| Bahan Utama | : | Tanah |
| Bahan Pendamping | : | Gerabah |
| Keterawatan | : | Utuh dan Terawat,Utuh / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi keseluruhan: 46 cm; mulut: 4 cm Tebal 1,4 cm Diameter tubuh: 51 cm; mulut: 28 cm Berat - |
| Fungsi Sekarang | : | Gentong saat ini digunakan sebagai wadah menyimpan air |
| Bahan Pendamping | : | Gerabah |
| Peristiwa Sejarah | : | Sejarah Gentong Mas Tumenggung Pontjodirdjo Menurut penelusuran data sejarah yang telah dilakukan oleh TACB Gunungkidul, diperolah sejumlah fakta bahwa Mas Tumenggung Pontjodirdjo diperkirakan telah bertugas sebagai seorang abdi Kerajaan Kasunanan Surakarta pada periode akhir abad ke 18 – awal abad ke – 19. Pada periode tersebut, situasi di Gunungkidul pada khususnya dan Pulau Jawa pada umumnya berada dalam keadaan aman, tepatnya setelah terjadi pembagian kekuasaan kerajaan di Jawa pasca perjanjian Giyanti (1755) dan perjanjian Salatiga (1775). Pada masa tersebut, belum ada ketetapan dari pihak Belanda (VOC) yang mengatur tentang adanya pejabat setingkat Bupati di Vorstenlanden. Namun semenjak berakhirnya perang Diponegoro (1825 -1831) Belanda akhirnya belajar dari pengalaman dalam mengatur wilayah-wilayah Vorstenlanden. Hal yang paling utama adalam mengatur tentang wilayah kekuasaan kerajaan Kasultanan dan Kasunanan supaya berada dalam wilayah yang tetap dan tidak bersebrangan. Dalam hal ini, pada sekitar tahun 1931, Kabupaten Gunungkidul akhirnya dimasukkan ke dalam wilayah Kasultanan Yogyakarta. Menurut penjelasan sejumlah Narasumber, Mas Tumenggung Pontjodirdjo adalah Bupati Pertama Gunungkidul yang pemerintahannya berada di daerah Pati di wilayah Kapanewon Ponjong. Rokib (76 tahun) salah seorang narasumber yang tinggal di daerah Pati menjelaskan bahwa Pontjodirdjo memiliki silsilah yang berasal dari Kapanewon Ngawen. Sejatinya Pontjodirdjo merupakan seorang Tumenggung dari Keraton Mangkunegoro yang ditugaskan di Gunungkidul. Berdasarkan penjelasan CB Supriyanto (67 tahun), Pontjodirdjo merupakan Bupati pertama Kabupaten Gunungkidul yang ditetapkan di dalam Keputusan Bupati No. 70 Tahun 1984. Gentong Mas Tumenggung Pontjodirdjo saat ini disimpan di Padukuhan Pati Ponjong, tepatnya di Rumah Sejarah Pelestarian Gentong Mas Tumenggung Ponjodirdjo Semenjak Gentong Mas Tumenggung Pontjodirdjo diserahkan kepada RM. Hardjodarso, benda tersebut digunakan sebagai peralan rumah tangga seperti pada umumnya. Meski sempat berpindah tempat beberapa kali, namun benda tersebut hanya berpindah rumah di satu lingkungan Padukuhan. Benda tersebut masih utuh dan dalam kondisi baik. Pada sekitar tahun 1970, mengalami pelapisan ulang pada bagian permukaan dengan bahan dari semen. Gentong Mas Tumenggung Pontjodirdjo merupakan benda bersejarah yang bernilai tinggi yang dilestarikan oleh Pemerintah Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong. Setiap tahun Pemerintah Kalurahan setempat mengadakan kegitan bersih desa, dengan agenda acara yang dimulai dari Padukuhan Pati. Pada kegiatan bersih desa tersebut, Gentong Mas Tumenggung Pontjodirdjo dibuat replika, untuk kemudian dibawa dalam parade arak-arakan keliling Kalurahan. |
| Konteks | : | Sejarah Kabupaten Gunungkidul Menurut RM. Suryodiningrat dalam bukunya ”Peprentahan Praja Kejawen” yang dikuatkan buku de Vorstenlanden terbitan 1931 tulisan G.P Rouffaer, dan pendapat B.M.Mr.A.K Pringgodigdo dalam bukunya Onstaan En Groei van het Mangkoenegorosche Rijk, berdirinya Gunungkidul (daerah administrasi) pada tahun 1831 atau setahun seusai Perang Diponegoro, bersamaan dengan terbentuknya kabupaten lain di Yogyakarta. Disebutkan bahwa ”Goenoengkidoel, wewengkon pareden wetan lepen opak. Poeniko siti maosan dalem sami kaliyan Montjanagari ing jaman kino, dados bawah ipun Pepatih Dalem. Ing tahoen 1831 Nagoragung sarta Mantjanagari-nipoen Ngajogjakarta sampoen dipoen perang-perang, Mataram dados 3 wewengkon, dene Pangagengipoen wewengkon satoenggal-satoenggalipoen dipoen wastani Boepati Wadono Distrik kaparingan sesebatan Toemenggoeng, inggih poeniko Sleman (Roemijin Denggong), Kalasan serta Bantoel. Siti maosan dalem ing Pengasih dipoen koewaosi dening Boepati Wedono Distrik Pamadjegan Dalem. Makanten oegi ing Sentolo wonten pengageng distrik ingkang kaparingan sesebatan Riya. Goenoengkidoel ingkang nyepeng siti maosan dalem sesebatan nipoen Riya.” Dan oleh upaya yang dilakukan panitia untuk melacak Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul tahun 1984 baik yang terungkap melalui fakta sejarah, penelitian, pengumpulan data dari tokoh masyarakat, pakar serta daftar kepustakaan yang ada, akhirnya ditetapkan bahwa Kabupaten Gunungkidul dengan Wonosari sebagai pusat pemerintahan lahir pada hari Jumat Legi tanggal 27 Mei 1831 atau 15 Besar Je 1758 dan dikuatkan dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gunungkidul No : 70/188.45/6/1985 tentang Penetapan hari, tanggal bulan dan tahun Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ditandatangani oleh bupati saat itu Drs KRT Sosro Hadiningrat tanggal 14 Juni 1985. |
| Nilai Budaya | : | Gentong Mas Tumenggung Pontjodirdjo merupakan benda bersejarah yang bisa menunjukkan bukti lokasi pemerintahan Kabupaten Gunungkidul, karena gentong tersebut menjadi sedikit dari benda yang ditinggalkan oleh Mas Tumenggung. Melalui benda tersebut terkandung nilai-nilai kesetiakawanan sosial dan gotong royong. Sampai saat ini benda tersebut masih dikenang sebagai benda bersejarah yang selalu digunakan sebagai sarana acara bersih desa. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Perseorangan |
| Catatan Khusus | : | Koordinat pada NR: 7°58’27” Selatan 110°42’57” Timur Ketinggain 224 meter DPA Kondisi Saat Ini: Terawat dan masih digunakan sebagai wadah menyimpan air |