Loading

Rumah Jalan Ketandan Kidul Nomor 17 Yogyakarta

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bangunan ini merupakan bentuk rumah-toko ( shophouse) dua lantai tipikal arsitektur Cina yang berada di kawasan Pecinan. Bangunan rumah-toko ini terdiri atas dua unit dan area ruang terbuka { air-well/ coutyard) di antara kedua bangunan, yang berada dalam kaveling seluas 457,71 m2 dan masing-masing bangunan memiliki dua lantai. Seluruh bangunan berada pada kaveling berbentuk trapesium siku-siku membujur timur-barat berukuran menyempit di bagian belakang. Ukuran panjang 40 m di sisi utara dan 40,46 m di sisi selatan dengan lebar muka (sisi timur) 7,54 m serta lebar belakang (sisi barat) 4,20 m.

Bangunan unit pertama di bagian depan menghadap jalan Ketandan Kidul. Bangunan beratap pelana (gable roof/ngang shan) dengan penutup atap berupa genting vlaam warna natural berbahan tanah liat. Bubungan atap pelana sejajar dengan orientasi jalan di depan bangunan. Pada ujung atas kedua sisi gable (sisi utara dan selatan) terdapat bagian yang menjorok ke atas (gable end). Pada permukaan dinding gable sisi utara bagian atas terdapat elemen konstruksi atap berupa anchor plate berbahan besi untuk menguatkan balok bubungan yang menempel di permukaan sisi dalam dinding. Bangunan unit kedua berada di belakang bangunan unit pertama yang terpisah oleh ruang terbuka, memiliki bentuk atap panggang-pe dengan penutup atap berupa genting vlaam warna asli berbahan tanah liat. 

1. Bangunan depan  

Bangunan ini berorientasi ke arah timur menghadap jalan Ketandan Kidul (alamat Jl. Ketandan Kidul No. 17), memiliki denah trapesium siku-siku berukuran panjang 16,46 m, lebar 7,54 m (sisi timur) serta 5,60 m (sisi barat) dan terdiri atas dua lantai. Bangunan rumah-toko Pecinan berlantai dua tanpa teras/balkon ini merupakan tipe awal dari tipologi arsitektur rumah-toko Cina di Asia Tenggara. Bangunan depan memiliki atap pelana dan tambahan atap emper di sisi muka (timur) berukuran 7,54 m x 2,45 m.  

Denah lantai pertama terdiri atas ruang depan sepanjang 7,66 m, lorong berukuran 7,90 m x 1,85 m, dan dua kamar di sisi selatan lorong yang masing-masing berukuran 4,75 m x 6,40 m (kamar sebelah timur) dan 2,85 m x 5,60 m (kamar sebelah barat). Seluruh ruang memiliki plafon papan kayu berukuran tebal 3–4 cm disangga gelagar balok kayu ukuran 8 cm x 12 cm dan semua partisi ruang menggunakan dinding tembok tebal 30 cm. 

Pada dinding sisi barat ruangan depan terdapat pintu ganda kombinasi panel kayu dan kaca untuk menuju kamar sisi timur dan pintu rangkap  menuju lorong.  

Pintu rangkap menuju lorong berupa dua pintu, sisi timur (luar lorong) berupa jenis saloon door bentuk berupa daun pintu ganda panel kayu setengah tinggi pintu disertai ornamen kaca warna di bagian sisi atas panel. Pintu sisi barat (dalam lorong) berupa pintu jenis dutch door/dhudhan yaitu pintu dengan dua bagian terpisah secara horizontal pada panel kayu daun pintu. Pada ujung barat lorong hanya terdapat pintu dutch door/dhudhan. akses penghubung antar kamar dan akses dari lorong menuju kamar berupa pintu panel kayu. Kedua kamar memiliki satu jendela masing-masing di dinding sisi barat dan timur.  

Lantai kedua bangunan depan berupa satu ruang loteng berukuran 10,80 m x 7,54 m (sisi timur) dan 6,5 m (sisi barat). Tinggi dari lantai papan kayu ke plafon 2 m dan terdapat satu jendela krepyak (louver) di dinding sisi utara yang berupa gable window (jendela yang berada di bidang gable bagian atas dilihat dari luar bangunan).  

Akses menuju lantai kedua melalui tangga berbentuk huruf “L” menempel di dinding sisi barat bangunan depan dan dinding tembok lahan sisi selatan. Tangga memiliki balustrade ornamen cor besi dengan pegangan (handrail) kayu. Tangga ini sekaligus menjadi akses masuk menuju lantai kedua bangunan belakang. 

2. Bagian tengah 

Di antara bangunan depan dan belakang terdapat bagian tengah berupa ruang terbuka. Pada tata ruang rumah-toko arsitektur Cina bagian ini merupakan air-well/courtyard berupa ruang terbuka tanpa atap yang berfungsi sebagai pengatur suhu, cahaya, dan ventilasi udara. Bagian tengah ini berukuran 6,4 m x 5,60 m (sisi timur) dan 4,75 m (sisi barat). 

3. Bangunan belakang 

Bangunan ini berorientasi ke arah utara menghadap jalan Ketandan Kulon (alamat Jl. Ketandan Kulon No. 8), memiliki denah trapesium siku-siku berukuran 18 m x 5,33 m (lebar sisi timur); 4,20 m (lebar sisi barat) serta terdiri atas dua lantai yang memiliki teras/balkon. Bangunan belakang memiliki atap panggang pe dan memiliki atap teritis, dengan arah kemiringan ke utara.  

Denah lantai satu bangunan belakang terdiri atas ruang tanpa dinding, dapur, sumur (setengah lingkaran), dan ruang gudang. Fasad bangunan ada di sisi utara. Dengan akses masuk satu buah pintu ganda di bagian tengah. 

Lantai dua bangunan belakang terdiri atas tiga ruangan dan balkon dengan pintu masuk serta jendela di dinding sisi utara. Masing-masing ruangan memiliki denah asimetris yang semakin menyempit di sisi barat. Pada bagian sisi utara ketiga ruangan tersebut terdapat balkon/selasar yang menjadi akses penghubung ketiga ruangan dari timur ke barat. Pagar balkon berupa balustrade kayu yang memiliki ornamen. 

Masing-masing pintu dan jendela ketiga ruangan tersebut memiliki model yang sama. Untuk pintu, berbahan kayu dengan satu daun pintu bermotif geometris dan memiliki bovenlicht bentuk setengah lingkaran dengan penutup kisi kayu. Sedangkan jendela berbahan utama kayu, memiliki 2 lapis daun jendela model kupu tarung.  

Daun jendela sisi luar berupa panel krepyak kayu, sisi dalam panel kaca. Pada bagian atas jendela juga terdapat bovenlicht bentuk setengah lingkaran dengan penutup kisi kayu. Lantai dua pada bangunan belakang menggunakan tegel. 

Status : Bangunan Cagar Budaya
Alamat : Jalan Ketandan Kidul Nomor 17 , Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.7975538325393° S, 110.36669600409° E

SK Gubernur : Nomor 194/KEP/2021


Lokasi Rumah Jalan Ketandan Kidul Nomor 17 Yogyakarta di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Deskripsi Jendela : Daun jendela sisi luar berupa panel krepyak kayu, sisi dalam panel kaca
Deskripsi Pintu : Pada bangunan depan, pada dinding sisi barat ruangan depan terdapat pintu ganda kombinasi panel kayu dan kaca untuk menuju kamar sisi timur dan pintu rangkap menuju lorong.Pintu rangkap menuju lorong berupa dua pintu, sisi timur (luar lorong) berupa jenis saloon door bentuk berupa daun pintu ganda panel kayu setengah tinggi pintu disertai ornamen kaca warna di bagian sisi atas panel. Pintu sisi barat (dalam lorong) berupa pintu jenis dutch door/ dhudhan yaitu pintu dengan dua bagian terpisah secara horizon tal pada panel kayu daun pintu. Pada ujung barat lorong hanya terdapat pintu dutch door/ dhudhan. akses penghubung antar kamar dan akses dari lorong menuju kamar berupa pintu panel kayu.
Deskripsi Atap : Bangunan unit pertama di bagian depan menghadap jalan Ketandan Kidul. Bangunan beratap pelana ( gable roof/ ngang shan) dengan penutup atap berupa genting vlaam wama natural berbahan tanah liat. Bubungan atap pelana sejajar dengan orientasi jalan di depan bangunan. Pada ujung atas kedua sisi gable (sisi utara dan selatan) terdapat bagian yang menjorok ke atas ( gable end).Bangunan unit kedua berada di belakang bangunan unit pertama yang terpisah oleh ruang terbuka, memiliki bentuk atap panggang-pe dengan penutup atap berupa genting vlaam warna asli berbahan tanah liat.
Deskripsi Ventilasi : Pada bagian atas jendela juga terdapat bovenlicht bentuk setengah lingkaran dengan penutup kisi kayu
Peristiwa Sejarah : Bangunan ini merupakan tipikal bangunan rumah-toko yang lazim berdiri di Pecinan, yaitu suatu kawasan permukiman khusus warga beretnis Cina di dalam kota-kota periode pemerintahan Hindia-Belanda. Diberlakukannya wijkenstelsel pada tahun 1841 mengha silkan segregasi permukiman penduduk kota berdasarkan etnis berupa golongan Belanda/ Eropa, golongan Timur Asing (Cina, Arab, dan India), dan golongan Pribumi. Melalui undang-undang ini penduduk Cina tinggal bermukim hanya di wilayah khusus dan terpisah dengan kelompok lain.Keberadaan penduduk etnis Cina di Yogyakarta ditempatkan pada kawasan Pecinan yang berlokasi antara Kompleks Kepatihan dan Pasar Beringhaijo, yang dekat pula dengan lokasi Benteng Vredeburg/ Loji Belanda. Kawasan ini dinamakan Ketandan, toponimi ini berasal dari kata "ka-tandha-an" yaitu tempat seorang "tandha" atau petugas penarik pajak. Dengan demikian, pada mulanya kawasan ini adalah tempat bermukim para penarik pajak (yang ditugaskan oleh Sultan) beserta keluarganya. Kemudian dalam Rijksblad van Sultanaat Jogjakarta Nomor 4 Tahun 1917 daerah permukiman warga Cina di Yogyakarta terletak di daerah Ketandan, Ngabean, Malioboro, dan Kranggan.Bangunan ini sempat menjadi toko emas "Kendil" selama dua generasi pemilik, kemudian berubah menjadi toko elektronik selama 14 tahun, dan terakhir menjadi warung kelontong. Mengalami renovasi dan perubahan pasca peristiwa gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006. Pada Peta Yogyakarta tahun 1925 "Jogjakarta en Omstreken" bangunan rumah jalan Ketandan Kidul Nomor 17 ini tergambar dalam blok bangunan yang telah berdiri pada deretan bangunan rumah-toko sisi selatan poros jalan timur-barat di tengah kawasan Ketandan.
Riwayat Rehabilitasi : Tahun 2020 dilakukan pemugaran oleh Dinas Kebudayaan DIY berupa rehabilitasi berupa pengembalian tata ruang, komponen ke bentuk asli, dengan penambahan komponen-komponen baru sebagai bentuk adaptasi terhadap fungsi baru bangunan ini.
Nilai Budaya : Bangunan Cagar Budaya Rumah Jalan Ketandan Kidul Nomor 17 Yogyakarta merupakan bangunan rumah-toko bergaya arsitektur Cina tipe awal yang memperkuat Ketandan sebagai kawasan Pecinan di Yogyakarta. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengelolaan
Nama Pengelola : Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta