Loading

Arca Nandi Nomor Inventaris C.102g

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Di dalam agama Hindu dikenal adanya dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk arca. Agama Hindu mengenal Dewa Trimurti sebagai satu kesatuan tiga dewa tertinggi (major deities) di atas dewa-dewa lainnya. Dewa Trimurti terdiri atas Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pembinasa atau perusak. Dari ketiga dewa itu Wisnu dan Siwa yang sering dipuja, mengingat dewa pencipta dengan sendirinya terdesak oleh kepentingan manusia yang lebih memperhatikan berlangsungnya apa yang sudah tercipta. Segala sesuatu yang akan binasa karena waktu, lebih mendapat perhatian. Di antara pemeluk agama Hindu ada yang memuja Wisnu (golongan Waisnawa) dan Siwa (golongan Saiwa). Siwa dipandang sebagai dewa tertinggi yang disebut Mahadewa atau Mahe?wara.  

Dewa-dewa dalam mitologi Hindu di India dikenal masing-masing mempunyai kendaraan yang berbeda, antara satu dengan yang lain. Brahma sebagai pencipta mempunyai kendaraan berupa Angsa, Wisnu sebagai pemelihara berkendaraan Garuda, dan Siwa mempunyai kendaraan Nandi, atau sapi jantan. Nandi merupakan sapi jantan kepercayaan dari Dewa Siwa dan merupakan simbol dari dharma. Nandi juga dikenal sebagai pelindung dari semua binatang berkaki empat. 

Di dalam candi-candi beragama Hindu Arca Nandi biasanya ditempatkan di dalam candi perwara yang berada di depan candi utama. Contoh nyata tampak pada beberapa candi yang memuja Dewa Siwa seperti Candi Prambanan, Candi Sambisari, Candi Kedulan, dan Candi Ijo. Mengingat Siwa banyak dipuja baik diwujudkan dalam bentuk arca maupun lingga, maka Arca Nandi sebagai kendaraan Dewa Siwa banyak ditemukan di beberapa tempat. 

Arca Nandi Nomor Inventaris C.102 g terletak di pekarangan milik Bapak Tukirin. Arca posisinya agak miring dan dikelilingi oleh pagar dari batu bata. Posisi arca menghadap ke arah barat daya. Arca Nandi berada dalam posisi mendekam dengan keempat kaki terlipat. Arca Nandi digambarkan gemuk dengan badan yang gempal, kaki dan paha yang besar, dan berpunuk. Keadaan punuk ujungnya agak aus. Ekor Nandi dipahat melingkar ke arah kanan di depan kaki belakangnya. Muka Nandi sudah cukup aus, sehingga bagian matanya kurang jelas.  

Nandi dipahat di atas asana atau tempat duduk berbentuk persegi panjang yang dihiasi bunga lotus/padma yang mekar di keempat sisinya. Di sekitar Arca Nandi terdapat tatanan dari batu gundul. Tatanan batu gundul seringkali ditemukan di sekitar objek pemujaan seperti halnya terdapat pada beberapa candi. Tatanan batu gundul tersebut diperkirakan sebagai pondasi.

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Nama Lainnya : Arca Nandi Pajangan
Alamat : Di pekarangan milik Tukirin, Mangir Lor RT 01 , Sendangsari, Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.90048° S, 110.276531° E

SK Walikota/Bupati : Keputusan Bupati Bantul


Lokasi Arca Nandi Nomor Inventaris C.102g di Peta

Bahan Utama : Batu Andesit
Keterawatan : /
Dimensi Benda : Panjang Arca: 72 cm; Landasan: 70 cm
Lebar Arca: 38 cm; Landasan: 45 cm
Tinggi Arca: 34 cm; Landasan: 31 cm
Tebal -
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Arca Nandi di Padukuhan Mangir Lor, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul merupakan Nandi yang digambarkan dalam bentuk zoomorfik. Berdasarkan keterangan warga, Arca Nandi tersebut belum pernah dipindahkan dari tempat ditemukannya. Keberadaan Arca Nandi di Padukuhan Mangir Lor, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul diketahui berdasarkan: a. Laporan Inventarisasi Kepurbakalaan di Kecamatan Pajangan, Bantul Tahun 1984 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta, b. Laporan Herinventarisasi Benda Cagar Budaya di Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul Tahun 2008 oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, dan c. Laporan Herinventarisasi Cagar Budaya di Kecamatan Pajangan tahun 2016. Dari kegiatan tersebut, Arca Nandi tercatat dengan nomor inventaris C.102 g.  Dari hasil herinventarisasi cagar budaya di Kapanewon Pajangan, Kalurahan Sendangsari merupakan wilayah yang mempunyai potensi cagar budaya paling banyak dibanding dengan dua kalurahan lainnya. Dengan adanya temuan Arca Nandi C.102 g, dapat diketahui bahwa di Kalurahan Sendangsari, Pajangan, Bantul pernah berkembang agama Hindu.  Pada survei yang dilakukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Bantul pada tanggal 16 Februari 2022, Arca Nandi masih berada pada lokasi sebagaimana tercatat dalam Laporan Herinventarisasi Cagar Budaya di Kecamatan Pajangan tahun 2016. Meskipun demikian tatanan batu gundul yang terdokumentasikan dalam foto Herinventarisasi tahun 2016 sebagian sudah tidak tampak karena tertutup oleh tanah. 
Konteks : Agama Hindu telah berkembang di Jawa pada abad ke-7. Melalui Prasasti Dakawu/Tukmas yang ditemukan di Grabag, Magelang dapat diketahui adanya masyarakat pemeluk agama Hindu yang memuja mata air suci yang mengalirkan air layaknya Sungai Gangga.  Pada abad ke-8, agama Hindu menjadi salah satu agama kerajaan Mataram Kuno yang berdiri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Raja pertama Mataram Kuno yang bernama Sanjaya merupakan penganut agama Hindu. Ia mendirikan lingga di atas Gunung Wukir sebagai bukti kejayaannya. Penerus Sanjaya yang beragama Hindu kemudian memerintahkan pendirian Candi Prambanan yang megah sebagai tempat sembahyang kerajaan.  Di Bantul, perkembangan agama Hindu dapat diketahui melalui temuan berupa bangunan, struktur, arca, dan prasasti yang tersebar dari bagian utara hingga selatan Kabupaten Bantul. Di Mangir, Kasihan, dan sekitar Makam Syeh Belabelu di Kretek, telah ditemukan yoni dan arca Nandi yang menunjukkan bahwa persebaran kebudayaan Hindu tidak hanya ada di sekitar Prambanan.  Tidak diketahui secara pasti keberadaan Arca Nandi ini kaitannya dengan bangunan candi, namun harus diakui bahwa pada masa Hindu di Jawa banyak ditemukan peninggalan bercorak Hindu dan Buddha yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.  Arca diyakini sebagai media untuk berinteraksi dengan dewa. Oleh karena itu arca-arca dewa tidak dapat dibuat secara sembarangan. Terdapat ketentuan-ketentuan khusus yang harus dipenuhi pemahat agar arca dapat ditempatkan dalam tempat persembahyangan. Di India, arca Nandi mendapatkan penghormatan khusus karena ia adalah wahana siwa. Nandi memiliki kuil tersendiri yang ditempatkan berhadapan dengan kuil Siwa sehingga kedudukannya menjadi sama dengan dewa.  Nandi selain digambarkan dalam bentuk zoomorfik atau hewan, terkadang juga digambarkan dalam bentuk teriomorfik yakni penggambaran setengah manusia dan setengah binatang, atau dalam bentuk antromorfik yakni penggambaran manusia. Contoh arca Nandi teriomorfik ialah Nandisawahanamurti yang ditemukan di Dieng (Jawa Tengah). Sedangkan arca Nandi antropomorfik ialah Nandiswara yang ditemukan di Candi Selogriyo, Magelang (Jawa Tengah).
Nilai Sejarah : Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India, dan teknik pahat yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu, serta menunjukkan  informasi bahwa di Padukuhan Mangir Lor, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan sudah ada masyarakat yang menganut agama Hindu dalam tata kehidupan yang terstruktur.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, dan antropologi.
Nilai Agama : Menunjukkan adanya benda yang masih terkait dengan aktivitas keagamaan atau religi agama Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10.
Nilai Budaya : Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa, yaitu sebagai benda yang mencerminkan jati diri komunitas Hindu di Kabupaten Bantul pada abad ke-8 hingga abad ke-10. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Tukirin
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba
Catatan Khusus : Koordinat pada SK Bupati Bantul: 49 M  X : 0420253 Y : 9126635 Elevasi: 62 MdplKondisi Saat Ini: Arca Nandi Nomor Inventaris C.102 g kondisinya utuh tetapi kurang terawat karena arca ditumbuhi lumut (moss) serta bagian bawahnya tertutup tanah. Tatanan batu gundul di sekitar arca sebagian sudah tidak terlihat karena tertutup tanah.