| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Deskripsi Fasad | : | Tampak depan terlihat rumah tradisional yang masih berbahan kayu dengan gaya lintring dan kuncungannya yang khas. Atap joglo terlihat dari tampak depan bangunan tersebut |
| Deskripsi Konsol | : | Konsol sederhana dengan bentuk segitiga |
| Deskripsi Jendela | : | Jendela terbuat dari kayu, berjenis kupu tarung dan memiliki jeruji yang terbuat dari kayu. Terdapat 3 jenis ukuran pintu kayau, 123 x 154 cm, 113 x 150 cm, dan 92 x 137 cm |
| Deskripsi Pintu | : | Pintu terbuat dari kayu, berjenis kupu tarung dengan ukuran 70 x 72 cm |
| Deskripsi Atap | : | Terdapat 3 jenis atap di rumah ini, diantaranya: 1 atap lintring, 2 atap joglo, dan 3 atap limasan. Kesemuanya bergenteng kripik |
| Deskripsi Lantai | : | Sebagian batu putih, sebagian keramik |
| Deskripsi Kolom/Tiang | : | Masih asli, terbuat dari kayu sedangkan umpaknya terbuat dari batu |
| Deskripsi Ventilasi | : | Tidak memiliki ventilasi |
| Deskripsi Plafon | : | Tidak terdapat plafon |
| Jenis Ragam Hias | : | Terdapat hiasan stiliasi flora berbentuk Lung-lungan pada bagian dodog wesi |
| Desain | : | Rumah tradisional Jawa dengan gaya joglo dan lintring khas Gunungkidul |
| Interior | : | Interior dalam rumah joglo terdapat perabotan yang terbuat dari kayu, seperti kursi, meja, lemari dan dipan. |
| Tokoh | : | Mbah lurah Ngipak |
| Peristiwa Sejarah | : | Rumah Tradisional Sastrowiharjo sudah berusia lebih dari 70 tahun dengan usia pemilik Sastrowiharjo yang pada waktu itu usianya + 94 tahun di tahun 2015. Menurut penuturan pemilik mbah Sastrowiharjo, dua rumah Joglo ini diperoleh masing-masing dari orang tuanya dan mertuanya yang bernama Taruno Rejo dan Karto Wikromo. Bangunan tidak dibangun secara bersamaan, melainkan satu persatu yang yang dimulai dari bangunan Joglo. Bangunan Joglo dan limasan merupakan warisan dari orang tua dan juga mertua mbah Sastrowiharjo sedangkan lintring merupakan bangunan yang dibangun oleh anak-anak dari Satrowiharjo.Menurut informasi dari pemilik rumah tradisional ini yaitu Sastrowiharjo, bangunan miliknya pernah digunakan sebagai kantor balai desa atau kelurahan sekitar tahun 1950an. Dan juga digunakan untuk kegiatan pendidikan yakni sekolah sementara SMP Ekakapti sekitar tahun 1980.Pada umumnya pada seluruh bangunan yakni dari segi bahan bangunan yang digunakan masih asli dan belum diganti. Perubahan terjadi pada bagian lantai yang dulunya berupa sesek (raguman) dari kulit bambu yang dianyam kini digantimenjadi ubin batu putih kecuali lantai pada bagian limasan yang diubah menjadi lantai keramik. Selain itu adanya penggantian talang air.Pernah dijadikan kantor kelurahan pada saat desa belum memiliki kantor kelurahan. |
| Konteks | : | Rumah tradisional ini memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial pedesaan daerah tersebut. Dalam lingkungan pedesaan banyak juga ditemukan rumah-rumah tradisional seperti joglo, limasan, dan lintring |
| Riwayat Pelestarian | : | pernah dikasih tembakau untuk pelestarian kelestarian bangunan dari pihak pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada saat masa pandemi covid19 |
| Riwayat Pemugaran | : | Pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah sejumlah 17jt pada tahun 2017 |
| Riwayat Pemanfaatan | : | Pernah menjadi kantor Kelurahan Ngipak |
| Riwayat Penelitian | : | Beberapa mahasiswa dari berbagai kampus baik di Yogyakarta maupun diluarnya pernah mengadakan penelitian terkait bangunan tradisional jawa di rumah ini |
| Riwayat Rehabilitasi | : | Bagian lintring pernah diganti bagian range dan usuknya |
| Riwayat Perlindungan | : | Pihak pemerintah Kabupaten Gunungkidul sudah memasang plang Cagar Budaya |
| Nilai Sejarah | : | Bangunan Rumah Tradisional Sastrowiharjo merupakan bukti artefaktual yang penting untukmemahami salah satu aspek dari sejarah lokal desa Ngawis karena pernah digunakan sebagai tempatkantor desa atau kelurahan dan juga dijadikan tempat kegiatan pendidikan dan pembelajaran pada waktu itu.Rumah tradisional ini mewakili masa gaya yang khas pada masa itu. Adanya keterbatasan jumlah bangunan dikarenakan pembangunan yang membutuhkan pembiayaan yang besar sehingga hanya masyarakat golongan tertentu yang mampu mendirikan jenis bangunan tersebut. Adanya potensi kerusakan dan kepunahan pada bangunan sehingga perlu untuk dilestarikan. Bentuk pelestarian tersebut diwujudkan dengan terlebih dahulu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang kemudian dilakukan tindakan pelestarian lebih lanjut. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Pengetahuan cara membuat bangunan dengan kontruksi tradisionalnya yang adaptif terhadap kondisi alam lingkungan |
| Nilai Pendidikan | : | Sebagai sumber materi pembelajaran tentang bentuk-bentukrumah tradisional Jawa serta pengetahuan tentang budaya masyarakatnya yang memperlihatkan interaksi, filosofi, karya kreatif, bahan/material bangunan yang tersedia pada masa itu, serta tingkatan sosial dari pemilik bangunan. |
| Nilai Budaya | : | Bangunan rumah Sastrowiharjo ini memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa yang memiliki arti penting dari segi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Dengan arti penting dari berbagai aspek ini sangat berguna bagi masyarakat dalam menelusuri jejak kesejarahan arsitektur bangunan dan tata ruang serta materi pembentuknya, serta kaitannya dengan filosofi maupun budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat. Keseluruhan pengetahuan dan wawasan tersebut membuat bangunan rumah ini memiliki nilai budaya yang mampu menciptakan kebanggaan dan penguatan jati diri dan kepribadian bangsa yang kuat pada masyarakat khususnya generasi muda |
| Nama Pemilik Terakhir | : | keluarga Sastrowiharjo |
| Alamat Pemilik | : | Jalan Karangmojo - Wonosari,Ngipak, Dusun Ngipak, Karangmojo, Gunungki |
| Nama Pengelola | : | Bu Wahyu Handayani dan Pak Supriyadi |
| Alamat Pengelola | : | Jalan Karangmojo - Wonosari,Ngipak, Dusun Ngipak, Karangmojo, Gunungki |
| Nomer Kontak | : | 082134562903 |
| Persepsi Masyarakat | : | Masyarakat menganggap ini rumah bekas mbah lurah mereka dan rumah paling kuno di wilayah Dusun Ngipak, Kelurahan Karangmojo |
| Catatan Khusus | : | Dua joglo yang terdapat pada rumah ini diperoleh Mbah Sastrowihardjo masing-masing dari orang tua dan mertuanya yang bernama Taruno Rejo dan Karto Wikromo. Rumah tradisional ini termasuk jenis rumah kelas bangsawan karena memiliki bagian-bagian yang sangat lengkap. Terdiri dari kuncungan, lintring, dua buah joglo dan 3 buah limasan dibagian belakang dan sampingnya. |