Bangunan Cagar Budaya Rumah Tradisional Joglo Jagalan II terletak di Kawasan Cagar Budaya Kotagede. Rumah ini berarsitektur Tradisional Jawa berupa Joglo, menghadap ke selatan serta diperkirakan berusia sekitar 100 tahun.
Rumah Joglo merupakan rumah dengan strata tertinggi dalam arsitektur tradisional Jawa. Rumah tradisional Joglo Jagalan II oleh Penduduk setempat menyebut bangunan ini berikut dengan bangunan joglo disebelah baratnya sebagai“Joglo Jagalan”yang merujuk pada wilayah administrasi Kalurahan Jagalan yang merupakan lokasi kedua bangunan ini berada. Rumah Tradisional Joglo Jagalan II memiliki Susunan ruang terdiri atas :
1. Pendapa
Pendapa menggunakan atap Joglo Lawakan yaitu yang terdiri dari atap brunjung dan atap penanggap. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang berukuran 8,87 m x 7,82 m. Bahan penutup atap joglo menggunakan
genting tanah liat berbentuk vlaam dan bubungan berbahan galvalum yang dilengkapi dengan ornamen bongkak Konstruksi atap brunjung ditopang oleh empat saka guru dari kayu jati ukuran 17,5 cm x 17,5 cm,tinggi 300 cm. Setiap saka guru berdiri di atas umpak batu andesit bermotif ragam hias padma dengan ukuran lebar atas 20 cm x 20 cm, lebair bawah 34 cm x 34 cm, tinggi 29 cm. Konstruksi atap pendapa berupa sepasang batang sunduk pamanjang dan sepasang batang sunduk panyelak (sunduk kill) yang menghubungkan keempat saka guru menggunakan teknik sambung purus. Di antara sunduk pamanjang dan bandar pamanjang masing-masing terdapat sebuah ornamen sesanten/santen yang sekaligus berfungsi sebagai membuat kaku antar balok sunduk dan pamidhangan. Konstruksi Pamidhangan membentuk denah persegi panjang dengan pemasangan blandar pamanjang dan blandar panyelak dipasang di atas mayangkara pada ujung atas saka guru. Konstruksi tumpangsani di bagian pamanjang dan panyelak masig-masing terdiri dari 3 batang bersusun ke arah dalam (singup) dan ke arah luar (lar-aran). Pertemuan blandar antara pamanjang dan panyelak di bagian sudut menyisakan bagian gimbal. Komponen gimbal tidak dibuat pada biandar lar-laran paling atas karena bagian sudut pertemuan antara blandar lar-laran panyelak dan blandar iar-aran pamanyang bersambungan dengan dudur
penanggap di keempat sudut. Konstruksi ini merupakan karakteristik bentuk Joglo gaya Surakarta Di bagian tengah pamidhangan terdapat dhadha paesi yaitu balok yang melintang di tengah-tengah antara dua bandar pemanjang berupa kayu berornamen ukiran. Balok ini dinamakan *dhadha paes’ yang berarti dhadha yang dipaes atau dihias dengan ukiran. Pada perkembangannya, nama dhadha paest berubah menjadi *dhadha pesf’ dan *dhadha peksf (Vuwono Sri Suwito, 2021: 102). Komponen dhadha paesi berfungsi teknis untuk memperkuat sambungan bandar pamihanga?. Pada bagian bidang tengah tumpang sari terdapat uleng berupa plafon papan kayu pada balok sinqup teratas. Pendapa memilki 12 saka penanggap berukuran 17 cm x 17 cm, tinggi 216 cm. Saka penanggap didirikan di atas umpak berukuran dasar 20 cm x 20 cm dan 17 cm x 17 cm sisi atas serta tinggi 25 cm. Pada setiap pertemuan/sambungan antara saka pananggap dengan blandar pananggap terdapat geganja dari kayu berprofil. Bagian empyak (kerangka atap) pendopo bagian bruniung dan penanggap menggunakan usuk kayu yang disusun model ri gereh (susunan usuk yang tegak lurus dengan blandar-pengeret, sehingga bertumpu pada dudur). Dudur pada bagian penanggap dihias dengan ukiran bermotif flora. Seluruh konstruksi pendapa, kecual komponen dhadha paesi memiliki warna natural kayu tanpa dicat. Lantai
pendapa berupa tegel warna abu-abu berukuran 30 cm x 30 cm. Permukaan lantai pendapa lebih tinggi 44 cm dari permukaan tanah.
2. Longkang
Bagian ini merupakan ruang terbuka di antara bangunan pendapa dan dalem, berada di sebelah utara pendopo, dan berukuran lebar 2,87 m.
3. Dalem
Dalem memiliki atap berbentuk Joglo Lawakan pacul gowang dengan dua susun atap dengan penutup atap berupa genting serta memiliki denah persegi berukuran 11,70mx11,32 m. Terdapat tambahan perpanjangan atap
emper di sisi depan (selatan)dan samping sisi timur. Di bagian depan dalem terdapat teras berukuran 10 m x 2,6 m. Atap emper dengan penutup atap genting. Bagian tepi depan/selatan emper ditopang dengan empat buah saka
berukuran 13,5 cm x 12,5 cm.Di bawah saka,masing - masing terdapat umpak batu andesit berukuran 15 cm x 15 cm pada bagian atas dan di bagian bawah 20 cm x 20 cm, tinggi 13 cm. Pada dinding timur emper/teras terdapat pintu panel kayu berdaun ganda, berukuran 180 cm x 87 cm. Pada tepi lantai emper terdapat anak tangga berjumlah satu buah dengan lebar 40 cm, tinggi 20 cm. Penutup lantai berupa tegel warna abu-abu berukuran 20 cm x 20 cm, Konstruksi atap dalem ditopang oleh empat saka guru berukuran 19 cm x 19 cm berdiri di atas umpak berbahan batu bermotif hias padma ukuran bagian bawah 49 cm x 49 cm dan bagian atas 24 cm x 24 cm serta tinggi 32 cm. Konstruksi pamidhangan dan tumpangsari menyerupai bentuk di bagian pendapa namun di bagian dalem dicat warna putih. Konstruksi atap dalem disangga oleh empat saka guru yang dihubungkan dengan sepasang batang sunduk pamanjang dan sepasang batang sunduk panyelak (sunduk kili) menggunakan teknik sambung purus. Di antara sunduk pamanjang dan bandar pamanjang tersebut masing-masing terdapat sebuah ornamen sesanten/santen yang sekaligus berfungsi sebagai membuat kaku antar balok sunduk dan pamidhangan. Konstruksi Pamidhangan membentuk denah persegi panjang dengan pemasangan blandar pamanjang dan blandar panyelak dipasang di atas mayangkara pada ujung atas saka guru. Baik ornamen santen maupun mayangkara dihias dengan ukiran bermotif flora dengan cat warna hitam dan warna emas. Pengunci blandar tumpangsari teratas disebut sebagai emprit gantil dalam bentuk ornamen kebenan di keempat sudut balok takir brunjung. Konstruksi tumpangsari di bagian pamanjang dan panyelak masing-masing terdiri dari 2 batang bersusun ke arah dalam (singup) dan 3 batang ke arah luar (lar-laran). Pertemuan blandar antara pamanjang dan panyelak di bagian sudut menyisakan bagian gimbal. Komponen gimbal tidak dibuat pada blandar larlaran paling atas karena bagian sudut pertemuan antara blandar lar-laran panyelak dan blandar lar-laran pamanjang bersambungan dengan dudur pananggap di keempat sudut. Kondisi ini identik dengan konstruksi yang terdapat pada bagian pendapa, yang menandakan karakteristik bentuk Joglo gaya Surakarta. Di bagian tengah pamidhangan terdapat dhadha paesi merupakan balok yang melintang di tengah-tengah antara dua blandar pamanjang berupa kayu berornamen ukiran. Balok ini dihias sulur-suluran yang dicat warna keemasan dan hitam. Interior dalem terdiri atas jogan (ruang utama) berukuran 11,32 m x 8,47 m dan di bagian utara saka guru terdapat tiga ruang sentong(senthong).sentong berupa tiga ruang berderet barat-timur. Ketiga sentong disekat dinding pasangan bata berplester.Setiap sentong memiliki satu pintu menghadap ke selatan (ruang dalem). Sentong kiri (senthong kiwo) dan sentong kanan (senthong tengen) memiliki pintu panel kayu berdaun ganda, sedangkan sentong tengah tidak berdaun pintu. Pada ventilasi atas kusen pintu (tebeng) sentong kiri dan sentong kanan terdapat ornamen berbentuk “matahari terbit”. Ornamen tersebut diperkirakan merupakan modifikasi dari ornamen berbentuk anak panah menuju ke satu titik di tengah bawah. Daun pintu memiliki ornamen berbentuk wajikan polos. Di ruangan sentong kiri (timur) terdapat 2 jendela pada dinding sisi utara berukuran 34 cm x 88 cm dan di sisi timur berukuran 75 cm x 93 cm. Pada sentong kanan (barat) hanya terdapat satu jendela di dinding barat identik dengan jendela dinding timur di sentong kiri. Sisi depan dinding selatan bangunan dalem memiliki dinding pasangan bata yang memiliki satu pintu di bagian tengah diapit oleh jendela di kedua sisinya. Sedangkan pada sisi timur dan barat dinding masing-masing memiliki satu pintu dan jendela.Semua pintu dan jendela pada sisi luar dalem ini berbentuk daun ganda (kupu tarung) panel kayu. Di sisi timur dalem terdapat emper berukuran 11,7 m x 3,25 m.Pada bagian atap dalem memiliki usuk paniyung sedangkan di bagian emper depan dan emper timur dalem memiliki usuk ri gereh. Semua ujung usuk bermotif cakar macan. Pada dinding emper dalem sisi barat terdapat roster
dengan model geometris. Pada sisi timur emper depan terdapat pintu menuju emper timur ini dengan bentuk sun pintu tunggal (inep siji). Pada tepi atap (sisi timur) emper timur ini disangga dengan saka emper berukuran 12 cm x 12 cm, tinggi 192 cm. Lantai emper berupa tegel warna abu- abu ukuran 20 cm x 20 cm. Bagian longkangan di hadapan emper ini dapat diakses melalui tembok seketeng di sisi selatan yang memiliki pintu daun ganda panel kayu serta memiliki atap pelindung di atasnya. Di sisi barat pintu ini sekaligus merupakan tembok sisi selatan emper timur berupa kerawangan.
4. Pawon dan Pekiwan
Pawon dan pekiwan terdiri atas empat bagian ruang dengan fungsi berbeda. Ruang paling tmur berfungsi sebagai dapur berukuran panjang 5,50 m x 3,43 m. Akses masuk di sisi selatan berupa pintu daun ganda (kupur tarung) panel kayu kombinasi kaca. Pada dinding utara terdapat terali berbahan kayu sebagai ventilasi. Plafon ruangan menggunakan papan kayu yang ditopang blandar kayu bermotif pada kedua ujungnya. Pada bagian tengah ruang terdapat satu tiang berbahan besi. Atap dapur dirancang lebih tinggi dari atap keseluruhan unit bangunan belakang ini sebagai sirkulasi udara. Ruang berikutnya di sebelah barat, berfungsi sebagai ruang makan berukuran 5,50 m ? 2,48 m. Akses pintu masuk
terletak si sisi selatan berupa pintu panel kayu kombinasi kaca. Pada dinding utara terdapat terali berbahan kayu. Plafon berbahan papan kayu yang ditopang blandar. Pada bagian tengah ruang terdapat tiang besi. Dapur dan ruang
makan terhubung melalui akses tanpa daun pintu berukuran kurang lebih 75 cm. Pada ruang berikutnya adalah gudang berukuran 5,50 m x 4,48 m yang memilki teras. Pintu masuk daun pintu ganda (kupu tarung) panel kayu kombinasi kaca, yang diapit oleh terali kayu dengan daun jendela di bagian dalam berbahan frame kayu dan kaca. Pada dinding sisi utara terdapat roster diutup panel kaca untuk pencahayaan. Sisi barat ruangan terdapat tangga besi untuk akses ke loteng. Plafon bagian dalam berbahan papan kayu yang ditopang blandar, sekaligus sebagai lantai loteng. Atap gudang memiiik? ketinggian yang berbeda dengan atap bagunan belakang. sebagai area loteng dan sirkulasi udara. Ruang paling barat difungsikan sebagai area kamar mandi, toilet,dan sumur.Pada sisi barat terdapat dua kamar mandi yang menghadap ke timur,berhadapan dengan sumur. Antara sumur dan kamar mandi terdapat area terbuka dengan lantai tegel. Pada bagian depan terdapat satu saka yang menopang blandar atap,tanpa plafon. Pawon dan pekiwan pada rumah joglo ini memiliki konstruksi atap kayu dengan penutup genteng. Area bangunan belakang dan dalem dipisahkan oleh longkangan yang bentuknya tidak simetris, menyempit ke arah timur.