| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Fungsi Bangunan | : | Pemujaan |
| Fungsi Situs | : | Pemujaan |
| Fungsi | : | Pemujaan |
| Landform | : | Bentuk Lahan Struktural |
| Tema Kawasan | : | Religi |
| Objek Yang Termasuk | : | a. Bangunan Masjid Pathok Negoro Mlangi b. Struktur Gapura dan Pagar c. Bangunan cungkup makam Kiai Nur Iman dan keluarganya d. Bangunan cungkup makam Patih Danurejo II dan keluarganya e. Struktur makam Kiai Nur Iman f. Struktur makam Patih Danurejo II g. Beberapa makam di kompleks Patih Danurejo II dan Kiai Nur Iman |
| Peristiwa Sejarah | : | Riwayat Pelestarian 1.Tahun 1981, masyarakat Mlangi melakukan pembangunan masjid dua lantai menggantikan masjid sebelumnya. 2. Tahun 1989, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan inventarisasi di seluruh Kecamatan Gamping. 3. Tahun 2012, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan perencanaan Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi, Kegiatan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta 4. Tahun 2012, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan Konstruksi Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi, Kegiatan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. 5. Tahun 2013, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan Konstruksi Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi Lanjutan, Kegiatan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. 6. Tahun 2014, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan Konstruksi Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi, Kegiatan Pemugaran dan Penataan Masjid-masjid Pathok Negara. |
| Konteks | : | Satuan Ruang Geografis Mlangi berkaitan dengan Masjid Pathok Negoro Mlangi dan satu tokoh penting yang membangun masjid tersebut yaitu Kiai Nur Iman. Kiai Nur Iman (Pangeran Loringpasar atau R.M. Sandiya) merupakan putra dari Amangkurat IV dengan Raden Ayu Kulon. Ia dilahirkan sekitar tahun 1708-1709. Kiai Nur Iman memiliki beberapa saudara di antaranya Sunan Paku Buwana II dan R.M. Sujana (Sultan Hamengku Buwana I). Pada Januari 1727 Kiai Nur Iman menikah dengan putri Pangeran Purbaya, yaitu Raden Ayu Gelang. Kiai Nur Iman wafat pada tanggal 4 Juni 1744. Berdasarkan sejarah lisan dan buku terbitan Panitia Khaul Kiai Nur Iman, R.M. Sandiyo atau Kiai Nur Iman sejak muda gemar menuntut ilmu agama dan tidak tertarik pada masalah pemerintahan, sehingga beliau meninggalkan kehidupan Kraton Kartasura dan pindah ke Desa Gegulu, Kulon Progo kemudian ke Desa Susukan (Seyegan). Adik Kiai Nur Iman, R.M. Sujana, kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwana I yang bertakhta di Kraton Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwana I menawarkan Kiai Nur Iman untuk tinggal di Kraton Yogyakarta, tetapi penawaran tersebut ditolak dan Kiai Nur Iman memilih tinggal di luar kraton, yaitu di daerah Mlangi. Nama Mlangi berasal dari kata “Mulangi” (bahasa Jawa) yang artinya mengajar. Tanah tersebut kemudian dijadikan tanah perdikan sebagai penghormatan Sultan Hamengku Buwana I kepada kakaknya. Masjid Mlangi difungsikan untuk menyiarkan agama Islam dan akhirnya ditetapkan sebagai masjid pathok negara pada tahun 1758 M. Masjid Pathok Negoro memiliki peran sebagai batas dan pelindung bagi wilayah Kasultanan Yogyakarta. Lingkungan di sekitar Masjid Pathok Negoro Mlangi kemudian berkembang menjadi pemukiman muslim, yang sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Kiai Nur Iman. Pemukiman muslim di Mlangi merupakan satu pemukiman dengan pesantren paling banyak dibandingkan dengan pemukiman muslim di sekitar masjid pathok negoro lainnya. Keberadaan pondok pesantren di Mlangi diawali oleh Kiai Nur Iman yang menyelenggarakan pengajaran agama Islam untuk masyarakat sekitar di rumahnya. Secara bertahap didirikan fasilitas pendidikan tradisional. Pesantren yang pertama tersebut terletak di sebelah barat Masjid Pathok Negoro Mlangi. Terdapat tiga pondok pesantren di Mlangi yang tua yaitu Pondok Ledok di sebelah barat masjid, Pondok Lor (sekarang Al Miftah) didirikan tahun 1925 dan Pondok Kidul (sekarang As Salafiyah) didirikan tahun 1935. Saat ini terdapat kurang lebih 17 pondok pesantren di sekitar Masjid Pathok Negoro Mlangi yang tersebar secara administratif di wilayah Mlangi dan Sawahan. Sebagian besar pesantren yang ada merupakan pesantren yang didirikan oleh keturunan Kiai Nur Iman (saat ini keturunan keenam), kecuali Pesantren Pondok Kuno. |
| Riwayat Pelestarian | : | Tahun 1981, masyarakat Mlangi melakukan pembangunan masjid dua lantai menggantikan masjid sebelumnya |
| Riwayat Penelitian | : | Tahun 1989, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan inventarisasi di seluruh Kecamatan GampingTahun 2012, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan perencanaan Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi, Kegiatan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Riwayat Rehabilitasi | : | Tahun 2012, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan Konstruksi Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi, Kegiatan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa YogyakartaTahun 2013, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan Konstruksi Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi Lanjutan, Kegiatan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Daerah Istimewa YogyakartaTahun 2014, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan Konstruksi Rehabilitasi Masjid Pathok Negara Mlangi, Kegiatan Pemugaran dan Penataan Masjid-masjid Pathok Negara |
| Nilai Sejarah | : | Satuan Ruang Geografis Mlangi di Padukuhan Mlangi, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman merupakan penggunaan tanah perdikan yang dikelola oleh kakak Sultan Hamengku Buwana I untuk kegiatan keagamaan dan berkedudukan sebagai salah satu Masjid Pathok Negoro Kasultanan Yogyakarta yang kemudian berkembang menjadi jaringan pesantren di wilayah Mlangi. |
| Nilai Agama | : | Satuan ruang geografis Mlangi digunakan sebagai salah satu tempat syiar agama Islam sejak awal pendirian Masjid Pathok Negoro Mlangi hingga sekarang.. Pola jaringan pesantren di wilayah Mlangi yang berawal dari pesantren Kiai Nur Iman. Terdapat sekitar 17 pesantren di sekitar Masjid Pathok Negoro Mlangi yang berawal dari pengajaran agama Islam oleh Kiai Nur Iman di rumahnya. |
| Nilai Budaya | : | Satuan Ruang Geografis tersebut sebagai Kawasan Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah kabupaten mengingat berkaitan dengan kebudayaan Islam. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Pemerintah Kabupaten Sleman, Kasultanan Yogyakarta, dan Perorangan |
| Nama Pengelola | : | Pemerintah Kabupaten Sleman, Kasultanan Yogyakarta, dan Perorangan |