Loading

Rumah Tradisional Ibu Suwarni

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Rumah tradisional Suwarni terletak di Dusun Gondang, Kelurahan Kepek, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah ini didirikan oleh Bapak Harjosuwito, kemudian diwariskan secara turun temurun kepada keluarganya. Saat ini, rumah ini dimiliki oleh Ibu Suwarni.

Rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa. Fasad bangunan menghadap ke selatan. Atap bangunan terdiri atas joglo dan beberapa limasan. Atap joglo dan limasan ditopang dengan kayu jati. Uniknya, umpak yang digunakan untuk menopang tiang sokoguru terbuat dari bahan kayu. Penutup atap berupa genteng kripik. Seluruh dinding bangunan berupa gebyok dengan jendela berupa jeruji kayu. Sebagian lantai bangunan menggunakan sesek, sedangkan sisanya masih berupa tanah.

Rumah Tradisional Suwarni memiliki arah hadap ke selatan. Bangunan ini terdiri dari 4 bangunan: bangunan depan, bangunan tengah, belakang dan samping.

Sedangkan gandok tengen (kanan) sudah dimodifikasi menjadi tempat parkir motor, 2 buah kamar mandi, 1 buah tempat untuk mencuci pakaian. Gandok Kiwa (kiri) masih ada dan berfungsi sebagai dapur. Pada pojok halaman sebelah tenggara, terdapat kandang ternak (bangunan tajug).
Bangunan utama sudah diberi perkuatan berupa pondasi pada bagian tepinya. Perkuatan ini kemungkinan bertujuan agar bangunan rumah bisa lebih kuat/stabil dan tidak terpengaruh oleh kontour tanah sekitarnya. Anatar bangunan dihubungkan oleh belah, yaitu ruangan yang terdapat dibawah pertemuan emperan bangunan bagian depan dan emperan bangunan belakangnya. Oleh pemilik rumah, belah dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan akan ruang/kamar tidur. Hampir semua bagian bangunan terbuat dari kayu, yaitu pintu, jendela, hingga pasak (paku kayu untuk memperkuat struktur atap dan bangunan), engsel pintu, engsel jendela, handel pintu termasuk kancingnya.
Umpak adalah batu penyangga Saka (tiang) yang dipasang setelah prosesbebatur (fondasi) selesai dan diletakkan diatas bebatur (fondasi).
Pada awalnya arah hadap rumah adalah arah utara-selatan, pada perkembangannya arah tersebut digeser sedikit ke kiri kearah barat laut. Hal ini menurut narasumber Bapak Mulyatno, adalah karena ada kepercayaan masyarakat setempat bahwa arah utara-selatan adalah arah bagi orang yang meninggal dunia, sehingga agar tidak menyamai dengan arah orang yang meninggal tersebut, masih bisa dilihat bekasnya pada rumah utama (yaitu limasan yang berada paling belakang/utara), bekas umpak lama yang berada di dalam ruangan.

A. Bangunan Depan berupa Limasan
Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penerima tamu. Luas bangunan adalah 5,24x 11,60 m2 dengan ketinggian bangunan mencapai 4,5 m. Bangunan berada di belakang pendopo milik Bapak Murwoto. Emperan bangunan limasan menyatu dengan emperan pendopo pada bagian depannya, demikian pula emperan pada bagin belakang (utara) menyatu dengan emperan joglo bagian selatannya. Lantai ruangan berupa tanah yang ditutup dengan kepang, yaitu bilah bambu tipis yang dianyam secara langsung ditempatnya menyesuaikan kontour tanah yang ada. Alas cagak/tiang limasan (umpak) terbuat dari batu putih (tufa). Umpak berfungsi untuk menahan gaya dari atas yang melalui Saka (tiang), menahan gaya geser pada bangunan serta agar Saka (tiang) tidak berhubungan langsung dengan lantai sehingga kotoran, rembesan air, kelembapan tanah yang berasal dari bawah tidak merusak Saka (tiang). Selain itu umpak juga berfungsi untuk memperindah bangunan. Tiang berjumlah 8 buah, terbuat dari kayu jati. Dinding bangunan juga terbuat dari kayu jati (gebyog). Gebyok bagian selatan mempunyai 3 daun pintu model inep loro (kupu tarung) berdimensi masing-masing 1,70 x 1,22 m2 dan 1,79 x 1,18 m2 (2 buah yakni sebelah timur dan barat). Sedangkan jendela tidak berdaun, hanya berupa semacam roster. Dinding bagian barat dan timur berupa gebyog terbuat darikayu jati, mempunyai 2 pintu dengan model inep loro atau kupu tarung berdimensi 1,68 x 1,22 m2. Handel pintu, kancing, dan engsel pintu terbuat dari kayu dengan bentuk-bentuk tertentu. Pada bagian bawah setiap pintu terdapat tlundagan.
Oleh pemilik rumah, sisi rumah sebelah timur disekat dengan menggunakan asbes dan digunakan sebagai kamar bagi mahasiswa KKN atau kamar tamu. Emper luar bagian barat dan timur terdapat bahu-dhanyang yang berfungsi menyangga bagian tapa bangunan. Bagian atas tiang/saka/cagak dirangkai dengan wuwungan dan diperkuat dengan kayu/pasak. Atap menggunakan genting tanah liat model kripik. Bagian paling atas dari bangunan ini adalah brunjung.

B. Bangunan Tengah berupa Pendopo
Bangunan ini terdapat pada bagian tengah, diapit oleh bangunan limasan pada bagian depannya (selatan) dan pada bagian utaranya. Luas bangunan adalah 11,64 m x 22,11 m2. Berfungsi sebagai ruang keluarga. Bangunan ini ditutup pada keempat sisinya dengan gebyog. Dinding gebyog disangga oleh cor semen sebagai perkuatan yang memanjang dari bagian depan (selatan) hingga pada ujung bangunan sebelah belakang (utara). Emper bagian luar ruangan terdapat iga-iga yang berfungsi menyangga atap. Pada ruang pendopo sisi tenggara, disekat dengan asbes dan berfungsi sebagai kamara bagi mahasisa KKN/kamar tamu.
Lantai pendopo ditutup dengan kepang bambu. Sisi dinding bagian barat dan timur terbuat dari kayu jati, masing-masing mempunyai dua buah pintu dan satu jendela inep siji. Pada bagian bawah pintu terdapat tlundagan kayu yang berfungsi untuk menghambat (sementara) tetamu yang akan masuk. Ukuran pintu dibuat lebih kecil dari ukuran tubuh manusia, yang setinggi 1,63 m dan lebar 1,7 m. Sehingga untuk melewati pintu tersebut, para tamu harus membungkukkan badan sedikit. Emper bagian utara, berupa gebyog dengan lima pintu dan enam buah jendela. Tiga pintu pada bagian tengah , dan dua pintu pada bagian kiri dan kanannya. Ruangan ini, oleh pemiliknya difungsikan sebagai kamar tidur keluarga, sedangkan pintu paling barat berfungsi sebagai penghubung dengan bangunan limasan yang ada dibagian utaranya. Tiang/saka penanggap berjumlah dua belas, dengan umpak dari batu putih (tufa). Saka guru dari kayu jati terdapat pada bagian tengah ruangan dan berjumlah empat buah. Susunan tumpang sari pada bangunan rumah Ibu Suwarni ini tanpa sunduk kili. Tumpang sari berjumlah empat buah dengan dua buah pamidangan yang terbuat dari kayu berukir. Pada pertemuan antara saka guru dan blandar tumpangsari diberi selembar kain putih, yang berfungsi untuk tolak bala. Pada bagian uleng, jumlah blandar tumpangsari pada bagian pamanjang dan penyelak masing-masing terdiri dari tiga blandar ditambah dengan sunduk sebagai pengunci. Bagian dhadha peksi terdapat ukiran. Atap menggunakan genting tanah liat model kripik. Wuwungan bagian brunjung sampai dengan pananggap ditutup dengan seng. Pada wuwung seng biasanya terdapat hiasan Badong Janaka berbentuk seperti tanduk pada bagian tepi dan gunungan dibagian tengah. Ketinggian molo/brunjung mencapai 6,97 m. Belah terdapat pada bagian belakang bangunan ini, berfungsi sebagai kamar tidur anak, gudang dan jalan akses ke bagian rumah yang berada dibelakangnya. Lantai belah sudah keramik, dan luas belahnya mencapai 11,65 x 2,21 m2.

C. Bangunan Belakang berupa Limasan
Bangunan limasan ini terletak pada bagian paling belakang dari keseluruhan bangunan rumah. Luas bangunan ini 7,74 m x 11,58 m. Limasan yang berada paling belakang ini adalah rumah induk yang mula-mula didirikan. Hal ini dikuatkan dengan temuan benda-benda kuno seperti kenceng, slintru, dan rana (penyekat dinding), jodhang (tempat makan ditandu), tombak, dan beberapa barang lainnya. Bagian selatan ruangan ini berbatasan dengan bangunan pendopo, dan bagian timur dengan bangunan pawon. Bangunan limasan disekat pada bagian saka sebelah utara karena untuk perluasan ruang untuk tempat menyimpan peralatan pertanian. Ruangan ini berbentuk huruf L dengan lebar 1,67 m. Bangunan limasan secara umum berfungsi untuk gudang, dengan gebyog kayu jati pada bagian sekelilingnya. Bangunan ini mempunyai 9 (sembilan) buah pintu yakni
- 1 pintu sebelah barat ukuran 1,57 x 0,64 m2
- 2 pintu sebelah timur ukuran 1,75 x 0,65 m2 dan 1,1 x 1,19 m2
- 3 pintu sebelah utara berukuran 1,44 x 1,04 m2 berjumlah 2 buah dan 1,53 x 0,98 m2 berjumlah 1 buah
dan 4 pintu sebelah selatan masing-masing dengan ukuran 1,74 x 1,50 m2 berjumlah 3 buah pintu dan ukuran 1,73 x 0,9 m2 berjumlah 1 buah pintu paling barat. Lantai sebagian tanah dan sebagian tertutup kepang bambu. Tiang/saka sebelah selatan yang jumlahnya 4 buah terbuat dari kayu jati dan berumpak batu putih dengan tinggi tiang 3,4 m. Saka bagian utara juga terbuat dari kayu jati dan menyatu dengan gebyog yang membatasi ruang utama dengan ruang tambahan sebelah utara. Selain gebyog diruang sebelah utara, juga ada gebyog pada ruangan tambahan bagian timur. Saka limasan terbuat dari kayu menyangga delapan buah blandar penanggap dan dua buah blandar pengeret. Dua buah blandar pengeret mempunyai geganja pada bagian bawahnya dan keatas menyangga molo. Pada bagian atas, wuwungan ditutup dengan badong seng dengan motif tanduk dan gunungan pada bagian tengahnya. Sehingga ketinggian keseluruhan bangunan mecapai 4,8 m.

D. Bangunan Samping berupa Gandok
Gandok tengen (kanan) sudah dimodifikasi menjadi tempat parkir motor, 2 buah kamar mandi dan 1 buah tempat untuk mencuci pakaian.
                  Gandok kiwa (kiri) masi ada dan berfungsi sebagai dapur. Gandok kiwa terbagi menjadi dua ruangan. Ruang bagian depan (selatan) berfungsi untuk menyimpan hasil ladang, bibit tanaman, dan peralatan pertanian. Ruang bagian belakang (utara) berfungsi sebagai dapur. Diruangan dapur juga dipergunakan sebagai tempat untuk mempersiapkan bahan yang akan dimasak (racik-racik) dan tempat cuci piring. Lantai gandok kiwa berupa lantai tanah dan tidak ditutup dengan kepang bambu. Pada pojok halaman sebelah tenggara, terdapat kandang ternak yang berupa bangunan tajug. Lantai rumah tradisional ini masih menggunakan anyaman kulit bambu.
Dinding semua bangunan baik joglo maupun 2 (dua) bangunan limasan adalah gebyog polosan dari kayu jati. Demikian juga dengan pintu dan jendelanya. Semua pintu pada rumah ini tidak memakai engsel besi melainkan slop/sunduk kayu. Pintu berbentuk model dua daun (inep loro) untuk pintu utama dan pintu antara pendopo dan ruang dalam.
Umpak pendopo yang menyangga 4 tiang utama terbuat dari kayu. Empat tiang utama atau saka guru yang menyangga atap pendopo terbuat dari kayu jati dengan ukuran tinggi 350 cm dan ukuran kayu jati sebesar 15 cm x 15 cm.
Rangka atap terbuat dari kayu jati. Rangka atap bangunan joglo adalah brunjung berbentuk piramida yang terletak diatas ke empat saka guru. Bagian-bagian dari brunjung rumah joglo ini adalah :
- Uleng yang balok-balok kayunya disusun semakin keatas semakin menyempit sehingga menyerupai bentuk piramida. Papan kayu diantara uleng yang disebut langit-langit (pyan) adalah polos.
- Dada paesi yaitu balok melintang yang ada ditengah pamidhangan diukir dengan motif sederhana.
- Tumpangsari yaitu susunan balok yang disusun menyerupai piramida terdiri atas 4 (empat) susun. Secara struktural berfungsi sebagai penopang atap joglo, sedangkan fungsi arsitektural merupakan bagian dari langit-langit utama struktur rongrongan (umpak-saka guru-sunduk-blandar). Tumpangsari ditopang langsung oleh balok blandar dan pengeret. Tumpangsari pada bangunan joglo rumah ini diukir indah dan merupakan center point bagi interior bangunan joglo rumah ini.
Bagian atap genteng masih asli yaitu menggunakan genteng flam (kripik) berbahan tanah liat. Seperti rumah tradisional Jawa pada umumnya, keseluruhan bangunan ini tidak memiliki plafon.


Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Dusun Gondang Rt 02 Rw 02, Kepek, Saptosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
8.060297612° S, 110.5117178° E

SK Walikota/Bupati : SK Bup Gunung Kidul 125/KPTS/2018


Lokasi Rumah Tradisional Ibu Suwarni di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Bangunan rumah tradisional Suwarni merupakan warisan turun-temurun. Rumah ini dibangun pada tanggal 5 April 1923 oleh Bapak Poncokaryo. Pada awalnya bangunan ini merupakan bangunan kantor Bekel atau setingkat kelurahan. Menurut narasumber, sejarah Desa Kepek berawal dari masa pemerintahan Bekel/Lurah pertama yaitu Bapak Atmo Sentono yang kemudian diteruskan oleh putranya, Bapak Nitikaryo sebagai Bekel/Lurah kedua. Kedua Bekel/Lurah ini menjabat pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang yang menjadi Bekel/Lurah adalah Bapak Poncokaryo (putra Bapak Nitikaryo). Setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya bulan Oktober 1946 jabatan Bekel/Lurah dijabat Bapak Kartiwinoto (putra Bapak Poncokaryo). Dengan adanya blengketan atau penggabungan desa maka pada tahun 1947, Bapak Kartiwinoto memperoleh pengarem-arem dari Sultan Hamengku Buwana IX. Pengarem-arem adalah tanah yang diberikan kepada perangkat desa yang sudah tidak aktif.Padamasa Agresi Militer II, rumah ini pernah digunakan sebagai tempat pengungsian Bupati Gunungkidul, KRT. Suryaningrat beserta keluarga. Dalam perkembangannya, rumah ini digunakan sebagai tempat tinggal Ibu Suwarni (putri Bapak Kartiwinoto) sampai sekarang.
Nilai Ilmu Pengetahuan : -Arsitektur dan Arkeologi : bangunan ini mempunyai bentuk yang khas sebagai bangunan dengan ciri arsitektur tradisional Jawa bergaya Mataram Islam-Sosial karena punya arti khusus sarana interaksi sosial warga, karena dianggap sebagai rumah tertua di desa itu (wiwit kirab & nyimpan pusaka).
Nilai Pendidikan : Sebagai sumber materi pembelajaran tentang bentuk-bentuk rumah tradisional Jawa serta pengetahuan tentang budaya masyarakatnya yang memperlihatkan interaksi, filosofi, karya kreatif, bahan/material bangunan yang tersedia pada masa itu, serta tingkatan sosial dari pemilik bangunan
Nilai Budaya : Memperlihatkan hasil karya, karya cipta rasa yang diwujudkan dalam karya fisik bangunan rumah tradisional Ibu Suwarni saat ini yang memperlihatkan pengetahuan pemiliknya pada saat itu.? Bangunan Rumah Suwarni ini memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa penting dari segi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan sehingga sangat berguna bagi masyarakat di dalam menelusuri jejak kesejarahan arsitektur bangunan dan tata ruang serta materi pembentuknya, serta kaitannya dengan filosofi maupun budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat. Keseluruhan pengetahuan dan wawasan tersebut membuat bangunan rumah ini memiliki nilai budaya yang mampu menciptakan kebanggaan dan penguatan jati diri dan kepribadian bangsa yang kuat pada masyarakat khususnya generasi muda.? Rumah tradisional jenis ini mewakili masa gaya yang khas pada masa itu, terbatas jumlahnya dikarenakan pembangunannya kala itu yang pasti memerlukan energi dan pembiayaan yang besar sehingga hanya masyarakat golongan tertentu yang mampu mendirikannya, dan karena memerlukan biaya pemeliharaan yang besar maka berpotensi mengalami kerusakan dan kepunahan sehingga perlu dilestarikan. Pelestariannya dengan terlebih dahulu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan tindakan pelestarian lebih lanjut. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Ibu Suwarni
Pengelolaan
Nama Pengelola : ahli waris Ibu Suwarni
Catatan Khusus : Belum ada rehab atau renovasi, Pembersihan dan perawatan dilakukan oleh pemilik rumah, terdapat 4 bangunan yang berdiri sejajar ke depan menempel satu sama lain, pada bangunan paling depan sekarang menjadi tempat menyimpan hasi pertanian. Mendapat Penghargaan Gubernur DIY tahun 2005.