| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Tokoh | : | - |
| Peristiwa Sejarah | : | Lokasi Makam Raja di Imogiri merupakan daerah perbukitan yang dipilih oleh Sultan Agung (masa pemerintahan 1613-1646 M) sebagai makam keluarga. Berdasarkan Babad ing Sangkala dan Babad Momana, pembangunan kompleks makam diawali pada tahun 1551 Çaka (1629 M) di Bukit Giriloyo yang dipimpin oleh Pangeran/ Panembahan Juminah salah seorang paman Sultan Agung. Setelah pembangunan lokasi makam telah selesai, Pangeran Juminah wafat mendahului Sultan Agung dan dimakamkan di lokasi tersebut. Karena kompleks makam telah digunakan serta pertimbangan luas lahan yang sempit, maka dilakukan pembangunan kompleks makam yang baru. Pembangunan makam ini berlokasi di Bukit Merak yang terletak di sebelah barat daya Bukit Giriloyo. Pembangunan dimulai pada tahun pada tahun 1554 Çaka (1632 M) oleh Sultan Agung yang diperuntukkan sebagai makam raja-raja Mataram beserta keturunannya. Kompleks makam yang baru dibangun ini selesai pada tahun 1567 Jawa (1645 M). Tidak sampai setahun kemudian, Sultan Agung wafat pada tahun 1646 M dimakamkan pada posisi paling tinggi di kompleks pemakaman tersebut. Disebutkan dalam Babad Momana bahwa pada tahun 1639 Jawa (1715 M) Susuhunan Pakubuwana I memperluas makam kerajaan di Pajimatan. Kemudian pada tahun 1643 Jawa (1719 M) Sunan Prabu Mangkurat membangun makam baru di Imogiri bagi Susuhunan Pakubuwana I yang wafat pada tahun 1642 (1718 M). Dengan adanya Perjanjian Giyanti tahun 1755 wilayah Mataram Islam yang berupa daerah kekuasaan Kasunanan Surakarta dikurangi separuh wilayahnya untuk menjadi wilayah Kasultanan Ngayogyakarta. Namun demikian, kompleks permakaman Pajimatan Imogiri tetap menjadi tempat sakral bagi kedua kerajaan tersebut. Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta mempunyai hak dan kewajiban untuk melakukan pemeliharaan dan pelestarian makam serta pemanfaatan tempat tersebut. Pada tanggal 27 Mei 2006 kompleks ini mengalami kerusakan akibat peristiwa gempa bumi. Selanjutnya dilakukan pemugaran oleh Dinas Kebudayaan DIY pada tahun 2006–2008 |
| Konteks | : | - |
| Riwayat Pelestarian | : | Pada tahun 1950an, penutup atap pada pendapa yang awalnya sirap diganti dengan genteng.Pada tahun 1988 terdapat penambahan pada situs berupa penambahan bangunan untuk tempat registrasi pengunjung makam. Hal ini berkenaan dengan instruksi dari dinas untuk adanya pendataan pengunjung makam.Lantai pada pendapa awalnya berupa batu putih, namun kemudian diganti dengan keramik. Terdapat penambahan bangunan berupa paduraksa.Terdapat penambahan berupa pengecoran pada gapuran kayu jati (paduraksa), awalnya hanya berupa gapura kayu saja, namun ditambah Akibat gempa 2006, terdapat kerusakan pada gapura-gapura makam (paduraksa) serta makam-makam Kraton Yogyakarta (makam longsor) sehingga pasca gempa tersebut dilakukan rehabilitasi pada bagian tersebut. Kemudian pada bagian pagar juga diganti.Setiap 8 tahun sekali kelambu pada jirat makam diganti dengan yang baru (terakhir diganti pada 2018)Terdapat pemeliharaan rutin berupa pengecatan ulang setiap tahunnya. |
| Nilai Budaya | : | Lokasi Makam Raja di Imogiri merupakan bagian dari konsep filosofis Sangkan Paraning Dumadi yang menggambarkan fase akhir dari daur hidup raja Mataram Islam. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta |
| Riwayat Kepemilikan | : | Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat : (0274) 376795Kasunanan Surakarta Hadiningrat : (0271) 641243 |
| Nama Pengelola | : | Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, |