| Keterawatan | : | / |
| Dimensi Benda | : |
Panjang - Lebar - Tinggi - Tebal - Diameter - Berat - |
| Tokoh | : | - |
| Konteks | : | Di dalam agama Budha dikenal adanya dua aliran, yaitu Budha Hinayana dan Budha Mahayana. Hal ini dapat dilihat dari alam kedewaan atau pantheon yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang luas sebagaimana Budha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dari ketiga tingkatan Budha tersebut yang banyak dipuja adalah Dhyani Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dhyani Budha terlengkap dapat dilihat pada Candi Borobudur, sedangkan Dhyani Bodhisatwa dijumpai pada beberapa candi, seperti Candi PlaosanLor, Candi Risan, Candi Ngawen, dan Candi Palgading. Awalokiteșwara merupakan salah satu dari Dhyani Bodhisatwa, yang berarti juru penerang, mendapat pengetahuan Bodhi tetapi menolak masuk nirwana dan berkeinginan memberi petunjuk kepada manusia untuk mencapai kebenaran. Dhyani Bodhisatwa berasal dari lima Budha dalam meditasi atau Dhyani Budha. Kelima Dhyani Bodhisatwa itu adalah Samantrabhadra, Wajrapani, Ratnapani, Awalokiteșwara (Padmapani), dan Wiswapani, yang muncul dari Dhyani Budha Wairocana, Aksobya, Ratnasambhawa, Amitaba, dan Amogasidhi. (R.S. Gupte, 1972).Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara seringpula disebut Padmapani, dengan ciri khas adanya arca Dhyani Budha Amitaba pada makuta atau mahkotanya. Arca Dhyani Budha Awaloiteșwara yang ditemukan di Palgading, menjadi bukti bahwa Palgading merupakan candi dari agama Budha Mahayana. Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang merupakan keterangan tertulisyang berisitentang agama Budha. Dari prasati yang memuat angka tahun 700 Şaka atau 778 Masehi didapat keterangan tentang pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukkan Guru Sang Raja yang merupakan mustikanya keluarga Şailendra. Di samping itu juga disebutan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartadirdja dkk, 1975). Sanggaadalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak lama. Candi Palgading yang juga memiliki temuan arca Awalokiteșwara belum diketahui secara pasti kapan dibangunnya, karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasati yang berkaitan dengan candi ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Candi Palgading diperkirakan berdiri pada abad IX – X Masehi, demikian pula dengan ciri-ciri arcanya. Selain arca Awalokiteșwara juga ditemukan arca Dhyani Budha Aksobya di Palgading. Dengan temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa di Palgading pada masaHindu di Indonesia merupakan tempat pemujaan bagi pemeluk agama Budha. |
| Riwayat Penemuan | : | Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokite?wara ditemukan 19 Februari 2007 di Dusun Palgading. Desa Siduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman |
| Nilai Sejarah | : | Memperlihatkan bukti-bukti peradaban sejarah di Indonesia, pengenalan agama dan kebudayaan India dan teknik pahat yang memperlihatkan kemajuan kehidupan masyarakat waktu itu. |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan khususnya arkeologi. |
| Nilai Budaya | : | Meneguhkan bahwa Bangsa Indonesia memiliki kecerdasan dan peradaban yang sudah cukup lama. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (sekarang Ba |
| Catatan Khusus | : | Kondisi Saat Ini: Kondisi arca telah pecah pada bagian leher sampai sandaran arcanyamenjadi dua bagian, namun dapat disatukan, kerusakan ini sudah terjadi sejak ditemukan. Secara keseluruhan arca dalam keadaan terawat. |