Loading

Fragmen Menhir di Watu Golek Ngawen

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Fragmen menhir Watu Golek merupakan fragmen menhir berupa potongan kepala menhir  yang berada di daerah Watu Golek.  Daerah Watu Golek berada sejauh 4,2 km ke arah timur laut dari Kantor Kapanewon Ngawen. Untuk menuju lokasi, harus melalui jalan cor blok yang berliku sejauh 1,3 km ke arah selatan dari pertigaan jalan Ngawen – Sambirejo. Daerah Watu Golek merupakan sebuah ladang yang berada di utara kompleks pemakaman umum milik penduduk Padukuhan Dawe, Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin. Menurut penjelasan Wagiyono (55 tahun) – Kepala Padukuhan Sambeng 1, meskipun berada di perbatasan wilayah Kapanewon Semin, namun area Watu Golek berada wilayah Kapanewon Ngawen.  

Fragmen menhir Watu Golek ditemukan berada di pertengahan ladang. Benda tersebut berada di tempat terbuka, diletakkan di atas sebuah batu balok yang cukup besar. Fragmen Menhir Watu Golek merupakan bagian dari kepala menhir yang terpotong pada leher. Berdasarkan bentuknya, fragmen menhir tersebut memiliki permukaan batu yang kasar dengan kondisi yang sangat aus. Ciri-Ciri-ciri yang masih bisa dilihat dari benda tersebut adalah : bentuk kepala, leher, dan muka yang rata. Pahatan yang membentuk telinga dan wajah hanya samar-samar terlihat karena kondisi batu yang sudah aus. Namun demikian, benda ini memiliki ciri dan bahan yang umum ditemui pada menhir-menhir peninggalan budaya megalitik di Gunungkidul.  

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Prasejarah
Alamat : Sambeng 1 RT 01 / RW 01 , Sambirejo, Ngawen, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.8225° S, 110.714444° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Gunungkidul 288/KPTS/2021


Lokasi Fragmen Menhir di Watu Golek Ngawen di Peta

Lokasi Penemuan : Daerah Watu Golek
Bahan Utama : Batu Batu Putih
Keterawatan : / Rusak Ringan,
Dimensi Benda : Panjang 29 cm
Lebar muka: 19 cm; leher: 12 cm
Tinggi -
Tebal 19 cm
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Warna : Abu-abu kehitaman
Ciri Fisik Benda
Warna : Abu-abu kehitaman
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Konteks : Hingga saat ini Situs Bleberan di Playen, Situs Sokoliman dan Situs Gondang di Karangmojo terkenal sebagai situs prasejarah peninggalan budaya megalitik dengan tinggalan arkeologisnya berupa peti kubur batu dan menhir. Pada masyarakat pendukung budaya megalitik, peti kubur batu digunakan sebagai wadah penguburan secara primer. Sementara itu, menhir merupakan perwujudan tokoh yang telah meninggal dunia. Selain sebagai benda perwujudan, menhir juga berfungsi sebagai media pemujaan kepada roh nenek moyang dan sebagai tanda peringatan.  Istilah megalitik dikenal untuk menyebutkan salah satu budaya yang menggunakan batu-batu besar sebagai sarananya. Benda-benda batu tersebut dibuat dengan tujuan sakral seperti pemujaan terhadap nenek moyang. (Prasetyo B., 2015: 12)  Pendukung tradisi megalitik percaya bahwa arwah nenek moyang yang telah meninggal, masih hidup terus di dunia arwah. Mereka juga percaya bahwa kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh arwah nenek moyang. Kemanan, kesehatan, kesuburan dan lain-lain sangat dipengaruhi oleh bagaimana perlakuan mereka terhadap arwah nenek moyang mereka yang telah meninggal. Dengan perlakuan yang baik, mengereka mengharapkan perlindungan sehingga selalu terhindar dari ancaman bahaya.  (Sukendar, 1996: 1)  Benda-benda megaitik di Gunungkidul banyak ditemukan di wilayah Kapenewon Karangmojo, Ponjong, Playen, Saptosari, Wonosari, dan Nglipar. Sejak masa penjajahan Belanda, keberadaan situs-situs Megalitikum di Gunungkidul telah menarik ahli-ahli arkeologi, antara lain arkeolog Belanda bernama JL. Moens pada tahun 1934, kemudian Van der Hoop ( Heekeren, 1951:51 dalam Sumiati AS, 1980: 27) . Kemudian pada tahun 1968 Haris Sukendar melakukan pengamatan kembali terhadap obyek-obyek penelitian Van Der Hoop (Sumiati AS, 1980: 27).  Kegiatan penyelamatan dan penelitian terhadap benda-benda Megalitik terus dilakukan. UGM melalui kegiatan PTKA telah mengadakan kajian strategis di wilayah kecamatan Karngmojo sejak tahun 2000. Kemudian BPCB DIY telah mengadakan kegiatan penyelamatan benda-benda hasil budaya Megalitikum di wilayah Sokoliman, Ngawis dan sekitarnya sejak tahun 1982. Kegiatan yang telah dilakukan diantaranya adalah dengan melakukan pengamanan, inventarisas, dan pemetaan. Untuk kegiatan pengamanan, Situs Sokoliman, Situs Gondang, dan Situs Bleberan sebagai Situs Megalitikum sekaligus digunakan sebagai lahan penampungan benda cagar budaya lepas (Menhir, Fragmen, arca, dsb). Meski tidak menutup kemungkinan masih banyaknya temuan lepas berupa Fragmen Megalitik yang masih terdapat di permukiman warga, kegiatan heregistrasi dan herinventarisasi terus dilakukan.  Namun demikian, berdasarkan catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, penemuan terhadap benda-benda megalitik di Kapanewon Ngawen belum pernah ditemukan sejauh ini. Hasil laporan Inventarisasi Kepurbakalaan di Kapanewon Ngawen pada tahun 1987, tidak terdapat penemuan benda dari masa Prasejarah. Fragmen menhir Watu Golek yang berupa potingan kepala menhir menjadi penemuan benda peninggalan budaya megalitik pertama di wilayah tersebut. 
Nilai Budaya : Fragmen menhir Watu Golek di Padukuhan Sambeng 1, Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Ngawen merupakan bukti perkembangan kebudayaan manusia prasejarah di wilayah Yogyakarta. Pada dasarnya Menhir digunakan sebagai media pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Fragmen menhir Watu Golek di Padukuhan Sambeng 1, Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Ngawen mempunyai nilai penting bagi ilmu pengetahun khususnya bagi ilmu arkeologi, dan sejarah. Menhir dapat digunakan sebagai kajian tentang rekonstruksi budaya masa lampau manusia pada zaman prasejarah sebelum mengenal tulisan. Fragmen menhir Watu Golek di Padukuhan Sambeng 1, Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Ngawen merupakan bukti konkret hasil karya peradaban masa Prasejarah di Indonesia, yang dapat digunakan sebagai objek pembelajaran bagi masyarakat khususnya ilmu Arkeologi, sejarah, dan budaya.   Dari segi kebudayaan, eksistensi Menhir tersebut membuktikan bahwa Gunungkidul memiliki kebudayaan yang lebih tua di bandingkan kabupaten yang lain di DIY.   
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Negara dan berada di tengah ladang milik penduduk
Pengelolaan
Nama Pengelola : Pemerintah
Catatan Khusus : Koordinat pada NR: 7°49’21” Selatan 110°42’52” Timur Ketinggain 252 meter DPA Kondisi Saat Ini: Fragmen menhir Watu Golek berada di tempat terbuka di ladar penduduk. Secara umum kondisi menhir mengalami aus akibat dari cuaca.