Loading

Bangunan Museum Universitas Gadjah Mada

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bangunan Museum UGM dahulunya adalah dua rumah terpisah, yakni rumah D6 dan D7. Kedua rumah tersebut memiliki bentuk dan tata ruang yang sama dan hanya dibuat dalam bentuk mirroring saja. Arsitektur bangunan bergaya Indis yang ditunjukkan oleh dinding bangunan tebal, dibuat dari bata kemudian diplester dan dicat putih. Pada dinding di bawah jendela terdapat plester kasar bercat hitam. Pada bagian depan rumah terdapat beranda terbuka. Atap utama rumah berbentuk limasan dan ditutup bahan dari genteng kodok. Sementara atap tambahan atau cantilever untuk kamar yang menjorok keluar berbentuk datar yang terbuat dari beton. Kemudian bagian lantainya dari ubin abu-abu dan kuning berukuran 20 cm x 20 cm. Terdapat tritisan yang mengelilingi fasad bangunan. Kemudian terdapat rooster atau lubang angin berbentuk persegi panjang yang ada di atas tritisan. Model pintu dan jendela pada fasad bangunan yaitu pintu ganda dan jendela berjumlah tiga dengan kombinasi kayu dan kaca bertralis. Pada jendela bagian samping rumah menggunakan model krepyak. Bagian plafon terbuat dari eternit berukuran 1 m x 1 m dengan plepet kayu. 

Arsitektur bangunan masih menunjukan pengaruh rumah-rumah masa kolonial  pada awal tahun 1900, dimana bangunan dibangun dalam ukuran yang lebih kecil dan pembagian ruang di dalamnya dilakukan lebih praktis. Bagian depan bangunan adalah ruang tamu yang di sebelah sampingnya terdapat duar kamar. Kedua kamar tersebut terhubung dengan ruang untuk buang air be dan kamar mandi. Kemudian di belakang ruang tamu terdapat ruang keluarga yang di sebelah sampingnya terdapat dua ruang tidur. Kedua kamar tersebut dihubungkan dengan dua pintu penghubung. Salah satu pintu memberi akses ke ruang untuk buang air dan kamar mandi. Pada bagian samping, rumah terdapat ruang dapur dan garasi yang menyambung.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Pasca Kemerdekaan
Tahun : 1959
Alamat : Blimbingsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.775465° S, 110.374096° E

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Sleman


Lokasi Bangunan Museum Universitas Gadjah Mada di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Jenis Struktur : Kolonial
Dimensi Struktur
Jenis Bangunan : Kolonial
Fungsi Bangunan : Museum
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Deskripsi Fasad : Arsitektur bangunan bergaya Indis yang ditunjukkan oleh dinding bangunan tebal, dibuat dari bata kemudian diplester dan dicat putih. Pada dinding di bawah jendela terdapat plester kasar bercat hitam. Pada bagian depan rumah terdapat beranda terbuka.
Deskripsi Jendela : Jendela berjumlah tiga dengan kombinasi kayu dan kaca bertralis. Pada jendela bagian samping rumah menggunakan model krepyak.
Deskripsi Pintu : Model pintu pada fasad bangunan yaitu pintu ganda.
Deskripsi Atap : Atap utama rumah berbentuk limasan dan ditutup bahan dari genteng kodok. Sementara atap tambahan atau cantilever untuk kamar yang menjorok keluar berbentuk datar yang terbuat dari beton.
Deskripsi Lantai : Ubin abu-abu dan kuning berukuran 20 cm x 20 cm.
Deskripsi Ventilasi : Terdapat rooster atau lubang angin berbentuk persegi panjang yang ada di atas tritisan.
Deskripsi Plafon : Bagian plafon terbuat dari eternit berukuran 1 m x 1 m dengan plepet kayu.
Fungsi Situs : Museum
Fungsi : Museum
Peristiwa Sejarah : Sejak diresmikan pada tanggal 19 Desember 1949, Universitas Gadjah Mada terus mengalami perkembangan terutama dalam penambahan jumlah mahasiswa. Bertambahnya jumlah mahasiswa menyebabkan kebutuhan akan gedung baru semakin meningkat. Untuk memenuhi hal tersebut diperlukan pembangunan kompleks kampus yang terpadu. Apalagi pada masa awal, kegiatan belajar mengajar di UGM masih dilakukan di tempat yang terpisah.  Pemerintah RI yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta berencana untuk membangun gedung di Bulaksumur yang diperkirakan dapat menampung 10.000 mahasiswa. Rencana tersebut mulai dibahas saat Dies Natalis UGM yang pertama tanggal 19 Desember 1950 yang dihadiri oleh wakil Presiden Drs. Moh. Hatta. Pada waktu itu wakil presiden kemudian membicarakan rencana tersebut dengan ketua Dewan Kurator dan Dewan Pengurus Senat.  Persiapan selanjutnya adalah pembentukan panitia gabungan yang bertugas membeli tanah. Panitia tersebut diketuai oleh K.R.T Honggowongso dari unsur pemerintah daerah, Prof. Ir. Wreksohadiningrat dari Universitet Negeri Gadjah Mada, Mr. Imam Koes Soetikno dari Pengadilan Negeri, KRT Prawiraningrat dari Kabupaten Sleman, KRT Wiroboemi dari Kantor Urusan Tanah, R. Soeroso dari Djawatan Gedung, R. Prodjo Sindoero dari Kota Besar Jogjakarta, Sadji Sastrosasmito dari Petani, Soemarto dari BTI, Soedarmo dari S.T.II, KRT Mertosono dari Djawatan Pekerjaan Umum Daerah. Persiapan teknis pembangunan gedung diserahkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Jawatan Gedung-Gedung. Kedua instansi tersebut kemudian mengangkat Insinyur Praktik Soetardjo dan Insinyur Praktik Hadinegoro untuk bertugas merancang dan membuat gambar gedung baru. Selanjutnya kedua instansi tersebut mendapat bantuan dari Kantor Planologi yang diwakili oleh Prof. Poerbodiningrat dan Insinyur Praktik Djojosoegardo. Bantuan tersebut dari Yayasan Guna Dharma yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Presiden Universitas Prof. Dr. M. Sardjito dalam Laporan Tahunan Universitit Gadjah Mada bagi Tahun Pengadjaran 1952/1953 menjelaskan bahwa kerja sama yang terjalin antara UGM, Jawatan Gedung-Gedung dengan Yayasan Guna Dharma, adalah guna membangun asrama mahasiswa untuk sekitar 1.000 orang, gedung tata usaha bertingkat dua, asrama mahasiswa di Baciro, asrama putri, rumah-rumah guru dan gedung-gedung darurat. Peletakan batu pertama pembangunan kompleks gedung baru Universitas Gadjah Mada dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 19 Desember 1951. Bangunan baru tersebut kemudian dikenal sebagai gedung pusat atau rektorat. Bersamaan dengan dibangunnya Gedung Pusat di Bulaksumur juga dibangun beberapa bangunan di kawasan Sekip, salah satunya adalah Gedung Pantja Dharma. Dalam Laporan Tahunan Universitit Gadjah Mada bagi Tahun Pengadjaran 1951/1952 Presiden Universitas Prof. Dr. M. Sardjito menyinggung rencana pendirian asrama mahasiswa berhubung UGM kesulitan untuk menyediakan fasilitas perumahan bagi mahasiswa yang saat itu jumlahnya mencapai 3.439 orang. Beberapa bangunan di Kawasan Sekip dapat diselesaikan pembangunannya lebih awal dari pada Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, sehingga beberapa fakultas sudah dapat dimanfaatkan pada tahun 1956. Selain gedung kantor dan perkuliahan, sarana yang juga ikut dibangun adalah perumahan untuk dosen yang ada di Sekip dan Bulaksumur. Tahun pendirian terentang dari tahun 1951 hingga tahun 1976. Perumahan tersebut terletak di Sekip dan Bulaksumur. Perumahan di Sekip memiliki tiga blok (blok K, L, dan M) dan lima flat (blok A, B, C, D, E). Sementara perumahan di blok Bulaksumur terdiri dari tujuh blok (blok A, B, C, D, E, F, G, ). Bagian blok A pernah digunakan sebagai homestay untuk delegasi Konferensi  Colombo tahun 1959). Bangunan di kompleks perumahan Bulakusumur dan Sekip dibangun pada periode yang berbeda sehingga memiliki keragaman bentuk serta gaya.
Konteks : Berdasarkan Lampiran Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 3 April 1979 No. 056a/M/1979 tentang Penetapan Rumah Dinas Golongan II di Universitas Gadjah Mada, rumah Bulaksumur Blok D 6 dan D 7 yang saat ini menjadi Museum UGM dibangun pada tahun 1959 dan diperuntukan bagi pegawai golongan II. Umumnya satu bangunan berada pada pekarangan yang cukup luas, berbentuk kopel dengan bangunan sebelahnya. Ada suatu konvensi atau aturan tidak tertulis di antara para dosen yang tinggal di perumahan yakni rumah tersebut tidak bisa dibeli atau diperjualbelikan. 
Nilai Sejarah : Bangunan Museum UGM merupakan fasilitas perumahan untuk dosen UGM pada saat awal berdirinya UGM. 
Nilai Ilmu Pengetahuan : Bangunan Museum UGM menunjukan perkembangan dalam pemanfaatan teknologi beton bertulang. 
Nilai Pendidikan : Bangunan Museum UGM awalnya adalah prasarana untuk menunjang sarana pendidikan, yakni sebagai tempat tinggal dosen.
Nilai Budaya : Bangunan Museum UGM merupakan perwujudan perhatian pemerintah Republik Indonesia pada pendidikan dan kesejahteraan tenaga pengajar. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Universitas Gadjah Mada
Pengelolaan
Nama Pengelola : Universitas Gadjah Mada
Catatan Khusus : Koordinat pada SK Bupati Sleman: 49M 430987.32 m E; 9140473.71 m S