Loading

Lokasi Makam Raja di Imogiri

Status : Situs Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Lokasi Makam Raja di Imogiri merupakan lokasi kompleks permakaman raja dan keluarga Sultan Agung, Amangkurat II; Amangkurat III; Amangkurat IV; seluruh Sunan Paku Buwana, dan seluruh Sultan Hamengku Buwana (kecuali Sultan Hamengku Buwana II). Lokasi ini sebagai salah satu komponen kerajaan Mataram Islam sejak Abad ke-17 (periode pemerintahan Sultan Agung) sampai dengan saat ini (periode Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta). 

Lokasi permakaman ini dikenal juga dengan nama Makam Pajimatan Imogiri; Pasarean Imogiri; Pajimatan Girirejo Imogiri; atau dalam bahasa Jawa: Pasaréyan Dalem Para Nata Pajimatan Girireja Himagiri. Lokasi berada di bukit Merak dengan ketinggian 147,2 mdpl yang terletak di gugusan Pegunungan Seribu.  

Kompleks makam ini terbagi atas tiga kelompok besar yang berderet dari barat ke timur, meliputi: sisi barat makam raja-raja Kasunanan Surakarta, bagian tengah makam raja Mataram Islam (disebut Astana Sultan Agungan), dan sisi timur makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta. Ketiga kelompok besar tersebut yakni: 

1) Kelompok makam raja-raja Mataram Islam, terdiri atas dua astana, yaitu Sultan Agungan dan Pakubuwanan. Di Astana Sultan Agungan dimakamkan Sultan Agung (1645), Sunan Amangkurat II/Sunan Amral (1703), dan Sunan Amangkurat Mas/Amangkurat III (1734). Sementara di Astana Pakubuwanan dimakamkan Sunan Paku Buwana I (1719), Sunan Amangkurat IV (1726), dan Sunan Paku Buwana II (1749). Di semua kompleks Astana tersebut disertai makam para permaisuri dan putra-putri mereka.  

2) Kelompok makam raja-raja Kasunanan Surakarta terdiri atas tiga astana, yaitu Bagusan, Kapingsangaan/Astana Luhur, dan Kapingsedasan/Girimulyo. Di Astana Bagusan dimakamkan Sunan Paku Buwana III (1788), Sunan Paku Buwana IV (1820), dan Sunan Paku Buwana V (1823). Di dalam Astana Luhur dimakamkan Sunan Paku Buwana VI (1849- dipindahkan dari Ambon ke Imogiri pada 1957), Sunan Paku Buwana VII (1858), Sunan Paku Buwana VIII (1861), dan Sunan Paku Buwana IX (1893). Astana Girimulyo dimakamkan Sunan Paku Buwana X (1939), Sunan Paku Buwana XI (1945), dan Sunan Paku Buwana XII (2004). Semua disertai makam para permaisuri dan kerabat dekat. (keterangan mengenai nama astana memiliki beberapa penyebutan yang berbeda). 

3) Kelompok makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta terdiri atas tiga astana, yaitu Kasuwargan, Basiyaran, dan Saptarengga. Di Astana Kasuwargan dimakamkan Sultan Hamengku Buwana I (1792) dan Sultan Hamengku Buwana III (1814). Di Astana Besiyaran dimakamkan Sultan Hamengku Buwana IV (1822), Sultan Hamengku Buwana V (1855), dan Sultan Hamengku Buwana VI (1877). Astana Saptarengga berisi makam Sultan Hamengku Buwana VII (1931), Sultan Hamengku Buwana VIII (1939), dan Sultan Hamengku Buwana IX (1988).  

Pada kedelapan kelompok makam tersebut, masing-masing astana terdiri atas tiga halaman berjenjang dari utara ke selatan dengan permukaan halaman tertinggi di sebelah utara mengikuti kontur permukaan bukit. Setiap halaman terdapat kelompok bangunan yang di kelilingi pagar/benteng tembok bata. 

Selain kompleks makam raja-raja di atas Bukit Merak, di lokasi ini terdapat struktur tangga sebagai akses utama dari kaki bukit menuju kompleks makam; bangunan masjid makam (masyhad); dan bangunan dalem juru kunci permakaman untuk Kasunanan Surakarta, serta bangunan dalem juru kunci permakaman untuk Kasultanan Yogyakarta. Lokasi ini memiliki 24 tinggalan arkeologis yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya serta satu Bangunan Warisan Budaya dan satu Struktur Warisan Budaya: 
1) Masjid Pajimatan Imogiri 
2)Kori Supit Urang 
3) Regol Sri Manganti I 
4) Regol Sri Manganti II 
5) Gapura Papak 
6) Kelir Gapura Supit Urang 
7) Kelir Regol Sri Manganti I 
8) Kelir Regol Sri Manganti II 
9) Kelir Gapura Papak 
10) Padasan Kyai Mendhung 
11) Padasan Nyai Siyem 
12) Padasan Kyai Danumaya 
13) Padasan Nyai Danumurti 
14) Astana Sultan Agung 
15) Astana Pakubuwana 
16) Astana Bagusan/Kasurwagan Surakarta 
17) Astana Astana Luhur 
18) Astana Girimulyo 
19) Astana Kasuwargan Yogyakarta 
20) Astana Basiyaran 
21) Astana Saptarengga 
22) Kolam 
23) Bale Palereman (Transit Jenasah Raja-raja Mataram) 
24)Dalem Kanjengan (Dalem Bupati Juru Kunci Makam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat) 
25) Dalem Bupati Puralaya Kraton Yogyakarta (Warisan Budaya) 
26) Tangga Masuk kompleks Makam Pajimatan Imogiri (Warisan Budaya) 

Pada awalnya Kerajaan Mataram Islam membangun pemakaman dalam keraton di Kota Gede, kemudian pada masa pemerintahan Sultan Agung mendirikan kompleks pemakaman di Girilaya. Setelah itu, Sultan Agung membangun kompleks makam yang baru di Bukit Merak yang dinamakan Pajimatan Imogiri.  

Seluruh komponen kompleks permakaman dan bangunan-bangunan di lokasi ini menampilkan gaya arsitektur dan teknologi yang mewakili jamannya dan mengandung nilai-nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, serta kebudayaan

Status : Situs Cagar Budaya
Periodesasi : Tradisional Jawa
Tahun : 1613
Kawasan : Kawasan Cagar Budaya Imogiri
Alamat :

No. Registrasi Nasional RNCB.20170406.04.001449
SK Menteri : PM.89/PW.007/MKP/2011
SK Gubernur : SK GUB Nomor 316/KEP/2020


Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : -
Peristiwa Sejarah : Lokasi Makam Raja di Imogiri merupakan daerah perbukitan yang dipilih oleh Sultan Agung (masa pemerintahan 1613-1646 M) sebagai makam keluarga. Berdasarkan Babad ing Sangkala dan Babad Momana, pembangunan kompleks makam diawali pada tahun 1551 Çaka (1629 M) di Bukit Giriloyo yang dipimpin oleh Pangeran/ Panembahan Juminah salah seorang paman Sultan Agung. Setelah pembangunan lokasi makam telah selesai, Pangeran Juminah wafat mendahului Sultan Agung dan dimakamkan di lokasi tersebut. Karena kompleks makam telah digunakan serta pertimbangan luas lahan yang sempit, maka dilakukan pembangunan kompleks makam yang baru.  Pembangunan makam ini berlokasi di Bukit Merak yang terletak di sebelah barat daya Bukit Giriloyo. Pembangunan dimulai pada tahun pada tahun 1554 Çaka (1632 M) oleh Sultan Agung yang diperuntukkan sebagai makam raja-raja Mataram beserta keturunannya. Kompleks makam yang baru dibangun ini selesai pada tahun 1567 Jawa (1645 M). Tidak sampai setahun kemudian, Sultan Agung wafat pada tahun 1646 M dimakamkan pada posisi paling tinggi di kompleks pemakaman tersebut. Disebutkan dalam Babad Momana bahwa pada tahun 1639 Jawa (1715 M) Susuhunan Pakubuwana I memperluas makam kerajaan di Pajimatan. Kemudian pada tahun 1643 Jawa (1719 M) Sunan Prabu Mangkurat membangun makam baru di Imogiri bagi Susuhunan Pakubuwana I yang wafat pada tahun 1642 (1718 M). Dengan adanya Perjanjian Giyanti tahun 1755 wilayah Mataram Islam yang berupa daerah kekuasaan Kasunanan Surakarta dikurangi separuh wilayahnya untuk menjadi wilayah Kasultanan Ngayogyakarta. Namun demikian, kompleks permakaman Pajimatan Imogiri tetap menjadi tempat sakral bagi kedua kerajaan tersebut. Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta mempunyai hak dan kewajiban untuk melakukan pemeliharaan dan pelestarian makam serta pemanfaatan tempat tersebut.  Pada tanggal 27 Mei 2006 kompleks ini mengalami kerusakan akibat peristiwa gempa bumi. Selanjutnya dilakukan pemugaran oleh Dinas Kebudayaan DIY pada tahun 2006–2008
Konteks : -
Riwayat Pelestarian : Pada tahun 1950an, penutup atap pada pendapa yang awalnya sirap diganti dengan genteng.Pada tahun 1988 terdapat penambahan pada situs berupa penambahan bangunan untuk tempat registrasi pengunjung makam. Hal ini berkenaan dengan instruksi dari dinas untuk adanya pendataan pengunjung makam.Lantai pada pendapa awalnya berupa batu putih, namun kemudian diganti dengan keramik. Terdapat penambahan bangunan berupa paduraksa.Terdapat penambahan berupa pengecoran pada gapuran kayu jati (paduraksa), awalnya hanya berupa gapura kayu saja, namun ditambah Akibat gempa 2006, terdapat kerusakan pada gapura-gapura makam (paduraksa) serta makam-makam Kraton Yogyakarta (makam longsor) sehingga pasca gempa tersebut dilakukan rehabilitasi pada bagian tersebut. Kemudian pada bagian pagar juga diganti.Setiap 8 tahun sekali kelambu pada jirat makam diganti dengan yang baru (terakhir diganti pada 2018)Terdapat pemeliharaan rutin berupa pengecatan ulang setiap tahunnya.
Nilai Budaya : Lokasi Makam Raja di Imogiri merupakan bagian dari konsep filosofis Sangkan Paraning Dumadi yang menggambarkan fase akhir dari daur hidup raja Mataram Islam.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta
Riwayat Kepemilikan : Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat : (0274) 376795Kasunanan Surakarta Hadiningrat : (0271) 641243
Pengelolaan
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul,