| Lokasi Penemuan | : | Dusun Palgading |
| Keterawatan | : | Utuh dan Terawat,Utuh / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar 52 cm Tinggi 82 cm Tebal 32 cm Diameter - Berat - |
| Warna | : | abu-abu |
| Warna | : | abu-abu |
| Tokoh | : | - |
| Konteks | : | Dalam agama Budha dikenal adanya dua aliran, yaitu Budha Hinayana dan Budha Mahayana. Hal ini dapat dilihat dari alam kedewaan atau pantheon yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang luas sebagaimana Budha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dari ketiga tingkatan Budha tersebut yang banyak dipuja adalah Dhyani Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dhyani Budha terlengkap dapat dilihat pada Candi Borobudur, sedangkan Dhyani Bodhisatwa dijumpai pada beberapa candi, seperti Candi Plaosan, Candi Risan, Candi Ngawen, dan Candi Palgading. Arca Dhyani Budha Aksobhya yang ditemukan di Palgading, menjadi bukti bahwa Palgading merupakan candi dari agama Budha Mahayana. Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang merupakan keterangan tertulis menyinggung tentang agama Budha. Dari prasati yang memuat angka tahun 700 Saka atau 778Masehi didapat keterangan pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukkan Guru Sang Raja yang merupakan mustika-nya keluarga Sailendra. Di samping itu juga disebutan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartadirdja dkk, 1975). Sanggaadalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak abad ke VIII Masehi. Tentang Candi Palgading dengan temuan arca Dhyani Budha Aksobhya belum diketahui secara pasti kapan dibangunnya karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasasti yang berkaitan dengan candi ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Candi Palgading diperkirakan berdiri pada abad IX – X Masehi, demikian pula dengan arcanya. Selain arca Dhyani Budha Aksobhya juga ditemukan arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteswara di Palgading. Dengan temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa di Palgading pada Hindu di Indonesia merupakan tempat pemujaan bagi pemeluk agama Budha. |
| Riwayat Penemuan | : | Ditemukan di Dusun Palgading. Selain arca Dhyani Budha Aksobhya juga ditemukan arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteswara di Palgading. |
| Nilai Sejarah | : | Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia dan menunjukan adanya korelasi atau kontektual dengan bangunan cagar budaya, maupun struktur cagar budaya Candi Palgading. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan khususnya arkeologi |
| Nilai Budaya | : | Meneguhkan bahwa Bangsa Indonesia memiliki kecerdasan dan peradaban yang sudah cukup lama. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Catatan Khusus | : | Kondisi arca telah aus dan pada beberapa bagian arena batunya yng porus. |