Gua Surocolo berada di perbukitan batu putih, sebelah selatan Sungai Opak dan sebelah utara Pantai Parangkusumo. Gua tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki menaiki bukit melintasi jalan setapak yang dibuat berundak. Gua Surocolo merupakan gua buatan, yang dibuat dengan cara menggali bukit batu putih padas untuk tempat bertapa Sunan Amangkurat II (1677-1703). Ada dua struktur gua yang ada di tempat ini, yaitu:
Gua II, Gua kedua berada di sebelah barat gua pertama. Gua berbentuk semacam ceruk terbuka dengan ukuran panjang 872 cm, lebar 621 cm, dan tinggi 235 cm.
Selain berada di depan pintu masuk gua, batu-batu andesit bagian dari candi dapat ditemukan juga di sendang yang berada di bawah gua. Bentuknya berupa jaladwara, beberapa blok batu polos, dan batu berbentuk lingkaran dengan lubang di bagian tengah. Jaladwara dimanfaatkan untuk mengalirkan air dari mata air ke dua buah sendang.
Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
Bahan Utama | : | Batu, Tanah, Lain-lain |
Tokoh | : | Sunan Amangkurat II |
Peristiwa Sejarah | : | Berdasarkan laporan yang disebutkan dalam Oudheidkundige Dient tahun 1925 dan cerita masyarakat, Gua Surocolo dibuat pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat II, yang dikenal juga sebagai Sunan Amangkurat Mas dari Kerajaan Mataram Islam. Oleh karena itu, Gua Surocolo disebut juga Gua Sunan Mas. Sunan Amangkurat II memiliki nama kecil R.M. Sutikno merupakan putra dari Sunan Amangkurat I. R.M. Sutikno menggantikan Pangeran Puger, adiknya yang sempat memegang tahta Kerajaan Mataram Islam. Setelah pemerintahan Mataram dipegang oleh Sunan Amangkurat II, kerajaan masih mendapatkan ancaman dari Trunojoyo. Guna menghindari ancaman tersebut maka beliau pergi ke daerah selatan untuk mencari tempat bertapa. Sumber lain menyebutkan, Sunan Amangkurat II sampai di Surocolo untuk bersembunyi menghindari penjajah Belanda. Sampai di Surocolo, Sunan Amangkurat II memerintahkan para abdi dalem membuat gua. Gua Surocolo juga dikaitkan dengan kisah bocah sakti bernama Joko Umar, seorang putra dari Nyi Glenggang Jati atau Nyi Rondo dengan seorang ksatria dari sebuah kerajaan. Joko Umar ketika berjalan ke Surocolo melihat para abdi dalem kewalahan menggali batu padas. Maka dengan kekuatan yang dimiliki, dalam waktu singkat ia membantu pembuatan gua tersebut dengan menggali menggunakan tempurung kelapa. Sebagai balas jasa, Joko Umar diizinkan mengabdi kepada raja. Anak keturunan Joko Umar selanjutnya memperoleh jabatan sebagai tumenggung serta demang di wilayah Mataram. Di dalam Gua Surocolo pernah ditemukan arca-arca logam yang disimpan di dalam sebuah guci. Arca-arca tersebut saat ini telah diamankan di BPCB DIY. |
Nilai Sejarah | : | Memberikan informasi tentang sejarah Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Amangkurat II ketika masih menghadapi ancaman pemberontakan Trunojoyo. |
Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Gua Surocolo bermanfaat untuk dijadikan objek penelitian arkeologi, sejarah, dan geologi.Gua Surocolo merupakan obyek konservasi cagar budaya. |
Nilai Budaya | : | Gua Surocolo sampai sekarang masih dipergunakan sebagai tempat untuk berziarah bagi masyarakat. |
Nama Pemilik Terakhir | : | Keraton Yogyakarta |
Nama Pengelola | : | BPCB DIY |