Loading

Rumah Tradisional Joglo Jagalan I

Status : Bangunan Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

    Bangunan Cagar Budaya Rumah Tradisional Joglo Jagalan I terletak di Kawasan Cagar Budaya Kotagede. Rumah ini berarsitektur Tradisional Jawa berupa Joglo, menghadap ke selatan serta diperkirakan berusia sekitar 100 tahun. Rumah Joglo merupakan rumah dengan strata tertinggi dalam arsitektur tradisional Jawa. Rumah tradisional Joglo Jagalan I oleh Penduduk setempat menyebut bangunan ini berikut dengan bangunan joglo di sebelah timurnya sebagai“Joglo Jagalan” yang merujuk pada wilayah administrasi Kalurahan Jagalan yang merupakan lokasi kedua bangunan ini berada. Rumah Tradisional Joglo Jagalan I memiliki Susunan ruang terdiri atas:
    1. Pendapa
        Bangunan pendapa menggunakan atap Joglo Lawakan yang terdiri dari atap brunjung yang ditambah atap penanggap sebagai emper keliling.Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 7,91 m x 9,15 m. Bahan
atap joglo menggunakan genting tanah liat berbentuk vlaam dan bubungan berbahan galvalum yang dilengkapi dengan ornamen bongkak.Pada Inventarisasi dan Dokumentasi yang dilakukan oleh Rekompak-JRF di tahun 2011 disebutkan penutup atap pendapa ini berupa sirap tanah liat yang menjadi keunikan dibanding bangunan joglo lainnya di Kotagede. Konstruksi atap brunjung ditopang oleh empat saka guru dari kayu jati ukuran 18 cm x 18 cm,tinggi 253 cm. Setiap
saka guru berdiri di atas umpak batu andesit bermotif ragam hias padma dengan ukuran lebar bawah 39 cm x 39 cm, lebar atas 20 cm x 20 cm,tinggi 28 cm. Konstruksi atap pendapa berupa sepasang batang sunduk pamanjang dan sepasang batang sunduk panyelak (sunduk kili yang menghubungkan keempat saka guru menggunakan teknik sambung purus.Pamidhangan membentuk denah persegi panjang dengan pemasangan yang disebut methok yaitu blandar pamanjang dan blandar panyelak dipasang langsung di atas saka. Konstruksi Tumpangsari di bagian pamanjang dan panyelak masing-masing terdiri dari 3 batang bersusun ke arah dalam (singup) dan ke arah luar (lar-laran). Pengunci blandar tumpangsari teratas berbentuk ragam hias nanasan yang berada di keempat sudut tumpangsari. Komponen yang berfungsi untuk mengunci ini disebut sebagai emprit gantil, di atas tumpang sari terdapat balok takir brunjung. Di bagian tengah pamidhangan terdapat dhadha paesi yaitu balok yang melintang di tengah antara dua blandar pamanjang berupa kayu berornamen ukiran. Komponen ini merupakan satu-satunya balok yang diukir di antara elemen konstruksi tumpang sari dan pamidhangan sehingga balok ini dinamakan“dhadha paesi”yang berarti dhadha yang dipaes atau dihias dengan ukiran. Pada perkembangannya, nama dhadha paesi berubah menjadi “dhadha pest” dan

“dhadha pekst” (Yuwono Sri Suwito,2021:102). Komponen dhadha paesi berfungsi teknis untuk memperkuat sambungan blandar pamidhangan. Pada bagian bidang tengah tumpang sari terdapat uleng berupa plafon papan kayu pada balok singup teratas. Konstruksi atap pananggap ditopang oleh 12 saka yang berdiri tanpa umpak yang langsung dimasukan ke dalam lantai, disebut sebagai saka ceblokan. Saka pananggap ini terbuat dari kayu jati ukuran 14 cm x 14 cm, tinggi 213 cm. Pada setiap pertemuan/sambungan antara saka pananggap dengan blandar pananggap terdapat geganja dari kayu berprofil. Usuk di bagian brunjung dan penanggap ditutup dengan plafon berupa susunan bilah kayu. Seluruh konstruksi pendapa,kecuali komponen dhadha paesi memiliki warna natural kayu tanpa dicat. Lantai pendapa berupa tegel warna abu-abu berukuran 20 cmx 20 cm. Pada kegiatan Inventarisasi dan Dokumentasi 2011 diketahui penutup lantai pendapa berupa plesteran Permukaan lantai pendapa lebih tinggi 49 cm dari permukaan tanah.

    2. Longkangan
      Rumah ini memiliki tiga longkangan, yaitu :
        a) berada di antara pendapa dan dalem,lebar 260 cm. Permukaan lantai ditutup pasangan bata.
        b) terdapat di antara emper sisi timur dalem dan gandhok kiwa serta memiliki atap limasan lebar 140 cm. Bagian longkangan ini memiliki atap serta permukaan lantai ditutup tegel berwarna merah tua bermotif,ukuran 20 cm x20 cm
        c) terdapat di antara dalem dan pawon,lebar ujung paling barat 276 cm sedangkan ujung timur 205 cm. Permukaan lantai berupa tanah tanpa penutup.

    3. Pringgitan
        Berupa ruang antara pendapa dan dalem (pada bangunan ini dipisahkan oleh longkangan) sebagai bagian depan dari dalem. Pringgitan berdenah persegi panjang berukuran 2,14 m x 9,5 m memiliki atap limasan membujur timur barat. Pada bagian tepi selatan terdapat 4 tiang kayu berwarna hijau yang menopang atap limasan pringgitan,antara tiang terdapat ventilasi bahan kayu berbentuk krepyak serta terdapat atap teritis dengan bahan penutup menggunakan
seng yang disangga konsol besi. Plafon pringgitan terbuat dari papan kayu,dicat warna hijau dan kuning. Di ujung timur dan barat pringgitan terdapat tembok yang memiliki pintu rangkap berdaun pintu ganda yang masing masing menuju gandok kiri(gandhok kiwa) dan area longkangan tertutup sisi barat.

    4. Dalem
        Bangunan dalem berbentuk joglo lawakan. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 9,4 mx 5,4 m. Terdapat saka guru yang terbuat dari kayu berukuran 16 x 16 cm, tinggi 278 cm. Setiap saka guru berdiri di atas umpak batu bermotif hias padma,ukuran dasar 37 cm x 37 cm, ukuran penampang atas 20x20 cm.Usuk di bagian brunjung, penanggap, dan emper dipasang model ri gereh. Atap joglo ditutup dengan genting vlaam dan bubungan seng. Konstruksi pamidhangan dan tumpangsari menyerupai bentuk di bagian pendapa,namun tidak terdapat komponen nanasan melainkan bentuk kebenan. Pada bagian pamidhangan terdapat dhadha paesi dihiasi ornamen motif sulur-suluran dan bunga matahari serta bentuk ornamen nanasan/tawonan tepat di bagian tengah balok dhadha paesi. Ornamen didominasi oleh warna hijau dan kuning emas. Atap pananggap ditopang oleh dinding bata berplester Terdapat 3 bukaan pintu di dinding sisi selatan. Masing- masing memiliki daun pintu berupa pintu rangkap dengan daun ganda panil kayu,kecuali bagian tengah yang memiliki tiga daun pintu, dengan ukuran pintu sebelah kanan dan kiri berukuran: 1,17 m x 2,58 m serta pintu tengah berukuran 1,87 mx 2,12 m. Pada dinding sisi timur terdapat masing-masing satu pintu dan jendela. Pintu berukuran 1,08 m x 2,4 m. Masing-masing berupa jendela rangkap berdaun ganda (kupu tarung) berukuran 1,15 m x 1,58 cm dengan panil kaca di sisi dalam dan panil kayu di sisi luar. Pada bagian interior dalem,di bagian utara saka guru terdapat tiga ruang sentong (senthong). Dinding pemisah antara sentong dengan ruang dalem berupa dinding kayu yang disebut patang-aring. Pada dinding patang-aring terdapat ornamen motif wajik. Pada bagian tebeng pintu sentong tengah terdapat hiasan motif wajikan dan sulur- suluran bunga matahari. Bagian Pringgitan dari arah barat Sentong kanan (senthong tengen) berukuran 2,6 m x 2,8 m, sisi selatan terdapat pintu berukuran 0,9 m x 2,05 m serta di dinding sisi barat terdapat jendela. Sentong tengah berukuran 3,4 m x 2,8 m. Sentong kiri (senthong kiwa)
berukuran 2,86 m x3 m. Di dinding sisi utara sentong kiri terdapat pintu berbentuk monyetan menuju bagian belakang (ke pawon) berukuran 1,10mx 2,01 m dan tebal 0,48 m.Di dinding sisi timur terdapat jendela rangkap berdaun dengan (kupu tarung) dengan panil kaca di sisi dalam dan panil kayu di sisi luar. Terdapat emper samping sisi timur berukuran 2,5 m x 9,4 m serta memiliki tiang besi penyangga atap emper bentuk limasan dengan plafon kayu berwarna hijau-kuning. Seluruh permukaan lantai dalem dan sentong serta teras sisi timur, ditutup tegel abu-abu ukuran 20 cm x 20 cm.

    5. Gandok Kiwa
        Gandok Kiwa berada di sebelah timur bangunan dalem dan emper yang dipisahkan longkangan. Bagian gandok ini telah mengalami modifikasi yang telah menghilangkan bagian ruangnya sehingga menyisakan hanya dinding depan (sisi barat). Pembongkaran ruangan gandok diduga terjadi saat area halaman sisi timur didirikan rumah joglo yang dibangun kemudian. Modifikasi ini menyisakan dinding sisi barat gandok kiwa yang masih terdapat dua bukaan pintu masing-masing memiliki pintu ganda panil kaca kombinasi kayu dengan bovenlicht di atasnya. Di antara dua pintu ini terdapat jendela daun ganda panel kaca.Pada bagian teras gandok ini di ujung depan (selatan)terdapat pintu daun ganda panel kayu dengan bovenlicht perupa terali anak panah sebagai ornamen tebeng. Diinterpretasi bahwa dari modifikasi bagian gandok kiwa ini terlihat pada plafon serta tiang berupa pasangan bata berplester pada tepi emper yang berbeda dalam penggunaan bahan dan bentuk dengan plafon dan kolom lainnya di rumah ini. Hasil dari modifikasi ini menyebabkan terjadi perubahan konstruksi atap gandok berupa pergeseran balok atap  bubungan ke sebelah barat. Atap gandok berupa bentuk kampung ini kemudian menjadi satu konstruksi atap melintang 25 m ke selatan sekaligus mengatapi bagian ruang sisi timur pendapa yang diperkirakan menyerupai bentuk dengan gandok kiwa.Bangunan di samping timur pendapa ini diperkirakan juga mengalami modifikasi yang sama seperti pada bagian gandok kiwa. Pada sisa ruangan bangunan di samping timur pendapa ini memiliki kesamaan dengan gandok kiwa,baik pada bahan genting penutup atap, bentuk dan bahan plafon, ornamen, warna cat, bentuk bukaan pintu pada bagian dinding, ukuran lebar denah,maupun pada tegel lantai.

    6. Pawon
        Pawon berada di bagian belakang (utara)bangunan dalem. Terdiri atas dua ruang dapur, tempat sumur, dua kamar mandi dan toilet,serta ruang terbuka di sisi paling barat. Pawon memiliki dua buah jendela dan dua buah pintu. Masing-masing pintu berukuran 1,4 m x 2,36 m, dan jendela berukuran 0,88 m x 1,67 x 0,32 m. Pawon terbagi menjadi tiga ruangan yang masing-masing dipisahkan oleh sebuah pintu berukuran 1,23 mx2,3 m.Di sisi barat pawon terdapat ruang yang saat ini diperkirakan digunakan sebagai dapur baru.Ruang ini berukuran 5,08 mx 3,09 m. Bangunan Pawon menggunakan konstruksi atap kampung dengan penutup atap berupa genting dan bubungan vlaam. Lantai pawon ditinggikan 32 cm dari permukaan tanah dengan lebar teras 5,08 m. Di teras pawon terdapat tiang berukuran 12 cm x 12 cm. Tegel lantai berwarna abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. Bangunan ini tidak memiliki gandhok tengen namun di sisi barat dalem terdapat lahan emper dengan tepi barat miring 7° ke timur membentuk lahan segitiga siku dari sejajar tepi selatan emper sampai dengan batas tembok paling belakang (selatan) sejajar pawon. Bidang halaman ini difungsikan sebagai ruang dengan tambahan atap datar serta akses pintu dari dinding barat pringgitan dan pintu di dinding barat ruangan dalem. Pada tembok sisi selatan yang sejajar dengan pringgitan terdapat bukaan jendela.

Status : Bangunan Cagar Budaya
Periodesasi : Tradisional Jawa
Alamat : , Jagalan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Koordinat:
7.83016° S, 110.39574° E

SK Gubernur : SK GUB DIY 443/KEP/2024
SK Walikota/Bupati : KepBup Bantul Nomor 525 Tahun 2019


Lokasi Rumah Tradisional Joglo Jagalan I di Peta

Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Komponen Pelengkap :
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tata Letak Dalam Ruang Kawasan : Bangunan Rumah tradisional Joglo Jagalan I merupakan Bangunan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Bantul (penetapan tahun 2019) dengan nama “Bangunan Cagar Budaya Rumah Tradisional Milik Dinas Kebudayaan DIY (Bekas Milik Ibu Nur Johan)”. Penduduk setempat menyebut bangunan ini sebagai “Joglo Jagalan” yang merujuk pada wilayah administrasi Kalurahan Jagalan yang merupakan lokasi bangunan ini berada.
Deskripsi Fasad : Bangunan Cagar Budaya Rumah Tradisional Joglo Jagalan I terletak di Kawasan Cagar Budaya Kotagede. Rumah ini berarsitektur Tradisional Jawa berupa Joglo, menghadap ke selatan serta diperkirakan berusia sekitar 100 tahun.
Deskripsi Konsol : Pada bagian tepi selatan terdapat 4 tiang kayu berwarna hijau  yang menopang atap limasan pringgitan, antara tiang terdapat ventilasi bahan kayu berbentuk krepyak serta terdapat atap teritis dengan bahan penutup menggunakan seng yang disangga konsol besi.
Deskripsi Jendela : Jendela rangkap berdaun dengan (kupu tarung) dengan panil kaca di sisi dalam dan panil kayu di sisi luar.
Deskripsi Pintu : Pintu rangkap dengan daun ganda panil kayu, kecuali bagian tengah yang memiliki tiga daun pintu, dengan ukuran pintu sebelah kanan dan kiri berukuran: 1,17 m x 2,58 m serta pintu tengah berukuran 1,87 m x 2,12 m.
Deskripsi Atap : Atap joglo ditutup dengan genting vlaam dan bubungan seng dan limasan.
Deskripsi Lantai : Lantai pendapa berupa tegel warna abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm.
Deskripsi Kolom/Tiang : Empat saka guru dari kayu jati ukuran 18 cm x 18 cm, tinggi 253 cm.
Deskripsi Ventilasi : Bovenlicht perupa terali anak panah sebagai ornamen tebeng.
Peristiwa Sejarah :     Rumah Tradisional Joglo Jagalan I merepresentasikan karakter kawasan kampung Jagalan yang merupakan toponimi kuno di Kotagede era Ibukota Mataram-Islam sejak abad ke-17.Posisi bangunan ini berada di kampung Jagalanyang terletak di belakang (barat ) Situs Cagar Budaya Masjid Gedhe Mataram Kotagede.Nama “jagalan” berasosiasi dengan lokasi tempat tinggal profesi penyembelih hewan yang dalam hal ini berkaitan dengan aktivitas keratonMataram-Islam di Kota Gede. Di beberapa tempat, toponimi jagalan menjadi penanda tata ruang pusat aktivitas pemerintahan (kerajaan). Lokasi kampung dengan toponimi jagalan selalu menempati di dekat sungai. Tidak diperoleh data empiris mengenai tahun pembangunan ini, namun dari gaya arsitektur bangunan diinterpretasi dari abad ke-19. David Efendi (2017:165) dalam bukunya The Decline of Bourgeoisie : Runtuhnya Kelompok Dagang PribumiKotagede [Abad] XVI-XX mengutip data di tahun1985, bahwa tercatat 170 bangunan bentuk joglo di Kotagede yang umumnya dibangun pada pertengahan abad ke-19, namun terdapat bangunan yang paling tua di Kotagede yaitu Rumah Bahoewinangun di kampung Citran, Jagalan yang didirikan pada tahun 1750. Angka tahun pendirian tersebut tercantum pula pada terbitan Inventarisasi dan Dokumentasi 2011 (Rekompak-JRF,2011:151). Namun keterangan tersebut tanpa disertai data/sumber empiris. Sejauh ini diinterpretasi bangunan yang dimaksud adalah Bangunan Cagar Budaya Rumah Tradisional Joglo Jagalan I, karena nama pemilik terakhir yang diketahui yaitu Ibu Nur Johan berasosiasi dengan tokoh bernama Bahoewinangun. Berdasarkan sejarah lisan yang dihimpun dan tercatat dalam laporan pemugaran tahun 2018, diketahui bahwa rumah joglo ini ditempati oleh R.Ng.Bahoewinangoen,seorang abdi dalem pada masa Sultan Hamengku Buwana VI. Tokoh R.Ng. Bahoewinangoen ini (dikutip dalam Mitsuo Nakamura,1983) dikenal juga sebagai pemilik konsesi di bidang pengadaan kain mori untuk batik, serta seorangsaudagar emas dan intan,serta pemilik dari rumah pegadaian di Kotagede. Rumah ini kemudian diwariskan kepada anaknya R. Achmad Kasmat (Mr.Kasmat Bahoewinangun), sedangkan anak pertama yaitu R.Prawiro Hardjo (pengusaha pengrajin perak) diwarisi rumah joglo yang berada di samping timurnya. Tokoh R. Achmad Kasmat oleh warga Kotagede dikenal dengan nama “Pak Mister”. Panggilan ini berasal dari nama Messter in de Rechten,yaitu gelar akademis Magister Hukum yang diperolehnya dari Rechtshooge school Batavia (di masa kemudian R.Achmad Kasmat melanjutkan studi Hukum di Rijksuniversiteit te Leiden,Belanda). Mr.R.Achmad Kasmat kemudian pernah menjabat sebagai pengurus besar Muhammadiyah, Partai Islam Indonesia, delegasi Majelis Islam Ala Indonesia (MIAl) yang kemudian menjadi Masyumi,serta pernah menjabat sebagai Rektor kedua Universitas Islam Indonesia (periode 1960-1963). Bangunan ini kemudian diwariskan kepada Ibu Nur Johan putri R.Achmad Kasmat Bahoewinangoen yang selanjutnya ditempati oleh putranya:Jatikumara.Pada tahun 2015 terjadi alih kepemilikan bangunan ini kepada Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY. Pengalihan kepemilikan melalui pembelian ini bersamaan dengan bangunan joglo di samping timurnya.
Riwayat Pemugaran : Tahun 2018:a) penggantian lantai eksisting berupa keramik berukuran 30 cm x 30 cm menjadi tegel abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm. b) Penggantian plester dinding yang rapuh dengan acian dan pengecatan dinding. c) Penambalan saka guru dan bagian gebyok yang keropos dengan serbuk kayu. d) Perbaikan pada saka emper dan pengecatan ulang. e) Pengecatan ulang pada semua pintu di bagian Dalem. 
Nilai Budaya : Bangunan Cagar Budaya Rumah Tradisional Joglo Jagalan I memiliki karya langgam Jawa dengan kaidah arsitektur Tradisional Jawa merupakan bangunan yang berada dalam kampung jagalan yang merupakan toponimi kampung berdasarkan profesi pada tata ruang Mataram Islam di Kotagede sejak abad 17. 
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengelolaan
Nama Pengelola : Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Catatan Khusus : Koordinat pada SK: 49 M 433361 m E; 9134440 m S