| Peristiwa Sejarah |
: |
Satuan ruang geografis ini merupakan tempat pemindahan ibukota Kerajaan Mataram Islam pasca di Kota Gede. Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa pada saat pemerintahan Sultan Agung, keraton Mataram-Islam dipindahkan ke daerah Kerta yang berjarak sekitar 5 km selatan dari Kota Gede. Upaya untuk memindahkan Ibukota Kerajaan Mataram Islam ke lokasi lain terealisasi pada tahun 1617 dengan mempersiapkan lahan di Kerta untuk calon lokasi keraton. Setahun kemudian Sultan Agung beserta pengikutnya mulai mendiami Kraton Kerta, meskipun ibu suri masih berada di Kota Gede. Selanjutnya pembangunan komponen kerajaan di Kerta mulai dilakukan di antaranya: bangunan Prabayaksa (1620), Siti-Inggil (1625), pemakaman Giriloyo (1629), pemakaman raja di Imogiri (1632–1645), membuat bendungan Sungai Opak (1637), dan membuat Segaran (danau buatan) di Plered (1643). Sekitar satu tahun setelah pembangunan terakhir, Sultan Agung wafat. Kemudian digantikan oleh Sunan Amangkurat I dengan gelar Susuhanan Mangkurat Senopati Ingalaga Ngabdurahman Sayidinpanatagama. Atas kehendak raja, kota pusat Kerajaan Mataram Islam dipindahkan dari Kerta menuju Plered. Dalam Babad ing Sangkala tercatat perpindahan sunan ke kraton yang baru terjadi pada tahun 1647. Babad Momana dan Babad ing Sengkala mencatat peristiwa pembangunan fisik di Kota Mataram dan wilayah-wilayah sekitarnya, di antaranya adalah: a) Tahun 1617, penyiapan lahan di Kerta untuk calon lokasi keraton. b) Tahun 1618, raja (Sultan Agung) mendiami keraton di Kerta, meskipun ibu suri masih di Kota Gede. c) Tahun 1620 mendirikan Prabayaksa di Kerta. d) Tahun 1625 di Kraton Kerta didirikan Sitiinggil. e) Tahun 1629, mulai membangun pemakaman di Girilaya dipimpin Panembahan Juminah. f) Tahun 1632, mulai membuka hutan di Bukit Merak untuk pemakaman kerajaan. g) Tahun 1637, mulai membangun bendungan di sungai Opak. h) Tahun 1643, mulai membuat segaran di Plered. i) Tahun 1645 pemakaman di Bukit Merak selesai dibuat dan diberi nama Imogiri. Sekitar satu tahun setelah pembangunan makam, Sultan Agung wafat di Kerta, dan dimakamkan di Imogiri. Ia kemudian digantikan oleh Sunan Amangkurat I dengan gelar Susuhanan Mangkurat Senopati Ingalaga Ngabdurahman Sayidinpanatagama. Atas kehendak raja, kota pusat Kerajaan Mataram Islam dipindahkan dari Kerta menuju Plered. Dalam Babad ing Sangkala tercatat perpindahan menuju keraton yang baru terjadi pada tahun 1647. Berdasarkan sumber sejarah Jawa dan Belanda, menggambarkan bahwa pembangunan komponen Kraton Plered dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu: a) Tahun 1648 menurut Van Goens keraton baru telah berdiri. Dalam Babad Momana disebutkan bahwa “1570 J, taun Jimakir, trep Kraton Ngeksiganda (Plered)”. b) Tahun 1571 J (1649 M) mendirikan Masjid Agung Plered menurut Babad Sengkala dan Babad Momana. c) Tahun 1572–1574 J (1650–1651 M) proses pembangunan Siti-Inggil yang terbuat dari batu, bata, dan kayu, termasuk juga memperbarui Bangsal Witana. d) Tahun 1576 J (1653 M) pengambilan batu untuk Karadenan, yaitu kediaman untuk putra mahkota. e) Terdapat dua informasi yang berbeda mengenai selesainya pembangunan Prabayaksa. Menurut Babad Momana, Prabayaksa selesai dibangun pada tahun 1572 J (1650 M). Sedangkan menurut Babad Sangkala, Prabayaksa selesai dibangun pada tahun 1577 J (1654 M). f) Menurut sumber berita pada tahun 1659 M (Daghregister, 13 November 1659), tinggi tembok keraton 5 depa dengan ketebalan 2 depa. Sunan kemudian merencanakan untuk meninggikan tembok atas setinggi sebuah perisai kira-kira setinggi dada. g) Tahun 1585 J (1662 M) mendirikan sebuah bangsal di lapangan Srimanganti. Ketika Sultan Agung pindah dari Kraton Kota Gede ke Kraton Kerta pada tahun 1618, diperkirakan Kota Gede tidak serta merta ditinggalkan oleh penduduknya. Kota Gede bahkan tetap melayani sebagian kebutuhan barang dan jasa masyarakat Mataram-Islam meskipun ibukota kerajaan telah berpindah ke Plered. Diperkirakan antara tahun 1618–1647 meskipun raja telah berkedudukan di Kraton Kerta namun Kota Gede masih memiliki kedudukan penting sebagai kota Kerajaan Mataram-Islam. Jarak antara Kota Gede ke Kerta juga tidak lebih dari 5 km, relatif dekat karena dapat ditempuh dalam waktu kurang dari seperempat hari dengan berjalan kaki. Letak posisi keberadaan Kraton Kerta sendiri tepat berada di sebelah selatan dari Kota Gede dan sama-sama terletak tepat di tepian sebelah timur Sungai Gajahwong. Kerta berada lebih ke arah hilir tepatnya di dekat titik pertemuan Sungai Gajahwong dengan Sungai Opak. Selain membangun beberapa komponen Kraton Plered di atas, sunan membangun pula bangunan-bangunan air baik di dalam maupun di luar tembok keraton. Bahkan sebagian bangunan air tersebut sudah dibuat sebelum Kraton Plered didirikan. Menurut Babad Sangkala pada tahun 1565 J/1643 M, ketika Sultan Agung masih memimpin Mataram, bangunan air di Plered sudah dibangun dalam bentuk sebuah danau buatan. Selanjutnya menurut Babad Momana, pembuatan danau buatan berlanjut pada tahun 1574 J (1651 M) dengan membangun suatu bendungan besar. Pembangunan Kraton Plered terus berlanjut hingga tahun 1668 M ketika makam Ratu Malang di Gunung Kelir selesai dibuat. Kraton Plered mengalami kehancuran pada tahun 1600 J (1677) M ketika Trunojoyo, seorang bangsawan Madura Barat menyerang Kraton Plered dan berhasil mendudukinya. Sunan Amangkurat I melarikan diri ke Imogiri kemudian ke arah barat dan wafat dalam pelarian kemudian dimakamkan di Tegal Arum (dekat Kota Tegal sekarang). Pengganti Amangkurat I yang bergelar Amangkurat II menduduki kembali keraton tersebut dengan bantuan VOC. Sunan Amangkurat II selanjutnya memindahkan ibukota Mataram Islam dari Plered ke lokasi yang kelak bernama Kartasura. |