Loading

Satuan Ruang Geografis Kompleks Misi Boro

Status : Kawasan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Satuan Ruang Geografis Kompleks Misi Boro merupakan kompleks misi penyebaran agama Katholik yang berada di Boro Kalibawang. Data keberadaan kompleks tersebut didasarkan pada Paroki Santa Theresia Lisieux Boro, Congregatio Fratrum Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis (Bruder FIC), dan Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus (Tarekat OSF), dan dalam menjalankan misi penyebaran agama Katolik di Boro, Kalibawang. Data kesejarahan tersebut didukung dengan Peta Topografische Dienst 1944 yang menyebutkan keberadaan kompleks zendingsziekenhuis di Boro.

Selain itu, keberadaan misi di Boro didukung pula dengan catatan Pius-Almanak, Jaarboek voor de Katholieken van Nederland tahun 1946.

Sesuai dengan data tersebut di atas serta diperkuat dengan observasi lapangan, bangunan di dalam kompleks Misi Boro terbagi atas Kompleks Gereja Santa Theresia Lisieux Boro, Kompleks Bruder FIC dan Kompleks Susteran Fransiskanes. 

Kompleks Gereja Santa Theresia Lisieux Boro terdiri atas: 

  1. Gereja Santa Theresia Lisieux Boro, dan 
  2. Pastoran Gereja Santa Theresa Lisieux Boro. 
  3. TK St. Theresia 
  4. SD St. Theresia 
  5. SPM Adi Murni 

Kompleks Bruder FIC terdiri atas: 

  1. Biara Bruder FIC Boro, 
  2. Rumah Tenun Bruderan FIC Boro, dan 
  3. Panti Asuhan Putra Sancta Maria. 

Kompleks Rumah Sakit Santo Yusup Boro terdiri atas: 

  1. Rumah Sakit Santo Yusup Boro  
  2. Susteran Fransiskanes Boro 
  3. Eks-Panti Asuhan Brayat Pinuji  

Status : Kawasan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1930
Alamat :

SK Walikota/Bupati : Keputusan Bupati Kulon Progo 508/A/2021


Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : Pastur J. Prennthaler (Imam pertama di Kalibawang Tahun 1924)Sr. M. Aufrida Smulders, O.S.F. (Suster yang datang dari Santo Fransiskus Semarang Tahun 1930)Sr. M. Florida v.d. Kalauw, O.S.F. (Suster yang datang dari Santo Fransiskus Semarang Tahun 1930)Sr. Bernolda Segerink, O.S.F. (Suster yang datang dari Santo Fransiskus Semarang Tahun 1930)Sr. M. Petrona v. Kuik, O.S.F. (Suster yang datang dari Santo Fransiskus Semarang Tahun 1930)Sr. M. Coletta Rubiyah, O.S.F. (Suster yang datang dari Santo Fransiskus Semarang Tahun 1930)
Peristiwa Sejarah : Ajaran Katolik mulai dikenal oleh masyarakat Kalibawang pada tahun 1904. Pada tahun tersebut, Pastur van Lith S.J. di Sendangsono membaptis 174 orang penduduk Kalibawang (Haryono dalam Saryanto, 2011: 13). Dari waktu ke waktu perkembangan Agama Katolik di Kalibawang menjadi semakin pesat. Oleh karena itu, Pastur L. Gronewegen S.J. diutus pemimpin misi untuk bertugas di Boro, Kalibawang. Pada tahun 1918, Pastur L. Gronewegen S.J. mendirikan sekolah rakyat di Plasa. Sekolah tersebut dijadikan tempat belajar masyarakat serta berfungsi sebagai gereja (Paroki Santa Lisieux Boro, 2007: 1). Pada saat itu hingga tahun 1920-an, misi di Kalibawang masih terintegrasi dalam Stasi Mendut (Statistiek Godsdierstig Leven dalam Haryono, 2000: 8). Penyebaran agama Katolik di Kalibawang juga tidak terlepas dari peran misionaris lokal yang bernama Barnabas Sarikromo. Dia menganut agama Katolik setelah sakit kakinya disembuhkan oleh Bruder Th. Kersten S.J. di Muntilan. Setelahnya, Barnabas memeluk agama Katolik dan menjadi misionaris Katolik di Kalibawang. Barnabas Sarikromo mendapat anugerah Bintang Jasa Salib Emas Kehormatan (Pro Ecciesa et Pontiffice” dari Paus pada tahun 1929. (Soeradjiman dalam Saryanto, 2011: 13-14). Setelah masa tugas Pastur L. Groenewagen S.J. berakhir, ia digantikan oleh Pastur J. Prennthaler yang kemudian menjadi imam di Kalibawang mulai tahun 1924. Pada awal pengabdiannya kepada masyarakat (karya), dia memberikan misa di rumah penduduk. Pada saat itu belum terdapat gereja di Boro. Salah satu rumah yang sering digunakan untuk tempat misa adalah rumah milik Wongsorejo di Dusun Jurang. Di sebelah rumah Wongsorejo terdapat tanah kosong. Di lokasi itulah kemudian dibangun sebuah gereja oleh Pastur Prennthaler (Winarno, 1988: 36). Setelah kedatangan Romo J. Prennthaler, S.J., di Boro, mulai didirikan bangunan-bangunan Hardawiryana, S.J., 2002: 122). Proses pembangunan Kompleks Misi Boro berlangsung dari tahun 1928 hingga tahun 1938. Pembangunan Kompleks Misi Boro memerlukan banyak biaya. Sumber dana sangat bergantung terhadap subsidi dari Belanda. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Romo J. Prennthaler, S.J. membentuk perkumpulan untuk menggalang dana dari para donatur, yaitu Serikat St. Klaver, Rooms Katholieke Meisjes Hogere Burger School (Sekolah Tinggi Katolik Roma untuk para pemudi) di Amsterdam, Belanda, penerbit Herder, Pustet, Rektor di Nijmegen, Belanda, dan Pater Molat.(Prabawa, 2015: 21). Dalam perkembangannya, ketika sumbangan dari para donatur mulai berkurang, Romo J. Prennthaler, S.J menutupi kekurangan tersebut melalui menulis artikel surat kabar di majalah Fahne Mariens, Katholische Mariens, dan majalah penanggalan Katolik, serta dari hasil jual-beli perangko. Selain itu, umat Katolik di Kalibawang juga membantu mengumpulkan dana, meskipun jumlah yang terkumpul tidak banyak. Hal yang sama juga dilakukan oleh umat Katolik yang berada di Promasan, mengumpulkan dana pembangunan untuk pembangunan di Boro ketika peribadatan di hari Minggu (Hardawiryana, S.J., 2002: 123).
Konteks : Secara keseluruhan, Kompleks Misi Boro terdiri atas: 1. Bangunan Pastoran 2. Bangunan Gereja Theresia Santa Lisieux Boro 3. Bangunan Bruderan FIC Boro 4. Bangunan Rumah Tenun 5. Bangunan Panti Asuhan Sancta Maria 6. Bangunan Sekolah Dasar Pangudi Luhur Boro 7. Bangunan Sekolah Menengah Pertama Pangudi Luhur Boro 8. Bangunan Susteran Fransiskanes 9. Bangunan Rumah Sakit Santo Yusup Boro 10. Bangunan Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro 11. Bangunan Taman Kanak-Kanak Marsudirini Boro 12. Bangunan Sekolah Dasar Marsudirini Boro 
Riwayat Pelestarian : Riwayat Pelestarian: Upaya pelestarian yang pernah dilakukan yaitu: 1.     Internal: perawatan rutin oleh pemilik/pengguna. 2.     Eksternal: a.       Tahun 2012, Pemerintah Daerah DIY memberikan penghargaan kepada pelestari warisan budaya kepada Rumah Sakit Santo Yusup Boro di Boro, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo. b.     Tahun 2019, Pemerintah Daerah DIY memberikan penghargaan kepada pelestari warisan budaya kepada Bangunan Biara Bruder FIC Boro. c.       Tahun 2020, Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo memberikan penghargaan kepada pelestari warisan budaya kepada Susteran Fransiskanes Boro.
Nilai Sejarah :
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Tarekat O.S.F, Ordo F.I.C./Bruder F.I.C., Paroki Santa Theresia Lisie
Pengelolaan
Nama Pengelola : Tarekat O.S.F, Ordo F.I.C./Bruder F.I.C., Paroki Santa Theresia Lisie
Catatan Khusus : Secara umum Satuan Ruang Geografis Kompleks Misi Boro masih memperlihatkan tata ruang yang terdiri atas tinggalan benda, dan bangunan yang menunjukkan keberadaan misi penyebaran agama Katolik di Kalibawang. Tinggalan berupa cagar budaya maupun warisan budaya yang berada di Satuan Ruang Geografis Kompleks Misi Boro terdiri atas dua bagian (situs) yaitu Kompleks Gereja Santa Theresia Lisieux Boro dan Kompleks Rumah Sakit Santo Yusup. Kompleks gereja Santa Theresia Lisieux Boro terdiri atas: Bangunan Gereja Santa Theresia Lisieux Boro,  Bangunan Biara Bruder FIC Boro, Bangunan Rumah Tenun Bruderan FIC Boro, dan Bangunan Panti Asuhan Putra Sancta Maria. Kompleks Rumah Sakit terdiri atas: Bangunan Rumah Sakit Santo Yusup Boro  Bangunan Susteran Fransiskanes Boro Bangunan Eks-Panti Asuhan Brayat Pinuji   Kecuali Panti Asuhan Brayat Pinuji, semua bangunan tersebut di atas masih berfungsi seperti awal pembangunannya. Panti Asuhan Brayat Pinuji saat ini pindah lokasi di sebelah utara Gereja Santa Theresia Lisieux Boro dikarenakan kebutuhan ruang dan lokasi lama yang berada berdekatan dengan rumah sakit dinilai tidak layak sebagai panti asuhan. Saat ini bekas Panti Asuhan Brayat Pinuji difungsikan sebagai Panti Werdha Santa Monika.