Loading

Bangsal Kamandhungan Kidul Kraton Yogyakarta

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Bangsal Kamandhungan Kidul memiliki denah berbentuk persegi panjang berukuran 18,40 m x 18,58 m, berbentuk Joglo Sinom dengan konstruksi kayu Jati memiliki susunan atap terdiri atas brujung, penanggap dan èmpèr. Bahan penutup atap berupa sirap lei dengan bubungan berbahan seng. Pada pinggiran atap terdapat lisplank kayu polos. 

Konstruksi atap disangga oleh 4 saka guru tinggi 4,37 m, penampang 35 cm x 35 cm, 12 saka penanggap berukuran tinggi 3,03 m, penampang 25 cm x 25 cm dan 20 saka èmpèr berukuran tinggi 2,5 m, penampang 12 cm 12 cm. Selain itu, terdapat 8 saka santen pada deretan saka penanggap masing-masing dua di sisi utara dan selatan, berpenampang bulat dengan diameter 25 cm, dan dua di sisi utara dan selatan deretan  saka èmpèr, berpenampang bulat dengan diameter 12 cm.  

Pada semua saka guru terdapat mayangkara. Sementara di antara blandar pamanjang dan sunduk pamanjang serta blandar pengeret dan sunduk kili terdapat sesanten yang memiliki ornamen. Semua saka dan komponen kayu di bangunan ini tanpa dicat. 

Terdapat tambahan pagar keliling berbahan kayu yang terletak pada deretan saka èmpèr. Pagar tersebut membatasi antara area halaman dan èmpèr. Akses masuk berupa bukaan pada pagar dengan model kupu tarung, yang memiliki motif sama seperti pagar keliling tersebut. Bukaan masuk terdapat di keempat sisi utara, timur, selatan dan barat. 

Lantai Bangsal Kamandhungan Kidul berupa tegel abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Permukaan lantai di bawah atap brunjung dan penanggap rata dalam satu bidang (jerambah) dan lebih tinggi 43 cm dari lantai di bawah atap èmpèr (jogan) yang ditinggikan 27 cm dari permukaan halaman Kamandhungan Kidul. 

Selain bangunan Bangsal Kamandhungan Kidul, terdapat juga bangunan Pacaosan di sisi utara yang mengapit Regol/Kori Gadhung Mlathi. Kedua bangunan Pecaosan tersebut saat ini brealihfungsi menjadi tempat tinggal. 

Di sisi selatan Bangsal Kamandhungan Kidul terdapat struktur dinding tembok yang berfungsi sebagai pembatas sebelum menuju halaman Kamandhungan Kidul yang disebut Baturana atau Banon Kelir. Akses utama untuk memasuki halaman Kamandhungan Kidul ialah dengan melalui Regol/Kori Gadhung Mlathi di sisi utara dan Regol/Kori Kamandhungan Kidul di sisi selatan. Selain itu terdapat empat akses jalan kecil masing-masing satu di sisi timur dan barat serta dua di sisi utara. Pagar keliling Kamandhungan Kidul berupa tembok setinggi 6 m yang merupakan bagian dari benteng Cepuri Kraton Yogyakarta. 

Bangunan ini pada awalnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan perlengkapan upacara keraton, seperti tandu, joli, jempana, cerupung, kuthamara, dan sebagainya.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Alamat : Kompleks Kraton Yogyakarta, Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

SK Gubernur : Nomor 249/KEP/2020


Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Pada awalnya bangunan Bangsal Kamandhungan Kidul merupakan pendapa rumah seorang demang di Desa Pandhak Karangnangka, Sukawati, Sragen yang bernama Demang Prawiramantri. Bangunan tersebut merupakan tempat yang didatangi pertama kali oleh Pangeran Mangkubumi setelah meninggalkan Kraton Surakarta pada 19 Mei 1746 untuk dijadikan pesanggrahan ketika mulai melawan VOC. Selama masa  perjuangan  tersebut tempat pesanggrahan Pangeran Mangkubumi berpindah-pindah tempat dan selalu dihancurkan oleh VOC. Namun tempat tinggal Demang Prawiramantri yang dijadikan pesanggrahan pertama ini merupakan satu-satunya yang tidak dihancurkan. Untuk mengenang pesanggrahan dan bentuk penghargaan atas jasa Demang Prawiramantri, maka bangunan tersebut dipindah dari Desa Pandhak Karangnangka ke dalam kompleks Kraton Yogyakarta. Dengan demikian, Bangsal Kamandhungan merupakan bangunan yang berumur lebih tua dari seluruh bangunan di kompleks Kraton Yogyakarta. Bangunan pendapa semula berbentuk Joglo Lawakan, yang hanya terdiri atas dua susunan atap berupa brunjung dan penanggap. Pada saat dipindahkan ke dalam kompleks keraton, oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I diberi tambahan èmpèr keliling di keempat sisinya sehingga bangunan berubah menjadi bentuk Joglo Sinom. Perubahan bentuk atap tersebut mengubah pula ukuran tinggi saka guru yang dinaikkan 60 cm untuk mendapatkan bentuk Joglo Sinom. Oleh karena itu, saka guru awal disambung dengan bahan kayu Jati yang memiliki ukuran yang sama. Kondisi sambungan saka guru ini masih terlihat pada bangunan Bangsal Kamandhungan Kidul saat ini. Keberadaan Bangsal Kamandhungan Kidul di halaman Kamandhungan Kidul merupakan bagian/kelengkapan yang harus ada di Kraton Yogyakarta, yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Keberadaannya menjadi bagian filosofi tata letak Kraton Yogyakarta yang memiliki beberapa komponen ruang yang harus sepasang, yaitu: 1) Alun-Alun Lor dan Alun-Alun Kidul. 2) Siti Hinggil Lor dan Siti Hinggil Kidul (pada tahun 1956 Siti Hinggil Kidul mengalami perubahan bentuk dan perubahan nama menjadi “Sasana Hinggil Dwi Abad”). 3) Kamandhungan Lor dan Kamandhungan Kidul.
Nilai Budaya : Bangsal Kamandhungan Kidul merupakan bentuk penghargaan Pangeran Mangkubumi atas jasa dukungan Demang Prawiramantri dalam perjuangan melawan upaya kolonialisme. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Pengelolaan
Nama Pengelola : Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat