Loading

Al Quran Nomor Inventaris E.80

Status : Benda Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Kitab Alquran E.80 merupakan naskah yang disimpan di kompleks Makam Kyai Landoh, Dusun Bangeran, Jatirejo, Kepanewon Lendah. Ukuran objek ini adalah panjang 25 cm, lebar 20 cm, dan tebal 6 cm. Alquran ini ditulis tangan, dengan khat naskhi. Bahan isi berupa kertas dengan sampul berbahan kulit. Pada dua halaman pertama yang berisi Surat Alfatihah, terdapat iluminasi dengan motif sulur, flora, dan geometris. Pada bagian sampul terdapat ornamen geometris yang dibuat dengan teknik embos. Alquran tersebut diyakini oleh penduduk setempat ditulis tangan oleh Kiai Landoh, seorang tokoh penyebar agama Islam dan pembuka daerah Lendah.  

Status : Benda Cagar Budaya
Periodesasi : Islam
Alamat : Kompleks Makam Kyai Landoh, Bageran, Jatirejo, Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Walikota/Bupati : SK Bupati Kulon Progo


Bahan Pendamping : kertas dengan sampul berbahan kulit
Keterawatan : Utuh dan Terawat,Tidak Utuh /
Dimensi Benda : Panjang 25 cm
Lebar 20 cm
Tinggi -
Tebal 6 cm
Diameter -
Berat -
Ciri Fisik Benda
Ragam Hias : Pada dua halaman pertama yang berisi Surat Alfatihah, terdapat iluminasi dengan motif sulur, flora, dan geometris. Pada bagian sampul terdapat ornamen geometris yang dibuat dengan teknik embos.
Ciri Fisik Benda
Ragam Hias : Pada dua halaman pertama yang berisi Surat Alfatihah, terdapat iluminasi dengan motif sulur, flora, dan geometris. Pada bagian sampul terdapat ornamen geometris yang dibuat dengan teknik embos.
Fungsi Benda
Bahan Pendamping : kertas dengan sampul berbahan kulit
Ragam Hias : Pada dua halaman pertama yang berisi Surat Alfatihah, terdapat iluminasi dengan motif sulur, flora, dan geometris. Pada bagian sampul terdapat ornamen geometris yang dibuat dengan teknik embos.
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Kiai Landoh atau Saridin (nama muda) dikenal juga dengan sebutan Syekh Jangkung. Beliau diyakini oleh masyarakat  Jatirejo, Lendah sebagai tokoh penyebar agama Islam yang merupakan leluhur cikal bakal keberadaan Lendah. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari KRT Gondo Hadiningrat (Sekretaris Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Kasultanan Yogyakarta), Syekh Jangkung merupakan cucu Sultan Hadiwijaya, yaitu sultan Pajang. Beliau memperdalam ilmu dan pengetahuannya kepada Sunan Kudus.  Selain di Lendah, Kulon Progo, keberadaan Syekh Jangkung juga dikenal di daerah Semarang dan sekitarnya, termasuk Pati, sebagai tokoh penyebar atau pendakwah agama Islam. Dalam perjalanan dakwahnya di lokasi tersebut bertemu dengan Kiai Projaguna, tokoh dari Krendetan (Purworejo). Dalam pertemuan itu, Syekh Jangkung meminta dua buah kelapa yang akan digunakan sebagai bibit dan untuk membuat perahu. Nantinya perahu tersebut digunakan sebagai sarana transportasi menuju Palembang. Kedatangan Syekh Jangkung di Palembang kebetulan bersamaan dengan adanya wabah penyakit yang memakan banyak korban. Masyarakat setempat meminta bantuannya untuk meredakan wabah yang melanda. Upaya yang dilakukan berhasil, wabah di desa mereda.  Beliau melanjutkan melakukan dakwah penyebaran agama Islam. Di Palembang, Syekh Jangkung menikah dengan seorang putri, kemudian memiliki putra bernama Raden Mukmin. Setelah dari Palembang, Syekh Jangkung melanjutkan perjalanan penyebaran agama Islam di Cirebon. Kedatangannya di Cirebon tepat ketika tengah terjadi peperangan antara Cirebon dengan Banten. Mengetahui kedatangan Syekh Jangkung, Sultan Cirebon memintanya menjadi sebagai senapati untuk membantu mengalahkan Banten. Atas keberhasilannya, mengalahkan Banten, beliau dijadikan menantu oleh sultan Cirebon. Dari pernikahan dengan putri Cirebon, beliau memiliki anak yang diberi nama Raden Wilopo.  Perjalanan penyebaran agama Islam oleh Syekh Jangkung berlanjut hingga sampai di Krapyak Mataram (Yogyakarta) yang pada waktu itu di bawah kekuasaan Sultan Agung. Keberadaannya di Mataram disambut baik oleh Sultan Agung. Untuk mempererat hubungan kekerabatan, Sultan Agung menikahkan kakak perempuannya dengan Syekh Jangkung. Kakak Sultan Agung yang dimaksud bernama R.A. Retno Jumali atau dikenal juga dengan R.A. Retno Jinoli. Setelahnya, Syekh Jangkung meminta tempat di barat Sungai Progo. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Sultan Agung. Di lokasi tersebut, Syekh Jangkung mulai membuka lahan dan melakukan dakwah penyebaran agama Islam. Dalam perjalanan waktu, Syekh Jangkung kemudian dikenal sebagai Kiai Landoh. Asal mula Landoh berawal dari hewan kesayangan beliau, yaitu kerbau yang tanduknya melengkung ke bawah (oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah kerbau landoh). Dari situlah kemudian muncul penyebutan nama Kiai Landoh. Penamaan desa juga berkaitan dengan hal tersebut. Kiai Landoh berkata bahwa suatu ketika nanti daerah ini akan saya beri nama Landoh. Dari kata Landoh tersebutlah kemudian dikenal dengan nama Lendah. 
Nilai Sejarah : menunjukkan adanya perkembangan agama Islam di Kulon Progo
Nilai Ilmu Pengetahuan : potensi penelitian arkeologi, filologi, dan epigrafi. Keberadaan Alquran tulisan tangan dapat diteliti secara artefaktual dalam kajian arkeologi serta bentuk dan isi dalam kajian filologi dan epigrafi. Perawatan Alquran ini secara tradisional dapat menjadi kajian dalam bidang konservasi
Nilai Budaya : menunjukkan capaian artistik penulisan Alquran (seni kaligrafi)
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Yayasan Kiai Landoh
Pengelolaan
Nama Pengelola : Yayasan Kiai Landoh
Catatan Khusus : Kondisi: Terdapat beberapa bagian yang rapuh dan rusak, tetapi secara umum terawat.