| Dimensi Benda | : |
Panjang Lebar Tinggi Tebal Diameter Berat |
| Peristiwa Sejarah | : | a. Sejarah Makam Islam di Pemakaman Gedhong Penemuan makam-makam Islam di Pemakaman Gedhong pertama kalinya terjadi pada tahun 2018. Pada saat itu penduduk Padukuhan Kalangbangi yang mencari makam leluhur keluarga secara tidak sengaja menemukan tiga buah makam Islam. Ketiga makam yang dimaksud adalah makam Kyai Muhammad Hasan, makam Kyai Muhammad Husein, dan makam Kyai Muhammad Al Makasary. Pada saat ditemukan, ketiga makam berada dalam keadaan terbengkalai karena tidak ada keluarga yang merawat selama ini. Oleh penduduk setempat makam-makam tersebut lalu dibersihkan. Pada saat pemberishan makam tersebut baru diketahui bahwa ketiga makam terdapat tulisan Arab Pegon yang jika diterjemahkan menyebut ketiga nama di atas. Salah satu makam yakni Makam Kyai Muhammad Hasan bahkan tertulis angka tahun 1323 (H), yang diduga merupakan penanda tahun wafatnya baliau. Salah satu makam memiliki bentuk jirat yang cukup unik, yakni makam Kyai Muhammad Al Makasary yang berbentuk menyerupai kapal. Makam Syeh Kalambang ditemukan beberapa saat kemudian, setelah penemuan ketiga Makam Islam di atas. Makam tersebut ditemukan dalam keadaan memprihatinkan karena berada di semak semak dan di bawah sebuah pohon pule yang besar. Oleh penduduk, makam tersebut dibersihkan dari tanaman dan rumput yang menyelimutinya. Penduduk mengetahui identitas Makam Syeh Kalambang berdasarkan tulisan yang terdapat pada makam tersebut. Berdasarkan penjelasan pemuka masyarakat setempat, makam Syeh Kalambangi pada masa pasca kemerdekaan dikenal sebagai Makam Mbah Guru. Dulu masyarakat setempat banyak yang mayakini bahwa murid-murid sekolah yang akan menghadapi ujian sekolah (masa Sekolah Rakyat) akan mendapatkan nilai yang baik jika mengunjungi makam tersebut. Berdasarkan penjelasan narasumber yang bernama Risman Setyonugroho (38 tahun) – pemuka agama dan tokoh pemuda setempat, Makam Syeh Kalambang dianggap memiliki usia yang lebih tua dibandingkan Makam Islam yang lain dengan alasan penempatan makam saat ini. Posisi makam Syeh Kalambang di sisi sebelah utara dianggap sebagai penghormatan bagi tokoh pemuka agama yang lain yang hidup pada masa atau periode berikutnya. Tidak diketahui dengan pasti kapan masa hidup Syeh Kalambang. Namun masyarakat di Kalrahan Ngeposari meyakini bahwa beliau memiliki peranan besar dalam siar Agama Islam di Gunungkidul terutama di wilayah Kapanewon Semanu pada masa lalu. Penjelasan narasumber yang lain bernama Parmorejo (92 tahun), kompleks pemakan Gedhong merupakan kompleks pemakaman lama yang sudah terdapat makam-makam Islam. Menurut kesaksian Parmorejo, beliau-beliau yang dimakamkan ditempat tersebut adalah pendatang yang menumpang di salah satu rumah penduduk Padukuhan Kalambangi Wetan. Para pendatang tersebut tinggal dan mengajarkan “Ilmu” di Ngeposari pada masa lalu. |
| Riwayat Pelestarian | : | Pelestarian makam-makam Islam di Pemakaman Gedhong dimulai sejak tahun 2018. Pada waktu itu, masyarakat di Padukuhan Kalambangi melakukankegiatan yang bertujuan untuk menelusuri identitas sejumlah makam yang tidak terurus di tempat tersebut. Makam-makam Muhammad Husein, Hasan, dan Al Makasarri merupakan kelompok makam pertama yang berhasil ditemukan identitasnya. Selanjutnya makam Syeh Kalambangi ditemukan beberapa saat kemudian. Seluma makam Syeh Kalambang berada dalam keadaan terbengkalai. Di dekat makam tersebut tumbuh Pohon Pule yang besar dengan tanaman rumput serta semak-semak yang menutup Nisan dan Jirat. |
| Nilai Sejarah | : | Makam-makam Islam di Pemakaman Gedhong memiliki arti penting bagi masyarakat khususnya di Kalurahan Ngeposari, umumnya di Gunungkidul, dalam rangka penyusunan sejarah perkembangan Agama Islam di Kabupaten Gunungkidul. |
| Nama Pemilik Terakhir | : | Kraton yogyakarta |
| Catatan Khusus | : | Koordinat SK : 7°59’40” Selatan 110°40’15” Timur Luas Situs : Keliling makam = 142 m Luas Makam = 1.077 m² Ukuran Makam : 1. Makam Syeh Kalambang Panjang jirat 182 cm, tinggi jirat 25 cm, lebar jirat 32 cm, panjang dasar jirat 192 cm, lebar landasan jirat 46 cm, tinggi landasan jirat dari tanah 4 cm, tinggi nisan 42 cm, lebar nisan 24 cm, dan tebal nisan 10 cm. 2. Makam Muhamad Hasan Panjang jirat 177 cm, lebar jirat 23 cm, tinggi jirat 27 cm, tinggi nisan 25 cm, lebar nisan 13 cm, tebal nisan 7 cm. 3. Makam Muhamad Husein panjang jirat 174 cm, lebar jirat 32 cm, tinggi jirat 17 cm, tinggi nisan 26 cm, lebar nisan 17 cm, tebal nisan 13 cm. 4. Makam Muhammad Al Makasari panjang jirat 160 cm, lebar jirat 27 cm, tinggi jirat 28 cm, tinggi nisan 22 cm, lebar nisan 16 cm, tebal nisan 13 cm. |