| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | Agama Hindu telah berkembang di Jawa pada abad ke-7. Melalui Prasasti Dakawu/Tukmas yang ditemukan di Grabag, Magelang dapat diketahui adanya masyarakat pemeluk agama Hindu yang memuja mata air suci yang mengalirkan air layaknya Sungai Gangga. Pada abad ke-8, agama Hindu menjadi salah satu agama kerajaan Mataram Kuno yang berdiri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Raja pertama Mataram Kuno yang bernama Sanjaya merupakan penganut agama Hindu. Ia mendirikan lingga di atas Gunung Wukir sebagai bukti kejayaannya. Penerus Sanjaya yang beragama Hindu kemudian memerintahkan pendirian Candi Prambanan yang megah sebagai tempat sembahyang kerajaan. Di Bantul, perkembangan agama Hindu dapat diketahui melalui temuan berupa bangunan, struktur, arca, dan prasasti yang tersebar dari bagian utara hingga selatan Kabupaten Bantul. Di Mangir, Kasihan, dan sekitar Makam Syeh Belabelu di Kretek, telah ditemukan yoni dan arca Nandi yang menunjukkan bahwa persebaran kebudayaan Hindu tidak hanya ada di sekitar Prambanan. Dalam pemujaan Siwa, yoni memiliki arti penting sebagai perwujudan dari Parwati, yakni pasangan dari Siwa. Lingga bersama dengan yoni menggambarkan penyatuan alam semesta dan melambangkan perputaran siklus kehidupan. Oleh karena itu pada umumnya yoni ditemukan berpasangan dengan lingga. Meskipun demikian Yoni Nomor Inventaris C.62 a di Masahan, Padukuhan Kraton, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul tidak ditemukan bersama lingga. Yoni tercatat dalam kegiatan Herinventarisasi Cagar Budaya di Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul Tahun 2015 BPCB Provinsi DIY dengan Nomor Inventaris C.62 a. Ketika disurvei oleh Tim TACB Bantul pada tanggal 16 Februari 2022, Yoni Nomor Inventaris C.62 a di Masahan, Padukuhan Kraton, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul masih berada di tempatnya sebagaimana tercatat dalam kegiatan herinventarisasi. Dengan adanya temuan Yoni Nomor Inventaris C.62 a, dapat diketahui bahwa di Masahan, Padukuhan Kraton, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul pernah berkembang agama Hindu. |
| Nilai Sejarah | : | Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India, dan teknik pahat yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu. Selain itu yoni juga menunjukkan informasi bahwa di Masahan, Padukuhan Kraton, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul sudah ada masyarakat yang menganut agama Hindu dalam tata kehidupan yang terstruktur. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, dan antropologi. |
| Nilai Agama | : | Menunjukkan adanya benda yang masih terkait dengan aktivitas keagamaan atau religi agama Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10. |
| Nilai Budaya | : | Sebagai hasil kebudayaan yang mencerminkan jati diri suatu bangsa, kedaerahan atau komunitas tertentu yaitu komunitas penganut agama Hindu. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. |
| Catatan Khusus | : | Yoni Nomor Inventaris C.62 a di Masahan, Padukuhan Kraton, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul tidak terawat. Sebagian permukaan yoni aus serta ditumbuhi lumutKoordinat UTM SK : 49 X: 425192 Y: 9122027 Ukuran : Panjang atas : 70 cm Lebar atas : 67 cm Panjang bawah : 74 cm Lebar bawah : 74 cm Tinggi : 52 cm Panjang lubang : 22 cm Lebar lubang : 21 cm Kedalaman lubang : 18 cm Panjang cerat : 39 cm Lebar cerat : 25 cm Ketebalan cerat : 19 cm |