| Peristiwa Sejarah |
: |
Arca Agastya diketemukan di Situs Pulutan bersama dengan arca Durga, dan arca Ganeha pada saat ekskavasi tahun 2012. Saat ini Arca Agastya dari Situs Pulutan disimpan di ruang koleksi kantor BPCB DIY.Situs Pulutan merupakan peninggalan arkeologi berupa candi berlatar belakang agama Hindu. Situs Pulutan dalam penyebutan sebelumnya dikenal dengan Situs Butuh yang secara geografis menempati areal berupa tegalan dengan ketinggian 167 m dari permukaan laut. Lingkungan sekitar situs berupa dataran tandus berupa tanah kapur dengan banyak ditumbuhi tanaman pohon jati dan tanaman keras lainnya. Lahan disekitar situs berupa tegalan, makam, jalan kampung, sungai dan pemukiman. Situs Pulutan baru dikenal dalam khasanah cagar budaya di wilayah Gunung Kidul berdasarkan data inventarisasi BPCB DIY tahun 1986 (dulu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta), dengan nomor inventaris D 103. Data hasil inventarisasi menyebutkan bahwa di Butuh, Pulutan terdapat sisasisa bangunan candi, menggunakan bahan dari batu kapur.Kemudian pada tahun 2012 dilakukan kegiatan Ekskavasi Penyelamatan Situs Candi Pulutan dan ditemukan data-data yang membuktikan tentang sisa-sisa struktur bangunan candi berbahan batu putih. Berdasarkan data-data hasil ekskavasi diketahui bahwa struktur bangunan tersusun dari blok batu putih dengan sistem takikan. Struktur bangunan candi diperkirakan berukuran 5,5 x 5,5 m dengan indikasi pintu dan tangga di sisi timur. Di sebelah selatan pintu masuk candi terdapat temuan lingga semu (lingga patok) yang berfungsi sebagai brahmasthana (titik pusat/tengah). Di sebelah selatan reruntuhan struktur dinding ditemukan arca Agastya, juga ditemukan Arca Ganesa menghadap ke arah barat pada reruntuhan struktur sebelah barat.Sejarah tentang kapan berdirinya Candi Pulutan sampai sekarang belum diketahui secara pasti, hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan data arkeologis. Namun berdasarkan temuan arca Ganesha, Agastya, dan Durga dapat dipastikan bahwa Situs Pulutan merupakan struktur bangunan candi berlatar belakang agama Hindu. Agama Hindu berkembang di Jawa Tengah sekitar abad VIIIX M. Perkembangan agama Hindu di wilayah Gunungkidul sangat sedikit datanya, namun demikian adanya temuan struktur candi seperti Candi Plembutan, dan Situs Pulutan membuktikan bahwa pada sekitar abad VIII – X agama Hindu sudah berkembang di wilayah Gunungkidul. Candi-candi periode Klasik Jawa Tengah memiliki langgam arsitektur yang dikenal sebagai candi gaya Mataram Kuno (abad VIII-X) dan pada umumnya ditemukan dalam gugusan (kompleks) atau berdiri sendiri. Apabila berdiri sendiri dalam satu kompleks maka halamannya terdiri dari satu lapis atau lebih dengan memusat atau konsentris pada candi induk (Prasada) seperti pada kompleks Candi Prambanan dan Candi Sambisari. Kompleks Candi Prambanan dan Candi Sambisari memiliki tiga halaman dan sebagai pusatnya adalah candi induk. Candi induk dianggap sebagai rumah dewa (dewa grha) dan dewa Siwa sebagai Mahadewa (lingga) menempati ruang utama (garbha-grha). Batas penggambaran ruang atau halaman di Candi Prambanan dan Candi Sambisari diperlihatkan dengan adanya pagar halaman. Pagar halamanberjumlah tiga tingkat dan pada halaman pusat atau yang terdalam merupakan halaman yang paling suci. Halaman kedua diluarnya dianggap sebagai halaman yang semi suci atau semi profan, sedangkan halaman terluar atau ke III dianggap sebagai halaman yang profan.Begitu pula secara vertikal bangunan candi dari bawah ke atas juga melambangkan pula tempat para dewa. Kaki candi sebagai bhurloka merupakan dunia bawah yang di kuasai maheswara, tubuh candi sebagai bhuwarloka merupakan dunia yang dikuasai oleh Sada-sidi dan atap sebagai swarloka dikuasai oleh Parama Siwa sebagai dewa yang tertinggi.Dalam pengamatan dan hasil penelitian di Situs Pulutan belum diketahui secara pasti sejauh mana sebaran bangunannya. Berdasarkan data temuan struktur hasil ekskavasi tahun 2015 diperkirakan bentuk bangunannya kecil berukuran 5,5 x 5,5 m dengan tinggi bangunan belum diketahui. Namun demikian keberadaan Situs Candi Pulutan sangat penting untuk dilestarikan dan masih memungkinkan untuk dilakukan penelitian-penelitian lanjutan sehingga sangat penting bagi obyek pembelajaran dan penelitian terutama arkeologi dan sejarah. |
| Konteks |
: |
Agastya adalah resi atau rishi, yang di dalam beberapa sumber disebutkan sebagai salah satu dari kelompok saptaresi. Tugasnya adalah menyebarkan agama Hindu ke arah selatan (dari India), termasuk ke Semenanjung Malaka dan Indonesia. Karena jasa besarnya dalam menyebarkan agama Siwa tersebut, maka Agastya didudukkan sebagai representasi Siwa, bahkan selanjutnya dianggap sebagai salah satu aspek Siwa. Hal ini dapat dilihat dari ciri-ciri Agastya yang menggunakan atribut Siwa, mulai dari jatamakuta, aksamala, camara, kamandalu hingga trisula.Ciri resi pada Agastya dapat dilihat pada penggambarannya sebagai orang tua yang berkumis dan berjenggot lebat. Juga pada perutnya yang tundila (buncit). Di India, penggambaran Agastya yang ramping muncul pada periode Gupta. Dengan demikian, dapat pula diasumsikan bahwa Agastya Jawa Tengah Kuna yang digambarkan ramping juga dapat menunjukkan kronologinya secara relatif.Keberadaan Agastya menarik untuk diungkapkan, tidak hanya dari segi kuantitas temuan arcanya yang signifikan. Arca Agastya hampir selalu hadir di candi Hindu yang diperuntukkan bagi pemujaan terhadap Siwa. Meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, pendapat para sarjana Belanda yang mengatakan bahwa Agastya adalah tokoh historis, seorang brahmana yang datang dari India dan menetap di wilayah Jawa Tengah. Berkaitan dengan hal tersebut, Agastya diidentikkan dengan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang disebut dalam Prasasti Pereng (863 M). Prasasti tersebut ditemukan di kaki Plato Siwa, dan secara kebetulan di Plato Siwa tersebut juga ditemukan arca Agastya yang cukup besar, yang oleh penduduk sekitarnya dikenal sebagai arca Gupala. Dalam sebuah candi, Arca Agastya ditempatkan di relung atau bilik sisi selatan. Penempatan tersebut merupakan manifestasi bahwa tokoh agastya merupakan seorang resi yang menyebarkan ajaran agama Hindu ke wilayah selatan. |