Loading

Deskripsi Singkat

Bangunan Kamar Sandi Negara terletak di Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Bangunan ini seluas ± 118 m², dengan luas tanah 1190 m². Batas utara berupa lereng bukit, batas selatan dan timur berupa tebing yang terjal, batas barat berupalahan pekarangan. Kamar Sandi Negara terdiri dari 2 buah bangunan yang dijadikan satu, yaitu bangunan bagian depan dan bagian belakang. 

a. Bangunan Depan 
Bangunan depan merupakan bangunan yang dibangun pada tahun 1970 berukuran 536 cm x 588 cm,dan merupakan bangunan yang semi terbuka.Lantai bangunan dan plesteran semen dan lebih tinggi 20 cm dari permukaan tanah. Permukaan tanah sisi timur terdapat tatanan batu andesit selebar 40 cm. Sisi timur (bagian depan) terbuka/tidak berdinding. Sepertiga bagian sisi selatan terdapat ruangan dengan dinding dari triplek berukuran 266 cm x 212 cm, dan mempunyai sebuah pintu di sisi utara. 

Dinding sisi utara, selatan , dan timur berupa dinding kotangan yaitu dinding bagian bawah dari pasangan bata berplester 95 cm, permukaan dinding bagian dalam sudah diplester sedangkan bagian luar belum. Di dinding sisi utara terdapat 3 buah jendela. Dua buah jendela bagian tengah dan timur berukuran 144 cm x 132 cm, dan sebuah jendelapada bagian barat berukuran 102 cm x 132 cm. Jendela bagian luar berupa ruji-ruji kayu sedang bagian dalam berupa daun jendela yang berbentuk kupu tarung. Di atas jendela terdapat lubang angin dan diberi ruji-ruji kayu yang disusun secara horizontal. 

Antara rumah bagian depan dan belakang disekat dengan gebyog kayu, yang bagian tengahnya terdapat pintu kayu dengan daun pintu berbentuk kupu tarung berukuran 290 cm x 176 cm. Di atas ambang pintu terdapat lubang angin dan diberi ruji-ruji kayu yang dipasang secara horizontal. 

Di kanan kiri gebyog bagian tengah terdapat sebuah jendela berukuran 60 cm x 68 cm. Bagian dalam diberi ruji-ruji kayu sedang bagian luar daun jendelanya berbentukkupu tarung.Kedua jendelaini darisisi depan/sisi timur tidak terlihat karena tertutup oleh gebyog yang dipasang tidakpermanen/disandarkan di kanan kiri gebyog tengah. Di tengah kedua gebyog ini terdapat sebuah pintu berukuran 293 cm x 196 cm, dan dipasang pada tahun 1978. 

Di tengah bangunan terdapat 4 buah tiang saka guru berukuran 13 cm x 13 cm yang berdiri di atas umpak dari batu andesit setinggi 25 cm. Di sekeliling bangunan terdapat 8 buah tiang kayu berukuran 10 cm x 10 cm. 

Blandar dan rangka atap dibuat dari kayu sengon, sedangkan usuk dan reng dari glugu (pohon kelapa). Atap berbentuklimasan dengan bahan dari genting. Ketinggian bangunan dari fondasi hingga atap 458 cm. 

b. Bangunan Belakang 
Bangunan belakang merupakan bangunan yang dahulu digunakan sebagai rumah sandi, berukuran 836 cm x 588 cm. Di antara bangunan depan dan belakang terdapat jarak selebar 92 cm. Di sisi utara dan selatan antara bangunan depan dan belakang terdapat sebuah pintu. Pintu sisi utara dari kayu berukuran 177 cm x 85 cm, dan terdiri dari dua bagian yaitu atas dan bawah, sedang pintu sisi selatan berupapintu anyaman bambu. Atap kedua bangunan disatukan dengan talang air, dalam keadaan rusak. 

Lantai bangunan berupa tanah lebih rendah 3 cm dari lantai bangunan depan. Dinding bangunan dan dinding pemisah ruangan dari anyaman bambu. Tetapi anyaman kedua dinding tersebut berbeda motif. Dinding bangunan ini berdiri langsung di atas tanah dan ditempelkan pada tiang dengan tali bambu. Di sekeliling bangunan terdapat 14 tiang kayu penyangga atap. Tiang-tiang tersebut berdiri di atas umpak batu andesit dan sebagian besar tiang dalam kondisi keropos.Tiga buah tiang yang terletak di tengah sisi utara dan selatan berukuran 13 cm x 13 cm sedang tiang (tiang emper) lainnya berukuran 10 cm x 10 cm. Tritisan ditopang dengan konsul dari kayu. 

Berdasarkan keletakan tiang, dinding sisi utara dan selatan dibagi menjadi 4 bagian, sedang sisi timur dan barat dibagi menjadi 3 bagian. Dinding sisi utara hanya 2 bagian yang masih terpasang, yaitu dua bagian di sebelah barat. 

Dinding sisi barat hanya 2 bagian yang masih ada dindingnya, yaitu bagian utara dan tengah. Dinding bagian tengah berupa gebyog yang bagian tengahnya terdapat sebuah pintu berbentuk kupu tarung berukuran 293 cm x 196 cm. Dinding pada sepertiga bagian sisi selatan bderupa triplek, dalam keadaan miring kearah timur. 

Dinding sebelah selatan sebagian roboh kearah timur, karena tertimpa atap bangunan sedangkan belakang sisi timur (bagian dalam) bangunan tidak berdinding. 

Di bagian tengah ruangan terdapat 4 buah saka guru ukuran 14 cm x 14 cm dari kayu nangka. Di antara 2 buah saka guru sisi barat terdapat dinding dari anyaman bambu sepanjang 305 cm. Bagian tengah anyaman bambu ini berlubang yang berfungsi sebagai pintu masuk. 

Di antara 2 buah saka guru sisi selatan sampai saka emper sisi timur, terdapat dinding anyaman bambu sepanjang kurang lebih 408 cm. Bagian tengah dari dinding yang terlketak dia antara 2 buah tiang saka guru terdapat lubang yang berfungsi untuk pintu masuk. Anyaman bambu ini dicat warna hijau muda tetapi catnya sudah kusam. 

Bahan rangka atap terdiri dari bermacam jenis kayu. Blandar, molo, dan pengeret dari kayu sengon, ander, ganja, dudur, dan santen dari kayu nangka, dhadhapeksi dan sunduk kili dari glugu (pohon kelapa). Usuk dan reng dari bambu yang dirangkai dengan ijuk. 

Permukaan dhadhapeksi sisi selatan diukir bentuksegitiga dan setengah lingkaran dan dibagi menjadi juring-juring kecil sehingga membentuk seperti kipas. Sebagian juring-juring tersebut dicat warna putih dalam posisi berselang-seling. Bagian tengah dhadhapeksi terdapat ukiran bunga terdiri dari 8 buah kelopak bunga. Kondisi dhadhapeksi sisi utara sudah lapuk. Permukaan santen diukir dua buah bentuk setengah lingkaran seperti pada dhadhapeksi dalam posisi atas bawah dan saling membalik. Atap bangunan berbentuk limasan dengan bahan dari genting. Bagian tengah atap terdapat hiasan seperti tanduk kerbau dari bahan tanah liat yang dibakar. Tinggi bangunan sampai atap 416 cm. 

Di sisi selatan bangunan ini semula terdapat tempat penyimpanan kayu berukuran 451 cm x 155 cm yang dibangun pada masa kemudian. 

Pada tahun 2013 bangunan Kamar Sandi Negara mengalami rehabilitasi secara fisik meliputi : 

rehabilitasi bangunan utama (bagia depan dan belakang) 

penataan lingkungan yaitu pemasangan batu alam di halaman, pembangunan talud dan pagar pembatas kepemilikan tanah serta penataan halaman parkir dan akses jalan menuju bangunan utama. 

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Tradisional Jawa
Alamat : Dusun Dukuh, Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.671788° S, 110.166891° E

SK Walikota/Bupati : SK BUP Kulon Progo 381/C/2016


Lokasi Kamar Sandi Negara di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Jenis Struktur : Tradisional
Dimensi Struktur
Jenis Bangunan : Tradisional
Fungsi Bangunan : Rumah/Permukiman
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Fungsi Situs : Rumah/Permukiman
Fungsi : Rumah/Permukiman
Tokoh : Letnan Muda Enang SudiarsoMayor Koesmono DartojoLetnan Dua SoemarkidjoLetnan Muda Soedijatmo
Konteks : Pada tanggal 17 August 1945, Ir. Soekarno dan Dr. Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun pernyataaan kemerdekaan membuat Belanda semakin menggencarkan aksi militernya dengan membonceng pasukan sekutu dalam wujud NICA, sehingga pada tanggal 29 September 1945 Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia dikuasai oleh penjajah Belanda. Tanggal 2 Januari 1945 Sultan Hamengku Buwono IX mengirimkan kurir ke Jakarta dan menyarankan agar ibukota R.I. pindah  ke Yogyakarta dan diterima sehingga mulai tanggal 4 Januari 1945 secara resmi ibukota negara pindah ke Yogyakarta, sehingga semua kantor dan pejabat pemerintah juga pindah ke Yogyakarta termasuk Kantor Kementerian Pertahanan yang menempati bangunan di Jalan Batanawarsa 32 Gondokusuman Yogyakarta. Untuk menjalankan komunikasi antara militer dan diplomasi yang aman, maka pada tanggal 04 April 1946 Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin memberikan mandat kepada Letnan Kolonel dr. Roebiono Kertopati untuk membentuk Dinas Kode. Dinas ini mendapat mandat rahasia untuk melakukan pengamanan berita Pemerintah RI yan disiarkan melaui sarana komunikasi. Selain itu dibangun juga sarana telekomunikasi berupa pendirian pemancar-pemancar radio telegrafi baik kecil maupun besar di sekitar Yogyakarta yaitu pemancar kecil di Dusun Dukuh, pemancar besar di Playen Gunung Kidul dan Gunung Lawu, jaring radio Jabar : Tasik-Garut-Rangkasbitung-Karawang-Cirebon, jaring radio Jateng : Solo-Purwokerto-Tegal, Jaring radio Jatim : Jember-Jombang-Kediri-Mojokerto, jaring radio Sumatera : Pematangsiantar Dan Bukittinggi. Setelah mendapat mandat tersebut, Letnan Kolonel dr. Roebiono Kertopati melakukan langkah-langkah strategis dengan merekrut personil yang dibutuhkan dan memiliki kemampuan serta menyusun buku panduan komunikasi informasi rahasia dalam bentuk “Buku Kode C”. Buku Code C terdiri dari 10.000 kata sandi dan artinya, disusun selama 2 bulan dengan dibantu oleh orang yang benar-benar dipercaya olehnya. Mengingat mendesaknya kebutuhan di lapangan, Buku Code C ditulis sendiri oleh Letnan Kolonel dr. Roebiono Kertopati dengan menggunakan 2 tangan secara bersamaan. Tanggal 21 July 1947 terjadi agresi militer belanda dimana mereka menyerang Jawa dan Sumatera yang merupakan basis perjuangan mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Untuk mendukung perjuangan diplomasi, keesokan harinya dikirimlah Code Officer (CDO) pertama kali ke luar negeri untuk mendampingi Duta Besar R.I. untuk India/kantor perwakilan PBB yaitu A.A. Maramis. Tanggal 15 August 1947 dilakukan proses kirim terima berita pertama dari india yang artinya Indonesia dapat menjalin komunikasi dengan dunia internasional. Proses komunikasi dilakukan via RRI Yogyakarta dinihari 02.00-04.00 dan diulang via PTT Yogyakarta. Komunikasi kemudian diperluas ke jalur Luar Negeri melalui Singapura, India, Cairo dan PBB Lake Success. Untuk efisiensi prosedur komunikasi, pada tanggal 23 January 1948 Kementerian Pertahanan Bagian V dilebur sehingga Bagian Code KP-V berada dibawah Kepala Staf Angkatan Perang Jenderal Soedirman menjadi Dinas Code Staf Angkatan Perang. Tanggal  18 December 1948 Wakil 2 KSAP yaitu Kolonel TB. Simatupang menginstruksikan dr. Roebiono Kertopati untuk menjaga jalur komunikasi dengan Bukittinggi dan New Delhi menghadapi perkembangan gerakan militer Belanda. Pada hari itu juga, Ir. Soekarno memerintahkan pengiriman 2 (dua) kawat rahasia ke Mr. Syafrudin Prawiranegara di Sumatera untuk membentuk Pemerintah Darurat Repubklik Indoneisa (PDRI) dan ke A.A. Maramis di New Delhi untuk membentuk Exit Governmet bila PDRI juga dikuasai Belanda. Belanda semakin meningkatkan agresinya dengan menggelar agresi militer II pada tanggal 19 December 1948 dengan tujuan utama menangkap para pemimpin Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa menteri dan tokoh perjuangan lainnya. Sebelum para pemimpin ditawan, Bung Hatta telah memerintahkan untuk mengirim radiogram kepada satuan-satuan yang ada di Jawa dan Sumatera tetap melanjutkan perjuangan dengan metode perang rakyat. Radiogram tersebut ditindaklanjuti oleh KSAP/PBAP Jenderal Soedirman dengan mengeluarkan nota perintah bahwa republik telah diserang dan agar prajurit tetap melakukan perlawanan dengan perang rakyat. Intruksi KSAP/PBAP diteruskan oleh Wakil 2 KSAP agar semua kekuatan mundur ke barat, melakukan bumi hangus serta membangun basis pertahanan baru. Instruksi bumi hangus dilaksanakan oleh seluruh kesatuan pasukan dengan membakar gedung-gedung utama dan berkas-berkas penting. Tindakan bumi hangus terjadi di Kotabaru yang terdiri dari kantor-kantor pemerintah, di Demakijo berupa pabrik gula-pabrik senjata, sepanjang jalan Godean, sekitar wilayah Kutu, Minggir, hingga Kali Progo, dan Dekso. Mendapat instruksi bumi hangus tersebut, dr. Roebiono Kertopati memerintahkan semua Code Officier (CDO) dan personil Dinas Kode untuk membakar semua bahan, peralatan dan berkas-berkas rahasia yang ada. Lalu diperintahkan untuk berpencar menyatu dengan rakyat dan berkumpul di Lapangan Dekso sesia instruksi KSAP. Tepat pada tanggal 20 December 1948, Kolonel T.B. Simatupang beserta beberapa pasukan menyeberangi kali progo untuk membangun basis baru di sekitar perbukitan Menoreh.  Sebagaimana diceritakan sejarah, pemilihan Dekso terilhami oleh hikayat Pangeran Diponegoro saat gerilya pada Perang Jawa 1825 – 1830. Selain itu, Dekso dan sekitarnya juga terlindung oleh kali progo di bagian timur dan kali bogowonto di bagian barat, plus perbukitan menoreh di bagian belakang bila benar-benar terdesak.  Kolonel TB. Simatupang menuju Banaran melalui Dekso lurus mengikuti jalan ke arah samigaluh kemudian menyeberangi kali tinalah, lalu mendaki jalan perbukitan selama 3/4 jam sampai ke rumah kepala dukuh bernama Karyo Utomo. Dirumah ini akhirnya dijadikan kantor Wakil 2 KSAP yang dijabat Kolonel TB. Simatupang.  Dari sebuah lokasi sebelum mendaki ke rumah Karyo Utomo, Kolonel TB. Simatupang  menunjuk sebuah rumah di perbukitan seberang sungai yang kemudian ditunjuk menjadi kantor sandi darurat. Dari rumah yang dijadikan kantor sandi darurat tersebutlah semua komunike-komunike disebarkan melalui stasiun radio, dimana semua instruksi dan berita serta surat menyurat dengan Presiden, Wakil Presiden, Kabinet, KSAP/PBAP diinstruksikan untuk di sandi dan di kode agar tidak dapat diketahui oleh Penjajah Belanda. Tanggal 21 December 1948 Letnan Satu Sumarkidjo, Kapten Santosa, dan Letnan Muda Sedyatmo sampai di Samigaluh untuk melakukan pengamatan wilayah. Setelah mendapat informasi Wakil 2 KSAP berada di Dekso, mereka kembali ke dekso untuk melapor. Beberapa hari kemudian Letnan Kolonel dr. Roebiono Kertopati dan beberapa Code Officier (CDO) yang lain juga telah tiba di Dekso dan melapor kepada Kolonel TB. Simatupang. Di Dekso dilakukan pengarahan strategi dan ada pembagian tugas, Kolonel TB. Simatupang menuju banaran untuk membangun MBKD darurat, Mayor Gani ditugaskan untuk membuat pos MBKD di sebelah selatan Dekso, Kapten Dartojo ditugaskan untuk membuat pos penghubung di lokasi antara Dekso dan Banaran berupa pemasangan pemancar radio jarak pendek, Kapten Soetomo ditugaskan untuk membuat Pos Checkpoint 1 di dekat Lapangan Dekso, serta Letnan Satu Sumarkidjo ditugaskan untuk membuat Pos Checkpoint 2 di Dusun Dukuh. Kepada para Code Officier (CDO), dr. Roebiono Kertopati juga membuat langkah strategis dengan menugaskan personilnya untuk mencari stasiun-stasiun radio pemancar di wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat dan menjadikannya sebagai saluran komunikasi rahasia pemerintah dan komunikasi dapat berjalan secara aman dan terintegrasi secara umum di kalangan Markas Besar Komando Djawa (MBKD). Khusus untuk Pos checkpoint 2 di Dusun Dukuh, rumah Bapak Merto Setomo juga diinstruksikan agar difungsikan sebagai Kantor Sandi darurat dimana Letnan Satu Sumarkidjo dan Letnan Muda Sedyatmo yg ditugasi khusus untuk mengelola informasi rahasia langsung dibawah Komando Perhubungan Angkatan Perang. Dari Kamar Sandi darurat inilah personil yang direkrut baik Code Officier (CDO), caraka (kurir) maupun telik sandi telah berjuang mati-matian untuk memastikan informasi tetap terjaga kerahasiannya dan sampai kepada tujuan dalam melaksanakan strategi perang gerilya KSAP/PBAP Jenderal Soedirman.
Riwayat Pemanfaatan : -
Riwayat Rehabilitasi : Pada tahun 2013 bangunan Kamar Sandi Negara mengalami rehabilitasi secara fisik meliputi : rehabilitasi bangunan utama (bagia depan dan belakang) penataan lingkungan yaitu pemasangan batu alam di halaman, pembangunan talud dan pagar pembatas kepemilikan tanah serta penataan halaman parkir dan akses jalan menuju bangunan utama. 
Nilai Sejarah : Merupakan bukti sejarah perjuangan masa kemerdekaan tahun 1949 (setelah Clash II), sebagai kantor sandi darurat.  Merupakan bukti adanya komunikasi perjuangan sampai keluar negeri (New Delhi).
Nilai Ilmu Pengetahuan : Bangunan ini menjadi bukti model arsitektur rumah  tradisional Jawa di Kabupaten Kulon Progo pada masa itu (Clash II). Lokasi bangunan ini membuktikan bahwa para pejuang pada masa itu memahami pengetahuan geografis terkait standar pemilihan lokasi untuk memudahkan komunikasi dan mengatur strategi gerilya.
Nilai Pendidikan : Bangunan ini dapat dipergunakan sebagai sarana pendidikan tentang perkembangan sandi dari masa perjuangan tahun 1949 (setelah Clash II),  . Bangunan ini dapat dipergunakan sebagai sarana pendidikan tentang sejarah perjuangan di Kulon Progo. Menanamkan nilai-nilai perjuangan dan Nasionalisme bagi generasi muda. 
Nilai Budaya : Dapat menjadi bukti local genious masyarakat setempat (kearifan lokal gotong royong), yang sudah  berlangsung sejak lama. Menjadi bukti kepedulian masyarakat terhadap kemerdekaan. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Lembaga Sandi Negara
Pengelolaan
Nama Pengelola : Lembaga Sandi Negara
Catatan Khusus : Koordinat pada NR: UTM 49M X : 0408117   Y : 9151897