| Nama Penemu | : | Slamet |
| Lokasi Penemuan | : | Dusun Watusoko, Kelurahan Argodadi, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Bahan Utama | : | Perunggu |
| Keterawatan | : | Utuh dan Terawat,Tidak Utuh / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar 8,5 cm Tinggi 27 cm Tebal 2,5 cm Diameter - Berat - |
| Warna | : | perunggu |
| Cara Pembuatan | : | teknik cetak susut lilin (a cire perdue) |
| Warna | : | perunggu |
| Cara Pembuatan | : | teknik cetak susut lilin (a cire perdue) |
| Konteks | : | Agama Buddha diketahui telah berkembang di Jawa pada abad ke-8. Hal ini diketahui melalui keterangan Prasasti Hampra (750 M) yang ditemukan di Salatiga. Prasasti tersebut mengabarkan tentang pendirian tanah perdikan untuk kepentingan bangunan keagamaan bercorak Buddha oleh Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran merupakan raja Mataram Kuno yang diperkirakan memerintah pada tahun 746 M - 784 M. Melalui Prasasti Kalasan (778 M) dan Prasasti Kelurak (782 M) yang ditemukan di Kalasan dan Candi Sewu, dapat diketahui bahwa wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada masa sekarang. Kedua prasasti tersebut berkaitan dengan pendirian tanah perdikan untuk bangunan keagamaan Tara dan biara Buddha, serta pekerjaan dharma di Candi Sewu. Dalam Prasasti Manjusrigrha (792 M) dituliskan bahwa penerus takhta Mataram Kuno berikutnya, yakni Rakai Panaraban (784 M - 803 M), memerintahkan dilakukannya pekerjaan dharma berupa pendirian menara di Candi Sewu. Pada tahun yang sama Rakai Panaraban juga memberikan persembahan untuk biara Buddha di perbukitan Ratu Boko (Prasasti Ratu Boko 792 M). Prasasti Plaosan (Abad 9) juga menuliskan persembahan Rakai Panaraban untuk kepentingan biara Buddha Mahayana yang dibangun untuk para biksu dari Gujarat. Arca merupakan perwujudan atau personifikasi dari dewa dan pada umumnya ditempatkan di dalam bilik maupun relung candi dalam ukuran besar. Arca yang dibuat berukuran kecil pada umumnya merupakan arca istadewata, yakni arca yang diperuntukkan bagi individu maupun keluarga. Dalam ajaran Buddha Mahayana, Bodhisattwa Padmapani merupakan salah satu bodhisattwa perwujudan dari Adibuddha. Padmapani memperoleh namanya dari penggambarannya yang selalu memegang padma (bunga teratai merah). Disebutkan pula bahwa Padmapani tercipta dari meditasi Dhyani Buddha Amitabha dan sakti-nya, Pandara. Oleh karenanya Padmapani dapat disebut sebagai anak spiritual Amitabha. Padmapani digambarkan sebagai bodhisattwa yang welas asih. Padmapani menolak untuk memasuki Nirwana sebelum seluruh umat manusia mencapai nirmawa. Padmapani berubah menjadi berbagai bentuk dan mengalami renkarnasi untuk menyelamatkan umat manusia. Padmapani dikenal juga dengan nama Awalokiteswara. Sebagai Awalokiteswara, Padmapani merupakan bodhisattwa yang paling terkenal dalam ajaran agama Buddha. Arca Bodhisattwa Padmapani (BG. 575) ditemukan oleh penduduk bernama Slamet, di Dusun Watusoko, Argodadi, Sedayu. Arca tersebut terdaftar dalam koleksi BPCB DIY dengan nomor inventaris BG. 575 pada 19 September 1979. |
| Riwayat Penemuan | : | Arca Bodhisattwa Padmapani (BG. 575) ditemukan oleh penduduk bernama Slamet, di Dusun Watusoko, Argodadi, Sedayu. |
| Riwayat Perlindungan | : | Arca tersebut terdaftar dalam koleksi BPCB DIY dengan nomor inventaris BG. 575 pada 19 September 1979. |
| Nilai Sejarah | : | Merupakan informasi tentang kehidupan masa lalu, bahwa di Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu sudah ada masyarakat yang menganut agama Buddha aliran Mahayana dalam tata kehidupan yang terstruktur. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, antropologi, dan sosiologi. |
| Nilai Agama | : | Menunjukkan adanya benda yang masih terkait dengan aktivitas keagamaan atau religi agama Buddha pada abad ke-8 hingga abad ke-10. |
| Nilai Budaya | : | Sebagai karya unggul yang mencerminkan puncak pencapaian budaya dan benda yang mencerminkan jati diri suatu bangsa, daerah, dan aliran keagamaan tertentu, yakni umat Buddha di Jawa pada abad ke-8 hingga abad ke-10. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Catatan Khusus | : | Kondisi terawat relatif utuh. Bagian sirascakra (lingkaran kedewaan) di belakang kepala arca, tangkai padma (bunga teratai merah), serta telapak kaki telah hilang. |