Loading

Bangunan Rumah-Toko Jalan Lor Pasar Beringharjo Nomor 41 Yogyakarta

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bangunan berupa tipikal rumah-toko ( shophouse) gaya arsitektur Cina. Berdasarkan data foto Pasar Beringhaijo oleh Kassian Chepas tahun 1890 terlihat bangunan ini telah berdiri. Bangunan rumah-toko ini memiliki denah empat persegi panjang berukuran 16,65 m x 5,75 m. Bangunan ini merupakan bagian timur dari rumah kopel (couple house) berpasangan dengan bangunan Jalan Lor Pasar Beringhaijo Nomor 39 di sebelah baratnya. Kedua bangunan ini memiliki denah dalam satu atap, fasad dan bentuk bangunan identik. Bangunan ini terbagi menjadi dua dengan status kepemilikan yang berbeda.

Bangunan beratap pelana ( gable roof/ ngang shan) dengan penutup atap berupa genting kodok wama natural berbahan tanah liat. Di bagian atas atap terdapat balok tembok bubungan ( roof ridge) yang merupakan salah satu ciri komponen arsitektur Cina. Bubungan atap pelana sejajar dengan orientasi
jalan di depan bangunan.

Pada ujung atas gable sisi timur terdapat bagian yang menjorok ke atas ( gable end). Pada permukaan dinding gable terdapat elemen konstruksi atap  berupa anchor plate berbahan besi untuk menguatkan balok bubungan, balok gelagar (purlin/ gording), dan balok gelagar kayu lantai dua yang menempel di permukaan sisi dalam dinding Dinding tembok bangunan sisi timur terdapat tiga buah buttress berupa pilaster tinggi 5,70 m yangmenempel di permukaan dinding sebagai perkuatan struktur dinding tembok sisi kanan/ timur bangunan. Bangunan ini berlantai dua tanpa teras/ balkon ini merupa kan tipe awal dari tipologi arsitektur rumah-toko Cina di Asia Tenggara.

Bangunan terdiri atas dua lantai, pada lantai pertama denah ruang depan berukuran 2.75 m x 5.75 m, dinding timur model kotangan (bawah tembok dan atas kayu). Dinding kayu pada ruang bagian depan ini sekaligus berfungsi sebagai pintu dan jendela. Ruangan depan ini berfungsi sebagai tempat bemiaga. Pintu berupa rangkaian pintu panil kayu berukuran 2,58 m x 5,20 m menghadap ke arah selatan, dengan daun pintu beijumlah 11 buah (masing-masing berukuran 2,58 m x 0,44 m. Jendela panel kayu di dinding kotangan sisi timur dan barat masing-masing beijumlah panel kayu berukuran1.52 m x 0,44 m) yang masing-masing pada ambang atas kosen jendela terdapat terali enam jeruji besi.

Ruang tengah berfungsi sebagai ruang tamu berukuran 5,25 m x 5,3 m, antara ruang tengah dan ruang belakang dibatasi sekat panil kayu sekaligus merupakan kamar tidur keluarga. Kamar berukuran 4,4 m x 4 m melalui akses pintu di dinding sisi timur. Di antara dinding timur kamar dan dinding timur bangunan terdapat lorong lebar 1,3 m menuju ruangan belakang. Di bagian lorong terdapat tangga kayu lebar 0,65 m menuju lantai atas. Ruang belakang yang berukuran 9 m x 5,20 m digunakan sebagai bagian dapur, sumur yang digunakan bersama-sama dengan penghuni bangunan di sisi barat, kamar mandi, dan toilet. Pada bagian belakang ruangan ini juga terdapat tangga naik berbahan kayu yang menghubungkan dengan ruangan lantai dua. Tangga menempel di dinding tembok utara bangunan dengan bentuk tangga balik ( half-space stair) .

Pada ruang belakang bagian timur dari ruang sumur, dan kamar mandi terdapat sekat ruang untuk bangunan niaga yang ditambahkan kemudian. Ruang ini berukuran 6,75 m x 2 m dan memiliki akses sendiri di sisi timur dinding tembok yang berhadapan langsung dengan jalan. Di lantai dua bangunan terdapat ruang depan digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dagangan sehingga di bagian lantai terdapat katrol barang untuk ke lantai bawah. Dinding depan (sisi selatan) terdapat satu jendela lebar 1,10 m.

Ruang tengah digunakan sebagai kamar tidur dengan dinding kayu. Pada dinding sisi timur terdapat jendela berukuran 1,25 m x 2 m terali besi bulat. Bentuk jendela rangkap (sisi luar panel kayu dan sisi dalam panel kaca) dengan daun ganda ( kupu tarung). Di atas ambang kosen terdapat bovenlicht
sebagai ventilasi dengan terali besi stilir bunga. Ruang belakang terdapat meja altar persembahan terbuat dari kayu berukir. Dinding sisi timur terdapat jendela bentuk identik dengan jendela di ruang tengah. Seluruh permukaan lantai kedua ditutup plester.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1833
Kawasan : Kawasan Cagar Budaya Kraton
Alamat : Jalan Ketandan Kidul Nomor 41 RT 22/ RW 06, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.7985161597534° S, 110.36652695176° E

SK Gubernur : Nomor 195/KEP/2021


Lokasi Bangunan Rumah-Toko Jalan Lor Pasar Beringharjo Nomor 41 Yogyakarta di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Deskripsi Fasad : Fasad bangunan menghadap ke arah selatan dan berhadapan langsung dengan jalan Lor Pasar Beringharjo. Fasadnya memiliki dua lantai, pada lantai pertama terdapat pintu utama toko yang menggunakan jenis pintu geser berbahan logam. Diatas pintu terdapat bouvenlicht berupa kisi-kisi berbahan besi. Terdapat atap emper/kanopi berbahan seng dengan talang air. Di bawah atap terdapat plang besar bertuliskan nama toko "UD Liong" sebagai informasi. Pada  lantai dua terdapat balkon yang dibatasi pagar/railing besi oranmen. Pada balkon terdapat satu pintu berdaun ganda berbahan kayu. Di kanan dan kiri pintu terdapat jendela berdaun ganda yang juga berbahan kayu dengan cat warna hijau muda. Tampak fasad menggunakan atap pelana. Secara keseluruhan tembok fasad dicat warna putih krem. (foto 1)(Sumberi: Keputusan Gubernur DIY No. 191/KEp/2021 Tentang Penetapan Bangunan Rumah-Toko Jalan Lor Pasar Beringharjo No.21 Yogyakarta Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Provinsi )
Deskripsi Konsol : Terdapat dua konsol kecil sebagai penyangga bagian atap kanopi di lantai satu dengan bahan besi dan terdapat ornamen suluran.
Deskripsi Jendela : Jendela masih asli. Terdapat dua jendela dan terletak di fasad lantai dua bangunan. Berbahan kayu dengan cat hijau muda. Menggunakan jenis jendela ayun dengan daun ganda (model kupu tarung).
Deskripsi Pintu : Pintu pada lantai satu menggunakan pintu geser (rolling door) berbahan logam yang dicat hijau tua. Diatas pintu terdapat bouvenlicht berupa kisi-kisi berbahan besi. Pada lantai dua menggunakan model pintu ayun dengan daun ganda (kupu tarung). Cat pada pintu berwarna hijau muda. Di bagian atas pintu terdapat bouven dengan motif tombak.
Deskripsi Atap : Bangunan beratap pelana ( gable roof/ ngang shan) dengan penutup atap berupa genting kodok wama natural berbahan tanah liat. Di bagian atas atap terdapat balok tembok bubungan ( roof ridge) yang merupakan salah satu ciri komponen arsitektur Cina. Bubungan atap pelana sejajar dengan orientasi jalan di depan bangunan.Pada ujung atas gable sisi timur terdapat bagian yang menjorok ke atas ( gable end). Pada permukaan dinding gable terdapat elemen konstruksi atap berupa anchor plate berbahan besi untuk menguatkan balok   bubungan, balok gelagar ( purlin/ gording), dan balok gelagar kayu lantai dua yang menempel di permukaan sisi dalam dinding.
Deskripsi Lantai : Lantai pada bangunan menggunakan jenis lantai tegel berwarna putih dengan corak tekstur warna hijau  pada ruang etalase dan lantai dua. Sedangkan pada bagian belakang serta courtyard tegel lantai memiliki ornamen garis persegi bersusun dan berwarna abu-abu gelap.
Deskripsi Kolom/Tiang : Kolom pada bangunan berbahan beton yang menempel pada dinding. Kolom terdapat pada beberapa sudut ruangan bangunan. 
Deskripsi Ventilasi : Terdapat dua jenis ventilasi yang digunakan.Ventilasi besi (bouven) ada di lantai satu berupa kisi-kisi berbahan besi yang terletak tepat diatas gerbang rolling door.Ventilasi lantai dua berjumlah 3 dan terletak di atas pintu serta jendela di kanan kirinya. Berbahan kayu dengan cat warna hijau dengan ornamen tombak yang melingkar dengan ujung tombak menyatu di bagian tengah. (foto 8) 
Deskripsi Plafon :  Plafon terbuat dari bahan papan kayu dengan cat warna krem. (foto 9)
Jenis Ragam Hias : Terdapat beberapa ragam hias yaitu:Ornamen sulur pada konsol.Ornamen ventilasi tombak yang melingkar dengan ujung tombak menyatu di bagian tengah. (foto 19) 
Desain : memiliki fasad dengan dua lantai dimana lantai satu sebagai toko dan lantai dua sebagai rumah. Terdapat courtyard di ruangan bagian belakang yang m
Interior : Terdapat meja etelase yang cukup besar di ruang bagian depan serta beberapa lemari penyimpanan barang. Terdapat rak yang tingginya hampir menyentuh
Peristiwa Sejarah : Bangunan ini merupakan tipikal bangunan rumah- toko yang lazim berdiri di dalam kawasan Pecinan, yaitu suatu kawasan permukiman khusus warga beretnis Cina di dalam kota-kota periode pemerintahan Hindia-Belanda. Diberlakukannya wijkenstelsel (undang-undang permukiman)   pada tahun 1841 menghasilkan segregasi permukiman penduduk kota berdasarkan etnis berupa golongan Belanda/ Eropa, golongan Timur Asing (Cina, Arab, dan India), dan golongan Pribumi. Melalui undang- undang ini penduduk Cina tinggal bermukim hanya di wilayah khusus dan terpisah dengan kelompok etnis lain.Keberadaan penduduk etnis Cina di Yogyakarta ditempatkan pada kawasan Pecinan yang berlokasi antara Kompleks Kepatihan dan Pasar Beringhaijo, yang dekat pula dengan lokasi Benteng Vredeburg/ Loji Belanda. Kawasan ini dinamakan Ketandan, toponimi ini berasal dari kata 'ka-tandha-an' yaitu tempat seorang 'tandha' atau petugas penarik pajak. Dengan demikian, pada mulanya kawasan ini adalah tempat bermukim para penarik pajak (yang   ditugaskan oleh Sultan) beserta keluarganya. Kemudian dalam Rijksblad van Sultanaat Jogjakarta Nomor 4 Tahun 1917 wilayah permukiman warga Cina di Yogyakarta terletak di daerah Ketandan, Ngabean, Malioboro, dan Kranggan.Selain sebagai penarik pajak, orang-orang Cina kala itu juga banyak yang berprofesi sebagai pedagang dan pengrajin. Rumah permukiman banyak dibangun pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke- 20 dengan model rumah toko (ruko) atau shophouse yang dominan bergaya arsitektur Cina. Di Ketandan ini pula tempat tinggal Kapitan Cina yang diangkat untuk mengurus berbagai kepentingan orang-orang Cina di Yogyakarta. Pada foto Pasar Beringhaijo oleh Kassian Chepas tahun 1890 terlihat bangunan ini telah berdiri pada deretan bangunan rumah-toko sisi selatan kawasan Ketandan.
Riwayat Pemanfaatan : Bangunan dimanfaatkan sebagai ruko untuk berjualan peralatan rumah tangga. 
Nilai Sejarah : Bangunan ini berada di dalam kawasan bersejarah di Yogyakarta yang memperkuat karakter kawasan Pecinan di Ketandan.
Nilai Ilmu Pengetahuan : Bangunan ini merupakan prototipe (purwarupa) rumah-toko arsitektur Cina.
Nilai Pendidikan : Bangunan ini merupakan bahan referensi pendidikan arsitektur khususnya rumah-toko bergaya arsitektur Cina. 
Nilai Budaya : Bangunan Rumah-Toko Jalan Lor Pasar Beringharjo Nomor 41 Yogyakarta merupakan bangunan rumah-toko bergaya arsitektur Cina tipe awal yang memperkuat Ketandan sebagai kawasan Pecinan di Yogyakarta
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Silvia Megawati
Riwayat Kepemilikan :
Pengelolaan
Nama Pengelola : Silvia Megawati
Persepsi Masyarakat : Masyarakat memandang dan mengetahui bangunan tersebut sebagai Toko UD Liong. 
Catatan Khusus : Koordinat UTM SK : 49 M  430156.56 m E;  9137924 m S (berdasarkan penandaan dari citra satelit Google Earth tanggal 15/5/2017)