bagian selatan lorong ditambahkan kuncungan dengan atap setinggi 4,16 m dari lantai kuncungan. Lantai kuncungan ditinggikan sekitar 20 cm dari lantai bangunan utama. Kuncungan memiliki pilar dari beton bertulang yang dilapisi plesteran semen berukuran 24 cm x 20 cm. Pintu-pintu bangunan terdapat pada bagian utara dan selatan. Pintu pada sebelah selatan bangunan terbuat dari kayu berdaun dua berukuran 242 cm x 122 cm, dengan daun pintu setebal 3 cm. Sedangkan pintu pada sebelah utara bangunan terbuat dari kayu berdaun satu berukuran 209 cm x 83 cm x 3 cm. Kusen pintu berukuran 10 cm x 8 cm. Pintu pada sisi selatan bangunan yang terletak di sebelah timur lorong telah dihilangkan dan diisi dengan pasangan bata yang dilapisi plesteran semen. Jendela-jendela bangunan terdapat pada sisi utara dan selatan, sedangkan pada sisi timur dan barat bangunan tidak terdapat jendela. Jendela-jendela tersebut baru. Jendela yang mengapit dua panil kaca berukuran 338 cm x 100 cm, sedangkan jendela yang mengapit satu panil kaca berukuran 248 cm x 100 cm. Masing-masing daun jendela berukuran 110 cm x 100 cm, dengan kerangka kayu yang lebarnya 10 cm.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1918
Alamat : Ganjuran Belum Ada, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.9266781136287° S, 110.32197302445° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Bantul No 353 Tahun 2022


Lokasi SMP Kanisius Bambanglipuro di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Yayasan Kanisius adalah lembaga pendidikan tertua di Jawa. Yayasan didirikan oleh Fransiskus van Lith SJ. di Muntilan pada tahun 1918 sebagai Canisius Vereniging, yang berarti Perkumpulan Kanisius. Yayasan Kanisius merupakan Lembaga yang menyelenggarakan sekolah-sekolah mulai dari TK sampai tingkat SMA/SMK. Sekolah-sekolah Kanisius pada awalnya tersebar di wilayah Keuskupan Agung Semarang dan kebanyakan berada di daerah pedesaan. Adapun sekolah Kanisius yang berada di kota banyak terdapat di kampung-kampung tempat pemukiman rakyat biasa. Pada awal didirikan, Canisius Vereniging berada di bawah kepengurusan Serikat Yesus. Direktur Canisius Vereniging yang menjabat pada tahun 1927, yakni Rama F. Straeter SJ, memindahkan kantor administrasi yayasan dari Muntilan ke Yogyakarta. Pemindahan tersebut dilakukan untuk memudahkan pengelolaan administrasi sekolah-sekolah di bawah yayasan yang semakin banyak. Kemudian pada tanggal 31 Juli 1927 Canisius Vereninging diubah namanya menjadi Canisius Stichting. Perubahan tersebut disahkan dengan Akte Notaris Dirk Johan Foquin de Grave tertanggal 5 Agustus 1929 no. 2 di Yogyakarta. Pada tahun 1940 Serikat Yesus menyerahkan kepemilikan yayasan kepada Vikariat Apostolik Semarang yang baru saja dibentuk. Vikariat Apostolik merupakan bentuk otoritas dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk dalam wilayah misi yang belum memiliki keuskupan. Vikariat Apostolik dipimpin oleh vikaris apostolik yang menjadi wakil (vicar) dari Paus. Vikariat Apostolik Semarang dipimpin oleh vikaris apostolik Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Adapun wilayah misi Vikariat Apostolik Semarang mencakup Karesidenan Semarang, Karesidenan Surakarta, Karesidenan Kedu (kecuali Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Kebumen, Karesidenan Pati (kecuali Karesidenan Rembang dan Kabupaten Blora), serta Provinsi Yogyakarta. Di bawah kepengurusan vikariat, Yayasan Kanisius berkembang bersamaan dengan perkembangan gereja-gereja di bawah Keuskupan AgungSemarang. Joseph dan Julius Schmutzer bersaudara merupakan dua orang Belanda beragama Roma Katolik yang tinggal di Ganjuran, Bantul. Mereka merupakan pendiri dan pemilik Pabrik Gula Gondanglipuro di Ganjuran, Bantul yang mulai beroperasi pada tahun 1912. Selain mendirikan pabrik gula, Schmutzer bersaudara juga mendirikan gereja, rumah sakit, dan sekolah-sekolah. SMP Kanisius Bambanglipura merupakan salah satu dari sekolah yang dibangun oleh Schmutzer bersaudara. SMP Kanisius Bambanglipura didirikan pada tahun 1919 di atas tanah yang termasuk dalam bagian Pabrik Gondanglipuro. SMP Kanisius Bambanglipura beroperasi di bawah kepengurusan Schmutzer bersaudara hingga tahun 1934. Hal ini karena Julius Schmutzer jatuh sakit sehingga harus dirawat di Belanda. Kepengurusan Pabrik Gondanglipuro kemudian diserahkan kepada administratur yang ditunjuk oleh Schmutzer. Sedangkan SMP Kanisius Bambanglipura diserahkan kepada Yayasan Kanisius. Foto lama bangunan depan SMP Kanisius Bambanglipura menunjukkan bahwa terdapat pintu yang terbuat dari kayu berdaun dua pada dinding selatan dan dinding barat bangunan kelas. Pintu-pintu tersebut menunjukkan karakteristik yang sama dengan pintu berdaun dua yang dipasang pada dinding selatan bangunan. Saat ini pintu pada dinding selatan dan barat telah diganti dengan pasangan bata setengah batu yang dilapisi plesteran semen. Belum dapat diketahui kapan tepatnya penggantian tersebut dilakukan. Ketika terjadi Gempa Yogyakarta tahun 2006, bangunan depan SMP Kanisius Bambanglipura tidak mengalami banyak kerusakan, akan tetapi bangunan baru yang terletak di sebelah selatan bangunan SMP Kanisius roboh. Pada tahun 2007 di depan lorong ditambahkan kuncungan.
Nilai Sejarah : Memiliki nilai sejarah yang tinggi karena berhubungan dengan sejarah pendidikan di daerah Bantul pada masa kolonial yang masih difungsikan hingga sekarang
Nilai Ilmu Pengetahuan : Memberikan informasi tentang model arsitektur Indis yang berkembang pada awal abad ke-20 serta memberikan informasi tentang perkembangan pendidikan di Bantul. Selain itu bangunan SMP Kanisius Bambanglipura mempunyai potensi untuk diteliti bidang ilmu arkeologi, sejarah, arsitektur, dan teknik bangunan
Nilai Pendidikan : Sebagai pembelajaran masyarakat umum dan peserta didik tentang bangunan yang masih terkait dengan aktifitas pendidikan pada masa lampau.
Nilai Budaya : Sebagai bangunan yang mencerminkan jati diri suatu bangsa, kedaerahan atau komunitas tertentu.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Yayasan Kanisius
Pengelolaan
Nama Pengelola : Yayasan Kanisius