Loading

Pagelaran Kraton Yogyakarta

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Pagelaran merupakan kompleks bangunan yang terletak di sisi utara kompleks keraton dan merupakan bangunan paling depan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Yogyakarta sekaligus berada tepat di sisi selatan Alun-Alun Lor. Pagelaran berasal dari kata gilar yang berarti padhang atau terang. Pemaknaan ini terkait dengan ritual semedi yang dilakukan Sri Sultan. Ketika Sri Sultan lénggah sinéweka di bangsal Manguntur Tangkil, maka pandangan ke arah utara akan melalui Pagelaran. Sehingga dimaknai Sri Sultan bersemadi diterangi sinar oleh Tuhan yang Maha Kuasa.  

Dalam Pagelaran terdapat bangunan yang terdiri atas: 
1) Bangsal Pagelaran 
Pagelaran adalah bangunan terbuka (tidak berdinding) yang ditopang oleh 64 buah tiang besi berwarna hijau dengan bentuk bulat beralur kepala tiang berbentuk korintia. Selain itu terdapat sepasang tiang ganda (accouplement column) berbahan bata berplester yang berfungsi sebagai penanda jalur masuk utama masing-masing di sisi utara dan sisi selatan bangunan Pagelaran. Masing-masing sepasang tiang ganda yang menyangga struktur horizontal frieze dengan pediment segitiga (di sisi utara) dan pediment lengkung di (sisi selatan). 

Bangsal Pagelaran memiliki atap berbentuk limasan dengan konstruksi besi, penutup atap berbahan seng gelombang yang dicat dengan warna merah bata. Pada bagian tengah atap limasan paling atas, baik di sisi utara maupun selatan terdapat dormer yang memiliki hiasan puncak (acroterion) dan lisplang berbentuk rete-rete, pada permukaan bagian tutup keong memiliki ragam hias kemamang.  

Pada bagian tengah pinggir atap limasan terdapat komponen pediment di sisi utara dan selatan atap Bangsal Pagelaran. Pediment di sisi utara berbentuk segitiga yang pada bagian segitiga (tympanum) terdapat hiasan Prajacihna (lambang Kraton Yogyakarta) disertai ornamen padi dan kapas yang melambangkan sandang-pangan rakyat Yogyakarta serta terdapat ornamen makara di sisi kanan dan kiri Prajacihna. Tepat di bagian bawah pediment berupa struktur horizontal (frieze) terdapat kronogram sangkala memet berupa ornamen lima ekor kumbang (gana) dan seekor biawak (slira) yang dapat dibaca: Panca Gana Slira Tunggal yang berarti menunjukkan angka tahun Jawa 1865 sebagai penanda waktu renovasi Tratag Pagelaran.  

Sementara di sisi selatan,  pediment berbentuk lengkung dengan bagian tympanum dihias dengan lambang Cihnaning Pribadi (lambang Kraton Yogyakarta, ditambah dengan angka “8” dalam huruf Jawa di bagian bawahnya), serta hiasan hasil bumi (pala gumantung dan pala kasimpar). Di kiri-kanan bawah Cihnaning Pribadi dihias dengan ornamen makara. Pada bagian frieze di atas keempat kolom terukir kronogram surya sangkala mêmêt berupa ornamen empat panah bermata trisula (ujung anak panah bermata tiga), bunga (kêmbang), dan daun (lata) yang dapat dibaca: Catur Trisula Kêmbang Lata, menunjukkan angka tahun Masehi 1934 sebagai penanda waktu renovasi Tratag Pagelaran. 

Denah bangunan Bangsal Pagelaran menyerupai bentuk huruf “U” berukuran 49,30 m x 47,40 m, dengan luas 1.723 m2. Lantai bangunan terdiri tiga bahan yaitu tegel warna bermotif 20 cm x20 cm, batu andesit 30 cm x 30 cm, dan teraso ukuran 20 cm x 20 cm. Plafon bangunan dengan menggunakan bahan seng gelombang dengan lis timbal. 

2) Bangsal Pangrawit 
Bangunan ini disebut pula sebagai Bangsal Pengrawit, terletak di sisi barat Bangsal Pagelaran sayap timur. Bangsal Pangrawit berupa sebuah bangsal tak berdinding dengan konstruksi 11 tiang besi penampang segi delapan berwarna hijau. Bentuk atap berupa dua buah limasan yang bergandeng dengan atap bagian selatan menyerupai bentuk huruf “L”, serta penutup atap berupa sirap. Plafon dan kesebelas tiang di bangsal ini memiliki bentuk yang berbeda dengan plafon dan tiang pada Bangsal Pagelaran. Perbedaan ini mengindikasikan Bangsal Pangrawit diduga telah berdiri sejak Bangsal Pagelaran masih berupa tratag rambat. 

Bangsal Pangrawit menaungi dua bangsal kecil yang memiliki konstruksi kayu, beratap limasan ukuran 5,8 m x 8,29 m, berukuran luas 48 m2. Kedua bangsal ini bergandeng utara-selatan memiliki atap Limasan Apitan atau Limasan Jebengan tanpa penanggap, sehingga arsitektur Bangsal Pangrawit ini dinamakan Limasan Apitan Pengantèn. Bangsal di bagian utara menggunakan plafon berornamen bintang sudut delapan dengan lambang Cihnaning Pribadi di bidang tengahnya. Bangunan limasan belakang (selatan) tidak menggunakan plafon sehingga elemen konstruksi seperti blandar panyelak/pangeret, ganja, dan ander yang berukir menjadi tampak. 

Permukaan lantai lebih tinggi 19 cm dengan dua buah anak tangga di sisi selatan, serta berbahan marmer. Pada permukaan lantai bangsal bagian utara terdapat bagian yang ditinggikan 18 cm berukuran 2,48 m x 1,33 m yang disebut gilang palenggahan Dalem sebagai landasan tempat duduk sultan. Sedangkan bangsal di belakangnya (selatan) berfungsi sebagai tempat Ampilan Dalem.  

Sementara di luar kedua bangsal kecil ini yang berada di timur laut terdapat pula bidang peninggian lantai yang serupa, disebut gilang palenggahan untuk Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (putra mahkota). 

Fungsi Bangsal Pangrawit adalah: 
  a) Sebagai tempat Sri Sultan untuk mewisuda Pepatih Dalem (terakhir digunakan tahun 1933, saat Sri Sultan Hamengku Buwono VIII mewisuda Patih Danuredja VIII).  
  b) Sebagai tempat Sri Sultan menunggu kegiatan Pasamuan Watang setiap hari Sabtu.  
  c) Sebagai tempat Sri Sultan menunggu upacara Rampogan Macan (adu harimau dengan kerbau).   

3) Bangsal Pengapit timur dan barat 
Bangunan ini disebut juga Bangsal Pasewakan, berada di sisi timur dan barat Bangsal Pagelaran. Bentuk arsitektur kedua bangunan ini terlihat sama, namun memiliki perbedaan pada bentuk konstruksi atap. Bentuk Atap Bangsal Pengapit sisi timur adalah Limasan Klabang Nyander Lambang Gantung yang memiliki komponen saka bentung. Sedangkan bentuk atap Bangsal Pengapit sisi barat adalah Limasan Klabang Nyander Lambang Téplok. Kedua bangunan ini berdenah persegi empat dengan ukuran 27 m x 14 m, dengan luas 378 m2 (masing-masing barat dan timur) serta memiliki  24 buah tiang penampang persegi (8 saka guru berukuran 27 cm x 27 cm dan 16 saka penanggap berukuran 20 cm x 20 cm) berbahan kayu. Pada bagian bawah tiang terdapat umpak berbentuk padma dan ornamen wajikan di bagian tengah tiang. Lantai pada Bangsal Pengapit berupa tegel dengan motif putih merah berukuran 20 cm x 20 cm.  

Fungsi awal bangsal Pengapit adalah tempat untuk para senapati perang menerima perintah-perintah Sri Sultan atau menunggu giliran untuk menyampaikan laporan kepada Sri Sultan. Di dalam perkembangannya kedua Bangsal Pengapit ini mengalami perubahan-perubahan fungsi yang umumnya sebagai tempat pasowanan abdi dalem dan beberapa pejabat keraton. 

4) Bangsal Pamandengan sisi timur dan barat 
Bangunan ini merupakan dua bangsal yang berada di ujung timur laut dan barat laut bangunan Bangsal Pagelaran. Kedua bangunan ini berdenah persegi empat berukuran 13 m x 7 m, dengan luas 91 m2 (masing-masing barat dan timur)  memiliki bentuk atap Limasan Apitan (Jebengan), memiliki tiang besi berjumlah  delapan. Konstruksi atap bangunan ini disebut pula bentuk kutuk kumambang yang dianggap tidak lazim di dalam arsitektur tradisional Jawa berdasarkan pada uraian arsitektur tradisional dalam Serat Kawruh Kalang (Kawruh Kambeng).  

Terdapat beberapa informasi yang menunjukkan fungsi bangunan ini dapat berubah tergantung pada kepentingan dan kebutuhan keraton. Namun fungsi awal bangunan ini yang paling dominan adalah tempat untuk menambat kuda Sri Sultan (bangsal sisi barat). Sementara Bangsal Pamandengan sisi timur konon digunakan Sri Sultan bersama pembesar kerajaan untuk menyaksikan jalannya kegiatan Pasamuan Watang setiap hari Sabtu. 

5) Bangsal Pacikeran timur dan barat 
Bangunan ini berupa bangsal kecil semacam gardu tempat penjagaan yang digunakan masing-masing oleh Abdi Dalem Singonegoro dan Mertolulut, sebutan bagi abdi dalem algojo Kraton yang melaksanakan keputusan hakim (mengeksekusi hukuman). Bangunan ini berbentuk Limasan Apitan (Jebengan) dengan konstruksi kayu yang disangga empat saka (tiang) dan dua ander, berukuran 5,25 m x 3,48 m dengan tinggi 2,79 m serta luas 29 m2 (masing-masing barat dan timur)

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Tradisional Jawa
Alamat : -, Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.80217° S, 110.36425° E

SK Gubernur : Nomor 182/KEP/2020


Lokasi Pagelaran Kraton Yogyakarta di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Bangunan ini disebut pula sebagai Tratag Pagelaran, karena pada awal pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I, bentuk bangunan ini hanya beratap datar berbahan anyaman bambu serta bertiang kayu jati dengan penampang segi delapan. Tiang tersebut kemudian diganti dengan tiang dari pasangan bata dengan penampang tetap segi delapan berjumlah tiang 60 buah. Bangunan ini langsung menghadap utara ke arah alun-alun yang merupakan bangunan utama di halaman ini selain dikelilingi dengan bangunan-bangunan lain di sisinya (dua Bangsal Pamandengan, dua Bangsal Pengapit di sisi barat-timurnya, dan Bangsal Pengrawit di sisi barat pada sayap timur Bangsal Pagelaran) dan dua Bangsal Pacikeran di sisi selatan.  Kompleks Pagelaran dan Siti Hinggil (serta beberapa bangunan nDalem di sekitar keraton) sempat dipinjamkan oleh Sultan Hamengku Buwana IX kepada Universiteit Gadjah Mada untuk tempat perkuliahan. Ruang kuliah menempati beberapa bangsal di Pagelaran yang disekat. Pada lokasi ini digunakan oleh Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik. Saat UGM mulai membangun kampus di Bulaksumur pada 1951, Kraton Yogyakarta masih dipergunakan sebagai kegiatan perkuliahan hingga sekitar tahun 1973.
Nilai Budaya : Pagelaran Kraton Yogyakarta merupakan salah satu komponen kelengkapan tata ruang Kompleks Kraton Yogyakarta yang mewakili kepentingan pelestarian Kawasan Cagar Budaya lintas kabupaten/kota; mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta; langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Daerah Istimewa Yogyakarta; serta berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Pengelolaan
Nama Pengelola : Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Catatan Khusus : Koordinat SK : 49 M 429906.65 m E;  9137174.50 m S