Lokasi Bintaran merupakan lokasi permukiman yang berada di area sebelah selatan Pura Pakualaman sebagai tempat permukiman orang Eropa/Belanda di kota Yogyakarta yang merupakan pengembangan dari lokasi permukiman di Loji Kecil (area belakang Benteng Vredeburg) yang sudah penuh.
Lokasi Bintaran menampilkan karakter permukiman golongan Eropa yang ditandai dengan bangunan-bangunan hunian bergaya arsitektur Indis dan pada masa berikutnya dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa bangunan sekolah, bangunan agama, serta bangunan pemerintahan. Kelompok hunian ini merupakan hasil dari politik segregasi penduduk kota pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Permukiman ini merupakan perkembangan tata ruang kota Yogyakarta pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda yang ditandai salah satunya dari lokasi hunian yang bermula dari Loji Besar (Benteng Vredeburg)-Loji Kecil - Bintaran - Kota Baru - Jetis.
Namun lokasi permukiman ini pada awalnya tidak dilengkapi sarana dan prasarana untuk penghuni. Fasilitas publik masih menggunakan yang berada di kawasan Loji Kecil (hal ini berbeda dengan pola permukiman di Kota Baru yang telah dilengkapi dengan komponen sarana dan prasarana publik). Pada waktu kemudian di lokasi ini didirikan bangunan sekolah Hollandsche-Javansche School pada tahun 1913 (saat in menjadi SMP Bopkri 2), bangunan Gereja Katolik St. Yusup (diresmikan pada tahun 1934), dan kompleks bangunan Gevangenis (penjara) yang telah terlihat pada Peta Kota Yogyakarta 1925 (saat ini menjadi LP Wirogunan).
Dalam lokasi ini terdapat 18 (delapan belas) Bangunan Cagar Budaya:
(1) Gereja Santo Yusuf Bintaran
Gereja ini dibangun atas prakarsa Pastur Van Driessche dan Raden Dawoed serta atas ijin Pastur A. van Kalken, S.J. seorang Regulier Ovreste Missi Jesuit di wilayah Jawa maka dibangunlah sebuah gereja baru yang memang diperuntukkan bagi umat Katolik Pribumi. Gereja tersebut terletak di wilayah Bintaran di sebelah timur Sungai Code, tepatnya di sudut jalan pertemuan jalan Bintaran Kulon dengan jalan Bintaran Tengah. Gereja itu di namai Gereja Santo Yusup Bintaran. Gereja Santo Yusup Bintaran didirikan di atas tanah seluas 5.500 m2 . Bangunan arsitektur Gereja Bintaran dirancang oleh J.H. van Oijen B.N.A. dan pembangunannya dilaksanakan oleh Hollandsche Beton Maatschappij. Hollandsche Beton Maatschappij sendiri melalui Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1961 tanggal 29 Maret 1961 kemudian dinasionalisasi menjadi P.N. Hutama Karya.
Bangunan Gereja Bintaran itu sendiri terletak di suatu kompleks bangunan yang terdiri dari bangunan gereja, pasturan, aula, panti paroki, gudang dan koster. Bangunan Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran secara keseluruhan terbuat dari beton dan tembok. Atap dan tiang penyangga menggunakan beton, sedangkan dindingnya menggunakan tembok. Kayu juga dipergunakan di gereja ini, tetapi hanya sebatas pada daun pintu dan kusen saja. Beton pembentuk gereja dicetak dengan anyaman bambu atau sering disebut “gedhek”. Hal ini mungkin terjadi karena pada saat gereja ini dibuat belum terdapat tripleks yang saat ini sering digunakan sebagai cetakan semen, sehingga pada saat itu mereka menggunakan bahan yang mudah didapat yaitu gedhek. Pola anyaman gedhek masih terlihat di beberapa bagian gereja.
(2) SMP Bopkri II (eks Hollands Javaanesche School)
Bangunan yang terletak di Jl. Sultan Agung No. 2 Kp. Bintaran, Kel. Wirogunan, Kec. Mergangsan ini memiliki ciri arsitektur Indis. Gaya arsitektur Jawa yang terdapat pada bangunan ini dapat diamati dari bentuk atap limasannya. Adaptasi yang dilakukan dapat dilihat pada bentuk daun jendela yang menggunakan kisi-kisi (louvered). Ciri gaya arsitektur Eropa dapat dilihat dari bentuk fasad yang menghadap utara terdapat atap yang menjorok keluar, mengadaptasi bentuk pedimen segitiga
Bangunan Warisan Budaya ini didirikan pada tahun 1913 oleh Belanda. Pada waktu itu bangunan yang ada ditujukan sebagai sarana pendidikan, yaitu Hollands Javaanesche School (HJS). Dalam sumber lain disebutkan bahwa fasilitas yang dibangun ini bernama Christelijke Huishound School. Sekolah tersebut memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak pribumi dalam hal ini Jawa. Proses belajar mengajar pada fasilitas tersebut berlangsung dengan menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Sekarang ini bangunan yang ada masih berfungsi sebagai fasilitas pembelajaran formal. Bangunan yang digunakan sebagai fasilitas pembelajaran setingkat sekolah.
(3) Gedung Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jendral Soedirman
Bangunan ini terletak di Jalan Bintaran Wetan No. 3, Yogyakarta. Sejarah Museum Sasmitaloka berawal dari gedung yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1890. Awalnya bangunan bersejarah ini diperuntukkan bagi pejabat keuangan Pura Paku Alam VII, Tuan Winschenk. Pada masa penjajahan Jepang bangunan dikosongkan dan barang-barangnya disita. Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan ini dipakai sebagai Markas Kompi Tukul dari batalion Suharto. Sejak tanggal 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948, bangunan ini menjadi kediaman resmi Jenderal Soedirman setelah menjadi Panglima Tertinggi TKR. Selanjutnya saat Agresi Belanda II, bangunan ini dipergunakan oleh Belanda sebagai Markas IVG Brigade T dan setelah kedaulatan Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 27 Desember 1949, bangunan ini dipergunakan sebagai kantor Komando Militer Kota Yogyakarta dan kemudian dipakai untuk asrama Resimen Infantri XIII dan penderita cacat (invalid). Selanjutnya pada tanggal 17 Juni 1968, bangunan ini dipakai sebagai Museum Pusat Angkatan Darat, sebelum akhirnya diresmikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Sudirman pada tanggal 30 Agustus 1982.
Museum ini dibagi ke dalam empat bagian, yakni Gedung Utama (dengan enam ruang pameran), Gedung Sayap Utara (tiga ruang pameran yang terletak di sisi kiri dari muka gedung utama), Gedung Belakang (satu ruang diorama), dan Gedung Sayap Selatan (yang terletak di sisi kanan dari muka gedung utama). Bentuk atap masih didominasi oleh atap pelana atau perisai, dengan bahan penutup genting atau sirap. Demikian juga dengan pemakaian bahan kaca. Kaca yang cukup lebar banyak dipergunakan terutama untuk penutup bukaan dan jendela.
Pada bangunan ini memiliki listplank motif banyu tetes, pada kisi-kisi pintu memiliki motif tradisional panahan terdapat empat tiang yang memiliki motif bunga dan dedaunan dengan tiang bergaya doric. terdapat hiasan di atas base, tiang penyangganya berupa hiasan sulur-suluran motif bunga teratai. Lantai marmer, lantai ruang kerja geometris segi delapan dan stilisasi flora diberi border stilisasi flora. Pada bagian plinth berupa tegel geometris berwarna biru.
(4) LP (Lembaga Pemasyarakatan) Wirogunan
Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan (Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Yogyakarta) merupakan salah satu bangunan penjara yang didirikan pemerintah kolonial Hindia-Belanda di Yogyakarta sekitar tahun 1917. Bangunan ini berfungsi sebagai barak-barak kerja yang diperuntukkan bagi para tahanan yang mengerjakan antara lain penyamakan kulit, pembuatan sepatu dan lainnya.
Bentuk bangunan ini bergaya indis dengan bentuk pintu dan jendela berukuran besar serta menggunakan plafon yang tinggi. Selain itu, terdapat detail khas antara lain atap teritis yang relatif kecil, balustrade dari teralis besi, mempunyai pilar-pilar, pintu ganda dengan daun pintu sisi luar berupa panel kayu krepyak (louver window) dan daun pintu sisi dalam panel kaca. Bangunan ini terdiri atas unit kantor, barak-barak, dan sel tahanan.
(5) Susteran Sang Timur
Bangunan Susteran Sang Timur dahulu merupakan rumah milik keluarga M.D. Mudai yang menampilkan gaya arsitektur Indis. Beberapa bagian bangunan telah mengalami perubahan sebagai bentuk adaptasi terhadap fungsi saat ini. Sebelum digunakan sebagai asrama, bangunan ini juga pernah digunakan sebagai TK dan pernah digunakan sebagai klinik bersalin. Saat ini bangunan tersebut di bawah kepengurusan Yayasan Sang Timur.
(6) Museum Biologi
Museum Biologi dirintis sejak terbentuknya Museum Zooligicum pada tahun 1964, yang menempati salah satu ruang di Sekip, Sleman, DIY, di dalam Kampus UGM, yang dipimpin oleh Prof. drg. R.G. Indrojono dan koleksi herbarium yang menempati sebagian gedung di Jalan Sultan Agung 22 Yogyakarta, yang dipimpin oleh Prof. Ir. Moeso Suryowinoto. Pengelolaan keduanya ditangani oleh Fakultas Biologi, yang pada waktu itu bertempat di nDalem Mangkubumen, Ngasem, Yogyakarta, yang lebih dikenal dengan nama fakultas-fakultas "Kompleks Ngasem"
Atas prakarsa Dekan Fakultas Biologi, yang pada waktu itu dijabat oleh Ir. Soerjo Sodo Adisewoyo, pada tanggal 20 September 1969, yaitu pada peringatan Dies Natalis Fakultas Biologi, Museum Biologi diresmikan. Museum tersebut merupakan penggabungan dari koleksi Museum Zoologicum dan Herbarium, dengan menempati gedung di Jalan Sultan Agung 22 Yogyakarta. Museum Biologi memiliki koleksi spesimen hewan dan tumbuhan dalam bentuk awetan kering, awetan basah, serta fosil, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa dari luar negeri. Koleksi museum tersebut digunakan sebagai sarana studi dosen, mahasiswa, pelajar, dan umum.
(7) Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat "Rahadi Osman 1"
Pada awalnya bangunan ini merupakan pemukiman opsir atau pejabat atau pegawai pabrik gula di wilayah Yogyakarta. Sekarang dipakai untuk Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat "Rahadi Osman 1". Bentuk bangunan asrama ini bergaya lndis dengan ciri-ciri khusus seperti pintu dan jendela dengan ukuran yang besar dan plafon tinggi. Selain itu, juga terlihat pada detail khas antara lain tritisan yang relatif kecil, balustrade dari teralis besi, daun pintu luar dari kayu berbentuk krepyak dan daun pintu dalam dari kaca serta mempunyai pilar-pilar.
(8) Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah
Pada awalnya bangunan ini merupakan pemukiman opsir atau pejabat atau pegawai pabrik gula di wilayah Yogyakarta. Bentuk awalnya bangunan ini bergaya lndis. Selanjutnya bangunan ini digunakan sebagai Asrama Mahasiswa Kabupaten Donggala. Saat ini digunakan sebagai Asrama Putra Mahasiswa Sulawesi Tengah dengan kepemilikan di bawah kepengurusan Pemda Sulawesi Tengah. Selama pengalihan fungsi menjadi bangunan asrama sudah mengalami banyak perubahan.
(9) Asrama Putri Bundo Kanduang
Pada tahun 1953 asrama ini dikenal dengan nama Asrama Bringin yang dihuni oleh mahasiswa Minang. Sejak 1 Januari 1955 asrama ini menjadi asrama Mahasiswi Minang. Asrama ini menjadi aset Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Bentuk bangunan ini bergaya lndis yang dikombinasikan dengan desain khas Minang pada desain atap dan ciri-ciri khusus seperti pintu dan jendela dengan ukuran yang besar dan plafon tinggi.
(10) Gedung Komando Pemadam Kebakaran (Kodamkar)
Bangunan ini terletak di Jl. Bintaran Tengah No. 4. Bangunan ini pada awalnya milik G.B.P.H. Boeminata, saat ini milik Bapak Moersamto, HK dengan luas lantai 500 m2. Sejarah bangunan yang dapat diketahui adalah sejak tanggal 30 Maret 1882 rumah ini digunakan oleh Yoseph Henry Paul Sagers. Selanjutnya pada periode tahun 1942–1945 bangunan digunakan oleh tentara Jepang selama masa pemerintahan pendudukan militer Jepang. Kemudian pada masa pasca 1945 bangunan difungsikan sebagai interniran yaitu asrama penampungan istri-istri orang Belanda sebelum dikembalikan ke negara asalnya. Saat ini bangunan tercatat dimiliki oleh R.Ay. Siti Noerkandar Mursamto, dan difungsikan sebagai kantor dan bangunan niaga.
Bangunan ini menampilkan gaya arsitektur Indis dengan ornamen khas berupa quoins yaitu batu atau bata yang membentuk sudut eksterior pada sudut dinding bangunan dengan struktur yang berbeda material, tekstur, warna, ukuran.
(11) Asrama Saweri Gading
Dahulu bangunan ini digunakan sebagai rumah sakit pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, kemudian pasca kemerdekaan digunakan sebagai asrama tentara, lalu beralih menjadi asrama mahasiswa UGM hingga kemudian pada tahun 1956 dibeli oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk dijadikan asrama mahasiswa khusus yang berasal dari Sulawesi Selatan. Bangunan berada di lingkungan pemukiman warga yang cukup padat. Gaya arsitektur bangunan tersebut bergaya kolonial. Bangunan asrama telah mengalami renovasi dan penambahan. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 2007. Pada saat gempa 27 Mei 2006, bangunan ini mengalami kerusakan berat, sehingga banyak bagian yang direnovasi. Penambahan bangunan dilakukan di bagian timur, bagian belakang dibuat dua lantai, serta ada penambahan kamar di sebelah barat.
(12) Rumah Tinggal (Eks Dealer Suzuki) di Jalan Sultan Agung No.?24
Bangunan ini memiliki gaya arsitektur lndis, sebelumnya digunakan sebagai gedung Lembaga Pendidikan Primagama dan Dealer Suzuki. Bangunan menghadap arah utara dan pada bagian depan bangunan telah mengalami renovasi dan sekarang dipergunakan sebagai bangunan niagan restoran cepat saji McDonald.
(13) Rumah Tinggal di Jalan Sultan Agung?No. 26
Bangunan ini merupakan rumah tinggal orang Belanda yang berdiri tahun 1818. Pada tahun 1946 bangunan dibeli oleh Pemerintah RI dan digunakan sebagai Rumah Dinas Dr. Wiryo Midjojo yang merupakan Dokter Kepresidenan. Sebelumnya status rumah merupakan hak guna bangunan dan oleh Dr. Wiryo Midjojo dibeli menjadi hak milik. Bangunan menghadap ke arah utara dengan cat warna coklat muda. Bentuk bangunan gaya lndis dan masih asli belum banyak mengalami perubahan. Perubahan hanya terjadi pada bagian atap dan garasi. Atap yang semula menggunakan sirap diganti dengan genteng dan bagian garasi di sebelah timur pada bagian depan dipergunakan sebagai Apotik "Sutji". Pada bagian depan rumah digunakan sebagai ruang praktek Dr. Soeraedi Sastrodharsono, salah seorang murid Dr. Wiryo Midjojo. Saat ini bangunan tersebut tidak terawat
(14) Bangunan Kantor?ODMIL (Oditurat Militer)
Bangunan Kantor Oditurat Militer (Odmil) mempunyai riwayat yang tidak jauh berbeda dengan bangunan-bangunan lainnya di wilayah Bintaran. Keberadaan bangunan tersebut dahulu merupakan salah satu fasilitas perumahan bagi opsir-opsir Belanda yang dibangun pada awal abad ke-20. Adanya bangunan tersebut secara politis pihak VOC Belanda ingin melakukan pengawasan-pengawasan dan untuk menjaga kepentingannya dari ancaman pihak Pura Pakualaman. Pada saat tentara Jepang masuk Yogyakarta tanggal 5 Maret 1942 pemukiman orang-orang Belanda di Yogyakarta diambil alih oleh Jepang untuk difungsikan sebagai perkantoran, perumahan, gudang, dan lain sebagainya. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut dikembalikan lagi fungsinya seperti semula. Sementara tidak diketahui secara pasti kapan bangunan tersebut digunakan sebagai Kantor Mahmillub (Mahkamah Militer Luar Biasa) dan Odmil (Oditur Militer). Bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat pengadilan militer bagi para pelaku G-30S/PKI. Kantor Mahmillub (Mahkamah Militer Luar Biasa) sekarang sudah pindah ke utara perempatan Ketandan.
Bangunan mempunyai dua halaman. yaitu halaman depan dan belakang serta beberapa buah bangunan tambahan yaitu, bangunan induk dan bangunan sayap dan belakang. Pada bangunan depan telah mengalami perubahan sehingga secara sepintas tidak terlihat bangunan kolonial.
(15) Lab. SMK Taman Siswa
Bangunan tersebut bergaya arsitektur kolonial, memiliki atap limasan. Bagian muka bangunan menggunakan konsep bay window, yaitu menonjolkan bagian yang memuat pintu dan jendela. Gaya arsitektur bangunan menonjolkan fondasi, yang merupakan salah satu ciri khas gaya kolonial. Dahulu merupakan rumah orang Belanda kemudian pada masa kemerdekaan diambil alih oleh Paku Alam dan dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Yogyakarta. Bangunan yang awalnya adalah rumah tinggal ini kemudian digunakan sebagai sekolah menengah kejuruan bagian dari Yayasan Tamansiswa yang berkonsentrasi di bagian teknik, permesinan, dan kelistrikan.
(16) Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 7
Bangunan rumah ini merupakan salah satu bangunan rumah tinggal yang masih tersisa di kawasan Bintaran. Kawasan Bintaran merupakan sebuah perkampungan Eropa yang dibangun pada awal abad ke-20. Kawasan ini merupakan perkembangan dari kampung Eropa yang telah ada sebelumnya yaitu di kawasan Lodji Gede dan Lodji Kecil.
Bangunan didirikan pada tahun 1900-an oleh orang Belanda, kemudian dibeli oleh Paku Alam VII dan diwariskan secara turun-temurun. Bangunan rumah menghadap ke barat dengan cat dinding warna putih. Arsitektur bergaya Indis melalui komponen bangunan berupa teritis kecil, jendela tinggi, plafon yang tinggi dan pilar hias di beranda.
(17) Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Wetan No. 17
Bangunan rumah ini merupakan salah satu bangunan rumah tinggal yang masih tersisa di kawasan Bintaran. Kawasan Bintaran merupakan sebuah perkampungan Eropa yang dibangun pada awal abad ke-20. Kawasan ini merupakan perkembangan dari kampung Eropa yang telah ada sebelumnya yaitu di kawasan Loji Gede dan Loji Kecil. Bangunan rumah menghadap ke arah barat dengan cat warna krem. Arsitektur gaya lndis dengan denah berbentuk persegi panjang, hiasan pasangan bata lengkung setengah lingkaran di atas pintu, plafon tinggi 4 m, dan teritis kecil. Bangunan berada di kawasan pemukiman warga. Pada kawasan tersebut terdapat beberapa bangunan dengan gaya arsitektur serupa, salah satunya Museum Sasmitaloka. Bangunan memiliki gaya arsitektur kolonial.
(18) Rumah Tinggal di Jalan Bintaran Tengah No. 12 (Mariana Puji)
Rumah tinggal Ibu Mariana Pudji yang beralamat di Jl. Bintaran Tengah No. 12, Kalurahan Wirogunan, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta. Rumah ini dibangun pada tahun 1890. Bangunan ini dibangun sebagai salah satu hunian bagi pejabat Belanda. Bangunannya menggunakan bata tebal tanpa beton. Beranda memiliki deretan kolom dengan lengkungan/arch, shelter memiliki shading yang lebih panjang dan pada kolom melingkar yang kokoh. Pintunya bertipe french door yang dipadukan dengan pintu berpanel kayu, bukaan lebar dengan penggunaan material kaca serta bovenlicht dengan ragam hias panahan.
Komposisi bangunan bata tebal tanpa beton (teknik beton hanya didirikan pada awal abad 20). Dirancang dalam "Indische woonhuis", yaitu arsitektur tropis di Indonesia yang pada awal fusi antara nilai-nilai Eropa dan tradisional. Pada awal pembangunannya sekitar permulaan abad 20, bangunan ini dibangun sebagai salah satu hunian bagi pejabat Belanda. Ciri khas arsitektur Indis modern, tampak dari penggunaan material modern yang mendominasi seperti tembok beton, kaca baik sebagai penutup bukaan maupun sebagai elemen dekoratif, serta jenis bukaan yang lebar. Status kepemilikan rumah ini adalah milik pribadi dan masih difungsikan sebagai rumah tinggal. Rumah tinggal ini memiliki luas bangunan 350 m² dan luas tanah 1437 m².
Dua Bangunan Warisan Budaya:
(1) Rumah Tinggal (dr. Soekiman Wirosanjaya)
Bangunan ini diperkirakan didirikan pada tahun 1825-1826-an dengan nama pemilik Dr. Soekiman Wirosanjaya. Awal bangunan ini didirikan digunakan sebagai tempat tinggal para pejabat Belanda. Pada zaman tersebut bangunan ini letaknya dekat dengan Pura Pakualaman sehingga sepanjang kawasan ini digunakan sebagai tempat tinggal para pejabat Belanda. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur lndis yang ditunjukkan dengan atap bangunan yang digunakan berbentuk segitiga dengan memakai hiasan ornamen pada bagian depan.
(2) nDalem Ngadinegaran
Rumah yang didirikan oleh Rosendal yang merupakan orang Belanda sebagai salah satu pemilik pabrik gula Madukismo kemudian dibeli oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII melalui brivet Sultan yang menandakan kepemilikan sultan secara pribadi (bukan Kraton). Sri Sultan HB VII kemudian mewariskan kepada salah satu puteranya yaitu G.P. Hadinegoro yang bekerja sebagai bendahara kas keraton. Bangunan tersebut menghadap arah utara, memiliki gaya arsitektur Indis dengan dinding berbahan bata. Bagian atap berbentuk pelana, dengan rangka kayu. Bahan penutup atap berupa sirip kayu yang dilapisi seng. Pada bagian depan terdapat teras dan tiang pilar. Pintu dan jendela bangunan model kupu tarung dengan motif geometris, panel kaca mati dan juga desain krepyak. Jendela bangunan memiliki daun jendela ganda, pada sisi luar pintu krepyak, sisi dalam jendela panil kaca. Saat ini bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal.