| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Komponen Pelengkap | : |
|
| Peristiwa Sejarah | : | Bangunan pada jaman Belanda digunakan untuk Algemeen Middelbare School (AMS), merupakan sekolah menengah yang lebih tinggi dari MULO. Didirikan pada tahun 1919 Pada masa pemerintahan bala tentara Jepang Dai Nippon sekolah ini dinamai Sekolah Menengah Tinggi. Sekolah ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Ilmu Kebudayaan dan Ilmu Kealaman.bagian yaitu AI ilmu kebudayaan dan ilmu kealaman. Pelajaran yang diberikan kepada para murid diatur dan diawasi oleh Nippon. Hal ini menyebabkan guru dan murid yang sebagian besar orang Indonesia itu tertekan batinnya. Pada akhirnya guru dan murid bersatu untuk memerangi tekanan dengan cara membentuk wadah Padmanaba pada 19 September 1942. Tahun 1946/1947 sekolah ini dipisah, bagian A di Pakem dan bagian B di Jalan Jati Kotabaru. Pada masa Clash 1 tahun 21 Juli 1947 sekolah ini libur besar selama 3 bulan karena bangunannya dijadikan markas pejuang. Setelah masa itu, sekolah ini dijadikan Belanda sebagai markas tentara Belanda. Pada masa ini banyak anggota Padmanaba yang gugur saat terjadi pertempuran di Kotabaru, antara lain Faridan M Noto, Suroto, Kunto, Sudiarto, Joko Pranoto, Jumerut, Junarso, Suryadi, dan Purnomo.Setelah masa Clash 11 sekolah dibuka kembali dan kebanjiran murid. Untuk mengatasi ini, pada 16 Januari 1950 dibuka sekolah SMA BII. SMA BI mengadakan pendidikan pada pagi hari, sedangkan SMB 11 pendidikannya dilaksanakan pada siang hari. SMA ini menerima murid dari bekas pejuang dan juga umum. |
| Konteks | : |
| Nilai Pendidikan | : | Gaya arsitektur bangunan indis pada bangunan tersebut di atas dapat digunakan sebagai contoh untuk referensi pendidikan arsitektur |
| Nilai Budaya | : | Mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi; langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi; sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/atau berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Keraton Yogyakarta |
| Nama Pengelola | : | Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta |