| Konteks |
: |
Agama Hindu berkembang dan memiliki pengaruh yang kuat di Indonesia diperkirakan terjadi pada abad ke 9M. Puncak kejayaan Agama Hindu di Jawa ditunjukkan oleh Kerajaan Mataram kuna di Jawa Tengah. Masa kejayaan Hindu Budha tersebut dikenal dengan istilah Masa Klasik. Masa klasik menjadi istilah yang digunakan untuk menandai suatu periode kesenian yang berkembang pada masa Indonesia Kuno. (Azzah, 2002:6)Arca merupakan salah satu wujud benda peninggalan masa Klasik yang pada umumnya berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Arca adalah artefak yang dibentuk menyerupai manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, atau bentuk yang lain yang dibuat secara tiga dimensi. Arca dihasilkan melalui teknik bentukan tangan (ukir) dengan media batu, tanah liat, kayu, dan logam. (vademekum benda cagar budaya: 2004)Dalam seni arca Hindu, dewa-dewa yang diwujudkan kedalam arca, merupakan bentuk visual pada ajaran agama ini, arca juga dibuat dengan maksud untuk membangkitkan kehadiran dewa dalam setiap ritual keagamaan yang dilakukan sehingga dengan sedemikian rupa para pembuat arca Hindu berusaha untuk mewujudkan visualisasi dewa-dewi yang telah digambarkan dalam kitab-kitab keagamaan. Ada kaitan yang amat besar dalam arca sebagai visualisasi dan kitab keagamaan yang berisi mitologi sebagai acuan dalam pembuatan arca. (Maulana, 1997: 12)Dewa dalam bentuk arca memiliki bentuk dan atribut tertentu. Bentuk dan atribut tersebut biasanya mencerminkan dewa yang dipuja lengkap dengan sifat spiritual yang dimilikinya. Dalam Agama Hindu, terdapat banyak kitab suci yang mengatur pembuatan Arca. Kitab Veda, Kitab Uttara Kamikagama dan Kitab Shilpa Parampara adalah beberapa kitab yang digunakan sebagai dasar pembuatan sebuah arca perwujudan. Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa setiap arca perwujudan memiliki bahan, ukuran, dan atribut-atribut tertentu. Atribut pada arca menjadi memiliki makna kekuatan yang dimiliki oleh Dewa.a. Mitologi ParvatiDalam mitologi, dewa seperti juga manusia mempunyai istri dan anak. Sakti, secara umum mempunyai pengertian kekuatan atau energi efektif yang dimiliki para dewa. Energi tersebut dipersonifikasikan dalam wujud aspek feminin dari dewa yang bersangkutan. Dalam perkembangannya, sakti kemudian diwujudkan sebagai istri dewa, yang berperan mendampingi dewa melaksanakan berbagai tugas yang diembannya. Kitab-kitab Purana menyebutkan bahwa Siwa mempunyai sakti dalam berbagai wujud sesuai dengan perwujudan Siwa sendiri. Perwujudan tersebut selalu disesuaikan dengan sifatnya yang ganda, yaitu ada yang berwujud santa, dan ada pula yang rudra (Dowson, 1953 : 86-87) Dalam wujudnya yang santa, sakti Siwa dikenal dengan nama Parwati. (Dowson, 1953: 86, Liebert, 1976 : 215).Parvati adalah sakti Siwa dalam kedudukannya sebagai Mahadewa. Disebut Parvati karena ia adalah putri raja Gunung Parwataraja. Sebutan lain Parvati dalam kaitannya sebagai putri raja gunung adalah Girija dan Sailaja, menurut mitologinya ia adalah pemuja Siwa yang setia dan taat. Sejak keci, Parvati selalu melakukan meditasi dan pemujaan terhadap Siwa. Kesetiaan Parvati pada Siwa tersebut karena ia adalah perwujudan Sati, yaitu Sakti Siwa yang karena kesetiannya rela mengorbankan dirinya terjun ke dalam api untuk membela kehormatan Siwa.Di India, Parvati mempunyai kedudukan yang istimewa dan termasuk populer di antara para penganut sekte Siwa, antara lain ditunjukkan melalui banyaknya perwujudan Parvati. Setidaknya terdapat kurang dari 24 bentuk perwujudan Parvati. Diantara ke-24 perwujudan Parvati tersebut, terdapat Durga yang dipercaya sebagai salah satu perwujudan agresif Parvati.b. Parvati di IndonesiaBerbeda dengan di India, pada Masa Jawa Kuna, pengarcaan Durga lebih populer dibandingkan dengan Parvati. Perwujudan Parvati dalam bentuk ikon sangatlah sedikit dibandingkan Durga. Durga memiliki kuantitas dan kualitas ikon yang lebih banyak selama kurun Jawa Tengah Kuna. Penggambaran Parvati yang dijumpai pada periode Jawa Tengah Kuna adalah penggambarannya yang berpasangan dengan Siwa, misalnya adalah Siwa-Parvati yang berasal dari Dieng, Gua Sepalwan (Puworejo), Candi Mantup, dan dari Klaten. Penggambaran pasangan ini juga cukup populer di India, yang menjadi simbol kesetiaan keluarga. Dari hasil perkawinanya dengan Siwa, Parvati mendapatkan 2 putra yaitu Ganesa dan Skanda atau Kartikeya.Menurut kitab Uttara Kamikagama, Parvati digambarkan bertangan dua atau empat. Kedua tangan Parvati digambarkan membawa nilotpala dan darpana. Apabila digambarkan bersama Siwa maka Parvati dilukiskan bertangan dua, tangan kanan memegang nilotpala, atau dalam sikap simhakarna, dan tangan kiri menggantung di samping atau memeluk Siwa. Parvati digambarkan dalam sikap berdiri atau duduk di sebelah kiri atau di kanan Siwa. Ia mengenakan perhiasan berupa phalapatta (ikat dahi), karandamakuta atau kasabandha.Dijelaskan lebih lanjut dalam kitab Uttara Kamikagama apabila Parwati digambarkan tanpa Siwa maka umumnya digambarkan bertangan empat. Dua tangan bagian depan dalam sikap Varada Hasta dan Abhaya Hasta, sedangkan kedua tangan dibelakang memegang Padma dan nilotpala, atau pasa dan ankusa atau tanka. Wajah Parvati umumnya digambarakan santa, mempunyai 3 buah mata (satu di atas dahi). Digambarkan duduk atau berdiri di atas padmasana. Parvati digambarkan mengenakan perhiasan lengkap. Kepalanya menenakan jatamakuta atau kerandamakuta. (Gopinatha Rao, 1968: 338 – 343).Dari penggambaran arca yang telah disebutkan diatas, maka Arca BG. 353 memiliki ciri-ciri yang diduga sesuai dengan arca Parvati, diantaranya : Memiliki tangan empat, 1 tangan membawa nilotpala, mahkota Jatamakutha, menggunakan perhiasan lengkap (kundala, hara, dan kankana), dan berwajah santa atau melambangkan kedamaian. Penelitian mengenai Arca Parvati di Indonesia telah dilakukan oleh Museum Nasional Jakarta. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Ratnesih Maulana pada arca Parvati Indonesia ditemukan sejumlah 36 buah arca Parwati dalam berbagai adegan. Seluruh Arca Parvati tersebut berasal dari Jawa barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dari ke 36 arca Parwati tersebut, hanya 3 yang memiliki adegan sendiri. Di Indonesia pengarcaan Parvati sangat umum di ketemukan dalam adegan bersama Siwa atau bersama dengan pariwara. Tiga buah arca Parvati dengan adegan berdiri sendiri sangat jarang diketemukan. Dari ketiga buah arca Parvati yang berdiri sendiri tersebut, satu diantaranya adalah Arca BG. 353 yang diketemukan di Nglemuru, Jatiayu, Karangmojo Gunungkidul. Dengan demikian Arca Parvati BG. 353 dari Nglemuru ini merupakan Cagar Budaya yang sangat unik dan langka. |