Kawasan Cagar Budaya Kaliurang yang terletak di wilayah Padukuhan Kaliurang Barat dan Kaliurang Timur, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman merupakan wilayah pedesaan yang awalnya digunakan sebagai lokasi pertanian Indigo di bawah pengelolaan Kasultanan Yogyakarta. Setelah tahap reboisasi dari lahan pertanian sejak tahun 1910–1922, lokasi ini berubah menjadi daerah resort dan banyak didirikan bangunan penginapan vila/bungalo. Kemudian di masa-masa berikutnya terdapat penambahan fasilitas wisata, taman, kolam renang, beberapa lapangan tenis dan bangunan hotel.
1. Situs Cagar Budaya Wisma Kaliurang
Situs Cagar Budaya Wisma Kaliurang merupakan tempat penyelenggaraan peristiwa Perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) dengan pemerintah Republik Indonesia pada 13 Januari 1948. Situs ini terdiri atas Bangunan Cagar Budaya Wisma Kaliurang dengan gaya arsitektur Indis, memiliki 6 unit bangunan berupa 2 unit bangunan lama dan 4 unit bangunan baru. Bangunan ini dahulu bernama Hotel Leh Meyer pada tahun 1931 yang sekaligus pernah menjadi titik pusat jaringan listrik untuk kawasan Kaliurang serta pernah menjadi fasilitas pengelola tagihan dan pembayaran listrik dan layanan pos untuk wilayah Kaliurang.
2. Situs Cagar Budaya Hostel Vogels
Situs ini terdapat Bangunan Cagar Budaya Hostel Vogels yang pada awalnya merupakan vila pribadi milik penduduk golongan Eropa di Yogyakarta, kemudian beralih kepemilikan kepada Patih Danurejo VII selanjutnya dimiliki dr. Soekiman Wirjosandjojo (Perdana Menteri Indonesia yang keenam). Vila ini kemudian dipinjamkan kepada AURI sebagai klinik dan tempat peristirahatan perwira AURI hingga tahun 1980, kemudian saat ini dimiliki oleh perorangan dan digunakan sebagai hostel dan restoran. Bangunan terdiri atas bangunan induk dan garasi. Bangunan induk memiliki komponen lantern pada atap dan menunjukkan ciri-ciri langgam Art Deco serta memiliki tata ruang Indische Wohnhuis sebagai bangunan hunian masa kolonial akhir (Indis).
3. Situs Cagar Budaya Wisma Merapi Indah I
Situs ini terdapat Bangunan Cagar Budaya Wisma Merapi Indah I yang pernah menjadi tempat menginap Presiden Sukarno saat mengikuti Perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) pada tahun 1948. Wisma Merapi Indah I terdiri atas bangunan induk, dan dua garasi. Wisma Merapi Indah I merupakan bangunan dengan gaya arsitektur Kolonial memiliki perapian dan cerobong asap serta seluruh permukaan dinding fasad berupa tatanan batu kali (batu andesit).
4. Situs Cagar Budaya Pesanggrahan Ngeksiganda
Situs ini terdapat Bangunan Cagar Budaya Pesanggrahan Ngeksiganda yang merupakan milik Kasultanan Yogyakarta. Bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat peristirahatan keluarga Kasultanan Yogyakarta dan pada tahun 1948 pernah digunakan sebagai tempat Perundingan Komisi Tiga Negara (KTN). Kompleks Pesanggrahan terdiri atas enam buah bangunan, yaitu Bangunan Induk, Bangunan kamar-kamar untuk abdi dalem, Gedung Keputren, Gedung Telepon, Gedung Gongso, dan Gedung Diesel (fasilitas tempat unit generator pembangkit listrik).
5. Situs Cagar Budaya Pesanggrahan Hargopeni
Situs ini terdapat Bangunan Cagar Budaya Pesanggrahan Hargopeni yang didirikan tahun 1927 oleh Paku Alam VII. Status bangunan merupakan milik Kadipaten Pakualaman, difungsikan sebagai tempat peristirahatan keluarga Paku Alam. Pada tahun 1948 menjadi fasilitas tempat penginapan bagi delegasi perundingan Komisi Tiga Negara (KTN). Pesanggrahan Hargopeni memiliki gaya arsitektur New Indies Style (Gaya Indis Baru). Bangunan Pesanggrahan Hargopeni terdiri dari bangunan utama dan garasi serta bangunan penyerta untuk abdi dalem yang dihubungkan dengan selasar.
6. Situs Cagar Budaya Wisma Gadjah Mada
Situs ini terdapat Bangunan Cagar Budaya Wisma Gadjah Mada yang pada awalnya merupakan bungalo yang didirikan pada tahun 1919. Bangunan ini dijuluki Loji Cengger oleh masyarakat sekitar, karena tampilan bentuk atapnya. Pada tahun 1948 menjadi fasilitas tempat penginapan bagi delegasi perundingan Komisi Tiga Negara (KTN). Sejak 1965 digunakan sebagai tempat menginap tamu-tamu Universitas Gadjah Mada serta mengalami beberapa rehabilitasi namun tanpa mengubah bentuk luar bangunan. Bangunan Wisma Gadjah Mada terdiri atas enam bangunan: satu bangunan utama, empat bangunan pendukung dan satu bangunan tambahan. Dua bangunan pendukung terletak di sebelah utara bangunan utama, sementara dua lainnya di sebelah selatan. Bangunan ini mengadopsi bentuk atap bagonjong yang merupakan ciri khas komponen rumah tradisional Minangkabau. Wisma Gadjah Mada menampilkan gaya arsitektur Indis yang terlihat dari tampilan dinding berstruktur bearing wall yang terbuat dari bahan bata serta memiliki bagian balkon serta permukaan dinding bagian luar yang dilapisi oleh batu kali.