Loading

Sumur Mbah Demang Cokrodikromo

Status : Struktur Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Sumur Mbah Demang Cokrodikromo terletak di Jalan Godean Km. 5 Padukuhan Modinan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman. Bangunan dan struktur yang tersisa selain struktur sumur adalah kamar mandi, bekas dapur, bekas kamar mandi, struktur dinding rumah dan dua bangunan beratap joglo. 

 1) Sumur 
Sumur terletak di selatan kamar mandi sisi barat dan dibatasi dinding keliling dengan pintu di sebelah selatan. Pintu tersebut berbahan kayu dengan ukuran tinggi 160 cm dan lebar 80 cm. Di atas pintu terdapat segitiga dengan gambar lingkaran di bagian dalamnya. Diameter sumur adalah 78 cm dan tinggi sumur adalah 50 cm dengan ketebalan dinding sumur 20 cm. Selain sumur, terdapat corong air di sisi barat untuk mengalirkan air dari sumur ke bak air di kamar mandi. Lantai sekitar sumur terbuat dari plester semen. 

 2) Kamar mandi barat 
Kamar mandi terletak di utara sumur dan sebelah barat bekas kamar mandi. Di dalam ruangan tersebut terdapat bak air di sisi barat dan lantai yang ditinggikan di sisi timur. Untuk memasuki ruang tersebut terdapat pintu berbahan kayu dengan tinggi 144 cm dan lebar 108 cm. Kamar mandi memiliki ukuran 530 cm x 189 cm dan beratap kampung. Dinding terbuat dari susunan bata dan batu gelondongan dengan tinggi 192 cm dan tebal 33 cm. Konstruksi atap berbahan kayu dan penutup dari genteng, terdapat nok atau molo dari bekas rel lori. Lantai kamar mandi terbuat dari plester semen. Bak air memiliki ukuran 189 cm x 123 cm. 

3) Kamar mandi timur 
Bekas kamar mandi terletak di sebelah utara bekas dapur dan sebelah timur kamar mandi barat. Kamar mandi timur memiliki ukuran 264 cm x 189 cm. Terdapat satu bak air di sisi barat dalam kamar mandi timur. Tembok sisi utara kamar mandi timur tersisa dengan ketinggian 115 cm. Atap sudah tidak ada, kemungkinan dahulunya beratap kampung satu kesatuan dengan kamar mandi barat. Lantainya tertimbun tanah dan pecahan genting. Terdapat satu pintu di sisi selatan yang menghubungkan kamar mandi timur dengan ruang bekas dapur. 

4) Bekas dapur 
Bekas dapur terletak di sebelah selatan kamar mandi timur dan sebelah timur sumur. Bekas dapur memiliki ukuran ± 264 cm x 280 cm. Saat ini atap dari bekas dapur tidak ada, kemungkinan dahulu atapnya berbentuk kampung. Beberapa bagian dinding sudah retak. Lantainya diplester. Pada sisi selatan bekas dapur terdapat jendela dari kayu yang saat ini tinggal tersisa bingkainya. Pintu terdapat di sisi timur dan utara.  

5) Struktur dinding rumah 
Struktur dinding rumah terletak di sebelah selatan dari bekas dapur, membujur utara-selatan. Dinding tersebut menurut penuturan Budi Santoso (58 thn) merupakan satu kesatuan dengan dapur. Bahan yang digunakan tembok tersebut adalah bata plester dan batu bulat. Saat ini tembok tersisa sepanjang 400 cm dengan ketinggian rata-rata 152 cm, tebal ± 27 cm. 

6) Bangunan beratap joglo 
Di sebelah tenggara sumur terdapat dua bangunan beratap joglo. Satu menghadap ke timur dan satu menghadap ke selatan. Letak bangunan beratap joglo berada di tepi jalan raya Godean menyebabkan terjadinya pemangkasan ukuran bangunan. Yang tersisa dari bangunan beratap joglo adalah beberapa bagian tembok dan konstruksi soko guru dari kayu. Saat ini sebagian besar bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi yaitu digunakan sebagai warung makan dan percetakan.  

Status : Struktur Cagar Budaya
Alamat : Padukan Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.7778284929782° S, 110.33595390699° E

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Sleman No 3.15/Kep.KDH/A/2020


Lokasi Sumur Mbah Demang Cokrodikromo di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Sejak tahun 1830 mulai bermunculan pabrik gula di Yogyakarta. Ekspor paling utama dari negeri jajahan Belanda sepanjang abad ke-19 adalah gula yang mencapai 77,4 % dari total ekspor pada tahun 1840. Pada tahun-tahun tersebut pemilik modal mulai menjalankan usahanya di wilayah Vorstenlanden, termasuk Yogyakarta. Terdapat 11 pabrik gula di tahun 1909, meningkat menjadi 17 pabrik gula pada tahun 1921 dan kembali meningkat menjadi 19 pabrik gula beberapa tahun kemudian. Salah satu pabrik gula yang ada di Yogyakarta yang memiliki keterkaitan dengan Mbah Demang adalah Pabrik Gula Demak Ijo. Mbah Demang Cokrodikromo diangkat sebagai pegawai Pabrik Gula Demak Ijo milik Belanda. Selain diangkat sebagai pegawai, Mbah Demang juga dibuatkan Sumur Bor yang saat ini masih terdapat di lokasi petilasan Mbah Demang Cokrodikromo. Letak petilasan Mbah Demang Cokrodikromo tidak begitu jauh dari Pabrik Gula Demak Ijo (1906-1930). Pabrik gula tersebut dibangun di atas tanah Keraton Yogyakarta masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Saat ini lokasi bekas Pabrik Gula Demak Ijo digunakan untuk kompleks Militer TNI AD yaitu Kompi Kavaleri 2 atau Jayeng Rata Toh Raga. Terdapat sejarah lisan yang berkembang di masyarakat. Kisahnya menurut salah satu Trah Keluarga Demang Cakradikrama bahwa dahulu ada seorang bekel (pamong desa) bernama Cokrojoyo dengan seorang putra bernama Asrah lahir di Banyumeneng Gamping Sleman pada tahun 1821. Asrah dititipkan ke Demang Dowangan. Selama masa penitipan tersebut, karena kenakalannya, Asrah mendapat tugas untuk mencari rumput, angon bebek (mengembala itik) dan membawa satu ikat kayu bakar ketika pulang. Tugas-tugas tersebut Asrah laksanakan dengan senang hati. Setelah berusia akil balik, Asrah bertapa di rumah pak Penatu (kepala desa) selama satu bulan. Saat bertapa As rah bermimpi bertemu dengan dua orang berpakaian seperti haji dan orang tersebut memberi kitab kecil.  Suatu waktu terjadi kemarau panjang yang menyebabkan perkebunan tebu milih Pemerintah Hindia Belanda di daerah Demak Ijo mengalami kekeringan. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda mengadakan sayembara untuk mendatangkan hujan. Asrah mengitkuti sayembara tersebut dan meminta satu perangkat gamelan dan satu kotak wayang untuk melaksanakan pertunjukan wayang kulit di daerah mBiru (Nogotirto). Saat adegan goro-goro permohonan Asrah kepada sang pencipta terkabul, yaitu hujan yang terjadi selama tiga hari tiga malam. Kemudian ia dianugerahi tanah dan pendapa, diberi jabatan Demang di wilayah tersebut dan mendapat tugas mengawasi perkebunan gula di daerah Demak Ijo. Namanya berubah menjadi Ki Demang Cakradikrama. Sumur di petilasan mbah Demang dipercaya merupakan sumur tiban (mendadak ada), karena pada awalnya mbah Demang mencabut kayu yang pernah ia tancapkan di bidang rumah, lalu sumur tersebut muncul.   Saat ini sebagai bentuk penghormatan dan untuk meneladani  sifat-sifat Mbah Demang, dilaksanakan ritus Suran Mbah Demang yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada setiap tanggal 7 Muharram (7 Sura). Upacara adat (ritus) tersebut sudah ditetapkan sebagai salah satu dari 594 karya budaya yang termasuk ke dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016 dengan nomor registrasi 2016006273.  
Nilai Sejarah : Menunjukkan hubungan masyarakat dengan pemerintah Kolonial yaitu Mbah Demang Cokrodikromo sebagai pegawai Pabrik Gula Demak Ijo.
Nilai Budaya : Terkait dengan adanya Ritus Suran Mbah Demang yang dilaksanakan tiap tahun di lokasi Petilasan Mbah Demang Cokrodikromo.Sumur Mbah Demang Cokrodikromo memiliki keterkaitan dengan Mbah Demang yang merupakan tokoh pegawai Pabrik Gula Demak Ijo milik Belanda. Dalam rangka menghormati dan meneladani sifat-sifat Mbah Demang, hingga saat ini dilaksanakan Ritus Suran Mbah Demang setiap tanggal 7 Muharram (7 Sura).  
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Keturunan Mbah Demang
Pengelolaan
Nama Pengelola : Keturunan Mbah Demang