Bangunan yang difungsikan sebagai kelas berada tepat di sebelah utara bangunan ruang guru. Bangunan tersebut berdenah segi empat. Atap bangunan berupa atap kampung, dengan genteng vlam (genteng sudah diganti baru). Di sisi timur bangunan terdapat pintu dan jendela. Daun pintu dan jendela telah mengalami modifikasi. Daun pintu bawaan bangunan berupa daun pintu ganda dengan panil kayu. Daun jendela berupa daun jendela ganda dengan kombinasi krepyak di atas dan panil kayu di bawahnya. Bagian atas pintu dan jendela terdapat ventilasi. Ruang kelas di sisi utara memiliki jendela berupa kawat ram/warmes belah ketupat.
| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Jenis Struktur | : | Kolonial |
| Jenis Bangunan | : | Kolonial |
| Fungsi Bangunan | : | Sekolah |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Deskripsi Jendela | : | Daun jendela berupa daun jendela ganda dengan kombinasi krepyak di atas dan panil kayu di bawahnya. |
| Deskripsi Pintu | : | Daun pintu bawaan bangunan berupa daun pintu ganda dengan panil kayu |
| Deskripsi Atap | : | Atap bangunan berupa atap kampung, dengan genteng vlam (genteng sudah diganti baru) |
| Fungsi Situs | : | Sekolah |
| Fungsi | : | Sekolah |
| Peristiwa Sejarah | : | Awal pengabdian Suster-Suster Fransiskanes di Boro dimulai pada 15 Desember 1930. Awal karya ditandai dengan pendirian biara (Susteran Fransiskanes dan Rumah Sakit Santo Yusup Boro). Bangunan Susteran Fransiskanes Boro mulai dibangun sekitar tahun 1930. Pembangunan Susteran bersamaan dengan pembangunan Rumah Sakit Santo Yusup Boro pada 15 Desember 1930. Pada tanggal 15 Desember 1930, para Suster Santo Fransiskus datang ke Boro dari Semarang. Suster-suster tersebut yaitu Sr. M. Aufrida Smulders, O.S.F. sebagai pimpinan biara, ditemani oleh Sr. M. Florida v.d. Kalauw, O.S.F., Sr. Bernolda Segerink, O.S.F., Sr. M. Petrona v. Kuik, O.S.F., dan Sr. M. Coletta Rubiyah, O.S.F. (Paroki Santa Theresia Lisieux Boro 1991, 26). Pengabdian yang dilakukan oleh para suster mentik beratkan terhadap masalah kesehatan. Selain kesehatan, para suster juga melakukan pengabdian di bidang pendidikan. Berdasarkan catatan Pius-Almanak, Jaarboek voor de Katholieken van Nederland tahun 1946, dicatat terdapat empat jenis eskolahan yang didirikan oleh Suster-Suster Fransiskanes di BoroSekolah Pertama dibuka pada tanggal 18 Februari 1932 dengan 3 guru, yaitu: Suster Dominica dan dua guru lainnya yang berasal dari Mendut dan Ambarawa. Suster Dominica merupakan suster Jawa pertama yang datang ke Boro untuk mendirikan sekolah di Pantog, Klangon, dan Samigaluh. SD Theresia Boro mempunyai jumlah siswa 78 anak dari kelas I-IV. Lima anak kecil menjadi murid pertama Taman Kanak-Kanak Santa Theresia. SMP Putri dibuka pada tahun 1964. |
| Konteks | : | Keberadaan Taman Kanak-Kanak Marsudirini Santa Theresia di Boro, Banjarasri, Kalibawang tidak terlepas dari karya atau pengabdian yang dilakukan oleh suster-suster Fransiskanes. Pastur J.B. Prennthaler saat menjalankan tugas di Boro mengajak para Suster Fransiskanes untuk terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat (karya misi Katolik). |
| Nilai Sejarah | : | Sebagai bukti penyebaran agama Katolik di Kulon Progo melalui bidang pendidikan |
| Nilai Ilmu Pengetahuan | : | Dapat menjadi kajian ilmu arsitektur dan arkeologi terkait dengan gaya Indis yang berkaitan dengan bangunan sekolahan misi keagamaan di Kulon Progo. |
| Nilai Agama | : | Sebagai bagian dari karya komunitas agama Katolik di Kulon Progo di bidang sosial/pendidikan |
| Nilai Budaya | : | Masih berfungsi sebagai sekolahan. |
| Nama Pengelola | : | Komunitas Suster-Suster Fransiskanes Boro |