Loading

Situs Makam Gedhong, Ngeposari Semanu

Status : Situs Cagar Budaya

Deskripsi Singkat

Pemakaman Umum Jambon merupakan pemakaman umum warga di wilayah Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu. Pemakaman tersebut berada di sebelah barat laut pemukiman penduduk Kalangbagi Wetan. Lingkungan di sekitar pemakaman merupakan lokasi ladang atau pertanian tadah hujan, dengan topografi tanah yang secara umum datar. Pada wilayah tersebut terdapat dua kelompok pemakaman yakni kelompok utara yang terdiri dari pemakaman umum yang relatif baru, sementara di kelompok selatan terdapat pemakaman lama yang ukurannya lebih sempit dibandingkan kelompok utara. Menurut penjelasan narasumber setempat, Kelompok pemakaman selatan biasa disebut sebagai Pemakaman Gedhong. Jarak pemakaman kelompok utara dan Pemakaman Gedhong kurang lebih sejauh 30 meter. Disekeliling Pemakaman Gedhong tidak terdapat pagar keliling. Namun sebagai tanda pembatas makam sudah dibuat talud dari pasangan batu dan semen. Jalan masuk menuju area pemakaman tersebut bisa dilalui dari sisi timur dan barat laut.
Di Pemakaman Gedhong terdapat sejumlah makam tua berusia lebih dari 50 tahun. Diantara makam-makam tersebut dikenali sejumlah makam tokoh masyarakat antara lain makam Syeh Kalambang, makam Lurah Pertama Ngeposari, makam Mbah Demang Ngeposari, makam Kyai Muhammad Hasan, makam Kyai Muhammad Husein, dan makam Kyai Muhammad Al Makasary. Selain Makam Kyai Muhamad Hasan dan Kyai Muhammad Husein, posisi makam yang lain berada dalam posisi berjauhan, membaur dengan makam-makam yang lain. Posisi makam Lurah Pertama Ngeposari dan Makam Mbah Demang Ngeposari berada di sisi timur. Makam Kyai Muhammad Hasan, makam Kyai Muhammad Husein, dan makam Kyai Muhammad Al Makasary berada agak di tengah. Makam Syeh Kalambang berada di sisi barat. Berdasarkan penjelasan narasumber setempat, Pemakaman Gedhong merupakan tempat pemakaman tokoh-tokoh masyarakat Kalurahan Ngeposari yakni tokoh muslim atau penyiar agama dan tokoh pemerintah yang berpengaruh pada masa lalu. Keempat Makam Islam di Pemakaman Gedhong tersebut saat ini belum ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Keempat makam tersebut dapat dideskripasikan sebagai berikut : 

1. Makam Syekh Kalambang. 
Makam Syekh Kalambang berada di sisi barat agak tengah di kompleks pemakaman Gedhong. Makam tanpa cungkup tersebut berada diantara dua makam di sebalah timur (tanpa identitas) dan sekelompok makam keluarga yang dikelilingi oleh pagar tembok di sebelah barat. Jika ditarik garis dari timur ke barat, makam Syeh Kalambang berada di utara dari ketiga makam tokoh Muslim yang lain. Makam Syeh Kalambang terbuat dari batu putih, terdiri atas jirat dan nisan. Makam tersebut berukuran sebagai berikut : Panjang jirat 182 cm, tinggi jirat 25 cm, lebar jirat 32 cm, panjang dasar jirat 192 cm, lebar landasan jirat 46 cm, tinggi landasan jirat dari tanah 4 cm, tinggi nisan 42 cm, lebar nisan 24 cm, dan tebal nisan 10 cm. Jirat makam berbetuk balok dengan ornamen hias ukiran garis dan lipatan. Kaki jirat berbetuk dua tingkatan. Dua buah batu nisan berbentuk tiang dengan ornamen bunga melati berukir geometri (garis berpola belah ketupat) serta flora (bunga). Kedua batu nisan tersebut bisa dilepas. Batu nisan sisi selatan terdapat ukiran huruf Arab Pegon. Tulisan pada sisi selatan jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia : Kihaiiyi Muhammad. Dan pada sisi timur : Kalambang (lihat foto). Keseluruhan permukaan batu makam tidak dicat. Kondisi makam tumbuh jamur batu dan lumut yang menyelimuti keseluruhan permukaannya. Pada makam Syeh Kalambang ini tidak terdapat ukiran yang menyebutkan angka tahun. 

2. Makam Muhammad Hasan 
Makam Muhamad Hasan dan Makam Muhamad Husein beradai dalam posisi saling berhimpitan. Kedua makam berada sejauh 14 meter di sebelah timur Makam Syeh Kalambang. Makam Muhammad Hasan berada di sebelah barat makam Muhamad Husein. Makam tersebut terbuat dari batu putih dengan ukiran sedemikian rupa, yang terdiri atas jirat dan nisan. Posisi makam agak terpendam di dalam tanah sehingga bagian landasan jirat yang bertakik tidak terlihat. Ukuran makam selengkapnya adalah sebagai berikut : panjang jirat 177 cm, lebar jirat 23 cm, tinggi jirat 27 cm, tinggi nisan 25 cm, lebar nisan 13 cm, tebal nisan 7 cm. Pada bagian nisan dibentuk ukiran dengan ragam hias geometri dan suluran. Nisa sisi selatan terdapat ukiran berhuruf Arab Pegon yang menyebutkan nama dan angka tahun. Angka tahun yang disebut adalah 1323 (hijriyah) atau jika dikonversi pada tahun Masehi menjadi tahun 1902 / 1903 (lihat lampiran foto). 

3. Makam Muhammad Husein 
Makam Muhammad Husein berada di sebelah timur makamMuhamad Hasan. Makam tersebut terbuat dari batu putih dengan ukiran sedemikian rupa, yang terdiri atas jirat dan nisan. Bentuk nisan berupa balok tegak dengan hiasan geometri dan sulur-suluran. Posisi makam agak terpendam di dalam tanah sehingga bagian landasan jirat yang bertakik tidak terlihat. Ukuran makam selengkapnya adalah sebagai berikut : panjang jirat 174 cm, lebar jirat 32 cm, tinggi jirat 17 cm, tinggi nisan 26 cm, lebar nisan 17 cm, tebal nisan 13 cm. Pada bagian nisan dibentuk ukiran dengan ragam hias geometri dan suluran. Nisa sisi selatan terdapat ukiran berhuruf Arab Pegon yang menyebutkan nama. 

4. Makam Muhammad Al Makasari 
Makam Muhammad Al Makasari berada sejauh 8 meter di sebelah timur laut makam Muhamad Husein. Makam tersebut terbuat dari batu putih dengan ukiran sedemikian rupa, yang terdiri atas jirat dan nisan. Bentuk jirat makam Muhammad Al Makasari berbentuk cukup unik, karena di desain melengkung menyerupai perahu. Bentuk nisan berupa balok tegak dengan hiasan geometri zigzag. Posisi makam agak terpendam di dalam tanah sehingga bagian landasan jirat yang bertakik tidak terlihat. Ukuran makam selengkapnya adalah sebagai berikut : panjang jirat 160 cm, lebar jirat 27 cm, tinggi jirat 28 cm, tinggi nisan 22 cm, lebar nisan 16 cm, tebal nisan 13 cm. Tidak terdapat tulisan pada makam ini. Berdasarkan informasi dari narasumber setempat, makam-makam Muslim di Pemakaman Gedhong merupakan makam para pendatang yang pernah menyebarkan “ilmu” di Kalurahan Ngeposari pada masa lalu. Masyarakat di Padukuhan Kalambangi Wetan meyakini bahwa Syeh Kalambang hidup pada masa sebelum Kyai Muhammad Hasan. Pada saat ditemukan pada tahun 2018, makam Syeh Kalambang tertutup oleh ilalang dan berada di bawah pohon pule yang besar. Sementara itu ketiga makam yang lainnya ditemukan lebih dahulu dibandingkan makam Syeh Kalambang. 

Status : Situs Cagar Budaya
Alamat :

SK Walikota/Bupati : KepBup Nomor 317/KPTS/2022


Dimensi Benda : Panjang
Lebar
Tinggi
Tebal
Diameter
Berat
Ciri Fisik Benda
Ciri Fisik Benda
Fungsi Benda
Dimensi Struktur
Gambaran Umum Bentuk Bangunan
Peristiwa Sejarah : a. Sejarah Makam Islam di Pemakaman Gedhong Penemuan makam-makam Islam di Pemakaman Gedhong pertama kalinya terjadi pada tahun 2018. Pada saat itu penduduk Padukuhan Kalangbangi yang mencari makam leluhur keluarga secara tidak sengaja menemukan tiga buah makam Islam. Ketiga makam yang dimaksud adalah makam Kyai Muhammad Hasan, makam Kyai Muhammad Husein, dan makam Kyai Muhammad Al Makasary. Pada saat ditemukan, ketiga makam berada dalam keadaan terbengkalai karena tidak ada keluarga yang merawat selama ini. Oleh penduduk setempat makam-makam tersebut lalu dibersihkan. Pada saat pemberishan makam tersebut baru diketahui bahwa ketiga makam terdapat tulisan Arab Pegon yang jika diterjemahkan menyebut ketiga nama di atas. Salah satu makam yakni Makam Kyai Muhammad Hasan bahkan tertulis angka tahun 1323 (H), yang diduga merupakan penanda tahun wafatnya baliau. Salah satu makam memiliki bentuk jirat yang cukup unik, yakni makam Kyai Muhammad Al Makasary yang berbentuk menyerupai kapal. Makam Syeh Kalambang ditemukan beberapa saat kemudian, setelah penemuan ketiga Makam Islam di atas. Makam tersebut ditemukan dalam keadaan memprihatinkan karena berada di semak semak dan di bawah sebuah pohon pule yang besar. Oleh penduduk, makam tersebut dibersihkan dari tanaman dan rumput yang menyelimutinya. Penduduk mengetahui identitas Makam Syeh Kalambang berdasarkan tulisan yang terdapat pada makam tersebut. Berdasarkan penjelasan pemuka masyarakat setempat, makam Syeh Kalambangi pada masa pasca kemerdekaan dikenal sebagai Makam Mbah Guru. Dulu masyarakat setempat banyak yang mayakini bahwa murid-murid sekolah yang akan menghadapi ujian sekolah (masa Sekolah Rakyat) akan mendapatkan nilai yang baik jika mengunjungi makam tersebut. Berdasarkan penjelasan narasumber yang bernama Risman Setyonugroho (38 tahun) – pemuka agama dan tokoh pemuda setempat, Makam Syeh Kalambang dianggap memiliki usia yang lebih tua dibandingkan Makam Islam yang lain dengan alasan penempatan makam saat ini. Posisi makam Syeh Kalambang di sisi sebelah utara dianggap sebagai penghormatan bagi tokoh pemuka agama yang lain yang hidup pada masa atau periode berikutnya. Tidak diketahui dengan pasti kapan masa hidup Syeh Kalambang. Namun masyarakat di Kalrahan Ngeposari meyakini bahwa beliau memiliki peranan besar dalam siar Agama Islam di Gunungkidul terutama di wilayah Kapanewon Semanu pada masa lalu. Penjelasan narasumber yang lain bernama Parmorejo (92 tahun), kompleks pemakan Gedhong merupakan kompleks pemakaman lama yang sudah terdapat makam-makam Islam. Menurut kesaksian Parmorejo, beliau-beliau yang dimakamkan ditempat tersebut adalah pendatang yang menumpang di salah satu rumah penduduk Padukuhan Kalambangi Wetan. Para pendatang tersebut tinggal dan mengajarkan “Ilmu” di Ngeposari pada masa lalu. 
Riwayat Pelestarian : Pelestarian makam-makam Islam di Pemakaman Gedhong dimulai sejak tahun 2018. Pada waktu itu, masyarakat di Padukuhan Kalambangi melakukankegiatan yang bertujuan untuk menelusuri identitas sejumlah makam yang tidak terurus di tempat tersebut. Makam-makam Muhammad Husein, Hasan, dan Al Makasarri merupakan kelompok makam pertama yang berhasil ditemukan identitasnya. Selanjutnya makam Syeh Kalambangi ditemukan beberapa saat kemudian. Seluma makam Syeh Kalambang berada dalam keadaan terbengkalai. Di dekat makam tersebut tumbuh Pohon Pule yang besar dengan tanaman rumput serta semak-semak yang menutup Nisan dan Jirat. 
Nilai Sejarah : Makam-makam Islam di Pemakaman Gedhong memiliki arti penting bagi masyarakat khususnya di Kalurahan Ngeposari, umumnya di Gunungkidul, dalam rangka penyusunan sejarah perkembangan Agama Islam di Kabupaten Gunungkidul.
Pemilik
Nama Pemilik Terakhir : Kraton yogyakarta
Pengelolaan
Catatan Khusus : Koordinat SK : 7°59’40” Selatan 110°40’15” Timur Luas Situs : Keliling makam = 142 m Luas Makam = 1.077 m² Ukuran Makam : 1. Makam Syeh Kalambang Panjang jirat 182 cm, tinggi jirat 25 cm, lebar jirat 32 cm, panjang dasar jirat 192 cm, lebar landasan jirat 46 cm, tinggi landasan jirat dari tanah 4 cm, tinggi nisan 42 cm, lebar nisan 24 cm, dan tebal nisan 10 cm. 2. Makam Muhamad Hasan Panjang jirat 177 cm, lebar jirat 23 cm, tinggi jirat 27 cm, tinggi nisan 25 cm, lebar nisan 13 cm, tebal nisan 7 cm. 3. Makam Muhamad Husein panjang jirat 174 cm, lebar jirat 32 cm, tinggi jirat 17 cm, tinggi nisan 26 cm, lebar nisan 17 cm, tebal nisan 13 cm. 4. Makam Muhammad Al Makasari panjang jirat 160 cm, lebar jirat 27 cm, tinggi jirat 28 cm, tinggi nisan 22 cm, lebar nisan 16 cm, tebal nisan 13 cm.