| Konteks |
: |
Tradisi megalitik adalah suatu adat kebiasaan yang menghasilkan benda-benda atau bangunan dari batu yang berhubungan dengan upacara atau penguburan. Pendukung tradisi megalitik percaya bahwa arwah nenek moyang yang telah meninggal, masih hidup di dunia arwah. Mereka juga percaya bahwa kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh arwah nenek moyang. Keamanan, kesehatan, kesuburan, dan lain-lain sangat ditentukan oleh bagaimana perlakuan mereka terhadap arwah nenek moyang mereka yang telah meninggal. Dengan perlakuan yang baik, mereka mengharapkan perlindungan sehingga selalu terhindar dari ancaman bahaya.Megalitik merupakan kebudayaan yang lebih muda setelah paleolitik dan neolitik (zaman batu muda) karena sudah mengenal alat batu yang diasah. Berdasarkan bentuk peninggalannya, tradisi megalitik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu megalitik tua dan megalitik muda. Megalitik tua biasanya ditandai dengan hasil budaya berupa menhir, dolmen, teras berundak dan batu datar. Sedangkan megalitik muda ditandai dengan bentuk arca menhir, sarkofagus, keranda batu, kubur peti batu, dan lain-lain. Berdasarkan masanya, tradisi megalitik dibedakan menjadi dua, yaitu tradisi megalitik yang berasal dari masa prasejarah (prehistorical megalithic tradition) yang biasanya merupakan monumen yang tidak dipakai lagi (dead monuments) dan tradisi megalitik yang masih berlanjut atau masih dipakai oleh masyarakat pendukungnya sampai sekarang (living megalithic tradition) (Sukendar, 1996/1997:1).Pemujaan arwah nenek moyang pada tradisi megalitik di Indonesia begitu menonjol, sehingga aspek yang bersifat profan tidak begitu tampak. Hal ini dapat diketahui setelah dilakukannya studi etnoarkeologi di berbagai wilayah di Indonesia. Hampir semua hasil budaya megalitik dikaitkan dengan kegiatan usaha mendekatkan diri kepada arwah nenek moyang. Baik pada tradisi megalitik prasejarah maupun tradisi megalitik yang masih berlanjut, tradisi megalitik muncul karena digunakan untuk peribadatan atau penguburan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa peninggalan megalitik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sakral. Peninggalan yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-haripun dapat disebut sebagai peninggalan megalitik. Misalnya: batu-batu tegak yang dipergunakan sebagai batas kampung, susunan batu-batu besar untuk persawahan, lumpang batu yang dipergunakan untuk menumpuk biji-bijian dan lain-lain.Bentuk peninggalan tradisi megalitik di Indonesia, antara lain: (Sukendar, 1996/1997:2).Kubur batu : wadah penguburan mayat yang dibuat dari batu. Bentuknya antara lain kubur peti batu yang disusun dari enam buah lempengan batu, empat buah sebagai dinding dan dua buah sebagai alas dan tutup.Menhir : biasa disebut batu tegak, batu alam untuk keperluan pemujaan atau untuk tanda penguburan.Arca menhir : pahatan berbentuk antropomorpik tanpa kaki yang hanya terdiri dari kepala, leher, dan badan. Atau tiang batu (menhir) yang dipahat secara sederhana, namun sudah menggambarkan bentuk arca manusia. Bagian yang dipahat meliputi bagian wajah dan lengan tangan.Dolmen : biasa disebut meja batu, terdiri dari sebuah batu yang ditopang oleh batu-batu kecil lainnya sebagai kaki.Pada masa Megalitikum, peti kubur batu digunakan sebagai wadah penguburan secara primer, sedangkan menhir merupakan perwujudan tokoh yang telah meninggal dunia. Menhir juga berfungsi sebagai media pemujaan kepada roh nenek moyang dan sebagai tanda peringatan. Budaya Megalitikum Sokoliman mempunyai keistimewaan terutama pada pengarcaan menhir yang dipahatkan dengan bentuk raut muka manusia.Sejak jaman Belanda, keberadaan situs-situs Megalitikum di Gunungkidul telah menarik ahli-ahli arkeologi, antara lain arkeolog Belanda bernama JL. Moens pada tahun 1934, kemudian Van der Hoop (Heekeren, 1951:51 dalam Sumiati AS, 1980:27) . Kemudian pada tahun 1968 Haris Sukendar melakukan pengamatan kembali terhadap obyek-obyek penelitian Van Der Hoop (Sumiati AS, 1980:27). Berdasarkan pengamatannya arca menhir di Sokoliman memiliki tanda-tanda mulut digambarkan kecil dengan mata bulat dan hidung pesek. Prof. Dr. Sumiati AS, mengemukakan bahwa arca menhir tidak dapat dilepaskan dari tradisi megalitik, terutama dengan konsep latar belakang kepercayaan. Hal tersebut disebabkan oleh karena di dalam tradisi Megalitik dikenal suatu konsep adanya kehidupan kembali sesudah mati. Atas dasar konsep itu maka dalam masyarakat Megalitikum muncul kebiasaan melakukan pemujaan nenek moyang. Melalui pemujaan nenek moyang, tradisi Megalitik berkeyakinan bahwa hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup akan tetap terjalin. Selain itu juga bahwa dalam masyarakat megalitikum mengenal suatu tradisi membuat sesuatu, yang dapat digunakan sebagai perantara untuk mengadakan hubungan dengan orang yang sudah meninggal. Salah satu hasilnya adalah arca menhir. Von Heine Gelgern juga mengemukakan pendapatnya bahwa arca yang mempunyai bentuk sederhana dapat dianggap sebagai perwujudan nenek moyang.Melihat arca menhir yang ditemukan di daerah Gunungkidul berbentuk sederhana, maka dimungkinkan bahwa arca menhir Gunungkidul diciptakan dengan tujuan sebagai perwujudan nenek moyang.Masyarakat pada masa itu mengharapkan bahwa dengan perantara arca tersebut, dapat selalu mengadakan hubungan dengan orang yang sudah meninggal. Sementara ini di daerah Gunungkidul arca menhir ditemukan di Gondang, Playen, Sokoliman dan Bleberan. Arca-arca yang sejenis di Sokoliman atau Gunungkidul padaumumnya juga ditemukan di daerah Sulawesi Tengah. Kebiasaan membuat arca perwujudan ini masih berlangsung di daerah lain seperti Suku Asmat di Irian Jaya, Suku Toraja di Sulawesi Selatan dan Dayak di Kalimantan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta keberadaan arca menhir/megalith/ yang ditemukan di Sokoliman sehingga keberadaannya perlu dilindungi kelestariannya. |