Loading

Kawasan Cagar Budaya Kerta - Plered

Status : Kawasan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Satuan Ruang Geografis Kerta-Plered yang terletak di wilayah Kelurahan Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul merupakan lokasi bekas ibukota kerajaan Mataram Islam Abad XVII (periode pemerintahan Sultan Agung 1613–1646 dan periode kesunanan Amangkurat I masa pemerintahan tahun 1647–1677). Wilayah ini dibangun awal abad ke-17 berupa satuan ruang yang ditata dan dibangun terdiri atas fasilitas kompleks keraton, komponen ibukota kerajaan, dan permukiman pada masa kerajaan Mataram Islam.  

Satuan ruang geografis ini memiliki peninggalan sejarah dan warisan budaya berupa Benda Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan Situs Cagar Budaya yang mengandung nilai-nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.  

Sementara itu, di satuan ruang geografis Kerta-Plered ini memiliki 4 (empat) situs cagar budaya yaitu: Situs Cagar Budaya Kerta, Situs Cagar Budaya Kedaton-Plered, Situs Cagar Budaya Kauman-Plered, dan Situs Cagar Budaya Gunung Kelir berdasarkan penetapan status Situs Cagar Budaya oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Status : Kawasan Cagar Budaya
Periodesasi : Islam
Tahun : 1617
Alamat :
Koordinat:
7.859979° S, 110.411276° E

SK Gubernur : Nomor 211/KEP/2019


Lokasi Kawasan Cagar Budaya Kerta - Plered di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Fungsi Bangunan : Pemukiman
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Fungsi Situs : Pemukiman
Fungsi : Pemukiman
Landform : Bentuk Lahan Struktural
Tema Kawasan : Ibukota kerajaan
Objek Yang Termasuk : Situs Cagar Budaya Kerta, Situs Cagar Budaya Kedaton-Plered, Situs Cagar Budaya Kauman-Plered, dan Situs Cagar Budaya Gunung Kelir.
Tokoh :  Sunan Amangkurat I
Peristiwa Sejarah : Satuan ruang geografis ini merupakan tempat pemindahan ibukota Kerajaan Mataram Islam pasca di Kota Gede. Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa pada saat pemerintahan  Sultan Agung, keraton Mataram-Islam dipindahkan ke daerah Kerta yang berjarak sekitar 5 km selatan dari Kota Gede. Upaya untuk memindahkan Ibukota Kerajaan Mataram Islam ke lokasi lain terealisasi pada tahun 1617 dengan mempersiapkan lahan di Kerta untuk calon lokasi keraton. Setahun kemudian Sultan Agung beserta pengikutnya mulai mendiami Kraton Kerta, meskipun ibu suri masih berada di Kota Gede. Selanjutnya pembangunan komponen kerajaan di Kerta mulai dilakukan di antaranya: bangunan Prabayaksa (1620), Siti-Inggil (1625), pemakaman Giriloyo (1629), pemakaman raja di Imogiri (1632–1645), membuat bendungan Sungai Opak (1637), dan membuat Segaran (danau buatan) di Plered (1643). Sekitar satu tahun setelah pembangunan terakhir, Sultan Agung wafat. Kemudian digantikan oleh Sunan Amangkurat I dengan gelar Susuhanan Mangkurat Senopati Ingalaga Ngabdurahman Sayidinpanatagama. Atas kehendak raja, kota pusat Kerajaan Mataram Islam dipindahkan dari Kerta menuju Plered. Dalam Babad ing Sangkala tercatat perpindahan sunan ke kraton yang baru terjadi pada tahun 1647. Babad Momana dan Babad ing Sengkala mencatat peristiwa pembangunan fisik di Kota Mataram dan wilayah-wilayah sekitarnya, di antaranya adalah: a) Tahun 1617, penyiapan lahan di Kerta untuk calon lokasi keraton. b) Tahun 1618, raja (Sultan Agung) mendiami keraton di Kerta, meskipun ibu suri masih di Kota Gede. c) Tahun 1620 mendirikan Prabayaksa di Kerta. d) Tahun 1625 di Kraton Kerta didirikan Sitiinggil. e) Tahun 1629, mulai membangun pemakaman di Girilaya dipimpin Panembahan Juminah. f) Tahun 1632, mulai membuka hutan di Bukit Merak untuk pemakaman kerajaan. g) Tahun 1637, mulai membangun bendungan di sungai Opak. h) Tahun 1643, mulai membuat segaran di Plered. i) Tahun 1645 pemakaman di Bukit Merak selesai dibuat dan diberi nama Imogiri. Sekitar satu tahun setelah pembangunan makam, Sultan Agung wafat di Kerta, dan dimakamkan di Imogiri. Ia kemudian digantikan oleh Sunan Amangkurat I dengan gelar Susuhanan Mangkurat Senopati Ingalaga Ngabdurahman Sayidinpanatagama. Atas kehendak raja, kota pusat Kerajaan Mataram Islam dipindahkan dari Kerta menuju Plered. Dalam Babad ing Sangkala tercatat perpindahan menuju keraton yang baru terjadi pada tahun 1647. Berdasarkan sumber sejarah Jawa dan Belanda, menggambarkan bahwa pembangunan komponen Kraton Plered dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu: a) Tahun 1648 menurut Van Goens keraton baru telah berdiri. Dalam Babad Momana disebutkan bahwa “1570 J, taun Jimakir, trep Kraton Ngeksiganda (Plered)”.  b) Tahun 1571 J (1649 M) mendirikan Masjid Agung Plered menurut Babad Sengkala dan Babad Momana.  c) Tahun 1572–1574 J (1650–1651 M) proses pembangunan Siti-Inggil yang terbuat dari batu, bata, dan kayu, termasuk juga memperbarui Bangsal Witana.  d) Tahun 1576 J (1653 M) pengambilan batu untuk Karadenan, yaitu kediaman untuk putra mahkota.  e) Terdapat dua informasi yang berbeda mengenai selesainya pembangunan Prabayaksa. Menurut Babad Momana, Prabayaksa selesai dibangun pada tahun 1572 J (1650 M). Sedangkan menurut Babad Sangkala, Prabayaksa selesai dibangun pada tahun 1577 J (1654 M).  f) Menurut sumber berita pada tahun 1659 M (Daghregister, 13 November 1659), tinggi tembok keraton 5 depa dengan ketebalan 2 depa. Sunan kemudian merencanakan untuk meninggikan tembok atas setinggi sebuah perisai kira-kira setinggi dada.  g) Tahun 1585 J (1662 M) mendirikan sebuah bangsal di lapangan Srimanganti. Ketika Sultan Agung pindah dari Kraton Kota Gede ke Kraton Kerta pada tahun 1618, diperkirakan Kota Gede tidak serta merta ditinggalkan oleh penduduknya. Kota Gede bahkan tetap melayani sebagian kebutuhan barang dan jasa masyarakat Mataram-Islam meskipun ibukota kerajaan telah berpindah ke Plered. Diperkirakan antara tahun 1618–1647 meskipun raja telah berkedudukan di Kraton Kerta namun Kota Gede masih memiliki kedudukan penting sebagai kota Kerajaan Mataram-Islam. Jarak antara Kota Gede ke Kerta juga tidak lebih dari 5 km, relatif dekat karena dapat ditempuh dalam waktu kurang dari seperempat hari dengan berjalan kaki. Letak posisi keberadaan Kraton Kerta sendiri tepat berada di sebelah selatan dari Kota Gede dan sama-sama terletak tepat di tepian sebelah timur Sungai Gajahwong. Kerta berada lebih ke arah hilir tepatnya di dekat titik pertemuan Sungai Gajahwong dengan Sungai Opak. Selain membangun beberapa komponen Kraton Plered di atas, sunan membangun pula bangunan-bangunan air baik di dalam maupun di luar tembok keraton. Bahkan sebagian bangunan air tersebut sudah dibuat sebelum Kraton Plered didirikan. Menurut Babad Sangkala pada tahun 1565 J/1643 M, ketika Sultan Agung masih memimpin Mataram, bangunan air di Plered sudah dibangun dalam bentuk sebuah danau buatan. Selanjutnya menurut Babad Momana, pembuatan danau buatan berlanjut pada tahun 1574 J (1651 M) dengan membangun suatu bendungan besar. Pembangunan Kraton Plered terus berlanjut hingga tahun 1668 M ketika makam Ratu Malang di Gunung Kelir selesai dibuat. Kraton Plered mengalami kehancuran pada tahun 1600 J (1677) M ketika Trunojoyo, seorang bangsawan Madura Barat menyerang Kraton Plered dan berhasil mendudukinya. Sunan Amangkurat I melarikan diri ke Imogiri kemudian ke arah barat dan wafat dalam pelarian kemudian dimakamkan di Tegal Arum (dekat Kota Tegal sekarang). Pengganti Amangkurat I yang bergelar Amangkurat II menduduki kembali keraton tersebut dengan bantuan VOC. Sunan Amangkurat II selanjutnya memindahkan ibukota Mataram Islam dari Plered ke lokasi yang kelak bernama Kartasura. 
Riwayat Pelestarian : 1) Tahun 1976, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta melakukan survei di daerah Kota Gede, Karta, dan Plered. 2) Tahun 1978, Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Yogyakarta bekerja sama dengan berbagai instansi melakukan penelitian di situs Pleret dan Karta. Penelitian yang dilakukan antara lain kegiatan ekskavasi yang disertai dengan survei arkeologi, geologi, dan toponimi.  3) Tahun 1985, telah dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dibantu dengan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. 4) Tahun 2003, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian di wilayah Kauman, Kedhaton, dan Keputren. 5) Tahun 2007, Dinas Kebudayaan Daerah istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Ekskavasi Penyelamatan dan Pendokumentasian Situs Kerto 6) Tahun 2008, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian di Situs Kedhaton tahap I. 7) Tahun 2009, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian di Situs Masjid Kauman, Situs Kedhaton tahap II, Situs Kerto II, dan Situs Sareyan. 8) Tahun 2010, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian berupa kegiatan ekskavasi di Situs Kedhaton tahap III. 9) Tahun 2011, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian berupa kegiatan ekskavasi di Situs Kedhaton tahap IV. 10) Tahun 2012, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian berupa kegiatan ekskavasi di Situs Kedhaton tahap V. 11) Tahun 2013, Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penelitian berupa kegiatan ekskavasi di Situs Kedhaton tahap VI. 12) Tahun 2014, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Revitalisasi Situs Purbakala di DIY (Survei dan Pemetaan Kawasan Pleret). 13) Tahun 2016, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Perencanaan Situs Pleret. 14) Tahun 2016, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Konstruksi Penataan Situs Pleret. 15) Tahun 2016, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Konstruksi Pemagaran Situs di Kawasan Pleret. 16) Tahun 2016, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Kajian Situs Masjid Kauman Pleret. 17) Tahun 2017, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Review Perencanaan Situs Pleret. 18) Tahun 2017, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Kajian Revitalisasi Situs Kerto dan Situs Kedaton Pleret. 19) Tahun 2017, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Pemagaran Situs Kedhaton. 20) Tahun 2017, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Penataan Situs Pleret (Situs Kauman). 21) Tahun 2018, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kegiatan Konstruksi Revitalisasi Situs Kauman Pleret. 
Nilai Sejarah : Satuan ruang geografis ini dirancang menjadi sebuah ibukota dengan komponen yang lengkap sebagai wadah kegiatan pusat pemerintahan pada masa abad ke-17. 
Nilai Ilmu Pengetahuan : Keberadaan infrastruktur bangunan keairan berupa bendungan, danau buatan, dan kanal di dalam satuan ruang geografis ini belum pernah dijumpai pada kota kerajaan pada sebelumnya dan menginspirasi karya-karya sejenis pada masa-masa sesudahnya. Pemilihan lokasi keraton pada area pertemuan dua sungai (Suanag Opak dan Sungai Gajahwong) di lokasi Kerta merupakan satu-satunya tata ruang yang khas, di dalam konsep kosmologi Jawa lokasi tersebut merupakan daerah yang dianggap suci. 
Nilai Budaya : Dalam satuan ruang geografis ini terdapat bukti-bukti evolusi peradaban sejak masa Hindu-Budha berupa temuan arca dan batu-batu komponen bangunan suci, serta masa Mataram-Islam berupa artefaktual keramik Cina, keramik Eropa, koin asing, umpak bangunan, dan keberadaan bangunan Sitiinggil.Adat tradisi keraton yang masih berlangsung saat ini bersumber dari satuan ruang geografis ini yang dibuktikan dengan keberadaan perangkat upacara berupa Gamelan Sekaten Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, pemilihan lokasi makam di atas bukit (Girilaya dan Imogiri), serta kalender Jawa yang diciptakan oleh  Sultan Agung.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Pemerintah Daerah DIY, Kasultanan Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Ban
Pengelolaan
Nama Pengelola : Pemerintah Daerah DIY, Kasultanan Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Ban
Catatan Khusus : Koordinat dalam SK: Patok Batas Koordinat (UTM: 49 M) 1 436142 m E 9130801 m S 2 433326 m E 9129359 m S 3 433461 m E 9130876 m S 4 434072 m E 9130790 m S 5 434273 m E 9131752 m S 6 434906 m E 9131662 m S 7 434850 m E 9131169 m S 8 435100 m E 9131136 m S