| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Tokoh | : | Situs Pakualaman Yogyakarta berkaitan dengan tokoh dan peristiwa bersejarah Nasional Indonesia seperti: (1) Pangeran Ario Notodirojo (putra Paku Alam V) sebagai salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo ( 1908). Tokoh ini juga dikenal sebagai kolaborator dr. Wahidin Sudirohusodo. (2) R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) sebagai kolaborator Cipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker. Tokoh ini juga pendiri Perguruan Taman Siswa ( 1922). (3) Paku Alam VIII (bersama Sultan Hamengku Buwana IX ) secara inisiatif masing-masing mengeluarkan "Maklumat 5 September 1945", yaitu pernyataan bahwa Kadipaten Pakualaman (bersama Kasultanan Yogyakarta) adalah bagian dari Republik Indonesia, pasca peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI. (4) Gedhong Parangkarasa di dalam Pura Pakualaman pernah digunakan sebagai tempat tinggal sementara Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta pada saat pemindahan ibukota RI ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946, selama bangunan istana kepresidenan di Gedung Agung sedang disiapkan |
| Peristiwa Sejarah | : | Situs Pakualaman Yogyakarta merupakan tempat keberadaan Puro Pakualaman, yaitu kompleks istana bagi keluarga Paku Alam sekaligus pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman. Keberadaan Kadipaten Pakualaman merupakan bagian dari Kasultana Ngayogyakarta Hadiningrat yang berstatus swapraja pada masa kolonial Belanda. Kadipaten Pakualaman terbentuk karena adanya kontrak politik antara Pangeran Natakusuma (putra Sultan Hamengku Buwana I) dengan Pemerintah Kolonial Inggris pada 17 Maret 1813. Sementara setahun sebelumnya pada 29 Juni 1812 Pangeran Natakusuma dinobatkan oleh pemerintah Kolonial Inggris (Thomas Stamford Raffles) sebagai Pangeran Mardika sekaligus pemimpin Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I. Kadipaten Pakualaman berdasarkan sejarah kewilayahan pernah menjadi sebuah praja kejawen atau bagian dari vorstenlanden. Statusnya sebagai praja kejawen menunjukkan bahwa eksistensi Kadipaten Pakualaman adalah kadipaten perdikan di Jawa yang memiliki hak otonomi pemerintahan sendiri serta wilayah kekuasaan yang sudah pasti. Kadipaten Pakualaman menjadi kadipaten termuda sebagai bagian dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang membuat di antara kedua penguasa ini saling berkaitan satu sama lain secara harmonis., baik dalam segi tradisi budaya,maupun dalam hal lainnya.Terdapat tradisi tahunan yang rutin dilakukan di lokasi Pakualaman ini.Selama setahun, Raja Keraton Yogyakarta memberikan sedekah berupa gunungan (pareden) wulu wetu hasil pertanian kepada (sedekah dalem) sebanyak tiga kali, yaitu pada tanggal 12 Maulud bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Bulan Syawal bertepatan dengan Perayaan Idul Fitri, dan Bulan Besar bertepatan dengan perayaan Haji atau Idul Adha (Kurban), masing-masing lima jenis gunungan. Ungsun Hajad Dalem Gunungan (pareden) yang berjumlah lima gunungan tersebut terdiri dari gunungan wadon dan gunungan lanang. Dan kelima gunungan tersebut dikirim ke tiga tempat kawulo dalem,yaitu yang pertama diperebutkan kepada masyarakat di Masjid Besar Kauman Kraton Yogyakarta terdiri atas tiga gunungan,yaitu dua Gunungan Wadon dan satu Gunungan Lanang.Sementara yang kedua Gunungan Wadon diperebutkan di Pura Pakualaman Yogyakarta, yaitu satu GununganLanang dan yang ketiga diperebutkan di Kepatihan Yogyakarta,juga berupa satu Gunungan Lanang. |
| Nilai Budaya | : | Lokasi Pakualaman Yogyakarta merupakan suatu bentuk kadipaten yang memiliki kekuasaan politik dan budaya yang masih berlangsung sampai saat ini. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Kadipaten Pakualaman, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, dan Masy |