Loading

Deskripsi Singkat

Bangunan Cagar Budaya Candi Barong merupakan bangunan candi bersifat Hindu yang terletak di atas bukit karst (kapur) yang merupakan bagian dari Perbukitan Seribu (Pergunungan Sewu). Lokasi Candi Barong berdekatan dan berada pada area yang sama dengan Stupa Dawangsari, Ratu Boko, Candi Ijo, Arca Genesa Sumberwatu, dan Candi Miri serta dekat dengan Candi Banyunibo yang terletak di bawah kaki bukit tempat Candi Barong berdiri. 

Bangunan candi ini oleh penduduk setempat dinamai Candi Barong, karena candi ini memiliki hiasan berupa kepala “Barong” di atas ambang pintunya, yang merupakan bentuk hiasan relief kepala Kala yang lazim dijumpai pada bangunan candi. Penamaan Barong merujuk pada tokoh populer di masyarakat berupa karakter binatang buas (singa) pada sendratari cerita Calon Arang. Penamaan awal pada literatur laporan tertua mengenai candi ini tercantum dengan nama Candi Sari Sorogedug. 

Bangunan Cagar Budaya Candi Barong dibangun di atas puncak sebuah bukit karst yang telah dipangkas, dengan tiga bagian halaman berundak yang memanjang berarah timur ke barat. Ketiga halaman ini dibatasi oleh pagar keliling dari susunan batu dilengkapi pintu gerbang bentuk gapura paduraksa. Halaman yang paling belakang dan teratas adalah halaman yang paling suci dan merupakan dataran yang ditinggikan tempat berdirinya bangunan candi. 

Terdapat dua bangunan candi dengan bentuk dan ukuran yang identik berjajar arah utara-selatan. Candi I berada di sisi utara dan candi II di sisi selatan. Posisi keletakan kedua candi ini tidak simetris terhadap halaman (teras I). Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi penambahan bangunan candi ke dua (Candi II di bagian selatan) berikut dengan perluasan halaman ke arah selatan. Kondisi semacam ini sangat jarang dijumpai pada teknologi pembangunan candi-candi lainnya. 

Candi Barong dibangun di atas bukit kapur (karst), terdiri dari 4 teras, yaitu: 

Teras I berada paling tinggi merupakan bagian inti berukuran 26,7 m x 39,81 m. Pada teras I terdapat dua bangunan candi yang berdiri di atas batur (struktur bagian bawah bangunan terbuat dari susunan blok batu, umumnya berdenah segi empat) dari batu putih setinggi 1,4 m dari permukaan halaman. Permukaan talut pada dinding batur terletak miring 60°. Masing-masing bangunan candi terletak berjajar arah utara-selatan, candi I berada di sisi utara dan candi II di sisi selatan. Kedua bangunan candi berbahan batu andesit berukuran luas denah 8,18 m x 8,18 m, tinggi 9,05 m,.  

Kedua candi diketahui menghadap ke barat berdasarkan pada keberadaan pintu gerbang di sisi barat Teras I. Kedua candi memiliki relung di keempat sisi permukaan dindingnya. Pada setiap ambang atas masing-masing relung terdapat hiasan relief kala.? 

Teras II, merupakan halaman berukuran 62,81 m x 90,72 m dibatasi struktur pagar berbahan batu putih. Permukaan halaman teras ini berada 2,5 m dari teras I. Pada teras II terdapat lima struktur fondasi serta  batu umpak sisa bangunan. Di tengah-tengah teras II terdapat jalan masuk yang tersusun dari bahan batu putih (sedimen). Jalan masuk ini merupakan penghubung dari gerbang teras II menuju gapura teras I. 

Teras III berukuran 128,72 m x 86, 22 m, tidak terdapat sisa bangunan. 

Teras IV berukuran panjang 154,61 m, ukuran lebar belum diketahui secara pasti, teras IV dibatasi oleh struktur pagar luar yang baru ditemukan hanya pada sisi timur. Pagar ini tersusun dari batu putih berukuran tinggi 1,90 m, tebal 80 cm. 

Secara vertikal candi Barong dibagi menjadi tiga bagian yaitu? bagian kaki, tubuh dan atap.?Kedua candi (di teras I) tidak mempunyai ruangan bilik dan tidak memiliki pintu masuk, namun bagian tengah candi memiliki rongga. Secara konstruksi cara penyusunan dinding tubuh candi hanya terdiri dari dua blok batu yang punggungnya berdempetan. Akibat dari teknik konstruksi semacam ini menyebabkan adanya rongga pada tubuh bangunan candi, padahal tidak ada pintu masuk ke dalam tubuh candi. Model konstruksi semacam ini sangat jarang terjadi pada bangunan candi di Yogyakarta. 

Hiasan pada Candi Barong dikelompokkan menjadi dua yaitu yang bersifat arsitektur dan dekoratif. Pada saat dilakukan pembongkaran bangunan dalam rangkaian proses pemugaran, di bawah candi I pada bagian fondasi terdapat 9 lubang berbentuk kotak bujur sangkar dalam area 3 m x 3 m yang dipahat permukaan bedrock sebagai alas candi. Kedelapan lubang berukuran 1 m x 1 m, sedangkan satu lubang di tengah berukuran 1,5 m x 1,5 m. Lubang seperti ini tidak dijumpai pada candi II. 

Hiasan yang bersifat arsitektur adalah ragam hias yang mutlak keberadaannya dan tidak bisa dipisahkan dengan bangunannya, berupa pelipit, pilaster, relung, halfround, makara pada pipi tangga, jaladwara dan kemuncak/ratna candi. Sedangkan hiasan yang bersifat dekoratif, adalah ragam hias yang tidak mutlak keberadaannya dan apabila hilang tidak merusak keseimbangan arsitektur bangunan, meliputi motif geometris, kala makara, untaian permata, pita berhias menggantung, bentuk-bentuk binatang, makhluk-makhluk kahyangan, hiasan ceplok bunga, motif tumbuh-tumbuhan, dan antefiks.? 

Di sebelah barat, di antara kedua bangunan inti terdapat pintu masuk berupa gapura berbentuk paduraksa berukuran 2,59 m x 2,59 m dengan tinggi 4,76 m. Keberadaan dan keletakan gapura tidak lurus dengan candinya maupun selasar halaman teras II. 

Terdapat temuan lepas di area Candi Barong berupa: (1) Dua Arca Wisnu, (2) Dua Arca Dewi Sri, (3) Tiga arca yang belum selesai dikerjakan, (4) Empat kotak peripih, (5) Keramik Cina berupa 7 mangkuk dan dua gusi yang ditemukan di area teras II, (6) mata kapak dan sendok terbuat dari besi yang tidak terkonfirmasi konteks temuannya. 

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Klasik
Bagian dari : Candi Barong
Alamat : Dusun Sambisari, Sambirejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.775608° S, 110.496934° E

SK Menteri : Per. Menbudpar. No. PM25/PW.007/MKP/2007
SK Gubernur : Keputusan Gubernur DIY No. 445/KEP/2024
SK Walikota/Bupati : SK BUP Sleman 5.9/Kep.KDH/A/2018


Lokasi Candi Barong di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Jenis Struktur : Tradisional
Dimensi Struktur
Jenis Bangunan : Tradisional
Fungsi Bangunan : Religi/Keagamaan
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tata Letak Dalam Ruang Kawasan : Bangunan Cagar Budaya Candi Barong dibangun di atas puncak sebuah bukit karst yang telah dipangkas, dengan tiga bagian halaman berundak yang memanjang berarah timur ke barat. Terdapat dua bangunan candi dengan bentuk dan ukuran yang identik berjajar arah utara-selatan. Candi I berada di sisi utara dan candi II di sisi selatan. Posisi keletakan kedua candi ini tidak simetris terhadap halaman (teras I). Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi penambahan bangunan candi ke dua (Candi II di bagian selatan) berikut dengan perluasan halaman ke arah selatan.
Deskripsi Fasad : Bangunan candi ini oleh penduduk setempat dinamai Candi Barong, karena candi ini memiliki hiasan berupa kepala “Barong” di atas ambang pintunya, yang merupakan bentuk hiasan relief kepala Kala yang lazim dijumpai pada bangunan candi.
Jenis Ragam Hias : Hiasan pada Candi Barong dikelompokkan menjadi dua yaitu yang bersifat arsitektur dan dekoratif. Hiasan yang bersifat arsitektur adalah ragam hias yang mutlak keberadaannya dan tidak bisa dipisahkan dengan bangunannya, berupa pelipit, pilaster, relung, halfround, makara pada pipi tangga, jaladwara dan kemuncak/ratna candi. Sedangkan hiasan yang bersifat dekoratif, adalah ragam hias yang tidak mutlak keberadaannya dan apabila hilang tidak merusak keseimbangan arsitektur bangunan, meliputi motif geometris, kala makara, untaian permata, pita berhias menggantung, bentuk-bentuk binatang, makhluk-makhluk kahyangan, hiasan ceplok bunga, motif tumbuh-tumbuhan, dan antefiks.
Fungsi Situs : Religi/Keagamaan
Fungsi : Religi/Keagamaan
Tokoh : N.J. Krom
Konteks : Berdasarkan gaya hias dan perbandingan dengan bangunan-bangunan candi di sekitarnya, Candi Barong diperkirakan didirikan antara abad IX – X M atau akhir masa klasik periode Jawa Tengah. Dalam dokumentasi awal pada Inventaris der Hindoe-oudheden dalam publikasi Rapporten-Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië (ROD) 1915, Tweede Deel) yang disusun oleh N.J. Krom, Candi Barong dicantumkan dengan nama Candi Sari Sorogedug. Bangunan candi ini ditemukan dalam keadaan runtuh, kemudian mulai ditangani secara intensif sejak tahun 1979 melalui kegiatan pra-pemugaran, dan dilanjutkan dengan studi teknis pada tahun 1985. Kegiatan pemugaran mulai dilaksanakan sejak tahun 1987 sampai dengan tahun 1999. Latar belakang keagamaan Candi Barong diketahui bercorak Siwaistis (Hindu), tetapi fokus pemujaan pada bangunan ini kepada Dewa Wisnu. Hal ini ditunjukkan dengan adanya temuan arca Dewa Wisnu dan pasangannya (şakti) arca Dewi Laksmi dalam perwujudan bentuk Dewi Sri. Figur Dewi Sri dikenal dalam kepercayaan masyarakat Nusantara sejak masa Prasejarah sebagai simbol kesuburan (Dewi Padi dengan ciri khas ikonografi memegang setangkai tanaman padi). Temuan arca Dewi Sri umumnya berupa arca perunggu berukuran kecil. Figur Dewi Sri dalam bentuk arca batu berukuran besar di Indonesia sampai saat ini hanya dijumpai di Candi Barong (berjumlah dua arca, saat ini menjadi koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta). Keberadaan Arca Dewi Sri sekaligus Dewa Wisnu mengindikasikan sebagai objek pemujaan pada ritus kesuburan. Hal ini terkait dengan kondisi alam lingkungan sekitar candi Barong di Perbukitan Baturagung yang cenderung tandus. Secara konstruksi keberadaan bangunan candi di atas teras tertinggi yang berundak memiliki kesamaan dengan bentuk punden berundang yang merupakan hasil budaya tradisi Megalitik masa prasejarah. Konsep punden berundak ini pun berfungsi sebagai tempat ritus pemujaan. 
Nilai Sejarah : Merupakan saksisejarah sebagaisitus dengan bangunan yang memiliki informasi tentang kehidupan masa lalu khususnya tentang agama Hindu di Indonesia.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Situs Candi Barong mempunyai potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan, arkeologi, historis, arsitektur, dan teknik sipil. 
Nilai Pendidikan : Situs Candi Barong masih terkait dengan aktivitas pembelajaran masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan moral, karakter, sejarah, dan budaya. 
Nilai Budaya : Situs Candi Barong merupakan bukti arkeologis masa lalu yang dapat digunakan untuk pengembangan kebudayaan di Indonesia, yaitu adanya unsur lokal genius, ditandai dengan pola halaman seperti Punden Berundak, sebagaimana layaknya tinggalan masa Prasejarah di Indonesia. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Catatan Khusus : Koordinat pada SK GUB DIY dan SK Bupati Sleman: (UTM) 49M?X :444532,?Y:9140476Luas total lahan 4.453 m2, dengan pembagian sebagai berikut:a. Halaman Teras I  : 26,7 x 39,81 m b. Halaman Teras II : 62,81 x 90,72 m c. Halaman Teras III: 154,608 m x (ukuran lebar masih belum diketahui/dalam penelitian) d. Halaman Teras IV: (ukuran luas belum diketahui namun menyisakan sebagian sisi timur)