| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Peristiwa Sejarah | : | Menghadapi agresi militer Belanda yang ke-2, Jenderal Sudirman dalam keadaan menderita sakit TBC memilih berperang gerilya bersama TNI menempuh perjalanan yang jauh dan medan yang sulit. Sejarah mencatat, setelah mengeluarkan Perintah Kilat No. 1/PB/D/48, pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Sudirman dan TNI memulai perjalanan perang gerilya dari Yogya menuju Kediri. Perjalanan bergerilya selama tujuh bulan dengan menempuh jarak 1.010 km di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur saat ini. ( Pribadi, Agus Gunaedi. 2009 : 100)Dalam peristiwa kembali dari Jawa Timur menuju Yogyakarta, pasukan Jenderal Soedirman menempuh perjalanan melalui jalur Wonogiri dan Gunungkidul. Tepatnya tanggal 8 Juli 1949 Jenderal Soedirman dan pasukannya tiba di Dusun Kerja, Kecamatan Ponjong.Menurut seorang saksi sejarah setempat yang bernama Mbah Maliki (96 tahun) - beliau ikut memikul tandu, rombongan pasukan Jenderal Soedirman datang dari arah timur dan berhenti di lapangan Ponjong sekitar jam 15.00. Selanjutnya pasukan tersebut beristirahat di rumah Bapak Bajuri. Pada saat singgah di rumah bapak Bajuri, Jenderal Soedirman mendapatkan jamuan dengan menggunakan perabot meja kursi dan peralatan minum yang dipinjam dari keluarga Harjosuwito. Peristiwa bersejarah tersebut berlangsung singkat, karena selanjutnya Jenderal Soedirman dan rombongan pasukannya melanjutkan perjalanan menuju Wonosari. Pada tanggal 10 Juli 1949, melalui jalur Wonosari - Gading - Piyungan - Prambanan, Jenderal Soedirman tiba di Yogyakarta.Tempat terjadinya peristiwa singgah Jendral Soedirman di dusun Kerja saat ini menjadi sebuah tempat peringatan bersejarah yang ditandai dengan sebuah monumen peringatan. Monumen tersebut dibangun pada tahun 1984 di atas lahan yang sudah di beli oleh Yayasan Wiratama 45 Yogyakarta. Pada monumen tersebut, sering digunakan sebagai tempat pertemuan rutin bulanan anggota PEPABRI (Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). |
| Nilai Sejarah | : | Sebagai bukti sejarah peristiwa gerilya Jendral Soedirman melakukan perjalanan pulang dari Ngawi menuju Yogyakarta. Pada saat Jenderal Soedirman singgah di rumah Bapak Bajuri, beliau duduk di kursi tersebut ( nomor inventaris 02.92.01, 02.92.02, dan 02.92.03). Perabot meja kursi tersebut bukan milik Bapak Bajuri, tapi Ibu Bajuri meminjam dari keluarga Harjosuwito yang rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Perangkat meja kursi nomor inventaris 02.92.01, 02.92.02, dan 02.92.03 menjadi artefak yang menunjukkan adanya peristiwa sejarah perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan pada masa agresi Belanda ke 2 tahun 1949. |
| Nilai Pendidikan | : | Sebagai obyek pembelajaran bagi generasi muda tentang keteladanan dan semangat juang Jenderal Soedirman dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa agresi Belanda ke 2 walaupun dalam kondisi tidak sehat. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Pemerintah |
| Nama Pengelola | : | Museum Benteng Vredeburg |
| Catatan Khusus | : | Ukuran : 1. Meja kayu dengan nomor inventaris 02.92.01Tinggi : 76 CmPanjang : 106 CmLebar : 81 Cm2. Kursi kayu dengan dengan nomor inventaris 02.92.02Tinggi : 100 CmPanjang : 50 CmLebar : 55 Cm3. Kursi kayu dengan dengan nomor inventaris 02.92.03Tinggi : 100 CmPanjang : 50 CmLebar : 55 CmKondisi Saat Ini : Aman, terawat, dan menjadi koleksi Museum Benteng dengan nomor inventaris 02.92.01, 02.92.02, dan 02.92.03 |