Stasiun Radio AURI PC 2 Playen terletak di Desa Banaran, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kurang lebih 37 km arah selatan kota Yogyakarta. Monumen Stasiun Radio AURI PC 2 Playen dibangun pada tahun 1982 oleh Yayasan 19 Desember 1948 dan diresmikan pada tanggal 10 Juli 1984 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Stasiun Radio AURI PC 2 Playen berada satu area dengan bangunan TK Negeri 1 Maret Playen. Kedua bangunan tersebut berdiri di atas tanah milik Pawirosetomo, warga Desa Playen, yang menghibahkan rumah dan tanah untuk Monumen markas stasiun PHB AURI serta bangunan sekolah. Area ini cukup representatif sebagai area sekolah dan rekreasi.
Stasiun Radio AURI PC 2 menghadap ke arah selatan. Terdiri atas dua buah bangunan, yakni bangunan beratap limasan,kampung, serta sebuah tugu monumen. Adapun deskripsi dari bangunan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bangunan berbentuk limasan
Bangunan berbentuk limasan mengahadap ke selatan, dengan model atap berbentuk limasan lawakan. Bangunan limasan lawakan adalah bentuk bangunan limasan pokok yang ditambah dengan bangunan emper (serambi). Kata limasan tersebut diambil dari kata lima – lasan, yaitu perhitungan sederhana penggunaan ukuran-ukuran: molo 3 m dan blandar 5 m. Apabila molo berukuran panjang 10 m maka blandar harus sepanjang 15 m (Dakung, 1982).
Bangunan limasan di Stasiun Radio AURI PC 2 ini berukuran 7,80 m x 12,45 m. Penutup atapbangunan berupa genteng pres dari tanah liat. Atap emper (teras) depan disangga oleh enam buah tiang kayu yang berukuran 10 cm x 6 cm dengan jarak antar tiang 279 cm. Tiang-tiang tersebut dipasang di atas umpak dari beton.Lantai emper berupa susunan batu andesit berbentuk bujur sangkar berukuran 25 cm x 25 cm. Pada tahun 1984, dilakukan perubahan lantai bangunan dengan ubin.
Bangunan limasan terbuat dari kayu serta pasangan batako berplester. Pada dinding selatan terdapat tiga buah pintu dengan sistem bukaan ke dalam. Tiga buah pintu masuk tersebut masing-masing terdiri atas dua daun pintu. Pintu barat berukuran 246 cm x 186 cm, pintu tengah berukuran 226 cm x 186 cm, dan pintu timur berukuran 245 cm x 191 cm.
Dinding bangunan sisi selatan ini merupakan perpaduan antara dinding kayu yang dipasang dengan sistem knock down serta pasangan batako berplester. Kemungkinan besar dinding bangunan tersebut asli dan terbuat dari susunan kayu yang dipasang dengan sistem knock down.
Dinding kayu sisi selatan dipasang di atas pasangan batako berplester setinggi 20 cm. Adapun dinding dari pasangan batako berplester berada di sisi timur dan barat pintu masuk yang dibuat tanpa diperkuat dengan tulangan sehingga sangat membahayakan karena dinding tersebut sudah miring ke arah selatan. Sedangkan dinding barat, utara, dan timur berupa pasangan batako berplester.
Atap bangunan limasan disangga oleh delapan tiang kayu yang masing-masing berukuran 12 cm x 12 cm. Tiang-tiang (saka) tersebut berdiri di atas umpak dari beton. Seperti rumah tradisional Jawa pada umumnya, bangunan ini tidak mempunyai plafon.
Lantai ruangan ditutup dengan ubin warna abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Namun, seperti halnya lantai emper, lantai ruangan ini juga merupakan penambahan baru karena lantai yang asli berupa tanah. Bangunan ini terbagi menjadi dua ruangan yang disekat menggunakan dinding kayu. Ruangan barat digunakan sebagai ruang pameran. Di dinding ruangan terpasang beberapa foto yang berkaitan dengan sejarah museum radio tersebut. Ruangan sisi timur digunakan untuk tempat penyimpangan beras (grobogan) yang terbuat dari kayu. Penyimpanan beras digunakan untuk menyamarkan bangunan tersebut sebagai stasiun radio.
2. Bangunan berbentuk kampung
Bangunan ini berada di timur bangunan limasan, menghadap ke arah utara. Bangunan ini memiliki ukuran 6,30 m x 7,75 dengan atap berbentuk kampung. Bangunan kampung adalah bangunan tradisional Jawa yang bangunan pokoknya ditopang oleh tiang-tiang yang berjumlah 4, 6, atau 8. Di bagian atap bangunan kampung terdapat pada kedua belah sisinya dengan satu bubungan atau wuwungan (Dakung, 1982).
Rangka atap bangunan ini disangga oleh empat buah tiang yang berukuran 10 cm x 10 cm. Tiang-tiang tersebut berdiri di atas umpak beton dengan tinggi bangunan 218 cm. Lantai bangunan menggunakan ubin berukuran 20 cm x 20 cmberwarna abu-abu. Kemungkinan besar ubin ini merupakan penambahan baru seperti halnya lantai di bangunan limasan. Dinding bangunan sisi utara, timur, dan selatan menggunakan anyaman bambu, sedangkan dinding barat berupa pasangan batako berplester yang menjadi satu dengan dinding bangunan limasan.
Rangka bangunan menggunakan kayu dan bambu. Penutup atap bangunan menggunakan genteng pres dari tanah liat. Pintu masuk berada di dinding utara berukuran 235 cm x 195 cm. Pada awalnya, di dalam bangunan ini terdapat dua buah pintu, yakni di utara dan selatan. Bangunan tersebut digunakan sebagai kandang sapi serta untuk menyimpan peralatan siaran radio. Semula, bangunan yang dulu merupakan tempat penyimpanan peralatan radio itu difungsikan sebagai dapur untuk melayani keperluan guru TK Negeri 1 Maret Playen serta penjaga museum namun saat ini telah dikosongkan.