| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Peristiwa Sejarah | : | Sejak tahun 1830 mulai bermunculan pabrik gula di Yogyakarta. Ekspor paling utama dari negeri jajahan Belanda sepanjang abad ke-19 adalah gula yang mencapai 77,4 % dari total ekspor pada tahun 1840. Pada tahun-tahun tersebut pemilik modal mulai menjalankan usahanya di wilayah Vorstenlanden, termasuk Yogyakarta. Terdapat 11 pabrik gula di tahun 1909, meningkat menjadi 17 pabrik gula pada tahun 1921 dan kembali meningkat menjadi 19 pabrik gula beberapa tahun kemudian. Salah satu pabrik gula yang ada di Yogyakarta yang memiliki keterkaitan dengan Mbah Demang adalah Pabrik Gula Demak Ijo. Mbah Demang Cokrodikromo diangkat sebagai pegawai Pabrik Gula Demak Ijo milik Belanda. Selain diangkat sebagai pegawai, Mbah Demang juga dibuatkan Sumur Bor yang saat ini masih terdapat di lokasi petilasan Mbah Demang Cokrodikromo. Letak petilasan Mbah Demang Cokrodikromo tidak begitu jauh dari Pabrik Gula Demak Ijo (1906-1930). Pabrik gula tersebut dibangun di atas tanah Keraton Yogyakarta masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Saat ini lokasi bekas Pabrik Gula Demak Ijo digunakan untuk kompleks Militer TNI AD yaitu Kompi Kavaleri 2 atau Jayeng Rata Toh Raga. Terdapat sejarah lisan yang berkembang di masyarakat. Kisahnya menurut salah satu Trah Keluarga Demang Cakradikrama bahwa dahulu ada seorang bekel (pamong desa) bernama Cokrojoyo dengan seorang putra bernama Asrah lahir di Banyumeneng Gamping Sleman pada tahun 1821. Asrah dititipkan ke Demang Dowangan. Selama masa penitipan tersebut, karena kenakalannya, Asrah mendapat tugas untuk mencari rumput, angon bebek (mengembala itik) dan membawa satu ikat kayu bakar ketika pulang. Tugas-tugas tersebut Asrah laksanakan dengan senang hati. Setelah berusia akil balik, Asrah bertapa di rumah pak Penatu (kepala desa) selama satu bulan. Saat bertapa As rah bermimpi bertemu dengan dua orang berpakaian seperti haji dan orang tersebut memberi kitab kecil. Suatu waktu terjadi kemarau panjang yang menyebabkan perkebunan tebu milih Pemerintah Hindia Belanda di daerah Demak Ijo mengalami kekeringan. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda mengadakan sayembara untuk mendatangkan hujan. Asrah mengitkuti sayembara tersebut dan meminta satu perangkat gamelan dan satu kotak wayang untuk melaksanakan pertunjukan wayang kulit di daerah mBiru (Nogotirto). Saat adegan goro-goro permohonan Asrah kepada sang pencipta terkabul, yaitu hujan yang terjadi selama tiga hari tiga malam. Kemudian ia dianugerahi tanah dan pendapa, diberi jabatan Demang di wilayah tersebut dan mendapat tugas mengawasi perkebunan gula di daerah Demak Ijo. Namanya berubah menjadi Ki Demang Cakradikrama. Sumur di petilasan mbah Demang dipercaya merupakan sumur tiban (mendadak ada), karena pada awalnya mbah Demang mencabut kayu yang pernah ia tancapkan di bidang rumah, lalu sumur tersebut muncul. Saat ini sebagai bentuk penghormatan dan untuk meneladani sifat-sifat Mbah Demang, dilaksanakan ritus Suran Mbah Demang yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada setiap tanggal 7 Muharram (7 Sura). Upacara adat (ritus) tersebut sudah ditetapkan sebagai salah satu dari 594 karya budaya yang termasuk ke dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016 dengan nomor registrasi 2016006273. |
| Nilai Sejarah | : | Menunjukkan hubungan masyarakat dengan pemerintah Kolonial yaitu Mbah Demang Cokrodikromo sebagai pegawai Pabrik Gula Demak Ijo. |
| Nilai Budaya | : | Terkait dengan adanya Ritus Suran Mbah Demang yang dilaksanakan tiap tahun di lokasi Petilasan Mbah Demang Cokrodikromo.Sumur Mbah Demang Cokrodikromo memiliki keterkaitan dengan Mbah Demang yang merupakan tokoh pegawai Pabrik Gula Demak Ijo milik Belanda. Dalam rangka menghormati dan meneladani sifat-sifat Mbah Demang, hingga saat ini dilaksanakan Ritus Suran Mbah Demang setiap tanggal 7 Muharram (7 Sura). |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Keturunan Mbah Demang |
| Nama Pengelola | : | Keturunan Mbah Demang |