Rumah tradisional milik Sri Subening merupakan bangunan rumah bersejarah peninggalan Sastro Pratomo - mantan Carik Kelurahan Playen. Rumah tersebut memiliki desain rumah tradisional Jawa yang khas dengan bentuk atap limasan bermaterial kayu dan berdinding tembok dengan tatanan batu putih yang didirikan sebelum masa kemerdekaan. Keaslian bentuk bangunan rumah peninggalan Sastro Pratomo tersebut masih tetap terjaga hingga saat ini, terutama pada bangunan pagar tembok sisi depan dan tiga buah bangunan beratap limasan yang berada di dalamnya. Bangunan lintring yang berada pada sisi depan pernah mengalami renovasi, namun tetap digunakan hingga saat ini. Sementara bangunan gandok tengen mengalami perubahan bentuk dan fungsi, berubah menjadi garasi.
Bangunan rumah peninggalan Sastro Pratomo saat ini digunakan sebagai tempat tinggal keluarga Andang Suhartanto (suami dari Ibu Sri Subening). Beliau adalah mantan kepala desa Playen periode tahun 2000 - 2010, yang tinggal di rumah tersebut sejak tahun 1980. Bangunan rumah menempati lahan seluas 1.283 m², beralamat di RT 02 RW 01 Padukuhan Playen 1, Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, atau berada sejauh 100 meter sebelah timur Pasar Playen. Menurut penjelasan Andang Suhartanto, bangunan rumah peninggalan Sastro Pratomo merupakan bangunan tembok pertama yang pernah didirikan di Playen dan hingga saat ini tidak banyak mengalami perubahan bentuk. Adapun uraian atas bangunan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Bangunan Kuncung atau Lintring
Lintring rumah Sri Subening merupakan bangunan semi terbuka yang berada pada sisi utara bangunan. Bagian ini merupakan bagian terdepan dari keseluruhan bangunan yang memliki sifat publik dan difungsikan sebagai tempat menerima tamu serta sarana kegiatan sosial lainnya. Lintring ini pernah mengalami renovasi pada tahun 2017 namun bentuk dan fungsi bangunan tetap sama. Luas lintring adalah 4,06 m x 12,35 m = 50, 14 m². Permukaan lantai lintring ditutup dengan keramik berukuran 30 cm x 30 cm. Tiang penyangga atap lintring berjumlah enam buah tiang. Hek dari tembok dibuat pada bidang sisi tengah, sementara pada sisi timur dan barat dibiarkan tanpa hek dan berfungsi sebagai jalan masuk. Hek yang terbuat dari material tembok dibuat pada tahun 1987, menggantikan hek dari bahan kayu yang sudah aus.
Atap lintring ditopang dengan struktur kayu ander yang ditopang blandar, dengan tipe atap kampung. Sebagai penutup atap lintring digunakan genteng berjenis sokka. Bubungan menggunakan genteng krepus. Pada bagian tengah terdapat ornamen gunungan wayang dari bahan gerabah. Pada ujung krepus terdapat empat buah ornamen tanduk yang melengkung yang terbuat dari bahan dari gerabah. Pada sisi tritisan atau tepi genteng di topang oleh empat buah konsul besi yang berornamen geometris dan empat buah siku dari kayu. Empat buah siku kayu yang menyangga tritisan atap berada pada posisi dua tiang sudut.
2. Bangunan beratap Limasan bagian depan atau Pendopo
Bangunan beratap limasan bagian depan atau omah ngarep atau bangunan yang disebut pendapa menurut pemilik rumah, adalah bangunan berbentuk atap limasan dengan dinding yang terbuat dari tembok dengan tatanan batu putih. Bangunan ini memiliki ukuran luas 12,35 m x 8,53 m = 105,34 m², atau bangunan dengan ukuran paling luas dari bangunan yang ada. Bangunan beratap limasan ini berada di belakang bangunan lintring. Permukaan lantai pada bangunan ini ditutup dengan keramik berukuran 30 x 30 cm. Lantai keramik tersebut merupakan lantai baru yang dibuat pada tahun 2015 menggantikan lantai dari bahan tegel.
Penyangga atap berbentuk limasan pada bangunan pendapa ini ditopang oleh delapan buah tiang atau saka guru limasan dan dinding tembok dengan tatanan batu putih pada sekelilingnya. Delapan buah umpak dari kayu yang memiliki hiasan floral dibuat pada bagian bawah saka guru limasan tersebut. Umpak ini dibuat pada tahun 2017, menggantikan umpak lama yang terbuat dari batu putih. Pada bagian dinding tembok memiliki uraian sebagai berikut :
- Dinding tembok dengan tatanan batu putih memiliki ketebalan 40 cm.
- Dinding sisi utara terdapat bagian dinding yang terbuat dari kayu. Pada bagian ini, dinding kayu dibuat dengan pasangan kaca pada bagian atas. Pada bagian tengah terdapat pintu dengan dua inep yang berfunsgi sebagai pintuk masuk menuju rumah.
- Dinding sisi timur dan barat, masing-masing terdapat sebuah jendela dan pintu yang memiliki posisi simetris. Dua jendela tersebut memiliki teralis kayu yang disusun vertikal pada sisi bagian luar, sementara pada sisi bagian dalam memiliki dua buah inep.
- Dinding sebelah selatan terdapat tiga buah pintu dari kayu dengan dua inep dengan bentuk rangkap. Pintu yang tengah memiliki ukuran yang lebih tinggi dari dua pintu yang mengapitnya. Ketiga buah pintu tersebut memiliki bentuk hiasan floral pada bagian atasnya.
Pada bagian penutup atau genteng, digunakan genteng keripik, sementara penutup bubungan atau wuwung menggunakan wuwung seng polos, tanpa hiasan pada bagian puncaknya. Sementara itu pada bagian bawah genteng dan di atas kayu usuk terdapat pasangan papan dari kayu jati yang berfungsi sebagai plafon. Dengan demikian jika dilihat dari bawah maka genteng tidak kelihatan.
Menurut penjelasan Andang Suhartanto, bagian pendopo memiliki tingkat kerusakan bangunan yang paling parah terutama pada bagian genteng. Jika musim hujan, terjadi banyak kebocoran pada bagian ini. Kesulitan dalam perbaikan atap dikarenakan langit-langit ditutup dengan plafon dari bahan kayu jati. Langit-langit tersebut menutupi genteng, sehingga bagian genteng yang bocor tidak bisa diperbaiki dengan mudah.
3. Bangunan beratap Limasan bagian tengah atau Pringgitan
Bangunan beratap limasan bagian tengah atau omah tengah atau bangunan yang disebut pringgitan menurut pemilik rumah, adalah bangunan berbentuk atap limasan yang tidak memiliki penyangga kayu karena struktur atap ditopang dengan dinding yang terbuat dari tembok tatanan batu putih. Bangunan ini memiliki ukuran luas 12,35 m x 3,68 m = 45,45 m². Ketebalan dinding adalah 40 cm. Adapun uraian yang diperoleh dari hasil survei adalah sebagai berikut :
- Lantai ditutup dengan tegel berukuran 25 cm x 25 cm berwarna abu-abu.
- Pada sisi timur dan barat, masing masing terdapat sebuah kamar. Kamar sisi barat diduga merupakan kamar tidur untuk tamu, sementara kamar sebelah timur digunakan untuk ruang santai. Menurut penjelasan Andang Suhartanto, kamar sebelah timur pada masa lalu digunakan untuk ruang makan keluarga.
- Ruangan pada bagian tengah memiliki ukuran yang cukup luas. Pada bagian tersebut terdapat sebuah meja yang cukup panjang dan berada di tengah. Menurut penjelasan Sri Subening, ruangan ini dulunya digunakan untuk ruang bekerja Sastro Pratomo. Berdasarkan cerita dari Sastro Pratomo ketika masih hidup, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menggunakan ruangan ini untuk tempat berdiskusi bersama Sastro Pratomo.
- Dinding sisi selatan terdapat tiga buah pintu yang posisinya simetris dengan tiga pintu ruangan pendopo. Ketiga pintu tersebut memiliki daun pintu rangkap. Pintu yang terdapat pada sisi dalam berbentuk setengah atau half door dengan dua buah inep.
- Bagian langit-langit ruangan ini ditutup dengan plafon yang terbuat dari papan kayu jati.
- Sebagai penutup atap atau genteng menggunakan genteng keripik. Pada bagian bubungan atau wuwung menggunakan wuwung seng polos, tanpa hiasan pada bagian puncaknya.
4. Bangunan beratap limasan bagian belakang atau Ndalem
Bangunan ini merupakan bangunan yang berada paling belakang yang digunakan sebagai ruang tidur dan ruang privat keluarga Andang Suhartanto. Oleh penghuni rumah, bangunan ini disebut sebagai Ndalem. Bangunan Ndalem memiliki ukuran luas 12,35 x 8,37 m = 103,37 m². Penyangga atap berbentuk limasan pada bangunan Ndalem ini ditopang oleh delapan buah tiang atau saka guru limasan dan dinding tembok dengan tatanan batu putih pada sekelilingnya. Ketebalan dinding tembok adalah 30 cm. Adapun uraian dari bangunan Ndalem adalah sebagai berikut :
- Lantai pada bangunan ndalem ditutup oleh lantai tegel berukuran 25 cm x 25 cm. Namun pada sebagian sisi utara ditutup dengan keramik berwarna putih berukuran 35 cm x 35 cm. Menurut penjelasan Sri Subening, semula lantai tersebut ditutup dengan sesek. Namun karena sudah rusak, kemudian ditutup dengan tegel dan keramik.
- Masing-masing soko guru limasan terdapat umpak yang terbuat dari bahan batu putih.
- Pada bagian dalam masih terdapat ruang senthong kiwo dan senthong tengen, namun senthong tengah sudah hilang. Pembatas antar ruang senthong menggunakan lawang gebyok. Menurut penjelasan Selamet Widodo dan Andang Suhartanto, senthong kiwo digunakan oleh Sastro Pratomo semasa hidup untuk bersemedi. Bahkan menurut penjelasan Selamet Widodo, terdapat bekas pembakaran kemenyan yang bentuknya menggunung di ruangan tersebut.
- Pada salah satu sudut ruangan ini terdapat sebuah dipan atau tempat tidur dari bahan kayu yang sudah tidak digunakan. Menurut penjelasan Sri Subening, berdasarkan cerita dari Sastro Pratomo, dipan tersebut pernah digunakan Jenderal Soedirman untuk tidur, ketika beliau singgah di rumah tersebut pada masa perang gerilya.
- Dinding sekeliling bangunan ndalem pernah mengalami renovasi tahun 2006, sesaat setelah kejadian bencana gempa di Yogya. Saat itu dinding bangunan ndalem mengalami patah di beberapa tempat.
- Struktur penyangga atap berupa dua buah ander yang menyangga molo, blandar, dan empat buah sunduk sebagai pengikat atau pemangku saka guru. Susunan usuk berbentuk rigereh. Struktur penyangga atap bangunan ndalem bisa terlihat, karena bangunan ini tidak memiliki plafon seperti pada dua bangunan yang dijelaskan sebelumnya.
- Penutup atap atau genteng bangunan Ndalem menggunakan genteng keripik. Pada bagian bubungan atau wuwung menggunakan wuwung genteng. Jika dilihat dari bentuk dan proporsinya, genteng dan wuwung pada bagian bangunan ini belum pernah mengalami renovasi.