Loading

Lokasi Pakualaman Yogyakarta

Status : Situs Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Lokasi Pakualaman merupakan tempat tinggal Adipati Paku Alam (Pura Pakualaman) sekaligus pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman. Lokasi ini merupakan wilayah Kadipaten Pakualaman yang berada di dalam kota (dalam wilayah kuthanegara Kasultanan Yogyakarta). Lokasi ini pada mulanya adalah wilayah tempat kediaman Bendara Pangeran Harya (B.P.H.) Natakusuma (putera Sultan Hamengku Buwana I denga B.R.Ay.Srenggara) yang berada di sebelah timur Sungai Code. Selanjutnya, dalem dan permukiman tempat kediaman Pangeran Natakusuma (saat itu berstatus pangeran mardika, dikenal dengan sebutan Kampung Notokusuman. Kampung ini,terletak di sebelah barat Pura Pakualaman. Lokasi Pakualaman memiliki tata ruang yang spesifik mengikuti pola tata ruang Kasultanan Yogyakarta namun memiliki perbedaan arah hadap ke selatan dengan model catur gatra tunggal terdiri atas komponen pura,lapangan
di depan pura (sewandanan), masjid di sebelah barat, dan pasar di sebelah timur. Lokasi Pakualaman mengandung 5 (Lima) Bangunan Cagar Budaya dan 6 (Enam) Bangunan Warisan Budaya,yaitu:
    (1) Bangunan Cagar Budaya Pura Pakualaman
         Pura Pakualaman merupakan bangunan pura untuk K.G.P.A.A Paku Alam yang berfungsi sebagai simbol pusat kekuasaan kadipaten, kediaman, serta pusat pemerintahan kadipaten.Komponen pura Kadipaten Pakualaman memiliki kesamaan dengan tata ruang Kraton Kasultanan Yogyakarta yang terdiri atas masjid, dan alun-alun, sebagai komponen pasar pendukungnya. Pembeda tata ruang terdapat pada orientasi kompleks bangunan, Pura Pakualaman menghadap ke selatan sedangkan Kraton Yogyakarta menghadap ke utara. Perihal ini mencerminkan sikap penghormatan dan pengakuan Pura Pakualaman kepada Kraton Kasultanan Yogyakarta yang lebih tua dan lebih tinggi stratanya.
    (2) Bangunan Cagar Budaya Dalem Kepatihan Pakualaman Bentuk dan gaya arsitektur bangunan ini berarsitektur Jawa dengan pengaruh gaya Eropa.Bangunan dalem ini berfungsi sebagai rumah dinas sekaligus kantor pejabat Kadipaten Pakulaman yang bergelar pepatih dalem.
    (3) Bangunan Cagar Budaya nDalem Pujowinatan
         nDalem Pujowinatan adalah salah satu rumah tradisional Jawa di lokasi Pakualaman yang tergolong dalam dalem pangeranan. nDalem Pujowinatan berada dalam kondisi cukup baik. Pada awalnya bangunan ini adalah rumah tinggal dari R.M.Riyo Pujowinata. Pujowinata adalah putra dari R.M. Notodiningrat, yang merupakan putra keempat dari Paku Alam IV.
    (4) Bangunan Cagar Budaya SD Puro Pakualaman
         Bangunan SD Puro Pakualaman berada di antara bangunan permukiman warga,tepatnya di sebelah barat laut Pura Pakualaman.
    (5) Bangunan Cagar Budaya Masjid Agung Pakualaman
         Masjid Agung Puro Pakualaman merupakan komponen pendukung istana atau keraton Kadipaten Pakualaman yang terletak di sebelah selatan Pura Pakualaman. Masjid Agung Puro Pakualaman ini mulai dibangun pada masa PA II.
    (6) Bangunan Warisan Budaya nDalem Suryaningprangan
         Bangunan ini berlokasi di Jalan Masjid No.7 sebelah barat Pura Pakualaman. Dikenal Pula dengan nama Hotel Puri Pangeran dan Hotel Puri Temanggung, bentuk Bangunan sebagian besar sudah berubah.
    (7) Bangunan Warisan Budaya Rumah Tinggal R.Ay. Soemiwi Soerjohoedojo
         Bangunan ini awalnya merupakan bangunan tempat tinggal namun kini digunakan sebagai bangunan Taman Kanak Kanak Al-Husna. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur Jawa Indis yang ditunjukkan dengan penggunaan bukaan pintu dan jendela yang tinggi dan lebar dan tiang penyangga yang terbuat dari kayu dan beton.
    (8) Bangunan Warisan Budaya nDalem Notonegaran
         Bangunan rumah ini berlokasi di Jalan Notowinatan PA II/92 sebelah timur dari Pura Pakualaman. Bangunan ini merupakan rumah tinggal Prof. DR. Dr. KPH Soejono Prawiro Hadikusumo.
    (9) Bangunan Warisan Budaya Hotel Tanjung
         Bangunan ini merupakan bangunan rumah tinggal sebelum beralih fungsi sebagai hotel. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur Indis dengan atap bangunan yang tinggi. Selain itu, bangunan ini juga menggunakan bukaan pintu serta jendela yang lebar dan tinggi sebagai ciri bangunan berarsitektur Indis.
    (10) Bangunan Warisan Budaya Pendopo Brotoningrat
           Bangunan ini merupakan bagian dari Dalem Suryasudirjan yang dibangun tahun 1843. Bangunan ini bertipe bangunan joglo dengan atap limasan dan memiliki gaya arsitektur perpaduan Jawa dan Indis.
    (11) Bangunan Warisan Budaya Rumah Tradisional Bambang Edi Siswanto
           Bangunan ini berlokasi di Jalan Purwokinanti PA I/169,berada di sebelah timur dari Pura Pakualaman. Bangunan ini merupakan rumah tinggal bergaya arsitektur tradisional Jawa yang memperkuat karakter kawasan. Ditetapkan sebagai Bangunan Warisan Budaya melalui penetapan Walikota Yogyakarta tahun 2019.

    Nama-nama kampung di wilayah lokasi Pakualaman memiliki makna filosofis proses perjalanan hidup manusia, yaitu berturut-turut dimulai dari nama Purwanggan- Purwakinanti -Jathametayan - Beji - Kauman - Gunung ketur. Nama Kampung Purwanggan dan Purwakinanti memaknai awal dari hidup yaitu “purwa” =awal dan “angga” =badan, “kinantt = selalu menyertai (tidak lupa dengan tujuannya). Kemudian menuju ke jathametayan yang merupakan lokasi tempat keberadaan lingga - yoni (di Kampung Ledoksari); berikutnya menuju “beji” =air (memperoleh kesejukan); lalu menuju ke kauman, yaitu untuk mendapatkan hati yang bersih; dan berakhir digunung ketur (tempat atas atau lokasi yang paling tinggi untuk berserah diri). Morfologi lokasi Pakualaman dapat dilihat melalui keberadaan kampung berdasarkan peta-peta kuno Kota Yogyakarta dan arsip Pura Pakualaman,yaitu:

    a. Peta 1830-1872 menunjukkan wilayah Pakualaman dengan tempat-tempat penting yang ada di dalamnya. Peta 1833 menunjukkan adanya empat lokasi yaitu: (1) Pakualaman; (2) Natakusuman; (3) Suryaningratan; dan (4) Nataningratan. Peta tersebut merupakan gambaran geografis pada masa pemerintahan K.G.P.A.A. Paku Alam II.
    b. Arsip Kurun Waktu 1822-1939 Masehi dari perpustakaan arsip Pura Pakualaman terdapat beberapa nama kampung yang tertulis sebagai berikut : (1) Gunungketur; (2) Margayasan; (3) Kepatihan; (4) Beji / Jagalan; dan (5) Jagalan Ledoksari/Kampung Ledoksari.
    c. Peta 1925 menampilkan wilayah Pakualaman yang terdiri atas: (1) Goenoeng ketoer (Gunung ketur); (2) Margojasan (Margoyasan); (3) Bedji; dan (4) Ledok Menduran, Ledok Ratmakan, Ledok Ngembraman.

Keberadaan toponimi yang bermakna sebagai kampung kediaman para abdi dalem yang bertugas di Pura Pakualaman,seperti Kauman Pakualaman, Surengjuritan, dan Harjowinatan, Purwanggan, Pujowinatan, menunjukkan bahwa K.G.P.A.A. Paku Alam I masih meneruskan tradisi dengan mendirikan beberapa permukiman/kampung di sekitar daerah kekuasaannya. Kampung didirikan tidak hanya sebatas hunian orang biasa,melainkan para tokoh dan orang yang berperan untuk menjaga kewibawaan penguasa. Sejak 20 tahun setelah lahirnya Pura Pakualaman, telah tercatat adanya penyebutan Natakusuman, Pakualaman, Suryaningratan, dan Nataningratan. Hanya Natakusuman yang terkonfirmasi sebagai nama kampung, sementara yang lain diduga sebagai nama bangunan dalem atau nama kampung. Pada peta tahun 1925, nama-nama kampung yang tercantum tidak hanya terbatas kepada nama tokoh penting atau nama suatu profesi tertentu. Toponimi menerapkan pula penamaan fenomena alam, seperti gunung, ledok,dan beji.

Status : Situs Cagar Budaya
Periodesasi : Kolonial (Belanda/Cina)
Tahun : 1813
Alamat :

SK Menteri : PM.07/PW.007/MKP/2010
SK Gubernur : SK GUB DIY No 207/KEP/2022


Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Tokoh : Situs Pakualaman Yogyakarta berkaitan dengan tokoh dan peristiwa bersejarah Nasional Indonesia seperti: (1) Pangeran Ario Notodirojo (putra Paku Alam V) sebagai salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo ( 1908). Tokoh ini juga dikenal sebagai kolaborator dr. Wahidin Sudirohusodo. (2) R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) sebagai kolaborator Cipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker. Tokoh ini juga pendiri Perguruan Taman Siswa ( 1922). (3) Paku Alam VIII (bersama Sultan Hamengku Buwana IX ) secara inisiatif masing-masing mengeluarkan "Maklumat 5 September 1945", yaitu pernyataan bahwa Kadipaten Pakualaman (bersama Kasultanan Yogyakarta) adalah bagian dari Republik Indonesia, pasca peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI. (4) Gedhong Parangkarasa di dalam Pura Pakualaman pernah digunakan sebagai tempat tinggal sementara Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta pada saat pemindahan ibukota RI ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946, selama bangunan istana kepresidenan di Gedung Agung sedang disiapkan
Peristiwa Sejarah : Situs Pakualaman Yogyakarta merupakan tempat keberadaan Puro Pakualaman, yaitu kompleks istana bagi keluarga Paku Alam sekaligus pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman. Keberadaan Kadipaten Pakualaman merupakan bagian dari Kasultana Ngayogyakarta Hadiningrat yang berstatus swapraja pada masa kolonial Belanda. Kadipaten Pakualaman terbentuk karena adanya kontrak politik antara Pangeran Natakusuma (putra Sultan Hamengku Buwana I) dengan Pemerintah Kolonial Inggris pada 17 Maret 1813. Sementara setahun sebelumnya pada 29 Juni 1812 Pangeran Natakusuma dinobatkan oleh pemerintah Kolonial Inggris (Thomas Stamford Raffles) sebagai Pangeran Mardika sekaligus pemimpin Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I. Kadipaten Pakualaman berdasarkan sejarah kewilayahan pernah menjadi sebuah praja kejawen atau bagian dari vorstenlanden. Statusnya sebagai praja kejawen menunjukkan bahwa eksistensi Kadipaten Pakualaman adalah kadipaten perdikan di Jawa yang memiliki hak otonomi pemerintahan sendiri serta wilayah kekuasaan yang sudah pasti. Kadipaten Pakualaman menjadi kadipaten termuda sebagai bagian dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang membuat di antara kedua penguasa ini saling berkaitan satu sama lain secara harmonis., baik dalam segi tradisi budaya,maupun dalam hal lainnya.Terdapat tradisi tahunan yang rutin dilakukan di lokasi Pakualaman ini.Selama setahun, Raja Keraton Yogyakarta memberikan sedekah berupa gunungan (pareden) wulu wetu hasil pertanian kepada (sedekah dalem) sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 12 Maulud bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Bulan Syawal bertepatan dengan Perayaan Idul Fitri, dan Bulan Besar bertepatan dengan perayaan Haji atau Idul Adha (Kurban), masing-masing lima jenis gunungan. Ungsun Hajad Dalem Gunungan (pareden) yang berjumlah lima gunungan tersebut terdiri dari gunungan wadon dan gunungan lanang. Dan kelima gunungan tersebut dikirim ke tiga tempat kawulo dalem,yaitu yang pertama diperebutkan kepada masyarakat di Masjid Besar Kauman Kraton Yogyakarta terdiri atas tiga gunungan,yaitu dua Gunungan Wadon dan satu Gunungan Lanang.Sementara yang kedua Gunungan Wadon diperebutkan di Pura Pakualaman Yogyakarta, yaitu satu GununganLanang dan yang ketiga diperebutkan di Kepatihan Yogyakarta,juga berupa satu Gunungan Lanang.
Nilai Budaya : Lokasi Pakualaman Yogyakarta merupakan suatu bentuk kadipaten yang memiliki kekuasaan politik dan budaya yang masih berlangsung sampai saat ini.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Kadipaten Pakualaman, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, dan Masy
Pengelolaan