Loading

Deskripsi Singkat

Bangunan SMA Negeri 3 Yogyakarta terletak di area utama kawasan Kota Baru, orientasi ke selatan menghadap langsung lapangan/Stadion Kridosono. Secara arsitektural bangunan ini memiliki ciri bentuk tinggi, besar memiliki halaman luas, bentuk jendela dan pintu yang besar, langit-langit tinggi. Bagian muka bangunan utama pada akses masuk memiliki sepasang pilaster ganda dengan ornamen lampu di bagian atasnya. Denah bangunan utama berjajar dua di utara dan selatan, sebagian besar bangunan utama digunakan sebagai kelas. Di antara jajaran bangunan tersebut terdapat halaman/ruang terbuka yang cukup luas. Pada sisi timur dan barat halaman tengah terdapat bangunan-bangunan baru sebagai pelengkap sarana pendidikan (laboratorium, ruang olahraga, dan tempat parkir).

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Alamat : Jalan Yos Sudarso Nomor 7 , Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.78637° S, 110.373641° E

SK Menteri : PM.07/PW.007/MKP/2010
SK Gubernur : SK Gubernur DIY No. 237/Kep/2017 Tentang Penetapan Bangunan Rumah Tinggal Mr. Djody Gondokusumo, Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Museum Sandi, SMA Negeri 3, Gedung PT Asuransi Jiwasraya, SD Negeri Ungaran I, Gereja Huria Kristen Batak Protes


Lokasi Gedung SMU Negeri 3 di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : Bangunan pada jaman Belanda digunakan untuk Algemeen Middelbare School (AMS), merupakan sekolah menengah yang lebih tinggi dari MULO. Didirikan pada tahun 1919 Pada masa pemerintahan bala tentara Jepang Dai Nippon sekolah ini dinamai Sekolah Menengah Tinggi. Sekolah ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Ilmu Kebudayaan dan Ilmu Kealaman.bagian yaitu AI ilmu kebudayaan dan  ilmu kealaman. Pelajaran yang diberikan kepada para murid diatur dan diawasi oleh Nippon. Hal ini menyebabkan guru dan murid yang sebagian besar orang Indonesia itu tertekan batinnya. Pada akhirnya guru dan murid bersatu untuk memerangi tekanan dengan cara membentuk wadah Padmanaba pada 19 September 1942. Tahun 1946/1947 sekolah ini dipisah, bagian A di Pakem dan bagian B di Jalan Jati Kotabaru. Pada masa Clash 1 tahun 21 Juli 1947 sekolah ini libur besar selama 3 bulan karena bangunannya dijadikan markas pejuang. Setelah masa itu, sekolah ini dijadikan Belanda sebagai markas tentara Belanda. Pada masa ini banyak anggota Padmanaba yang gugur saat terjadi pertempuran di Kotabaru, antara lain Faridan M Noto, Suroto, Kunto, Sudiarto, Joko Pranoto, Jumerut, Junarso, Suryadi, dan Purnomo.Setelah masa Clash 11 sekolah dibuka kembali dan kebanjiran murid. Untuk mengatasi ini, pada 16 Januari 1950 dibuka sekolah SMA BII. SMA BI mengadakan pendidikan pada pagi hari, sedangkan SMB 11 pendidikannya dilaksanakan pada siang hari. SMA ini menerima murid dari bekas pejuang dan juga umum.
Konteks :
Nilai Pendidikan : Gaya arsitektur bangunan indis pada bangunan tersebut di atas dapat digunakan sebagai contoh untuk referensi pendidikan arsitektur  
Nilai Budaya : Mewakili karya kreatif yang khas dalam wilayah provinsi; langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di provinsi; sebagai bukti evolusi peradaban bangsa dan pertukaran budaya lintas wilayah kabupaten/kota, baik yang telah punah maupun yang masih hidup di masyarakat; dan/atau berasosiasi dengan tradisi yang masih berlangsung
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Keraton Yogyakarta
Pengelolaan
Nama Pengelola : Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta