| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Peristiwa Sejarah | : | Pada awalnya bangunan Bangsal Kamandhungan Kidul merupakan pendapa rumah seorang demang di Desa Pandhak Karangnangka, Sukawati, Sragen yang bernama Demang Prawiramantri. Bangunan tersebut merupakan tempat yang didatangi pertama kali oleh Pangeran Mangkubumi setelah meninggalkan Kraton Surakarta pada 19 Mei 1746 untuk dijadikan pesanggrahan ketika mulai melawan VOC. Selama masa perjuangan tersebut tempat pesanggrahan Pangeran Mangkubumi berpindah-pindah tempat dan selalu dihancurkan oleh VOC. Namun tempat tinggal Demang Prawiramantri yang dijadikan pesanggrahan pertama ini merupakan satu-satunya yang tidak dihancurkan. Untuk mengenang pesanggrahan dan bentuk penghargaan atas jasa Demang Prawiramantri, maka bangunan tersebut dipindah dari Desa Pandhak Karangnangka ke dalam kompleks Kraton Yogyakarta. Dengan demikian, Bangsal Kamandhungan merupakan bangunan yang berumur lebih tua dari seluruh bangunan di kompleks Kraton Yogyakarta. Bangunan pendapa semula berbentuk Joglo Lawakan, yang hanya terdiri atas dua susunan atap berupa brunjung dan penanggap. Pada saat dipindahkan ke dalam kompleks keraton, oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I diberi tambahan èmpèr keliling di keempat sisinya sehingga bangunan berubah menjadi bentuk Joglo Sinom. Perubahan bentuk atap tersebut mengubah pula ukuran tinggi saka guru yang dinaikkan 60 cm untuk mendapatkan bentuk Joglo Sinom. Oleh karena itu, saka guru awal disambung dengan bahan kayu Jati yang memiliki ukuran yang sama. Kondisi sambungan saka guru ini masih terlihat pada bangunan Bangsal Kamandhungan Kidul saat ini. Keberadaan Bangsal Kamandhungan Kidul di halaman Kamandhungan Kidul merupakan bagian/kelengkapan yang harus ada di Kraton Yogyakarta, yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I. Keberadaannya menjadi bagian filosofi tata letak Kraton Yogyakarta yang memiliki beberapa komponen ruang yang harus sepasang, yaitu: 1) Alun-Alun Lor dan Alun-Alun Kidul. 2) Siti Hinggil Lor dan Siti Hinggil Kidul (pada tahun 1956 Siti Hinggil Kidul mengalami perubahan bentuk dan perubahan nama menjadi “Sasana Hinggil Dwi Abad”). 3) Kamandhungan Lor dan Kamandhungan Kidul. |
| Nilai Budaya | : | Bangsal Kamandhungan Kidul merupakan bentuk penghargaan Pangeran Mangkubumi atas jasa dukungan Demang Prawiramantri dalam perjuangan melawan upaya kolonialisme. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat |
| Nama Pengelola | : | Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat |