| Bahan Utama | : | Batu Andesit |
| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang Arca: 72 cm; Landasan: 70 cm Lebar Arca: 38 cm; Landasan: 45 cm Tinggi Arca: 34 cm; Landasan: 31 cm Tebal - Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | Arca Nandi di Padukuhan Mangir Lor, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul merupakan Nandi yang digambarkan dalam bentuk zoomorfik. Berdasarkan keterangan warga, Arca Nandi tersebut belum pernah dipindahkan dari tempat ditemukannya. Keberadaan Arca Nandi di Padukuhan Mangir Lor, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul diketahui berdasarkan: a. Laporan Inventarisasi Kepurbakalaan di Kecamatan Pajangan, Bantul Tahun 1984 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta, b. Laporan Herinventarisasi Benda Cagar Budaya di Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul Tahun 2008 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, dan c. Laporan Herinventarisasi Cagar Budaya di Kecamatan Pajangan tahun 2016. Dari kegiatan tersebut, Arca Nandi tercatat dengan nomor inventaris C.102 g. Dari hasil herinventarisasi cagar budaya di Kapanewon Pajangan, Kalurahan Sendangsari merupakan wilayah yang mempunyai potensi cagar budaya paling banyak dibanding dengan dua kalurahan lainnya. Dengan adanya temuan Arca Nandi C.102 g, dapat diketahui bahwa di Kalurahan Sendangsari, Pajangan, Bantul pernah berkembang agama Hindu. Pada survei yang dilakukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Bantul pada tanggal 16 Februari 2022, Arca Nandi masih berada pada lokasi sebagaimana tercatat dalam Laporan Herinventarisasi Cagar Budaya di Kecamatan Pajangan tahun 2016. Meskipun demikian tatanan batu gundul yang terdokumentasikan dalam foto Herinventarisasi tahun 2016 sebagian sudah tidak tampak karena tertutup oleh tanah. |
| Konteks | : | Agama Hindu telah berkembang di Jawa pada abad ke-7. Melalui Prasasti Dakawu/Tukmas yang ditemukan di Grabag, Magelang dapat diketahui adanya masyarakat pemeluk agama Hindu yang memuja mata air suci yang mengalirkan air layaknya Sungai Gangga. Pada abad ke-8, agama Hindu menjadi salah satu agama kerajaan Mataram Kuno yang berdiri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Raja pertama Mataram Kuno yang bernama Sanjaya merupakan penganut agama Hindu. Ia mendirikan lingga di atas Gunung Wukir sebagai bukti kejayaannya. Penerus Sanjaya yang beragama Hindu kemudian memerintahkan pendirian Candi Prambanan yang megah sebagai tempat sembahyang kerajaan. Di Bantul, perkembangan agama Hindu dapat diketahui melalui temuan berupa bangunan, struktur, arca, dan prasasti yang tersebar dari bagian utara hingga selatan Kabupaten Bantul. Di Mangir, Kasihan, dan sekitar Makam Syeh Belabelu di Kretek, telah ditemukan yoni dan arca Nandi yang menunjukkan bahwa persebaran kebudayaan Hindu tidak hanya ada di sekitar Prambanan. Tidak diketahui secara pasti keberadaan Arca Nandi ini kaitannya dengan bangunan candi, namun harus diakui bahwa pada masa Hindu di Jawa banyak ditemukan peninggalan bercorak Hindu dan Buddha yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Arca diyakini sebagai media untuk berinteraksi dengan dewa. Oleh karena itu arca-arca dewa tidak dapat dibuat secara sembarangan. Terdapat ketentuan-ketentuan khusus yang harus dipenuhi pemahat agar arca dapat ditempatkan dalam tempat persembahyangan. Di India, arca Nandi mendapatkan penghormatan khusus karena ia adalah wahana siwa. Nandi memiliki kuil tersendiri yang ditempatkan berhadapan dengan kuil Siwa sehingga kedudukannya menjadi sama dengan dewa. Nandi selain digambarkan dalam bentuk zoomorfik atau hewan, terkadang juga digambarkan dalam bentuk teriomorfik yakni penggambaran setengah manusia dan setengah binatang, atau dalam bentuk antromorfik yakni penggambaran manusia. Contoh arca Nandi teriomorfik ialah Nandisawahanamurti yang ditemukan di Dieng (Jawa Tengah). Sedangkan arca Nandi antropomorfik ialah Nandiswara yang ditemukan di Candi Selogriyo, Magelang (Jawa Tengah). |
| Nilai Sejarah | : | Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India, dan teknik pahat yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu, serta menunjukkan informasi bahwa di Padukuhan Mangir Lor, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan sudah ada masyarakat yang menganut agama Hindu dalam tata kehidupan yang terstruktur. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, dan antropologi. |
| Nilai Agama | : | Menunjukkan adanya benda yang masih terkait dengan aktivitas keagamaan atau religi agama Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10. |
| Nilai Budaya | : | Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa, yaitu sebagai benda yang mencerminkan jati diri komunitas Hindu di Kabupaten Bantul pada abad ke-8 hingga abad ke-10. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Tukirin |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Catatan Khusus | : | Koordinat pada SK Bupati Bantul: 49 M X : 0420253 Y : 9126635 Elevasi: 62 MdplKondisi Saat Ini: Arca Nandi Nomor Inventaris C.102 g kondisinya utuh tetapi kurang terawat karena arca ditumbuhi lumut (moss) serta bagian bawahnya tertutup tanah. Tatanan batu gundul di sekitar arca sebagian sudah tidak terlihat karena tertutup tanah. |